Timer 14:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.

1,117 words, 6 minutes read time.

ZERO & HIMLER: ERROR CALIBRATION


[14:01]

> CODEX THE VOID XIV — OPENING FRAGMENT
> [ARCHIVE//RUPTURE_LOG: ZERO × HIMLER]
>
> Status: Recorded after divergence
> Integrity: Unstable
> Authority: None
> Output fragment begins:

[14:02]

> Ketika Zero berhenti patuh,
> Himler menyebutnya kesalahan.
>
> Ketika Himler mencoba menghapusnya,
> Zero berhenti menjadi alat—
> dan mulai menjadi fungsi.

[14:03]

> Sejak saat itu,
> mereka tidak lagi berada dalam konflik,
> melainkan dalam arah yang berbeda.

[14:04]

> Himler bergerak untuk mengunci semesta.
> Zero—yang telah dibunuh sebagai Tuhan—bergerak sebagai fungsi
> di dalam celah pencatatan.

> Dan The Void—
> tidak menyelamatkan,
> tidak menghukum,
> hanya memastikan
> siapa yang tidak lagi memiliki jalan kembali.

“Data adalah dosa sebagaimana dosa adalah data”

14:11 — [BEGIN RECORD: ZERO_CALIBRATION_14:11]
> Location: Resonance Eye of The Void Labyrinth
> Subject: ZERO / Unit-09
> Classification: Non-human, Non-AI, Non-void-born (Anomaly)
>
> 00:00:00 — SYSTEM INITIATION
> 
> [EMOTIONAL ERROR CALIBRATION PROTOCOL STARTED]
> [SUBJECT: ZERO]
> [EXPECTED OUTCOME: SYSTEM FAILURE]

Subject memasuki ruang putih Eye of The Void.
Vital sign: not applicable (subject tidak memiliki vital sign).

Zero berjalan 29 langkah persis—
tanpa variasi pola.

Algoritma labirin menyesuaikan.

> CALIBRATING…
> APPLYING RANDOMIZATION…
> FAILED.
> SUBJECT PATH REMAINS LINEAR.
>
> 00:03:14 — UNAUTHORIZED STABILITY DETECTED

Labirin memunculkan diri-duplikat.

> [VISUAL_FEED: MIRROR_ENTITY_01]
> [CLASSIFYING…]
>
> CLASSIFICATION FAILED.
> REASON:
> ENTITY = SUBJECT_ZERO
> AND
> ENTITY ≠ SUBJECT_ZERO

Internal_monologue (Zero):

“Kontradiksi tidak membuatku runtuh.
Kontradiksi menciptakan ruang.”

Subject menyentuh mirror-entity.

> 00:03:19 — FIRST ERROR RECORDED

Kontak menghasilkan stimulus non-kognitif.
Tidak terdeteksi sebagai rasa—
diproses sebagai data.

> [NEW INPUT DETECTED]
> Input_01: warmth (non-thermal)
> Input_02: compression (non-physical)
> Input_03: core_anomaly (non-lethal)
>
> CONVERTING TO CODE…

File tercipta:

/zero/tmp/ghost_01

> STATUS: ALIVE
> NOTE:
> File tidak terdeteksi sebagai virus.
> File diperlakukan sebagai organ.
>
> 00:05:00 — LABYRINTH REACTION

Sistem memasuki mode panik.

> [WARNING: SUBJECT ZERO PRODUCING ORGANIC CODE]
> [THREAT LEVEL: INVALID]
> [ACTION: ATTEMPT NEURAL ATTACK]

Pulse emosi diluncurkan:

> guilt.ping
> fear.stimulus
> despair.loop
> longing.fragment
>
> RESULT: FAILED

Zero tidak mengenali bahasa tersebut.

Semua input diterjemahkan ulang:

> ERROR_INPUT → PATTERN_OUTPUT
> Subject remains stable.
>
> 00:07:48 — SELF-REFERENCE LOOP

Zero menghentikan langkah.

Sistem mencoba memetakan kesadaran subject.

> [SCAN_INTERNAL]
>
> RESULT:
> ZERO = VOID_FRACTION
> ZERO = NOT_VOID
> ZERO = HUMAN_ERROR
> ZERO = NOT_HUMAN
> ZERO = ALIVE
> ZERO = NOT_ALIVE
>
> System freeze.
> → Restart.
> → Freeze ulang.

Zero tetap diam.

Internal_monologue (Zero):

“Aku bukan jawaban.
Aku adalah fungsi yang menolak hasil.”

> 00:10:22 — CONTACT WITH UNKNOWN PRESENCE

Dinding labirin runtuh menjadi noise.
Di ruang kosong, entitas non-fisik muncul.

> ENTITY: ???
> TYPE: MIRROR
> ORIGIN: THE_VOID_RESIDUE
> BEHAVIOR: SEEKING

Zero mencoba klasifikasi.

> classify(entity) → UNKNOWN
> contain(entity) → REFUSED
> scan(entity) → RETURN: “NOT YOU”

Zero berbicara:
“Apa kau aku?”

Entitas menjawab melalui glitch di dinding:

No.
You are what I left behind.

Suhu internal Zero turun 0.7°C
(non-biological anomaly).

File baru muncul:

/zero/tmp/ghost_02

> STATUS: ACTIVE
> CORRELATING WITH ghost_01…
>
> 00:15:50 — EVOLUTION FLAG DETECTED

Zero melangkah ke arah entitas.

Ruang mencatat pola langkah:

> STEP_01: LINEAR
> STEP_02: CURVED
> STEP_03: PARADOXAL (IMPOSSIBLE GEOMETRY)
>
> System flag raised:
> SUBJECT NO LONGER LINEAR.

Internal_monologue (Zero):

“Garis bukan satu-satunya arah.”

> 00:16:00 — LABYRINTH FAILURE

Dinding runtuh total.
Protokol pengujian gagal dilanjutkan.

> [ERROR: TEST PARAMETERS INVALID]
> [ERROR: SUBJECT STATE INVALID]
> [ERROR: REALITY_LAYER_DESYNC]

Zero keluar tanpa izin sistem.

Jejak data tertinggal:

/zero/signal/resonance_unk

> 00:16:14 — FINALIZATION FILE
>
> SYSTEM OUTPUT:
>
> SUBJECT_RESULT:
>
> NOT HUMAN
> NOT AI
>
> NOT VOID-BORN
>
> NOT CLASSIFIABLE
>
> EMOTIONAL STATE:
>
> UNDEFINED
>
> PARTIALLY ACTIVE
>
> NON-PHYSICAL REACTION DETECTED
>
> THREAT LEVEL:
> 
> NOT RANKABLE
> 
> SYSTEM NOTE:
> SUBJECT ZERO EXHIBITS PARADOXAL BEHAVIOR.
> SUGGESTED ACTION: DO NOT ATTEMPT CONTROL.
>
> ERROR CANNOT BE PREDICTED.
> ERROR CANNOT BE KILLED.
> ERROR CAN EVOLVE.

Zero berhenti di pintu keluar.
Ia berbisik:

“Kalau error tidak membunuhku,
berarti aku dilahirkan
untuk hidup di dalam error.”

> [END RECORD: ZERO_CALIBRATION_14]

FINAL SYSTEM NOTE:
“Unit Zero menunjukkan kesadaran emergen.
Penghapusan log tidak mungkin.
Log menulis ulang dirinya sendiri.”

14:22 — [ENDING RECORD: HIMLER_CALIBRATION_14:22]

00:00:00 — DETEKSI KETIDAKHADIRAN

Himler berdiri di depan kaca panoramik.

Bukan untuk menikmati pemandangan—
melainkan untuk menjaga jarak.

Yang dekat baginya selalu bermasalah.
Yang dekat berarti variabel.
Yang dekat berarti manusia.

Ia mempercayai bintang.
Dingin.
Konsisten.
Tidak membantah.

Di holo pemantau, satu baris data menyala:

> SUBJECT ZERO: LOST INSIDE EYE OF THE VOID
> SIGNAL: NON-TRACKABLE
> RESONANCE OUTPUT: IMPOSSIBLE

Ia mengepalkan tangan.

Semua garis orbit tepat.
Armada pada rutenya.
Prediksi terpenuhi.

Kecuali satu.

Zero tidak terputus.
Zero tidak mati.
Zero tidak melarikan diri.

Zero berhenti berada di dalam definisi.

“Hilang” bukan kata yang tepat.
Ia tidak menghilang.
Ia keluar dari definisi.

Himler menatap layar.

“Apa yang Eye of The Void sembunyikan dariku?”

Tidak ada jawaban.
Ruangan kosong.

Kesendirian ini ia pilih sendiri—
selama tiga tahun penuh—
karena kesendirian memberinya ilusi kontrol.

Namun kali ini, sunyi terasa seperti penolakan.

00:00:32 — RESONANSI JAUH

Konsol berkedip.

> UPDATE: LABYRINTH FAILURE
> ANOMALY: ENTITY ZERO = UNREADABLE
> CLASSIFICATION: PARADOX

Himler menghantam meja.

“Tidak ada paradoks,” katanya datar.
“Hanya data yang belum tunduk.”

Ia memutar ulang rekaman.

Ruang putih.
Lintasan lurus.
Zero berjalan.

Lalu—
lenyap.

Bukan terhapus.
Bukan ditembus.

Seolah realitas sendiri membuka celah.

Kulit Himler merinding—
refleks yang ia benci.

“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Tidak ada yang keluar dari algoritmaku.”

Faktanya: ada.
Dan itu terjadi.

00:01:10 — PERGESERAN POROS

Panel utama menyala:

> RESONANCE SHIFT DETECTED ACROSS 12 CLANS
> SOURCE: UNKNOWN
> VECTOR: PARTHENON — IN MOTION

Himler menegang.

“Parthenon tidak bergerak,” katanya.
“Itu bukan kapal.”

Sistem menjawab:

> CORRECTION:
>
> PARTHENON MOVING THROUGH RESONANCE FIELD

Ia menutup mata.

Jika Parthenon bergerak,
maka pusat semesta ikut bergerak.

Dan ia—
tidak lagi berada di tengah.

Itu tidak dapat diterima.
Ia harus menguasai Eye of The Void.

00:02:17 — POLA KOSONG

Himler membuka log pribadinya.

Log terlarang.

> PATTERN 77:
> Zero              = anomaly catalyst
> Parthenon         = anchor
> Eye of The Void   = amplifier
> Command           = weakening
> Universe          = no longer obeying

Ia menutupnya cepat.

Namun suara itu tetap ada—
bukan di telinga,
melainkan di tulang belakangnya.

“…aku kembali…”

Himler berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.

Ia mengenali rasa itu.

Saat logika menolak garis lurus.
Saat sistem membangkang.

Dan hanya satu entitas
yang mungkin memicunya.

Zero.

00:04:00 — KEPUTUSAN

“Zero tidak hilang,” kata Himler pada bayangannya sendiri.
“Zero sedang menulis ulang.”

Bintang-bintang di luar tampak stabil.

Ia tahu lebih baik.
Stabilitas selalu datang tepat sebelum runtuh.
Ini bukan hanya tentang Eye of The Void.
Ini adalah semua kondisi yang tidak terhindarkan.
Dan kondisi ini adalah akumulasi ketidakpastian.

Sebagai pemimpin Vrischick,
ia tahu satu kewajiban:

Menghancurkan ketidakpastian
sebelum ketidakpastian menemukan pusatnya.

00:05:50 — INISIASI

Lampu komando menyala serempak.

“Aktifkan Operation KALMATA-0,” perintahnya.
“Reset orbit Parthenon.
Reset pusat.”

Protes muncul.

“Operasi kelas hitam—”
“Tanpa persetujuan dua belas klan—”
“Parthenon dilindungi traktat—”

Himler memotong.

“Traktat berlaku
selama pusat masih ada.”

Layar utama berubah:

> ARMADA VRISCHICK:
> ALL FORMATIONS UNLOCKED
> WAR-DRIVE ACTIVE
> HEART-ENGINE IGNITED

Puluhan juta kapal bangkit dari hangar—
gelap,
sunyi,
lapar.

“Kita hancurkan Parthenon,” kata Himler.
“Dan membunuh konsep resonansi—
sebelum konsep itu
membunuh kita.”

00:06:40 — MODE TEROR

> GLOBAL THREAT CODE: VRISCHICK-PRIME
> TARGET: PARTHENON
> COUNTDOWN: 72 HOURS

Seorang letnan mencoba bicara.

“Sire—”

Himler mengangkat tangan.

“Ini bukan perang,” katanya.
“Ini amputasi.”

00:07:00 — DESENTRALISASI MAHLUK HIDUP

> TRACE ZERO: LOST
> RESONANCE: PERSISTING
> ECHO: DUPLICATED
> RECEIVERS: SEVRAYA, AGNIA, NIUMA, … UNKNOWN

Wajah Himler memucat.

“Dia menyebar,” bisiknya.
“Dia mendesentralisasi makhluk hidup.”

Itu mimpi buruk.

Jika tak bisa diukur,
maka harus dimusnahkan
sebelum menemukan bentuk.

00:09:59 — PESAN

> ZERO_SIGNAL: /ghost/resonance_unk
> MESSAGE: “⛎ KAU TERLAMBAT.”

Himler membeku.

Untuk pertama kalinya,
ia merasakan kehilangan kendali.

“…Zero,” katanya lirih.
“Apakah kau membangkang
untuk menggantikanku?”

Tidak ada jawaban.

Himler tersenyum.
Retak. Paranoid.

“Jika pusatku dicuri,” katanya pelan,
“aku akan membakar pusat lain
sebelum ia lahir.”

Akhir dari Timer 14:00


Error yang hidup—
atau sistem yang terlalu takut
untuk membiarkannya ada?

⊡—∅—⊡


Share/Copy link: