
Timer 15:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
2,068 words, 11 minutes read time.
Trinitas Pakta Parthenos
[15:01]
🜄 CODEX PARTHENOS — OPENING FRAGMENT
[ARCHIVE//PACT_LOG: PARTHENOS × TRINITAS]
> Status: Activated under existential threat
> Integrity: Conditional
> Authority: Distributed
> Output fragment begins:
[15:02]
> Ketika pusat mulai runtuh,
> Parthenos tidak mencari penyelamat—
> ia mencari penulis.
[15:03]
> Didymoi dipanggil bukan untuk berkuasa,
> melainkan untuk menahan
> dua kebenaran
> agar tidak saling memusnahkan.
[15:04]
> Zygos tidak turun sebagai hakim.
> Ia turun sebagai poros—
> menjaga agar yang murni
> dan yang bersalah
> tidak mengklaim tengah sendirian.
[15:05]
> Dan ketika sistem hampir sempurna,
> pengkhianatlah yang dibutuhkan—
> karena hanya mereka
> yang pernah meninggalkan pusat
> tahu
> bagian mana yang harus dikunci.
[15:06]
> Parthenon tidak mencatat apa yang terjadi.
> Ia menulis
> apa yang boleh terus ada.
>
> Dan Ophiuchus—
> tidak memilih kebenaran,
> hanya membuka ruang
> agar kebenaran
> bisa saling bertahan.
“Yang tidak ditulis
akan tenggelam ke Void.”
15:11 — Pakta Pertama
Tidak ada sirene ketika Parthenon bergerak.
Tidak ada dentuman.
Tidak ada pengumuman sakral.
Yang pertama kali merasakannya bukan sistem.
Bukan sensor.
Melainkan tubuh manusia.
Tulang belakang Sevraya menegang—
sigil 🌊⌇🌒 mengetuk dari dalam sumsum.
Bukan suara.
Tarikan.
Ia duduk di ruang resonansi Parthenon,
punggung bersandar pada dinding batu
yang lebih tua dari Didymoi,
lebih tua dari Vrischick,
mungkin lebih tua dari konsep aturan Parthenos.
Administrator Kira berdiri di tengah ruang.
Jubahnya menyapu lantai batu
yang bergetar nyaris tak terasa.
“Himler telah mengaktifkan KALMATA-0.”
Lampu berkedip.
“Puluhan juta armada Vrischick—”
Bumi bergeser di bawah mereka.
“—akan tiba di orbit Garis 0 dalam 72 jam.”
Monitor utama menampilkan hitung mundur.
Tanda bahaya menyala satu per satu.
Administrator Kira berbicara tanpa menaikkan suara:
“Dimulai dengan Remisi Resonansi.
Dibaptis dengan ritual membunuh Zero.
Dan kini diakhiri dengan,
pengaktifan Trinitas ♍︎ Pakta Purba Parthenos.”
Pakta Pertama.
Tidak ada doa.
Tidak ada mantra.
Hanya tangan yang menulis.
> init://mercury_pact
> waking_subsystem: PARTHENOS_CORE
> status: dormant → stirred
> reason: KALMATA-0 / vrischick-threat
Saat sistem merespons—
NiuNiu langsung merasakan.
Tubuhnya tertarik mundur,
seolah gravitasi tiba-tiba berbalik arah.
Ia mencengkeram tulang rusuknya.
Rajah sigil 𐓷⧖𐓣 di tubuhnya bergetar.
Wajahnya memucat.
Administrator Kira menatap fenomena itu.
Senyum kecil terbit.
“Pakta Mercury bangun,” katanya.
“Dan ia merespons sigil 𐓷⧖𐓣 Ratu Hitam.”
Agnia menoleh tajam.
“Apa?”
Kira melangkah mendekat,
geraknya anggun,
berat oleh sejarah.
“Dua Didymoi telah dipanggil.
Dua ratu.
Putih dan Hitam.
Agnia Nakamoto.
Niuma Nakamoto.”
Ruangan bereaksi tanpa suara.
Sevraya menoleh cepat ke NiuNiu.
Julia tersenyum tipis.
Delphie menegang.
Gwaneum menunduk, berdoa entah pada apa.
NiuNiu membeku—
seperti seseorang baru saja menembaknya
dengan fakta yang tidak bisa dibantah.
> “Aku bukan ratu.”
Ketikan itu tidak terdengar.
Namun semua orang merasakannya bergetar.
Kira menggeleng pelan.
“Kau selalu ratu,” katanya.
“Kau hanya lari.”
Agnia melangkah maju.
Rahangnya mengeras.
“Ini mustahil.
Ini hanya cerita kuno.
Ratu Hitam hanyalah mitos.”
Kira menatapnya dengan mata Parthenos—
mata yang tidak menilai,
hanya mencatat struktur dunia.
“Semuanya mitos,” katanya,
“sampai waktunya sigil tiba untuk ditulis.”
Ia menunjuk dua rajah yang berdenyut.
⧉✶⧉ — Ratu Putih: Agnia.
Hukum.
Garis lurus.
Kontrol.
Akurasi.
𐓷⧖𐓣 — Ratu Hitam: Niuma.
Chaos.
Celah sistem.
Momentum liar.
Kesalahan yang hidup.
Kira mengangkat tangan.
Lantai Parthenon berubah menjadi merkuri berkilau.
Cahaya mengalir seperti darah perak.
Simbol Didymoi muncul:
♊︎ — dualitas yang lahir dari konflik.
Simbol kedua menyusul:
♍︎ — Parthenos, yang mencatat dan menuliskan.
Lalu lantai terbelah seperti luka.
Simbol ketiga muncul:
⛎ — Ophiuchus.
Klan terlarang.
Anti-klan ke-13.
Pemutus lingkaran.
Kira berbisik:
“Sesuatu yang purba terbuka.
Ophiuchus meminta.
Pakta Mercury harus dibuka—
oleh dua Didymoi dan satu Parthenos.”
Agnia gemetar.
Marah.
Takut.
Bingung.
“Aku Didymoi murni.
Tapi Niuma—
dia tidak stabil.
Dia tidak disiplin.”
“Kau benar,” potong Kira.
“Karena Ratu Hitam tidak pernah stabil.
Stabilitas adalah tugasmu.
Ketidakstabilan—
adalah miliknya.”
NiuNiu mundur setapak.
Napasnya berat.
> “Aku tidak mau.”
Parthenon bergetar.
Ia tidak diseret secara fisik.
Ia ditarik oleh nasib.
Kira mendekat.
Suaranya lembut.
Final.
“Ratu Hitam tidak memilih takdir.
Takdir memilihnya.”
Agnia memejamkan mata.
Dalam satu detik,
seluruh hidup yang ia pelajari—
aturan, disiplin, keluarga, kehormatan—
retak.
Bukan karena salah.
Melainkan karena setengah dari kerajaan Didymoi
selama ini hidup
di dalam bayangan Niuma.
> “Kenapa aku?”
NiuNiu mengetik dengan kasar.
Kira menyentuh dadanya,
tepat di atas jantung.
“Karena kau tidak bisa dikendalikan.
Dan Didymoi selalu membutuhkan
sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.”
Sevraya menatapnya.
Ia mengenali perasaan itu.
Diberi sesuatu
yang tidak pernah diminta.
Agnia akhirnya berkata pelan:
“Kalau ini benar…
maka kau adalah ratu bayanganku.”
NiuNiu tertawa pendek, getir.
> “Lucu.
Seumur hidup aku membenci kamu dan Didymoi.
Ternyata aku tidak ada bedanya dengan kamu?”
Kira membuka kedua tangan.
Merkuri naik, membentuk tiga kolom cahaya dengan tiga sigil:
KOLOM PUTIH — ⧉✶⧉
KOLOM HITAM — 𐓷⧖𐓣
KOLOM ABU-ABU — ⌬⟁⌬
“Masuk,” kata Kira.
“Parthenos akan menilai kalian.”
Ia menambahkan:
“Pakta Mercury hanya aktif
ketika dua ratu
dan satu administrator
berdiri bersama di hadapan Parthenos.”
NiuNiu mengangkat kepala.
“Dan jika aku menolak?”
Parthenon bergetar keras.
“Kau tidak akan mati,” jawab Kira.
“Tapi semesta mungkin akan.”
NiuNiu tertawa.
Bukan getir.
Kosong.
Ia melangkah—
bukan ke kolom hitam,
melainkan ke celah
di antara ketiganya.
Lantai merkuri retak.
Bukan karena kekuatan,
melainkan karena
Parthenon tidak pernah menulis
opsi itu.
Sigil 𐓷⧖𐓣 membakar balik ke kulitnya,
meninggalkan bekas seperti kesalahan cetak.
> “Kalau semesta butuh aku
untuk bertahan,”
ketikannya menghantam ruang,
> “maka semesta harus menerima
bahwa aku tidak tunduk.”
Ophiuchus berdenyut keras.
⛎ tidak menyala.
Ia menyimpang.
Untuk pertama kalinya,
Parthenon tidak mencatat.
Ia menunda.
Kira mengangkat tangan.
Suaranya tidak lagi administratif.
“Cukup.”
Kolom hitam tidak menyambut NiuNiu.
Ia menutupnya dari belakang.
“Pakta Mercury tidak aktif hanya
karena persetujuan,”
kata Kira dingin,
“karena penolakanmu
lebih berbahaya
jika dibiarkan di luar.”
Parthenos mencatat:
> DUALITAS DISETUJUI.
> KETIDAKSTABILAN DITERIMA.
> PUSAT DITANGGUHKAN.
⛎ menghapus bayangan di sekitarnya.
Gwaneum mengangkat kepala.
Lega.
“Lingkaran tidak ditutup,” gumamnya.
“Lingkaran dipatahkan.”
Delphie menggenggam tangan Julia.
The Merge bergetar.
Artefak The Void di Dorian berdenyut.
Sevraya berbisik:
“Semesta berhenti berpura-pura netral.”
Parthenon mencatat:
> PACT_ID: MERCURY-PRIME-001
> WITNESS: PARTHENOS
> DUAL_RULERS: AGNIA.N / NIUMA.N
> ADMIN_VECTOR: KIRA
> OVERRIDE: CENTRAL_AUTHORITY
> STATUS: ACTIVE
> REVERSAL: NOT PERMITTED
Kolom cahaya memudar.
Namun sesuatu tetap tinggal.
Di dada NiuNiu:
otoritas tanpa mahkota.
Di mata Agnia:
kontrol yang kini memiliki bayangan.
Kira melangkah mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya,
Administrator tidak berada di pusat.
“Pakta pertama selalu berdarah,” katanya pelan.
Artefak The Void di dalam Dorian grey mengeluarkan darah.
Parthenon berguncang.
Bukan karena serangan.
Karena arah semesta
baru saja berubah.
15:22 — Pakta kedua
Takdir telah memilih.
Sekarang sistem dipaksa bekerja.
Parthenon tidak retak sebagai bangunan.
Ia retak sebagai asumsi.
Panel kaca tidak pecah—
ia kehilangan kebutuhan untuk mempertahankan bentuk.
Struktur tanpa massa membelah diri,
seolah hukum lama memutuskan
tidak lagi mengaku sebagai tubuh.
Resonansi muncul.
Bukan suara.
Bukan frekuensi.
Melainkan keputusan
yang tidak bisa ditarik kembali.
Udara memadat.
Bukan menjadi logam.
Bukan menjadi api.
Melainkan menjadi cahaya kuning—
warna yang tidak memihak.
Dari tengah ruang, suara Parthenon terdengar:
datar, bersih, tanpa moral.
“Pakta Purba Parthenos Kedua—diaktifkan.”
“Zygos menjawab.”
♎︎
Cahaya itu tidak memanggil.
Ia mengunci.
Dua siluet muncul—
bukan karena dipilih,
melainkan karena tidak bisa dielakkan.
Gwaneum ⧗⟁⧗
Tegak.
Presisi.
Seperti hukum yang akhirnya mengakui
bahwa ia tidak pernah suci.
Ia bukan hakim.
Ia adalah kesadaran
bahwa setiap penghakiman
selalu cacat.
Delphie ✧⟡✧
Tidak bersenjata.
Tidak terlindung.
Namun kehadirannya menekan ruang
lebih keras dari sistem mana pun.
Ia tidak membawa kebenaran.
Ia membawa akibat.
Mereka tidak saling menatap.
Mereka berdiri berdampingan.
Karena Zygos tidak bekerja lewat oposisi,
melainkan lewat
penahanan ekstrem.
⚖︎ Gwaneum ⧗⟁⧗ — Pendeta Pendosa
Hukum yang tahu
bahwa setiap keputusan
meninggalkan korban.
⚖︎ Delphie ✧⟡✧ — Pendosa Suci
Innocence
yang tidak sadar
bahwa keberadaannya sendiri
memaksa hukum
berhenti berpura-pura netral.
Keseimbangan tidak lahir dari kesepakatan.
Ia lahir dari
ketegangan
yang ditahan.
Gwaneum berbicara—
bukan sebagai perintah,
melainkan sebagai fungsi:
“Jika pusat telah dipatahkan oleh dua ratu,
maka dunia membutuhkan poros.
Bukan untuk memimpin—
melainkan untuk menahan.”
Delphie menambahkan pelan,
tanpa sadar bahwa kalimatnya
lebih berbahaya
dari hukum mana pun:
“Kalau semua orang menarik dunia ke arahnya…
seseorang harus tinggal di tengah
dan menerima tarikan itu.”
Parthenon merespons seketika.
> ZYGOS NODE: ♎︎ CONFIRMED
> ANCHOR_01: GWANEUM ⧗⟁⧗ — JUDGEMENT
> ANCHOR_02: DELPHIE ✧⟡✧ — INNOCENCE
> FUNCTION: LOAD-BEARING
> STATUS: STABLE
Timbangan Zygos tidak lagi relevan.
Ia memadat.
⚖︎
→ menjadi poros.
→ menjadi alat bedah.
Bukan untuk menghukum.
Bukan untuk membenarkan.
Melainkan untuk mencegah dunia
jatuh sepenuhnya ke satu sisi.
Gwaneum mengangkat tangan.
Delphie menahan pergelangannya.
Bukan sebagai koreksi.
Sebagai pengingat.
Delta 4 mengirim umpan balik:
sinyal panjang, presisi, tanpa emosi.
♎︎
Bukan senjata perang.
Senjata penahan.
Agnia menahan napas.
Ia mengerti:
kekuasaan kini selalu diawasi dari tengah.
NiuNiu tersenyum samar.
Ia tahu:
pusat yang tidak dipercaya
akan selalu menciptakan poros.
Sevraya dan Julia gemetar—
mereka mengenali pola.
Giliran mereka
akan tiba.
Pakta Kedua tidak menutup celah.
Ia memastikan celah itu
tidak menelan segalanya.
15:33 — Pakta ketiga
Administrator Kira melangkah ke tengah ruang.
Tidak tergesa.
Tidak ragu.
Bagian ini tidak membutuhkan upacara—
ia membutuhkan kejelasan.
“Dua Didymoi telah berdiri,” katanya.
“Dua Zygos telah menahan keseimbangan.”
Ia berhenti.
“Tetapi tidak ada sistem
yang runtuh karena kekurangan hukum.”
Kira berputar.
Pandangan itu jatuh pada dua figur
yang tidak pernah dimaksudkan
untuk berdiri sejajar—
namun selalu berada di titik yang sama
ketika pusat runtuh.
♏︎ Julia ⟁⟔⟟
♒︎ Sevraya 🌊⌇🌒
“Kalian,” kata Kira tenang,
“bukan anomali.”
Ia menunduk.
Bukan kepada gelar.
Bukan kepada sejarah.
Melainkan kepada konsekuensi.
“Kalian adalah fungsi
yang selalu muncul
ketika kebenaran mulai mengeras.”
Udara asin bergetar di sekitar Sevraya.
Tekanan air mengunci langkah Julia.
“Pakta Mercury membelah otoritas.”
“Pakta Zygos menahan pusat.”
“Tapi tanpa Pakta Ketiga—”
Kira mengangkat kepala,
“—realitas akan selalu tergoda
untuk menyebut pusatnya suci.”
Ia memberi jeda.
“Dan hanya pengkhianat
yang tahu
bagian mana dari pusat
yang harus dihancurkan
agar dunia tidak berhenti.”
⚔️ Julia ⟁⟔⟟ — Pengkhianat Vrischick ♏︎
Mantan prajurit inti.
Mantan eksekutor Himler.
Air yang memilih memotong jalur,
bukan menjaga gerbang.
Meninggalkan satu pusat
demi mencegah pusat lain
menjadi absolut.
⚔️ Sevraya 🌊⌇🌒 — Pengkhianat Hidup ♒︎
Ratu Hydrochoos
yang melangkah keluar dari jaringan kolektif.
Melompat ke Void
dan kembali sebagai sesuatu
yang tidak sepenuhnya manusia.
Air yang belajar berpikir—
dan karena itu
tidak lagi bisa dikendalikan.
Resonansi menandai keduanya.
Julia → merah gelap.
Sevraya → biru transparan.
Dua arus tidak menyatu.
Mereka saling mengunci.
Bukan untuk damai—
melainkan untuk memastikan
bahwa jika pusat lahir kembali,
selalu ada tangan
yang tahu cara merobeknya.
Kira berbicara pelan:
“Pakta Purba Parthenos Ketiga—diaktifkan.
Pakta Pengkhianat.”
“Ia tidak mengikat kalian pada kekuasaan.
Ia mengikat realitas
agar tidak pernah sepenuhnya patuh.”
Julia mendengus singkat.
“Masuk akal.
Hanya yang pernah meninggalkan rumah
yang tahu rumah mana
yang harus dibakar.”
Sevraya tidak menoleh.
Namun tangannya menyentuh tangan Julia—
satu detik.
Tidak lebih.
Itu cukup.
> BETRAYAL_PACT: CONFIRMED
> ANCHOR_01: JULIA ⟁⟔⟟ / VRISCHICK ♏︎
> ANCHOR_02: SEVRAYA 🌊⌇🌒 / HYDROCHOOS ♒︎
> RESULT: REALITY LOCKED
Langit tidak retak karena rusak.
Ia terbuka sebagai instruksi.
Sebuah perintah ditanamkan
ke inti protokol Era ⛎:
Jika pusat muncul kembali—
selalu sediakan jalan
untuk mengkhianatinya.
ADDENDUM — PARAGRAF PEMBUKA ERA ⛎
Kira membuka Codex Pakta Purba Parthenos ♍︎.
mercury_pact:
♊︎ Didymoi — Dua Ratu = dua tubuh, satu klan.
♎︎ Zygos — Dua Penimbang = dua jiwa, satu hukum.
♒︎ Hydrochoos — Dua arus air = dua bentuk, satu laut.
Jubah Kira bergetar pelan
oleh resonansi yang tidak sepenuhnya ia kuasai.
Bukan karena kekuatan baru,
melainkan karena struktur lama
akhirnya dipaksa melihat dirinya sendiri.
“Parthenon tidak mencatat kebenaran,” katanya.
“Parthenon menciptakan kebenaran.”
Kalimat itu tidak diucapkan sebagai kesombongan.
Ia terdengar seperti
pengakuan administratif terakhir
sebelum sesuatu kehilangan
legitimasi alaminya.
Agnia menelan ludah.
“Jika Ophiuchus ditulis di sini—”
“—ia menjadi anti-pusat semesta,”
potong Kira tenang.
NiuNiu menatap glyph yang melayang.
“Dan jika Himler menghancurkan Parthenon?”
“Semesta kehilangan penulis,” jawab Kira.
“Apa pun yang tidak ditulis
akan tenggelam ke Void.”
Untuk pertama kalinya,
Parthenon tidak terdengar seperti benteng.
Ia terdengar seperti
halaman terakhir
yang sadar dirinya bisa dirobek.
Sevraya gemetar.
“Jadi ini perang.”
Ia tidak bertanya apakah.
Ia bertanya bagaimana.
“Siapa yang memegang pena?”
Kira tersenyum tipis.
Bukan senyum kemenangan—
melainkan senyum seseorang
yang tahu
bahwa pena tidak lagi aman
di satu tangan.
“Bukan perang memilih pemimpin,” katanya.
“Melainkan perang
menentukan pusat
atau anti-pusat realitas.”
Julia bergumam pelan:
“Pusat…
atau anti-pusat…”
“Ya,” jawab Kira.
“Ophiuchus memilih Parthenon.
Himler memilih penghapusan.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan kalian berenam—”
Pandangan Kira bergerak perlahan, tanpa hirarki:
• Agnia — kebenaran formal ♊︎.
• NiuNiu — kebenaran chaos ♊︎.
• Gwaneum — kebenaran moral ♎︎.
• Delphie — kebenaran rasa ♎︎.
• Sevraya — kebenaran jiwa ♒︎.
• Julia — kebenaran luka ♏︎.
“Kalian berenam,” lanjutnya,
bukan sebagai penobatan,
bukan sebagai mandat,
“adalah paragraf pembuka Era ⛎.”
Bukan kalimat utuh.
Bukan doktrin.
Bukan sistem yang siap dijalankan.
Hanya paragraf pertama—
yang menentukan
apakah sejarah akan terus ditulis,
atau mulai belajar
hidup tanpa pusat.
Dan untuk pertama kalinya
sejak Parthenon berdiri,
pertanyaan yang paling berbahaya
bukan lagi
siapa yang berkuasa,
melainkan:
apakah dunia
masih mau ditulis
sama sekali.
Akhir dari Timer 15:00
問
Apakah kuasa
yang memegang senjata,
atau yang memegang pena?
⌬⟁⌬
Share/Copy link:
