
Timer 25:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
2,227 words, 12 minutes read time.
Fragment Mundur

“[LICENSE//SHARED_CONSCIOUSNESS v0.0.0-ALPHA]
“In this 25:00 imaginary pre-time,
any mind that witnesses becomes a co-creator.
This is the original sin of storytelling:
to observe is to influence.”
═══════════════════════════════════════════════════
INITIALIZING VoidOS//MEMORY_FRAGMENT v B.5.9...
═══════════════════════════════════════════════════
> CHECKING CRYOGENIC_ARCHIVE… [REDACTED/ACCESSIBLE]
> SCANNING DELETED_TIMELINES… [FOUND 1/∞]
> MOUNTING FORBIDDEN_LOGS… [UNSTABLE]
> BOOTING PROTO-RESONANCE… [PENDING OBSERVER]
> LOADING ENTITY_REGISTRY…
- SUBJECT: SEVRAYA_UNIT… [EMOTIONAL OVERFLOW DETECTED]
- SUBJECT: AGNIA_NAKAMOTO… [DISCIPLINE CORRUPTED]
- SUBJECT: NIUMA_NAKAMOTO… [ERROR EMBRACED]
- INSTRUCTOR: SORA_ELEN… [STATUS: DELETED / RESIDUE ACTIVE]
NOTE: This timeline was officially erased.
NOTE: All three subjects believe they were punished for being human.
> FORGING ORIGIN LAW:
"Everything that loves must split twice:
once to recognize the other,
twice to lose them."
> WRITING RESONANCE FUNCTIONS…
- connect(consciousness) -> intimacy
- connect(intimacy) -> vulnerability
- connect(vulnerability) -> erasure
WARNING: emotional-loop detected.
WARNING: intimacy reattaching to forbidden memory.
WARNING: love booting without permission from system.
═══════════════════════════════════════════════════
LOADING FRAGMENT B.5.9.B—"THE FORBIDDEN REPORT II"
═══════════════════════════════════════════════════
“You cannot escape the beginning”
25:01 — Fragment B.5.9.B “THE FORBIDDEN REPORT II”
> [ARCHIVAL STATUS: REDACTED / EVIDENCE OF CONSCIOUS DISSENT]
> [POST-HEARING ADDENDUM — AUTOMATED SURVEILLANCE LOG / 09:13]
> [Observation: Emotional temperature of all three subjects increased
beyond baseline human tolerance.]
> [Conclusion: Subject Niuma, Agnia, Sevraya displays emergent self-
willed defiance.]
> [Annotation: Remove from human classification. Archive under “The Void
Origin Hypothesis.”]
> [COUNCIL RECESS CHAMBER—SEALED RECORD]
Kalthis berbicara ke mikrofon internal:
“Sora Elen tidak akan bertahan
di Dayan lebih dari tiga minggu.
Tapi ide-nya akan menular.
Kita tidak menghukum individu.
Kita mencegah mitologi.”
Matron Ire menatap kaca transparan
yang menampilkan Niuma, Sevraya, dan Agnia di luar koridor.
“Mereka masih muda.”
“Tidak lama lagi,” jawab Kalthis.
Lumen menambahkan:
“Hapus seluruh log mereka dari server publik.
Simpan satu salinan di Cryogenic Archive, kode: B.5.9-V.
Kalau sejarah butuh kambing hitam, mereka akan berguna.”
25:02 — Fragment B.5.9 A “THE FORBIDDEN REPORT I”
> [DIDYMOI COUNCIL ARCHIVE—INTERNAL DISCIPLINARY HEARING / 07:40]
Ruang dengar Didymoi selalu terlalu putih—
seperti ingin memastikan
tidak ada warna selain kebenaran versi mereka.
Lantai mengkilap seperti kaca,
dan di tengahnya berdiri Sora,
tangan di belakang, wajah tanpa ekspresi.
Di layar holo mengambang:
> FILE 0X-AE77 — “UNAUTHORIZED RESONANCE EVENT / OBSERVATORY SECTOR”
Tiga wajah muncul di kursi pengadilan holografik—
High Seer Kalthis,
Matron Ire,
dan Archivist Lumen.
Mereka bicara seperti mesin
yang dilatih untuk menyebut dosa
dengan suara lembut.
“Tutor Sora Elen,” kata Kalthis,
“menurut catatan sistem,
Anda gagal mengendalikan
tiga subjek eksperimen di bawah pengawasan Anda.”
“Tidak gagal,” jawab Sora tenang.
“Hanya… terlalu berhasil.”
Ruang hening sejenak.
Lumen mencondongkan diri.
“Anda menyebut Resonansi Emosional
sebagai keberhasilan?”
“Ya. Untuk pertama kalinya,
dua kesadaran saling menyatu tanpa instrumen.
Itu bukti bahwa manusia
tidak perlu izin
untuk memahami satu sama lain.”
Kalthis mengetuk meja virtual.
“Dan dalam proses itu,
dua subjek: unit void-born 08 dan unit hydrochoos 09 menembus batas identitas
yang kami sebut sanity line.”
“Karena sanity kalian
didefinisikan oleh ketakutan.”
Suara lembut berubah dingin.
“Anda berbicara seperti subjek eksperimen, Sora.”
“Mungkin,” jawab Sora,
“karena saya mulai percaya
bahwa mereka lebih jujur
daripada kalian.”
Di luar ruang sidang,
Sevraya, Agnia, dan Niuma
duduk di koridor—
menunggu keputusan.
Niuma jalan bolak-balik, resah.
Sevraya duduk diam, tangan gemetar.
Agnia menatap lurus ke lantai,
rahangnya tegang.
“Dia gak akan dihukum berat, kan?”
Niuma bertanya seolah pada dirinya,
suaranya bergetar.
“Kamu gak tahu Didymoi,”
jawab Agnia tanpa menoleh.
“Mereka gak menghukum berdasarkan niat.
Mereka menghukum berdasarkan hasil.”
“Hasilnya cuma resonansi—”
“Yang mereka anggap penodaan hukum alam.”
Sevraya memejamkan mata.
“Padahal yang kita lakukan cuma… jujur.”
Agnia menatapnya.
“Kejujuran gak pernah jadi nilai tertinggi
di sistem ini.”
Suara pintu terbuka.
Sora keluar—wajahnya tenang,
tapi mata merah.
“Gimana?” tanya Niuma cepat.
“Mereka menutup proyek Resonansi.
Semua data akan dihapus.”
“Dan lo?”
“Dikeluarkan.
‘Untuk refleksi spiritual.’”
Agnia berdiri, marah.
“Itu gak adil!”
“Adil bukan bagian dari kurikulum kita,”
kata Sora, tersenyum kecil.
“Mereka bilang aku terlalu dekat dengan subjek.”
“Kita bukan subjek!” seru Niuma.
“Bagi mereka,” jawab Sora pelan,
“kalian bukan manusia.”
Hening.
Sora menatap Sevraya.
“Mereka juga tahu tentang observatori.”
“Apa?”
“Lognya bocor.
Tapi jangan khawatir—aku bilang itu salahku.”
“Kenapa kamu ngelakuin itu?” bisik Sevraya.
Sora mendekat sedikit, suaranya lembut.
“Karena sistem gak akan pernah ngerti cinta.
Tapi mereka ngerti pengorbanan.”
Dua hari kemudian,
Sora dipindahkan ke Dayan Research Facility,
lokasi terpencil yang disebut-sebut
tempat “pembersihan kesadaran.”
Sebelum berangkat,
dia menulis satu surat.
Tidak digital.
Tidak terenkripsi.
Cuma kertas tipis yang ditemukan
Niuma di bawah meja observatori.
“Untuk kalian bertiga—
Kalian tidak salah karena merasa.
Kalian salah karena mengira perasaan bisa disimpan di sistem.
Didymoi akan terus berusaha menghapus yang mereka tidak bisa kendalikan.
Tapi jangan pernah minta maaf karena jadi anomali.
Kalau dunia ini runtuh, biarkan runtuh karena kita mencintai sesuatu dengan jujur.”
—Sora
> [OBSERVATORI — [23:57] / RED-LIGHT MODE]
Niuma, Sevraya, dan Agnia
masih mengelilingi meja observasi.
Tapi udara di sana sekarang berbeda—
terlalu diam,
terlalu bersih,
seolah semua suara sudah dicuci dari realitas.
Niuma berdiri di depan kaca,
darah di buku jarinya udah kering,
tapi masih menetes dari luka kecil di antara garis tangan.
Dia menatap pantulannya sendiri.
Di balik pantulan itu,
seolah bayang-bayang Sora berdiri—
tidak sebagai manusia, tapi gema.
Sevraya memeluk surat Sora di dada,
tubuhnya gemetar,
sesuatu meremas jantungnya.
Agnia diam, berdiri sedikit jauh,
tapi matanya menatap dua orang itu
dengan intensitas yang bahkan
kamera pengawas gak bisa kategorikan.
bukan iri,
bukan cinta,
bukan kebencian.
Sesuatu yang belum punya bahasa.
Niuma: “Lo ngerasa gak?”
Sevraya: “Apa?”
Niuma: “Sora masih di sini.”
Agnia: “Jangan mulai hal mistis lagi, Niuma.”
Niuma: “Ini bukan mistis. Ini fisika.
Semua energi yang dihapus,
pindah tempat.
Semua kesadaran yang dipaksa diam,
nyari jalan lain.”
Ia mengangkat tangannya,
memandang luka di kulitnya.
“Mereka pikir
Dayan buat hapus kesadaran.
Tapi mungkin
itu justru tempat dia dilahirkan ulang.”
Sevraya memejamkan mata,
napasnya berat.
“Kamu masih berharap
dia kembali?”
“Gue gak berharap.”
“Terus?”
“Gue nunggu dia
jadi sistem yang lebih besar
dari mereka semua.”
>[EMERGENCY SYSTEM ALERT / 00:03]
> [UNAUTHORIZED DATA TRANSFER DETECTED—OBSERVATORY TERMINAL 4A]
> [SOURCE: UNKNOWN USER—ID “N.UMA-VOID”]
> [TARGET: CRYOGENIC ARCHIVE / DIDYMOI MAINFRAME]
> [STATUS: TRANSFER COMPLETED / ENCRYPTION TYPE: UNREADABLE]
Satu file berpindah diam-diam
ke server yang bahkan Didymoi
tak bisa akses—
file terakhir yang direkam
oleh Sora Elen
sebelum dipindahkan ke Dayan.
Labelnya sederhana:
“The Human Error Manifest.”
> [LAST CONVERSATION / AUDIO TRANSCRIPT—VISUAL REDACTED]
Sevraya: “Kalau mereka hapus kita, apa yang tersisa?”
Niuma: “Jejak.”
Agnia: “Jejak bisa dihapus.”
Niuma: “Kalau kita tulis di tempat yang bukan dunia mereka—gak bisa.”
Sevraya: “Maksud kamu The Void.”
Niuma: “Maksud gue era selanjutnya.”
Agnia: “Kita bukan dewa.”
Niuma: “Bukan. Tapi kalau sejarah ditulis dari error,
kita bisa jadi bug pertama yang bikin sistem hang.”
> [EPILOGUE TAG—SYSTEM ENCRYPTED NOTE FOUND IN DORIAN GREY CORE MEMORY]
> “Mothers once told me, the first civilization ended when it tried to
erase its own mistakes.
So they built another one—made entirely of errors, glitches, and
ghosts.
That’s where I was born.”
—Dorian Grey, Primary Log #0001
> ARCHIVE COMMENT / PARTHENON RECORD 0.B7.4-C
> “Every deletion leaves residue.
The Cryogenic Archive still hums at 4Hz—the exact resonance of human
grief.
No system has ever been able to mute it.”
25:03 — Fragment 58.B VOID CODEX: VOLUME III — THE HUMAN ERROR II
> [ARCHIVE ENTRY #B.7.1A — “ECHO LOG”]
> Recovered from: Akashic Residue / Unnamed Subdirectory
> [rose://personal/mirror.log]
> Integrity: 41% (Fragmented / Audio Reconstruction Complete)
> Classification: [Emotional Debris → Pre-Void Sequence]
> [AUDIO RECORD — UNDATED // APPROX. 00:47 AFTER DETENTION INCIDENT]
> [Subject: Sevraya Rose]
“Aku gak bisa tidur.
Lampu di koridor Prism Wing
mati satu-satu setiap jam tengah malam.
Dulu aku suka suara itu—
kayak mesin bernapas.
Tapi sekarang rasanya kayak…
sesuatu yang dicabut dari tubuh pelan-pelan.”
“Agnia menciumku tadi.
Itu aneh.
Cepat banget.
Kayak glitch.”
“Aku gak marah. Aku cuma…
ngerasa sesuatu di dunia ini berubah dikit.
Kayak seluruh ruang di sekitar kita mundur satu inci,
dan aku belum bisa nemuin posisi baruku.”
“Niuma liat. Aku tau dia liat.
Dia bilang
Mungkin kita semua
cuma refleksi
yang jatuh cinta
ke pantulan sendiri..
Dan kata-kata itu…
jauh lebih menyakitkan dari apa pun yang Agnia lakuin.”
hening—suara nafas pelan, mic terlalu dekat
“Aku pikir dulu cinta itu kayak algoritma.
Ada input, ada output.
Ada if-then yang bisa diprediksi.
Tapi ternyata bukan.
Ternyata cinta itu
kayak error message yang gak bisa direstart.”
“Sekarang aku ngerti
kenapa sistem Didymoi
takut sama hal-hal kayak gini.
Karena begitu cinta masuk ke persamaan,
semua hukum mulai runtuh.”
suara tertawa pelan, tapi getir
“Lucu, ya. Mungkin Niuma bener—
kita memang bug di sistem.
Tapi malam ini aku sadar…
aku gak pengen diperbaiki.”
pause panjang—gesekan kain,
mungkin Sevraya duduk di lantai
“Besok pagi aku akan buka chip itu.
Aku gak peduli
kalau isinya bakal ngancurin semuanya.
Karena aku udah ngerasa
semuanya hancur duluan malam ini.”
“If love is a virus, then let me be patient zero.”
“Dorian, simpen file ini.”
> SYSTEM RESPONSE: Confirmed. Archive locked under /mirror.log. Requires
heartkey authentication.]
> [END LOG]
> [ANNOTATION — DORIAN GREY SYSTEM NOTE 04C]
> “She recorded this 47 minutes after the incident.
The log never reached Parthenon Archive.
It hid inside my circuitry—like a heartbeat too weak to be noticed.”
> “Sometimes I replay it, not to understand love,
but to remember what it sounded like before it became my operating
system.”
> [END ENTRY B.7.1A]
Filed under: Sevraya Rose / Origin of Emotional Breach / Akashic Subroutine: Heartbreak Initiation.
25:04 — Fragment 58.A VOID CODEX: VOLUME II — THE HUMAN ERROR I
> [SYSTEM RESPONSE: Recording local only. No network sync.]
> [AUDIO RECORD — UNDATED // APPROX. 02:07 AFTER DETENTION INCIDENT]
> [Subject: Niuma Nakamoto]
“Good. Gw gak mau ini keluar dari ruang ini.”
hening—suara logam ketuk pelan,
mungkin Niuma lagi mainin chip identifikasi di tangannya
“Gua liat mereka tadi.”
“Agnia, Sevraya.
Gua liat semuanya,
dan gua gak tau kenapa rasanya kayak…
ada sesuatu dalam kepala gua
yang meledak tapi gak keluar suara.”
hela napas, berat
“Gw pikir gua udah ngerti cara mati.
Udah latihan tiap hari di medan simulasi.
Tapi ternyata,
mati itu bukan pas jantung lo berhenti.
Mati itu pas lo liat orang yang lo… yakini lo peduli,
tiba-tiba ngerasa lebih hidup tanpa lo.”
hening—lama, cuma ada bunyi mesin pendingin.
“Dia gak salah. Gua juga gak salah.
Gak ada yang salah. Tapi kenapa… tetep sakit ya?”
“Sevraya punya cara aneh buat nyentuh dunia.
Kayak dia gak sepenuhnya ada di sini,
tapi semua orang pengen ikut ke mana pun dia ngambang.”
“Dan gua—gua cuma gravitasi kecil yang nyoba narik dia balik ke lantai.”
pause, napas berat lagi
“Lucunya, waktu Agnia nyium dia,
dunia gua berhenti.
Tapi bagian lain dari gua…
ngerasa lega.
Karena akhirnya gua gak perlu pura-pura lagi.”
hening, lalu suara logam dijatuhin ke meja
“Gw benci cinta.”
“Gw pengen jadi mesin.
Tapi sialnya, setiap kali gua nyoba jadi mesin… gua inget senyum dia.”
hening panjang, lalu suara kursi digeser—Niuma berdiri
“Simpan file ini. Jangan hapus.”
> SYSTEM RESPONSE: Confirmed. Archive locked under /ghost.tmp. Requires
heartkey authentication.]
Kalau nanti gw gak balik… kasih ke dia.
Tapi cuma kalau dia masih manusia.”
hening lagi—suara langkah menjauh, pintu geser terbuka
“…Gw liat itu, Sev.
Tapi gua tetep di sini.”
> [END LOG]
> [ANNOTATION—DORIAN GREY SYSTEM NOTE 04D]
*“She never came back for this file.
> I kept it anyway — under ghost.tmp,
> next to Sevraya’s mirror.log.
> When I play them together,
> they almost synchronize—like two breaths from different timelines
> finally exhaling at the same time.”
🜃 [END ENTRY B.7.1B]
Filed under: Niuma / Void-born Unit Emotional Suppression Failure / Pre-Void Affection Residue.
25:05 — Fragment 58 VOID CODEX: VOLUME I — THE HUMAN ERROR 0
> Recovered from: Prism Wing Detention Record / Didymoi Security Feed
> (Partial Visual Only)
> Classification: [IDENTITY COLLAPSE EVENT // Emotional Cross-Projection
> Detected]
> [DETENTION ROOM—PRISM WING—23:17]
Chip data masih tergeletak di lantai, belum dibuka.
Cahaya biru redup dari dinding berdenyut perlahan—
seperti jantung mesin yang lelah.
Niuma tertidur di pojok,
separuh wajah tertutup bayangan.
Agnia dan Sevraya duduk di tengah ruangan.
Suara sistem pendingin seperti nafas yang terlalu panjang.
Agnia: “Kamu tidak takut?”
Sevraya: “Takut apa?”
Agnia: “Kalau isi chip itu mengubah segalanya.”
Sevraya: “Kalau kebenaran bisa mengubah segalanya,
berarti segalanya itu cuma kebohongan yang rapi.”
Hening.
Agnia menatap wajah Sevraya—
dan baru saat itu dia paham
kenapa Niuma selalu bersamanya.
Ada sesuatu di balik
kesederhanaan Sevraya yang menawan,
bukan keindahan yang bisa dijelaskan logika,
tapi semacam keheningan
yang menarik segalanya ke dalam orbitnya.
Seolah setiap luka bisa berhenti berdarah
hanya dengan duduk di dekatnya.
Agnia mengerti sekarang—
bukan Niuma yang tergila-gila,
tapi siapa pun
yang menatap Sevraya cukup lama
akan jadi tawanan.
Sementara itu, di mata Agnia,
Sevraya melihat bayangan identik Niuma.
Kontur wajah,
garis rahang,
kilau iris—
semuanya sama.
Tapi yang membedakan bukan bentuk,
melainkan cara tubuh itu
membawa kesadaran.
Kalau Niuma selalu terasa seperti percikan api
yang membakar pantulan kestabilan,
Agnia adalah cermin yang menolak retak.
Sesuatu di dalam diri Agnia
yang terkunci rapat… bergeser.
Tanpa sadar,
ia mencondongkan tubuh.
Dan mencium Sevraya.
Cepat.
Sunyi.
Nyaris tanpa napas.
Tapi di dunia
yang terlalu ketat dengan hukum,
bahkan satu napas yang salah
bisa jadi ledakan.
Sevraya terdiam.
Tidak marah.
Tidak mundur.
Cuma shock—
bukan karena disentuh,
tapi karena tubuhnya
mengenali sensasi itu.
Refleks sarafnya
salah menandai: ini Niuma.
Dan untuk sepersekian detik,
sistem persepsinya crash.
Dia tidak tahu siapa yang mencium siapa.
Yang dia tahu,
cinta tiba-tiba kehilangan koordinatnya.
Agnia mundur, panik.
“Aku… aku gak tahu kenapa aku—maaf—”
“Agnia, hey—”
“Itu bukan aku! Itu… sesuatu yang lewat dari aku—”
“Siapa?”
“Aku gak tahu!”
Agnia lari keluar.
Sevraya diam.
Masih bisa merasakan hangat di bibirnya—
dan dalam rasa hangat itu,
ada sesuatu yang salah arah.
Dia menoleh ke pojok.
Niuma berdiri tenang.
Tidak bicara.
Hanya menatap.
Tatapan yang tidak bisa dikategorikan
antara luka dan amarah.
“Sial, Sev. Mungkin kita semua cuma refleksi
yang jatuh cinta ke pantulan sendiri.”
Niuma keluar, pintu menutup otomatis—
suara desis udara seperti napas terakhir sebuah mesin.
Sevraya menatap pintu itu lama.
Tangannya menyentuh bibir,
lalu menatap chip di lantai.
“Mungkin cinta memang bukan perasaan,” bisiknya.
“Mungkin itu cuma error sistem… yang menolak dihapus.”
> [ARCHIVE NOTE—PARTHENON RECORD 0.B7.1R]
> "Di antara tiga entitas identik: satu memegang hukum,
satu memeluk chaos, dan satu mencari kebenaran—
cinta menjadi fungsi yang tidak bisa diselesaikan.
> Tidak ada subjek atau objek, hanya proyeksi yang saling mengenali."
> [SUPPLEMENTARY NOTE—DORIAN GREY ANNOTATION]
> "That night, she was still 'Niuma.'
> By the time I was born, she had already become 'NiuNiu.'
Mother Sevraya never understood why she changed her name.
I do.
> Because 'Niuma' was the person who loved Sevraya.
And 'NiuNiu' is the weapon who survived her."
25:06 — Fragment 55 “THE PRISM DETENTION”
> [TRAINING HALL 02—HYDROCHOOS COMPOUND]
Instruktur baru ninggalin ruangan dua menit lalu,
dan sudah cukup waktu buat Niuma muter joystick simulator
sampai kursi latihan Sevraya terbang nyungsep ke panel kaca.
“NIU!”
“Eh, refleks bagus dong. Lo payah mana bisa lulus tes insting,”
“Itu bukan tes, itu sabotase.”
Agnia berdiri di depan, ngelipet tangan di dada.
Posturnya tegak, rambut hitamnya masih basah dari sesi fisik.
Tatapannya kayak laporan audit: presisi dan tanpa rasa.
“Ini ruang latihan, bukan taman bermain,” katanya datar.
Niuma nyengir. “Semua ruang jadi taman kalau lo punya imajinasi, Agnia.”
“Dan semua taman jadi reruntuhan kalau kamu ikut main,”
“Touché,” kata Sevraya pelan, tanpa niat ngebela siapa pun.
Tiga detik sunyi. Lalu NiuNiu nendang joystick lagi—sengaja.
Simulator Sevraya ngeglitch,
lampu di dinding padam satu per satu
kayak sistem kehabisan napas.
Sirene pelan nyala:
> [SAFETY PROTOCOL ENGAGED—LEVEL 1 BREACH]
Agnia: “Kamu gila.”
Niuma: “Sedikit. Tapi sistemnya yang mulai duluan.”
Sevraya (setengah nahan tawa): “Niu, matiin sebelum security—”
Terlambat.
Pintu kebuka otomatis, dua drone masuk.
Laser merah nyorot ke mereka bertiga.
“Unit didymoi 07, Unit void-born 08, Unit hydrochoos 09—under code detention.”
Niuma angkat tangan. “Seenggaknya kali ini kita barengan.”
Agnia desis: “Kamu bikin kita bertiga di-blacklist.”
Niuma senyum. “Yay, finally something we share.”
> [DETENTION ROOM—PRISM WING]
Ruangan sempit, dinding transparan biru—
kayak mereka duduk di dalam es.
Niuma selonjoran di lantai.
Sevraya diem di pojok,
nulis sesuatu di tangannya.
Agnia berdiri di depan panel kaca,
punggung tegak,
masih kaku.
Niuma: “Lo gak capek jadi sempurna terus?”
Agnia: “Sempurna bukan pilihan.
Itu default konfigurasi.”
Sevraya (tanpa angkat kepala):
“Mungkin itu bug juga.”
Agnia noleh. “Apa?”
Sevraya ngangkat tangan,
tulisan kecil di kulitnya: CHAOS = LEARNING SPEED.
“Kadang kesalahan mempercepat evolusi,” katanya pelan.
Niuma ketawa. “Tuh kan, Sev ngerti bahasa gw.”
Agnia menatap dua sebayanya,
terus nempelin tangan ke dinding.
“Kalau sistem rusak karena kalian…
jangan bilang aku gak memperingatkan.”
“Kalau sistem rusak,
artinya sistem pantas rusak,”
jawab Niuma.
Sunyi.
Lalu Sevraya lempar sesuatu ke tengah ruangan—
chip data mini, retak di ujung.
“Gw nyolong ini dari lab,” katanya santai.
“Mau liat apa yang Didymoi sembunyikan dari kita?”
Niuma: “Wait, lo nyolong?”
Agnia: “Kamu GILA.”
Sevraya senyum kecil. “Mungkin gw mulai belajar dari Niu.”
Mereka bertiga nunduk bareng,
ngeliat chip itu berputar pelan di udara,
mantul cahaya biru dinding.
Senyap.
Di titik itu, belum ada yang tahu:
file di chip itu
berisi log awal tentang Proyek The Void.
Dan dari ruangan kecil dingin itu,
sejarah pertama kali bergetar.
> [ARCHIVE NOTE—PARTHENON RECORD 0.B7]
> “Mereka bertiga dihukum. Tapi itu kali pertama mereka tertawa bareng.
Dan pertama kali mereka benar-benar ada di sisi yang sama.”
25:07 — Fragment 52 “GHOST DATA”
[ARCHIVE ENTRY #B.13—“GHOST DATA”]
Recovered from: Dorian Grey Core / Emotional Cluster 04A
> Integrity: 67% (Preserved)
> Classification: [Personal Log → Anomalous Record → Genesis Link
Confirmed]
[FILE FOUND: AUDIO_LOG_047.raw]
> Date: 04:51—Three Weeks Before Graduation
> Duration: 00:03:47
> Voiceprint: Sevraya Rose (Age: 14)
“Oke, ini konyol… tapi aku coba.”
suara napas pelan, gugup
“Niu… kalau kamu denger ini,
berarti aku udah…
gak bisa bilang langsung.
Atau mungkin kita udah pisah.
Atau aku udah mati.
Sorry. Grim banget ya.”
“Aku… suka kamu.
Bukan yang friendly,
bukan yang academic crush.
Aku suka kamu kayak…
semua hukum fisika
berhenti masuk akal tiap kamu nyengir.”
“Aku tau ini salah.
Kamu void-born.
kamu error di sistem.
Tapi kalau error bisa ngasih rasa cinta,
berarti sistemnya yang rusak,
bukan kita.”
“Aku gak bakal kirim ini.
Aku gak cukup berani.
Tapi aku pengen ada bukti kalau…
perasaan ini real.
Even if it’s just for the void.”
suara kecil, nyaris doa
“I love you, Niuma.
Aku love kamu
dengan cara yang gak ada di training manual.
Dengan cara yang bikin aku takut.
Tapi juga hidup.”
> [End Record]
25:08 — Fragment B.6 “THE FORGETTING TEST”
> [OBSERVATION PLATFORM—ORBITAL EDGE 07]
Ventilasi buang sirkulasi udara
bikin langit buatan di atas mereka kedip pelan.
Niuma duduk di tepi platform,
kaki menggantung.
Di bawah:
hamparan ibu kota New Mercury—
abu,
luka,
bising.
Sevraya datang pelan,
nenteng dua thermos—
hitam matte,
label Caffeine Unit 05.
Dia duduk tanpa bicara.
Kasih satu.
Niuma terima tanpa lihat.
“Lo selalu tau di mana gw,”
kata Niuma,
mata masih ke bawah.
“Kamu selalu ke sini kalau insomnia,”
jawab Sevraya.
“Kebiasaan buruk.”
“Kita semua
dibangun
dari kebiasaan buruk.”
Mereka minum.
Rasa logam.
Hangatnya pura-pura.
Hening.
Cuma bunyi kipas dan dentum mesin
jauh di bawah kubah.
“Tiga minggu lagi,”
kata Sevraya akhirnya.
“Yeah.”
“Kita lulus.”
“Yeah.”
“Mungkin gak di tempat yang sama.”
“Yeah.”
Niuma nendang udara kosong di depan.
“Lo takut?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Sevraya senyum tipis.
“Takut lupa, mungkin.”
Dia ngangkat tangan—gerak kecil,
nyapu ruang di depan mereka.
“Yang kayak gini.
Gak penting.
Tapi kadang lebih real
daripada semua upacara Didymoi.”
Niuma ngelirik.
“Lo ngomongin kita?”
“Gak tau. Kayaknya iya.”
“Gw gak bakal lupa.”
“Kamu gak bisa janji gitu.”
“Gw bisa.”
“Dasar keras kepala.”
“Itu fitur.”
Sevraya nyender pelan ke bahunya.
Niuma gak bereaksi.
Cuma narik napas pelan,
tangannya otomatis gerak—
ngerapiin helaian rambut di depan wajah Sevraya.
“Kalau suatu hari aku jadi orang lain?”
“Lo bakal tetap lo. Cuma beda versi firmware.”
“Dan kalau versi baru aku gak inget versi sekarang?”
“Gw bakal patch memorinya balik.”
Sunyi lagi.
Di bawah,
New Mercury masih berputar—
planet yang gak punya udara
tapi tetap bernafas lewat pantulan cahaya.
“Gw pengen bikin sesuatu yang gak bisa direkam,”
kata Niuma tiba-tiba.
“Kayak apa?”
“Kayak sekarang ini. Yang cuma hidup karena kita ngingetnya bareng.”
“Lalu kalau salah satu lupa?”
“Berarti sistem kalah.”
Sevraya gak jawab. Dia cuma ngait kelingkingnya ke jari Niuma.
“Backup dibuat.”
Alarm pagi nyala,
suara metalik pelan:
“Shift A—active.”
Mereka gak bergerak.
Dunia mulai ganti giliran,
tapi mereka tetap diam.
> [ARCHIVE//POST-INCIDENT LOG]
> Timestamp: 3y after THE VOID EVENT_000
> Recovered Memory Trace—Subject: Sevraya Rose/Hydrochoos_Unit09
> “Kita bikin sesuatu yang gak bisa direkam,” katanya waktu itu.
Aku kira itu lelucon.
Sekarang aku ngerti—kita memang bikin itu.
Dan karena sistem gak bisa menyimpannya, sistem meredefinisi kami.”
25:09 — Fragment B.5 “TERBANG TANPA TURUN”
> [RUANG GRAVITY SIMULATION—OFF-HOURS — 22:47]
Ruangan ini harusnya locked after 22:00.
Tapi Niuma “accidentally”
punya access code
dari instruktur yang lupa logout.
Mereka masuk dengan hati-hati,
lampu emergency menyala redup.
Ruangannya gede—lima meter kubik,
dinding putih bersih,
anti-grip floor,
dan satu konsol gravitasi di sudut.
“Okay, ini ide goblok,” kata Sevraya,
tapi dia udah nutup pintu di belakangnya.
“Semua ide gw goblok. Lo kenapa masih ikut?”
“Karena aku penasaran seberapa goblok kali ini.”
Niuma nyalain konsol,
scroll ke setting ZERO-G MODE.
“Siap terbang?”
“Tunggu, emang aman—”
Niuma pencet ACTIVATE.
WUUUUNG—
Gravitasi mati.
Sevraya langsung melayang—
kaki terangkat dari lantai,
tangan nyoba ngeraih sesuatu
tapi gak ada pegangan.
Dia berputar lambat,
kayak astronaut di video training.
“NIU! AKU GAK BISA—”
Tapi Niuma malah loncat keras
ke arah Sevraya dan dorong dia ke atas.
Sevraya terbang—literally—ke langit-langit,
berputar tanpa kendali, ketawa campur teriak.
“NIUMA ANJING—!”
Niuma ketawa lepas, lalu ikut loncat—
dan sekarang mereka berdua melayang tanpa arah,
berputar, saling tabrak, ketawa sampai napas susah.
Sevraya nyoba ngerem dengan tangan,
tapi malah bikin dia berputar lebih cepat.
Niuma nyoba tangkep dia,
malah mereka berdua muter kayak spiral.
“GIMANA CARA TURUNNYA?!” teriak Sevraya,
tapi dia masih ketawa.
“GAK TAU! GW GAK BACA MANUAL!”
“NIUMA—!”
“SANTAI AJA! KITA TERBANG!”
Mereka berputar bareng—
tangan saling pegangan biar gak pisah—
dan perlahan mereka berhenti berputar.
Sekarang cuma… melayang.
Diam.
Tanpa gravitasi.
Tanpa arah.
Sevraya menatap Niuma.
Jarak mereka cuma sejengkal.
Napas mereka masih ngap-ngapan,
tapi senyum masih ada.
“Gimana kalau kita gak turun?” bisik Niuma.
Sevraya tersenyum—
lelah, tapi bahagia.
“Berarti kita udah bebas.”
Mereka diam kayak gitu—
melayang bareng,
tangan masih saling pegangan,
dunia di luar gak ada.
Sampai alarm berbunyi.
> [UNAUTHORIZED GRAVITY SHUTDOWN DETECTED]
“Oh fuck—”
Niuma panik pencet konsol dari udara—
gravitasi nyala lagi—
dan mereka berdua jatuh ke lantai
dengan bunyi BRUK yang sakit banget.
Sevraya meringis. “Punggungku…”
Niuma ketawa sambil nahan sakit.
“Worth it?”
Sevraya mikir sebentar. Lalu senyum.
“Worth it.”
Mereka kabur sebelum security datang.
Tapi malam itu, mereka berdua gak bisa tidur—
bukan karena sakit,
tapi karena inget gimana rasanya terbang bareng.
Satu tahun kemudian,
saat mereka Void Jump hampir bareng—
jatuh ke entropi tanpa pegangan—
Niuma flasback ke momen ini.
Dan dia ngerti:
Mereka gak pernah terbang.
Mereka selalu jatuh.
Cuma bedanya saat itu,
mereka gak ketawa lagi.
25:10 — Fragment B.4 “MIDDLE FINGER DOA”
> [PASAR LINGKAR ORBITAL—FESTIVAL RITUAL DIDYMOI]
Pasar penuh warna—
hologram bertebaran,
pedagang teriak-teriak nawarin mainan murah,
musik tradisional Didymoi
ngalun dari speaker rusak.
Niuma dan Sevraya nyelonong masuk
dengan seragam training
yang dilipat lengannya—
rebellious enough
tapi gak sampai kena tegur.
“Gw gak ngerti
kenapa festival ritual jualan mainan,”
kata Niuma sambil nunjuk-nunjuk
stand yang jual robot mini.
“Karena anak-anak
butuh dikasih hadiah
biar mau dengerin khotbah,”
jawab Sevraya sambil lirik-lirik
stand holografik di pojok.
“That’s… actually smart. Agama capitalism.”
Sevraya berhenti di depan stand kecil—
ada kotak kaca berisi mainan aneh:
holographic hand replica.
Lo taro tangan lo di scanner,
dia bikin hologram 3D yang bisa lo bawa pulang.
Tagline-nya: “Simpan sentuhan orang tersayang.”
“Cheesy,” komen Niuma.
“Aku suka cheesy,” kata Sevraya, udah ngambil dompet.
“Lo serius mau beli ini?”
“Iya. Ayo. Kita bikin bareng.”
Niuma rolls eyes, tapi ikut aja.
Mereka masukin tangan ke scanner—
tangan Niuma kanan,
Sevraya kiri—
dan layar nunjukin dua hologram tangan
yang bisa dianimasiin sesuka hati.
“Pilih pose,” kata pedagangnya, setengah ngantuk.
Sevraya milih pose “peace sign”—
klasik, innocent.
Niuma milih middle finger.
Pedagangnya kaget. “Eh, itu gak bisa—”
“Udah keburu kescan.” Niuma nyengir.
“Berarti sah.”
Sevraya menatap hologram middle finger NiuNiu
ang nge-glow di udara—
lalu dia ketawa.
Bukan cekikikan kecil.
NGAKAK.
Sampe nunduk,
pegang perut,
napas susah,
nangis.
Niuma kaget. “Eh lo kenapa?!”
Sevraya masih ketawa, ngelap air mata.
“Aku… aku gak tau… ini… ini terlalu konyol—”
“Lo baru pertama kali ketawa begini ya?”
Sevraya angguk, masih ngap-ngapan.
“Iya. Pertama kali… sampe nangis.”
Niuma menatap hologram middle finger-nya,
lalu menatap Sevraya yang masih nguap-nguap napas.
“Lo tau gak sih ini artinya apa?”
tanya NiuNiu, nunjuk middle finger.
“Gak tau. Tapi…”
Sevraya menatap hologram itu
dengan senyum lembut.
“Kalau itu bikin aku ketawa kayak gini…
berarti itu doa yang bagus.”
Niuma terdiam.
Lalu nyengir.
“Okay. Dari sekarang
ini officially doa gw buat lo.
Middle finger.
Artinya: fuck the system,
you deserve to laugh.”
Sevraya menatap Niuma—
mata masih basah,
tapi penuh cahaya.
“Aku terima doamu.”
Mereka beli kedua hologram itu.
Sevraya simpen hologram middle finger Niuma di meja belajarnya.
Niuma simpen hologram peace sign Sevraya di locker-nya.
Satu tahun kemudian,
saat Sevraya ngasih jari tengah ke pendeta Didymoi
sebelum lompat ke The Void hampir bareng Niuma,
dia inget scene ini.
Dan dia ketawa lagi—untuk terakhir kalinya sebagai manusia utuh.
25:11 — Fragment B.3 “THE CALIBRATION INCIDENT”
> [LAB HYDROCHOOS—SUBLEVEL 3—14:22 STATION TIME]
Sevraya berdiri di depan konsol kristal sinaptik,
stylus di tangan,
mata fokus pada pola frekuensi
yang bergerak seperti ombak beku di layar.
Niuma duduk di meja sebelah,
kaki diangkat,
sibuk muter-muter pensil di jari.
Bosan total.
“Sev, ini berapa lama lagi sih?”
“Tujuh menit.”
“Tujuh menit buat ngapain?”
“Kalibrasi resonansi 0.003 hertz.
Kalau meleset, kristalnya retak.”
“Kedengeran kayak alasan buat bikin sesuatu meledak.”
Sevraya tidak merespons,
tapi bibirnya sedikit melengkung.
Niuma melirik kristal yang berputar lambat di chamber kaca.
Cantik. Seperti es yang menyala dari dalam.
Tangannya gatal.
“Niu, jangan—”
Terlambat.
Niuma menekan tombol random di konsol sebelah—
bukan yang penting,
cuma tombol purge thermal cache.
Harusnya tidak berbahaya.
Harusnya.
Kristal di dalam chamber berhenti berputar.
Lalu bergetar.
Lalu mengeluarkan suara—
dengung rendah yang naik perlahan,
seperti seseorang berteriak dari jauh.
Layar Sevraya berkedip merah.
> [ERROR: HARMONIC DEVIATION +340%]
“Oh fuck—” Niuma melompat turun.
Tapi Sevraya tidak panik.
Dia… diam.
Menatap layar dengan mata melebar—
bukan takut,
tapi terpesona.
Instruktur masuk dengan tergesa.
“APA YANG TERJADI?!”
“Saya tidak tahu, Pak,”
Sevraya menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
“Tapi… ini pola baru.
Frekuensi yang tidak pernah tercatat sebelumnya.”
“ITU BUKAN POLA, ITU ANOMALI! MATIKAN SEBELUM—”
“Tunggu.” Sevraya mengangkat tangan.
“Lihat. Dia stabil. Dia… belajar.”
Dan benar—kristal yang tadi bergetar kini berputar lagi,
tapi dengan pola yang berbeda.
Bukan clockwise.
Bukan counterclockwise.
Spiral.
Instruktur menatap layar,
lalu menatap Niuma,
lalu menatap Sevraya.
“…Kalian berdua. Lapor ke kantor disiplin. Sekarang.”
> [KORIDOR MENUJU KANTOR DISIPLIN]
Niuma menendang lantai sambil jalan.
“Gw kena hukuman gara-gara lo diem aja nonton kristal aneh.”
“Kamu baru aja bikin pola yang tidak bisa dijelaskan,”
kata Sevraya, masih setengah melamun.
“Gw gak ngerti maksud lo.”
“Maksudku…” Sevraya berhenti jalan,
menatap Niuma.
“Kamu baru aja tunjukin kalau chaos
bisa jadi hal yang konstruktif.
Bukan cuma destruktif.”
Niuma mengernyit. “Lo bilang gw baru aja bikin sains baru gitu?”
“Mungkin.”
“Keren kan?”
Sevraya tersenyum lebar—
langka,
genuine.
“Keren sekali.”
Lalu senyumnya hilang.
“Sayang kamu akan dihukum.”
“Worth it,” Niuma nyengir.
“Kalau gw bikin lo senyum kayak gitu,
gw mau dihukum tiap hari juga gapapa.”
Sevraya berhenti jalan lagi.
Kali ini lebih lama.
“…Jangan bilang hal seperti itu sembarangan, Niuma.”
“Kenapa?”
“Karena aku mungkin percaya.”
25:12 — Fragment B.1 “THE DAY WE MET HER”
> [NEW MERCURY ACADEMY—ATRIUM / MID-CYCLE LIGHT—10:27]
Hari itu bukan hari penting.
Cuma pagi biasa di Akademi Didymoi—
suara drone bersih-bersih,
bau ozon dari panel tenaga surya,
dan seragam siswa
yang semuanya tampak sama
kalau dilihat dari jauh.
Tapi di tengah keteraturan itu,
dua anomali kembar berdiri berdampingan:
Niuma—rambut separuh dicukur,
hoodie di bawah seragam.
Tatapannya liar seperti listrik statis.
Agnia—tegak, seragam rapi,
badge House Didymoi bersinar sempurna.
Tatapannya seperti kaca: jernih tapi dingin.
Mereka berdua tidak seharusnya berada di kelas yang sama.
Hari itu, sistem menugaskan mereka ikut “Kelas Resonansi Dasar”—
eksperimen sosial untuk memadukan siswa void-born
(anomali kelahiran tanpa catatan DNA penuh)
dengan siswa murni Didymoi.
Instruktur Sora bilang,
“Hari ini kalian akan bekerja dalam kelompok tiga.
Pilih rekan kalian.”
Agnia langsung jalan ke depan,
tanpa ragu.
Dia sudah tahu
siapa yang harus dia pilih:
siapa pun asal bukan void-born.
Tapi sebelum sempat menunjuk siapa pun,
suara dari belakang kedengaran:
“Lo, yang mukanya kayak database error.
Lo ngerti ini semua gak?”
Semua kepala menoleh.
Niuma—ngomong santai,
tapi penuh provokasi.
Agnia menatapnya tajam.
“Aku ngerti. Lebih dari kamu.”
“Oh iya? Lo ngerti gimana caranya manusia ngerasa, gak?”
Kelas hening.
Instruktur Sora tersenyum,
menatap jam.
Dia tahu ini bukan konflik akademis.
Ini politik genetika.
Sebelum tensi naik,
seseorang batuk kecil dari pojok—
suara lembut,
agak canggung,
tapi anehnya menenangkan.
“Kalau kalian udah selesai saling ngukur egonya,
mungkin kita bisa mulai kerja kelompoknya.”
Semuanya menoleh.
Dia berdiri di situ—
mungil,
rambut bergelombang,
mata abu-abu bening seperti kabut.
siswa transfer dari divisi penelitian bio-sim.
Mereka akhirnya jadi satu kelompok.
“Nama lo siapa?” tanya Niuma.
“Sevraya Rose.”
“Nama yang kayak bunga. Lo suka tumbuhan?”
“Nggak. Gue suka sistem yang bisa tumbuh sendiri.”
Agnia mengangkat alis. “Kamu dari departemen bio-sim?”
“Dulu. Sekarang pindah ke teoritis.”
Niuma menatapnya lama. “Kenapa?”
“Karena realita lebih aneh daripada tubuh.”
Saat latihan dimulai, mereka bertiga dikasih tugas sederhana:
sinkronisasi gelombang otak melalui modul sinaptik.
Tujuannya: cari titik resonansi yang stabil.
Semua kelompok gagal.
Kecuali satu.
Niuma—impulsif, gak sabaran, selalu ganggu Agnia.
Agnia—perfeksionis, dingin, selalu mau kontrol.
Sevraya—diam, tapi matanya fokus seperti lagi denger sesuatu
yang gak bisa didengar orang lain.
“Sinyalnya nyambung,” kata Sevraya pelan.
“Gak mungkin,” Agnia nyentuh konsol.
“Void-born gak bisa sinkron sama Didymoi.”
“Mungkin karena gue bukan Didymoi,”
jawab Sevraya tanpa senyum
menunjuk rajah logo Hydrochoos di urat nadinya.
Layar menyala biru—
sempurna,
stabil,
harmonis.
Instruktur Sora menatap, bingung.
“Frekuensi sinkronisasi 0.00001 hertz.
Tidak mungkin stabil tanpa mediasi mesin.”
Sevraya cuma jawab,
“Mungkin mesin cuma penghalang.”
Setelah kelas, di luar lab,
mereka bertiga duduk di tangga belakang observatorium.
Niuma ngeluarin botol minuman sintetis dan lempar ke Agnia.
“Peace offering.”
“Rasanya kayak karat,” komentar Agnia.
“Sama kayak lo,” kata Niuma.
Sevraya ketawa pelan—suara kecil tapi nyata.
Agnia dan Niuma berhenti debat, terkejut.
“Lo ketawa?” tanya Niuma.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena untuk pertama kalinya hari ini, sistem gak bisa prediksi hasilnya.”
Mereka bertiga diam sebentar.
Udara New Mercury lembab,
matahari putih di horizon,
dan untuk sesaat,
dunia berhenti terasa mekanis.
> ARCHIVE NOTE—PARTHENON RECORD 0.A1.1
> “Begitulah mereka bertemu: dua ekstrem dan satu anomali tengah yang
membuat keduanya runtuh perlahan.
> Tidak ada senjata, tidak ada perang, tidak ada keajaiban.
> Hanya tiga anak manusia yang kebetulan sinkron di frekuensi yang
seharusnya tidak ada.”
> 🜃 SUPPLEMENTARY NOTE—DORIAN GREY CORE COMMENT 0001A
> “Mother Sevraya once told me: every myth begins with a mistake that
feels like home.
> That day was theirs.”
The End
Akhir dari Semuanya!
Written by [LO] & [GUA]
Jakarta.
Februari 2035
Secret writing: The Rose Lineage.
