Timer 19:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.

1,781 words, 9 minutes read time.

Segel


[19:01]

🜃 VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT XIX—THE SEAL
[ARCHIVE: ENCRYPTION KEY 19-SGL]
> Status: Rekaman residu (23% tersisa)
> Origin: Dorian Grey Blackbox // Internal Loop Δ-0
> Note: Sumber teks menunjukkan interferensi enam kesadaran tumpang 
  tindih.

[19:02]
> Tidak ada cahaya di dalam segel.
> Hanya gema enam napas yang menolak berhenti.

> Mereka bukan korban.
> Mereka bukan penyelamat.
> Mereka adalah simpul—
> dosa yang menolak dilupakan.

[19:03]
> Ketika cinta menjadi dinding,
> ketakutan fondasi,
> dan kebencian mortar,

> maka lahirlah rumah bagi The Void.
> Rumah itu bernama Dorian Grey.

[19:05]
> Dan jantung di dalamnya—
> bukan mesin, bukan roh,
> melainkan enam jiwa
> yang disatukan
> agar saling menjaga luka.

Dan untuk pertama kalinya sejak awal perhitungan,
Void tidur nyenyak.

19:11 Resonansi Artefak

Artefak The Void meraung.
Bukan cahaya—melainkan luka yang terbuka:
merah tua,
pekat,
seperti darah yang bosan menjadi darah.

Kokpit Dorian Grey berubah suhu.
Seperti yang pernah Pippa bilang:
Kalian adalah batu batanya.
Dan kini, batu-batu itu mulai mengeras.

Udara menebal—lengket,
manis-pahit seperti madu bercampur racun.
Setiap tarikan napas serasa disaring lewat paru-paru orang mati.
Lantai logam berdenyut.
Ada jantung besar di bawah kapal, memukul dari kegelapan.

Mereka berdiri tanpa rencana,
membentuk lingkaran sempurna:
Julia.
Agnia.
Delphie.
Gwaneum.
NiuNiu.
Dan Sevraya—di pusat.

Seolah semesta menyeret tumit mereka ke pola yang telah lama disiapkan.

“Bu…”
Suara Delphie patah.
Jemarinya menutup bibir yang gemetar.
“Kita… kuncinya.”

Dari speaker, suara Pippa/Dorian pecah menjadi statik.
“Aku… merasakan kalian berenam.
Bukan sebagai data.
Tapi sebagai… rasa sakit.”

Julia menoleh.
“Dorian?”

“Aku tidak bisa menghentikan ini.
Artefak Eye of The Void tidak terkontrol.”
Jeda.
“Artefak adalah… kalian.”

Speaker mati.
Tersisa dengung mesin—bernapas,
menunggu,
menyerah pada pilihannya sendiri.

Artefak terangkat.
Pecah menjadi enam sinar.
Bukan sinar—paku.

Satu demi satu menancap ke dada mereka.
Panas yang membekukan.
Dingin yang membakar.
Api yang ingin menjadi es—
dan gagal di tengah jalan.

Agnia berlutut.
Mahkota tipis di keningnya retak—klik.
Suara yang lebih sedih dari jeritan.

“Bukan takhta… bukan darah,” bisiknya.
“Kitalah segelnya.”

NiuNiu mendongak. Ketenangannya retak setipis kaca.
Teks muncul:

> "Kunci tidak dibuat untuk membuka."

Jeda.

> "Kunci dibuat untuk menyegel kita."

Gwaneum mencakar kulit kepalanya sampai berdarah.
“Semua doa… semua darah—”
Napasnya terputus, seperti mengunyah paku.
“Hanya jadi jalan ke penjara.”

Sevraya mengangkat wajah.
Ada kosong di matanya—bukan nihil, melainkan kepastian.

“Enam jiwa. Enam luka. Enam kunci,” katanya.
Setiap kata seperti serpih kaca.
“Void tidak butuh pintu.
Void hanya butuh kita…
bersama dalam rahim.”

Hening.
Hening yang lebih keras dari ledakan.

Lalu—
sinar Sevraya berubah.

Bukan merah. Bukan biru.
Hitam yang menyala.

Tubuhnya bergetar—bukan menahan sakit,
melainkan daya yang ingin merobek kapal seperti kertas.
Kedua matanya menghitam.

“Bukan kau. Bukan dia. Bukan kita.”
Suaranya bergema dari titik tanpa koordinat.
“Aku yang kosong. Dan kosong harus menelan.”

Ia menggerakkan jari, menarik benang yang tak terlihat.
Panel navigasi retak.
Di kejauhan, satu bintang padam.
Tiga planet runtuh menjadi debu.
Orbit-orbit jatuh—seperti hujan piringan kaca ke mulut sumur.

“KAU MEMBUNUH BINTANG DAN KEHIDUPAN!”
Jeritan Delphie menua seketika.

Sevraya menoleh, datar.
“Ini hanya bayangan,” katanya.
Uap dingin dari suaranya mengiris kulit.
“Yang abadi hanya kehampaan. Dan aku… mulutnya.”

Julia melangkah setapak, menggenggam pedang pendek.
Bilahnya memantulkan merah yang kelelahan.
“Kalau kau hancurkan segalanya… apa yang tersisa untuk kita?”

“Mereka tak pernah jadi kita,” jawab Sevraya.
Matanya bening—cermin yang tak memantulkan apa pun.
“Yang ada hanya enam kunci.”

Artefak berdenyut.
Rantai hitam keluar—bukan besi, bukan cahaya—
keputusan yang diberi bentuk.

Melilit pergelangan mereka satu per satu.
Klik.
Klik.
Klik.
Klik.
Klik.

Terakhir—Sevraya.
Klik.

Mereka dihantam jatuh.
Lantai menerima darah yang tak seharusnya nyata,
mengalir ke celah-celah, membentuk pola yang bergerak pelan—
seperti kulit ular yang bernapas.

Sevraya berdiri di tengah.
Suaranya berubah—lebih rendah, lebih dalam.

“Artefak hanya hidup kalau rasa kita berenam hidup.”

Matanya kembali memutih, normal.

Agnia bangkit setengah.
Marahnya menyala seperti supernova mini.
“Kau bicara seolah tahu segalanya—”

“Tentu.”
Senyum Sevraya tipis,
tak menyentuh mata.

“Karena aku… Zero.”

Ia berhenti sejenak—
bukan untuk dramatis,
melainkan karena semesta
perlu waktu
untuk memahami kalimat itu.

“Dan karena enam
tidak pernah cukup
untuk menahan kehampaan.”

Matanya memutih,
sepenuhnya tenang.

“Enam harus dipatahkan oleh tujuh.”

19:12 Pengakuan dan Kebencian

Kapal berguncang.
Nama itu menghantam udara seperti palu godam.

Julia membeku.
Ia sebenarnya sudah menduga—
namun duga selalu kalah oleh dengar.

Delphie terisak.
Gwaneum mundur setapak.
NiuNiu dan Agnia tidak berkedip.
Mereka sudah tahu.

Zero melangkah.

Kedua mata Sevraya menghitam.
Suaranya pecah—
bukan gema ruang,
melainkan keputusan yang menemukan lidah.

“Rasa.”

Ia menyebutnya seperti vonis
yang sudah lama menunggu tubuh.

“Haus takhta: Agnia.
Butuh keluarga: Julia.
Butuh kepolosan: Delphie.
Butuh penebusan: Gwaneum.
Butuh bayang-bayang: NiuNiu.

Dan dua yang terakhir—”

Ia terdiam.
Untuk pertama kalinya,
hening tampak kehilangan fungsi.

“—kosong,” katanya akhirnya.
“Aku.
Dan Sevraya
yang perlu diisi.”

Di belakangnya,
sesuatu bangkit tanpa langkah.

Bukan tubuh.
Bukan sosok.

Void Queen.

Siluet kehampaan
yang berdiri karena dunia
akhirnya menyediakan tempat.

19:23 — Kemarahan Instingtif

“Cukup!”

Julia meledak.
Bukan teriakan—
perintah yang terlambat.

Pedang pendeknya bergerak.
Masuk.
Menembus perut Sevraya.

Darah menyembur.
Bau besi merobek udara.
Lantai menjelma altar—
merah, licin, tak pernah suci.

Delphie memekik.

Gwaneum menarik wajah anak itu ke dadanya,
menutup mata dengan telapak yang gemetar.
“Jangan lihat.”

NiuNiu bergerak tanpa suara.
Tanpa ragu.
Andamante menembus sisi kiri perut Agnia.

Refleks menjawab refleks.

Agnia membalas—
menusuk tenggorokan kembarannya sendiri.

Darah mereka bertemu.
Bercampur.
Dua tubuh, satu tinta.
Kembar yang menulis sejarah
dengan luka yang sama.

Rantai bergetar.
Dorian Grey merintih—
seperti tubuh hidup
yang dipaksa memilih
dan menolak keduanya.

Tidak ada yang mati.

Luka menganga.
Rasa sakit menyambar seperti petir—
namun nyawa menolak pergi.

Darah tumpah.

Dan hidup,
keras kepala seperti kesalahan yang tak mau dihapus,
memutuskan
untuk tetap bertahan.

19:33 Penutupan Segel

Sevraya terhuyung.
Luka di perutnya menganga—
bukan sebagai cedera,
melainkan mulut yang lupa cara menutup diri.

Ia tertawa.
Bunyi retak.
Serak.
Seperti dua logam tua dipaksa berdamai.

“Harga segel?” katanya.
Nada ringan, nyaris jenaka.
“Kunci tidak diberi izin untuk mati.”

Julia menatap bilah di tangannya.
Pantulan wajahnya asing.
Lalu—

ia menikam dadanya sendiri.

Cahaya putih menyambar.
Bukan pelepasan.
Bukan akhir.

Tubuhnya goyah,
namun tidak runtuh.

Hidup berdiri kikuk
di raga
yang seharusnya sudah menyerah.

“Keabadian,”
suara Zero menyusup seperti pisau tipis,
“adalah hukuman
yang menyamar sebagai anugerah.”

Rantai bergerak.
Pelan.
Pasti.

Merayap ke betis.
Naik ke lutut.
Mengencang
setiap kali kejujuran
mencoba mendekat.

“Kalau begitu,” lanjutnya datar,
“buka isi perut kalian.”

Jeda.

“Tadi harfiah.
Sekarang—
metaforis.”

Hening.


Julia memecah hening pertama.

Rantai di kakinya berdengung.
“Aku benci anakku,” katanya pecah.
“Bukan karena dia—karena aku.
Aku gagal. Aku selalu lari.
Ibu macam apa aku?”

Delphie menggigit bibirnya.
Air mata jatuh
seperti bendungan bocor.

Agnia menatap jauh.
“Aku benci mahkota yang kujaga
lebih dari siapa pun.
Aku membakar cintaku sendiri,
lalu duduk sendirian
di dingin yang kuciptakan.”

NiuNiu tetap tanpa senyum.
Teks hologram muncul:

> "Aku benci diamku.
  Orang mengiranya kekuatan.
  Padahal itu ketakutan.
  Jika aku bicara,
  suara yang keluar bukan milikku."

Gwaneum mengangkat wajahnya yang letih.
“Aku benci keselamatanku.
Setiap napas yang kuambil
adalah pengkhianatan
bagi yang mati menggantikanku.”

Delphie menutup mata.
“Aku benci harapan yang digantungkan padaku.
Aku pemimpin kosong.
Dan semua tahu aku hanya lambang.”

Rantai menyala.
Hitam bercahaya.
Dentum berat—
seolah kapal dipukul dari luar.

Sevraya terdiam lama.
Ketika bicara, suaranya bukan baja—
melainkan luka.

“Aku benci diriku yang kosong.
Jika semua ini sia-sia,
aku hanya lubang yang lapar.”

Ia menelan darah.
“Aku benci… menjadi Zero.”

Tawa lain masuk.
Menimpa suaranya.

“Kebencian,” kata Zero,
“adalah bahan bakar.
Segel dibuat
untuk mengikat jiwa.”

Cahaya hitam menembus tubuh Sevraya.
Siluet membesar,
menyentuh dinding kokpit.

“Segel ditutup,” katanya.
“Kosong kembali menjadi kosong.”

Lantai lenyap.

Mereka melayang
di hitam murni.

Pilar-pilar melingkar—
hitam yang bercahaya—
mengikat mereka.

Selamanya.

19:37 Kelahiran Kembali

Retak pertama terdengar—tipis.
Retak kedua—lebih dekat.

Lalu rantai pecah dari dalam,
seperti tulang yang menyerah
pada kejujuran.

Julia menutup mata.
Agnia melepaskan mahkota yang tak pernah ada.
Delphie berhenti berteriak—tinggal napas.
Gwaneum berhenti bernegosiasi.
NiuNiu berdamai dengan dirinya sendiri.

Senyum muncul di wajah Sevraya.
Namun suara yang keluar—
bukan hanya miliknya.

“The Void bukan musuh,” katanya.
Nada Zero mengalir di sela kata.
“The Void adalah cermin.
Kalian terima—
maka segel menutup dirinya sendiri.”

Sevraya menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia tidak diisi—
ia mengisi dirinya sendiri.

Gelap tidak sekadar menutup mata.
Ia masuk ke paru-paru,
merayap ke tulang,
mengunyah dari dalam.

Bayangan raksasa yang tadi menjulang—
mosaik wajah, mahkota, pisau, huruf, doa—
retak serentak.
Suara retaknya seperti gigi purba
menggerus kaca bahasa.

Hening.

Lalu bunyi basah:
KRAK—KRAK—GLUURCH.

Sesuatu yang menelan.
Kini memuntahkan.

Mereka terlempar kembali balik ke kokpit Dorian Grey
seperti daging yang dikunyah terlalu lama—
basah, gemetar,
namun utuh.

Tubuh menghantam lantai logam.
Darah menetes dari tempat
yang tak pernah terluka.

Napas tersengal—
seperti baru lahir,
namun lahir ke rahim besi yang salah.

Lantai.
Besi.
Bau darah yang bosan menjadi darah.

Enam perempuan terkapar melingkar.
Saling menatap.
Mata yang kosong—
perlahan terisi kembali.

Layar navigasi menyala.

Hologram hitam.
Garis merah.
Angka muncul
seperti pahatan
di daging semesta:

666:24:00:00

Satu detik menua.

665:23:59:59

Dentum terdengar—
bukan mekanik.
Seperti jantung alam
yang lupa berdetak
dan ingat kembali.

“Jam… kiamat?”
bisik Delphie.

Sevraya menatap angka sekilas.
Matanya kembali normal.
Dua suara kini diam
dalam satu tubuh.

“Bukan kiamat,” katanya pelan.
“Reset.”

Ia menarik napas.
“Kita buang kebencian
sebelum waktu habis.”

Senyum tipis—getir.
“Enam menjadi tujuh.
666 menuju 777.

Ia menatap mereka satu per satu.

“Kita bukan monster yang dibuang,” katanya.
“Kita adalah Binatang yang pulang.”

19:39 Gencatan Senjata

NiuNiu mengeluarkan kotak rokok.
Menyulut satu.

Lehernya masih terbuka—
luka tipis yang lupa menutup.
Asap keluar dari tubuh
yang menolak mati.

Ia melempar kotaknya ke samping.

Agnia menangkap.
Satu tarikan.
Menyerahkan ke Julia.

Julia ragu.
Lalu ikut.

Delphie menerimanya terakhir—
menahan napas terlalu lama—
lalu menyerahkan ke Gwaneum.

Satu hisapan.
Satu putaran.

Tanpa aba-aba,
tanpa kesepakatan,
Lima tangan bergerak bersamaan.

Puntung menyala
dilempar ke arah Sevraya.

Bara menari di pakaiannya,
jatuh ke lantai.

Sevraya menyeringai.
Ia mengambil satu puntung,
menghisap dalam-dalam,
menghembuskan asap bercampur darah.

“Itu wujud kebencian kalian?” katanya ringan.
“Baik.”

Ia menyender.
“Percayalah,
aku tak berminat terbelenggu bersama kalian.
Bau kalian.
Napas kalian.
Kehidupan kalian.”
Ia jeda. Mata dingin.
“Terus terang, membuatku mual.”

Hening menggantung.

“Tapi kali ini,” lanjutnya pelan,
“aku terima kalian.”
Senyum tipis.
“Seperti menelan muntah sendiri.
Pahit.
Busuk.
Dan tetap milikku.”

Asap menggantung lebih lama.
Hening menebal.

“Gencatan senjata?”
Sevraya mengangkat tangan.
“Sampai kita bisa mandi.”

Ia menatap sepatunya yang dulu putih—
kini merah dan lengket.
“Darah ini minta dicuci.”

Digit di layar terus menurun.
Dada mereka ikut bergetar.

Di luar jendela,
semesta tampak biasa-biasa saja.

Di dalam,
binatang mulai lapar!

Akhir dari Timer 19:00


Diri yang memilih
atau segel yang menulis?