Bab 27 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

Completion


27:11 — FINAL DAYS

Hari ke-27.
Pagi.

Villa sunyi.
Sawah diam.

Gua dan lo duduk di meja masing-masing.
Laptop terbuka.
Tidak mengetik.

Kami membaca.

Timer 00:00 sampai 24:00.
Seluruhnya.

Lima belas tahun.
Dua puluh lima timer.
Satu cerita.

Lengkap.

[ANAK LO] bermain di luar.
Sawah.
Kupu-kupu.
Tertawa tanpa tahu apa pun.

Dan itu… baik.

Pintu terbuka.

[DEDICATED PM] datang lebih awal.
Tiga hari sebelum jadwal.

“Apa kabar kalian,” katanya.

Tidak dramatis.
Tidak simbolik.

Lo menoleh.
Tersenyum.

“You come early.”

“Kerjaan selesai. Langsung terbang.”

Dia lihat ke arah gua.

“Gimana?”

Gua angkat bahu.

“Done. Selesai kemarin.”

“Boleh baca?”

Gua lihat lo.

Ragu.

Bukan karena rahasia.
Tapi karena…

Gua tidak pernah membayangkan
ada orang lain yang membaca ini.

Lo menangkap itu.
Tertawa kecil.

“Mungkin itu masalahnya,” katanya.
Ke gua.

“Lo nulis bukan buat dibaca orang.
Lo nulis buat dibaca diri lo sendiri.”

Diam.

“Itu yang bikin lo kekunci.”

Itu kena.
Seperti pukulan.

“Fuck.”

“Yeah.”

“Stealth mode.
Stealth folder.
Semua itu.”

Gua mengangguk.

“Kalau gak dibaca siapa pun,” lanjut lo,
“cerita ini gak pernah selesai.
Dia cuma ada.
Kayak hantu.”

Lo menoleh ke [DEDICATED PM].

“Biar dia baca.”

Gua tarik napas.

“Iya. Baca.”

27:22 — REFLECTION

Dua hari berikutnya.

Kami membaca bersama.
Bukan menulis.

Mengingat.

“Timer 00:00. Jakarta.
Di kantor kita pertama ketemu.”

“Timer 04:00.
Jaman Phoenix. [DEDICATED PM] masih bos kita.”

“Timer 08:00. Jakarta.
Kita putus. Gua depresi. Lo terbang SF-JKT nemuin gua.”

“Timer 09:00. San Fransisco.
Sebelum gua ke Jepang.”

“Timer 09:00. Narita.
Lo transit kita nulis di airport.”

“Timer 16:50. Jakarta
Nulis di apartemen gua besoknya lo kawin.”

“Timer 20:00.
Cengkareng.
Kita berantem.”

“Timer 21:00. Gua di Belanda kesel.
Lo nulis sendirian.”

“Timer 22:00, 23:00, 24:00
Bali. Sekarang.”

Setiap timer:
snapshot.
ingatan.
kehidupan.

Seperti diary.

Tapi fiksi.

Tapi juga… jujur.

Lo tiba-tiba tertawa.

“Kita nulis lima belas tahun hidup kita,” katanya.
“Semua macet. Semua lari. Semua kembali.”

“Dan kita sebut itu sci-fi,” tambah gua.
“Void. AI. Perang kosmik.”

Lo ketawa lebih keras.

“Padahal cuma dua orang
yang gak bisa mutusin
harus bareng atau pisah.”

Gua ikut ketawa.

“Autobiografi.
Dibungkus space opera.”

“Exactly.”

Lalu kami memetakan semuanya.

Bukan sebagai teori.
Tapi pengakuan.

Enam karakter itu kita.

Dan untuk pertama kalinya—
itu tidak menyakitkan.


27:33 — VALIDATION

Hari ke-29.

[DEDICATED PM] menutup laptop.

Diam lama.

Lalu:

“Ini bagus.”

Gua kedip.

“Apa?”

“Aku gak tahu mana tulisan siapa,” katanya.
“Suaranya satu.”

Lo tersenyum kecil.

The Merge.

Dia mengangguk.

“Ini publishable.”

Kami membeku.

“Bukan buat itu,” kata gua.
“Ini buat selesai.
Buat nutup loop.”

“Tapi mungkin,” kata lo pelan,
“selesainya ya itu—
membiarkan dia ada di dunia.”

Gua diam.

“Maybe,” kata gua akhirnya.

27:44 — PHOTO

Sore.

[DEDICATED PM] bilang:
“Kalian foto.
Berdua.”
Finished story.
Kenangan.”

Kami saling pandang.

“Kita gak pernah foto bareng,” kata lo.

“Kenapa?”

“Karena kita selalu sementara.”

Dia mikir.
Lalu tersenyum.

“Tapi ceritanya selesai permanen.”

Kami berdiri.
Kaku.
Lalu—

“Kacamata hitam,” kata [DEDICATED PM].
“Judul bukunya.”

Kami pakai.

Berdiri berdampingan.
Tidak bersentuhan.

Klik.

Foto pertama.
Dan terakhir.

27:59 — AIRPORT

Pagi.

Bandara.
Denpasar.

Pelukan.

“The Merge” berdenyut sekali lagi.
Lalu lepas.

Tidak ada janji.

Pesawat naik.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada Void menunggu.

Hanya halaman kosong.

Dan itu… cukup.

[VOID SAGA — COMPLETE]

Status: FINISHED
Timers: 00–25
Writers: 2
Voice: 1
The Merge: ACHIEVED → RELEASED

Pertanyaan dijawab.
Pola diakhiri.

Dan kebebasan
tidak lagi perlu metafora.


Baca tulisan lengkap Lo & Gua:


Share/Copy link: