Bab 25 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

Full Circle


═══════════════════════════════════════════════════
VOID.OS v6.6.6 “HYDROCHOOS” — 7 YEARS POST-WAR
═══════════════════════════════════════════════════
[CRITICAL STATUS]

Timeline: 1 year after Timer 21:00
Location: Europe → Jakarta
Pattern: RETURNING
System: COLLAPSING
Resolution: PENDING
═══════════════════════════════════════════════════

25:00 — EUROPE

Amsterdam.
Berlin.
Prague.
Vienna.
Barcelona.

Dua belas bulan.
Lima kota.
Satu pola.

Gua coba nulis.
Halaman kosong.

Coba menetap.
Sesak.

Coba lari.
Padahal sudah berlari.

Bukan sesak fisik.
Eksistensial.
Seperti tenggelam di darat.

Prague. Bulan ke-11.

Kafe.
Laptop terbuka.
Dokumen kosong.

Judul: Something New.

Kursor berkedip.

Tidak ada.

Gua tutup laptop.
Menatap jalan.

Turis bergerak.
Hidup berjalan.

Gua tidak.

Timer 19:00 masih menghantui.
Kata-kata lo masih bergaung.

You cannot be a writer, not until we finish our thing.

“Fuck.”

Laptop dibuka lagi.
Email baru.

Gua mengetik cepat.
Marah.

TO: Lo
SUBJECT: FUCK YOU

I’m coming back to Jakarta.

Kirim.

Tiket one way.
Selesai.

25:11 — INBOX

Pagi.
Jakarta.

[ANAK LO] sarapan.
[DEDICATED PM] baca berita.

Ponsel lo bergetar.

Email masuk.

FROM: Gua
SUBJECT: FUCK YOU

Lo tersenyum.
Lebar.

“Kenapa?” tanya [Dedicated PM].

“Dia balik.”
Sebelum melihat isi email.

“Siapa?”

Lo: “[GUA].”

[Dedicated PM] mengangguk.
Mengerti.

“Dua tahunan?”

“Iya. Tapi kali ini beda.”

“Lo yakin?”

“Nggak. Tapi gua harap.”

Balas singkat.

TO: Gua
SUBJECT: RE: FUCK YOU

FUCK YOU BACK.
You know where to find me.

Kirim.

[Dedicated PM] tersenyum.

“Kapten Delphie bilang kalian selesaikan sekarang.”

“Jangan kutip novel kita.”

“Kenapa? Bagus kok.”

25:22 — ARRIVAL

Dua minggu kemudian.

Bel pintu.

Lo buka.

Gua berdiri.
Backpack.
Mata lelah.
Wajah pahit.

Gua: “Hai.”

Lo: “Hai.”

Diam.

Lo: “Masuk.”

[ANAK LO] berlari.

“Uncle!”

Gua tersenyum.
Kecil.
Nyata.

[DEDICATED PM] melambaikan tangan dari dapur.
Seolah gua tidak pernah pergi.

“Kopi?”

“Yup.”

25:33 — GARDEN

Taman.
Sunyi.

“Lo udah bisa nulis?” tanya lo.

Pertanyaan lama.
Selalu sama.

“Belum.”

Lo tertawa.
Bukan mengejek.

“Kita bukan kunci satu sama lain,” katanya.
“Kita cuma kondisi.”

“Kondisi?”

“Konteks.
Orbit.
Bukan sebab.
Bukan penjara.”

Lo menatap taman.

“Void Saga bukan puncak,” lanjutnya.
“Itu energi. Energi yang mengurung kita.
lo terjebak di intensitas.
Gua terjebak di bangunan.”

Diam.

Lo: “Sekarang kita akhiri.”

Gua: “Gimana?”

Lo: “Bersama. Sekali. Beneran.”

Villa di Bali.
Sebulan.
Akhir sebelum [ANAK LO] mulai sekolah.

“Bukan buat nerusin,” kata lo.
“Buat nutup.”

[DEDICATED PM] keluar.
Menaruh tangan di bahu gua.

“Selesaikan,” katanya.
“Ini waktunya.”

Lepas.

25:44 — PREPARATION

Tiga minggu berikutnya:

Gua stay di hotel murah.
Baca ulang Timer 00–21.
Semua belum selesai.

Kopi dengan lo.
Rencana.

Timer tersisa:
22:00
23:00
24:00
25:00

Empat timer.
Sebulan.

“Dua puluh satu timer lima belas tahun,” kata lo.
“Empat timer sebulan masih masuk akal.”

“Energinya beda.”

“Energi selesai.
Lebih berat.
Tapi perlu.”

Pertemuan terakhir sebelum Bali.

“Lo takut?” tanya lo.

“Iya.”

“Gua juga.”

“Kenapa?”

“Karena ini pengakuan.
Kalau ini masih berpengaruh.
Kalau lo masih penting.
Bukan romantis.
Bukan intens.
Fundamental.”

Diam.

“Berarti kita masih tersegel.”

“Iya.”

“Kalau gitu—”

“Kita hancurin.”

“Bareng.”

“Terakhir.”

═══════════════════════════════════════════════════
[STATUS UPDATE]

Mission: FINISH VOID SAGA
Duration: 30 days
Stakes: EVERYTHING

System note:
This is not continuation.
This is resolution.

Ophiuchus reminder:
A system that exists
only because no system
was allowed to finish.
═══════════════════════════════════════════════════


Dua orang kembali
ke tempat yang tak pernah mereka tinggalkan.
Apakah ini akhir—
atau keberanian untuk mengaku
bahwa akhir selalu menunggu ditulis?


Baca tulisan lengkap Lo:


Share/Copy link: