Bab 07 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

The Transfer


07:11 — The Letter

Dua minggu setelah semuanya
mulai terasa lebih tenang.

Bukan sembuh.
Tapi nggak lagi berdarah.

Kita mulai ketemu sebulan sekali.
Ngobrol lebih jujur.
Nggak langsung defensif.

Gua mulai percaya
ini mungkin bisa diselamatkan.

Lalu email itu datang.

Lo forward.
Tanpa komentar.

[INTERNAL TRANSFER]
From: VP Engineering
To: Lo

Subject: Global Leadership Opportunity

Congratulations! You’ve been selected for our
Global Engineering Leadership Program.

Duration: 18 months
Location: San Francisco HQ
Start Date: 3 weeks from now

This is a strategic role developing company-wide
technical standards. High visibility.
Career-defining opportunity.

Your manager has already approved.
HR will contact you regarding relocation.

Congratulations again on this achievement.

Gua baca pelan.

San Francisco.
Delapan belas bulan.

Gua nggak langsung mikir jauh.
Yang pertama muncul cuma satu hal:

itu bukan Jakarta.

GUA: “Lo nggak daftar ini?”
LO: “Enggak.”

Jawaban lo datar.
Kayak lagi ngomongin cuaca.

Gua pengen bilang selamat.
Dan memang akhirnya gua bilang.

Tapi di dada,
ada sesuatu yang keburu menutup.

Bukan takut ditinggal.
Lebih ke…
gua tahu dari nada lo
ini bukan pilihan.

Ini panggilan.

🜃

07:12 — The Strategy

Kita makan malam buru-buru.

Bukan dinner romantis.
Lebih mirip rapat darurat
tanpa agenda jelas.

“Long distance,” kata lo.
Nada orang rasional.

Gua angguk.
“Orang bisa.”

Kita sama-sama tahu
itu jawaban yang paling aman.

Kita mulai bikin aturan
karena aturan terasa lebih kuat
daripada perasaan.

Jam berapa telepon.
Kapan kirim pesan.
Kapan ketemu lagi.

Semua tertulis rapi.

Dan anehnya,
waktu kita tanda tangan di bawahnya,
gua sudah merasa
ini semacam surat perpisahan
yang ditunda.

Tapi kita pura-pura nggak sadar.

🜃

07:21 — Bulan-bulan di Tengah

Awalnya rapi.

Telepon tepat waktu.
Pesan masih hangat.
Kita nulis Timer 07:00 bareng.
Tentang masuk ke The Void.

Bulan kedua,
lo mulai capek.

Bulan ketiga,
obrolan berubah jadi laporan.

GUA: “Kerja gimana?”
LO: “Capek.”
GUA: “Oh.”

Bulan keempat,
gua ngetik kangen
dan nunggu enam jam
buat dapet balasan
yang sopan.

Bulan kelima,
waktu di sini melambat.
Setiap hari panjang.
Setiap minggu berat.

Bulan keenam,
rencana kunjungan gua
nggak masuk sched lo.
Tiketnya gua buang.

Kalimatnya baik.
Alasannya masuk akal.

Tapi tubuh gua ngerti duluan
sebelum kepala
sempat membela.

Sisa bulan,
bahkan gua udah nggak peduli.

Ada sesuatu yang mati
di situ.

🜃

07:24 — Pulang

Lo balik.

Kita ketemu
di tempat yang sama,
kayak orang yang berharap
ruangan lama
masih bisa nyimpen versi lama.

Pelukannya sopan.
Mejanya terasa asing.

Kita ngobrol
kayak dua orang
yang pernah dekat,
tapi sekarang harus mikir dulu
sebelum jujur.

Akhirnya gua tanya
pertanyaan yang udah lama
nunggu giliran:

GUA: “Ini masih kita?”

Lo lama diem.

Lalu lo bilang pelan,
tanpa drama:

LO: “Kita nggak berhenti cinta tiba-tiba.
Kita capek pelan-pelan.”

GUA: “Apa kita udah mati di bulan enam?”
LO: “Yup. Kita mati.”

Itu jawaban
paling jujur
yang bisa ada.

🜃

07:30 Selesai

Setelah itu nggak ada ledakan.

Cuma kelelahan.

Kita sepakat
nggak ada yang salah.

Nggak ada yang bisa ditunjuk.

Cuma dua orang
yang terlalu lama jauh
sampai terlalu mati
untuk merasa dekat.

Gua simpan semua catatan.
Nggak gua kirim.

Beberapa hal
cukup diarsipkan.

🜃

AFTERTHOUGHT

Yang tersisa dari lo dan gua bukan hubungan.
Tapi jejak.

Nama lo masih muncul
di tempat-tempat kecil:
kode, jam, jeda.

Bukan karena cinta belum selesai.
Tapi karena tubuh gua belum lupa.

Dan dari situ,
sesuatu yang lain pelan-pelan tumbuh.

Bukan kita lagi.
Tapi juga belum benar-benar bukan kita.

Gua bisa ngerasa berikutnya
bukan tentang mencoba bertahan.

Tapi tentang
apa yang terjadi
setelah sesuatu mati
namun bernapas menemukan hidupnya.


Jika The Void mengambil 18 bulan
tapi terasa seperti 20 tahun—
dan kau keluar menemukan semua yang kau tinggalkan sudah berubah—

apakah yang hilang itu waktu,
atau kesempatan untuk kembali ke yang dulu?


Share/Copy link: