
Bab 09 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
San Francisco
🜃 09:11 — THE APPARITION
21 bulan sejak kejadian apartemen.
SF. Siang biasa.
Lo jalan balik ke kantor.
Suara dari belakang:
“Hai. Apa kabar?”
Bahasa Indonesia.
Di San Francisco.
Lo berhenti.
Balik badan.
Gua.
Berdiri di sana.
Senyum.
Tapi bukan Gua yang terakhir Lo lihat.
Kulit kecokelatan.
Badan sehat.
Postur terbuka.
Mata jernih.
Ransel di punggung.
Tidak ada sisa gelap.
LO: “[GUA]…?”
GUA: “Surprise.”
LO: “Fuck you, lo ilang?
Semua orang cari lo?
Lo ngapain di SF?”
GUA nyengir: “Lagi lewat.”
LO: “Lo ilang kemana aja?”
GUA: “Mexico City. Sebelumnya Lisbon. Bali.”
Lo ketawa kecil.
Nggak percaya.
LO: “Lo traveling?”
GUA: “Iya.”
LO: “Udah berapa lama?”
GUA: “Hampir setahun.”
Hening.
LO: “Kenapa nggak berkabar?”
GUA: “Pengen ketemu langsung.”
LO: “Berapa lama di sini?”
GUA: “Cuma hari ini. Malam terbang ke Tokyo.”
LO: “Cuma hari ini?”
GUA: “Yup.”
Lo cek jam.
“LO: Gua kelar kerja jam lima.”
GUA: “Gua tunggu.”
LO: “Empat jam?”
GUA: “Gua pernah nunggu hampir dua tahun buat ketemu lo.”
LO: “Oke..”
GUA: “Nomor lo masih yang dulu?”
LO: “Masih.”
GUA: “See you jam lima-an.”
Senyumnya tenang.
Bukan pahit.
Bukan luka.
🜃
10:22 — THE RING
Lo duduk di meja.
Nggak fokus.
Pesan masuk.
GUA: [LO] ini no baru [GUA].
GUA: Gua di coffee shop seberang.
GUA: Santai aja.
GUA: Gua nunggu.
Lo lihat tangan sendiri.
Cincin.
[CALON SUAMI].
Tiga bulan lagi.
Pulang Jakarta.
Hidup baru.
Gua belum tahu.
Timing macam apa ini.
🜃
10:33 — THE WAIT
Jam lima lewat.
Coffee shop.
Gue di pojokan.
Laptop terbuka.
Kerja.
Lo datang.
GUA: “Oh, selesai?”
LO: “Iya. Sorry.”
GUA: “Gapapa. Mau makan?”
LO: “Mau.”
Restoran kecil.
Duduk.
LO: “Lo kelihatan beda.”
GUA: “Baik atau buruk?”
LO: “Baik.”
Gue sandar.
GUA: “Inget dua puluh satu bulan lalu?”
LO: “Yang gue nyeret lo ke terapi?”
GUA: “Iya. Gue parah.”
Diam.
GUA: “Itu titik balik.”
Lo dengerin.
GUA:
“Abis itu gue mulai fungsional.
Kerja remote.
Hidup jalan.”
LO: “Terus?”
GUA: “Terus gue nanya: ini hidup, atau cuma stabil?”
Hening.
GUA:
“Gue ninggalin Jakarta.
Jual barang.
Tiket satu arah.
Setahun di Bali.”
LO: “Ngapain?”
GUA: “Belajar napas.”
Lo senyum sedikit.
GUA:
“Gue ke sini mau bilang makasih.
Lo nyelametin gue.
Dan lo nunjukin hidup nggak cuma soal optimasi.”
Lo nahan air mata.
LO: “Ke SF cuma buat itu?”
GUA:
“Iya.
Lo datang ke apartemen gue di Jakarta.
Jadi gue datang ke sini.”
Diam.
The Merge berdenyut.
Tenang.
LO: “Balas budi?”
GUA: “Pilihan.”
Gue liat lo.
GUA: “Lo kelihatan oke.”
LO: “Gue oke.”
Tangan lo naik.
Cincin.
Gue berhenti.
Senyum.
GUA: “Selamat.”
LO: “Thanks.”
GUA: “Bahagia?”
LO: “Iya.”
GUA: “Steady.”
LO: “Iya.”
GUA: “Steady itu underrated.”
🜃
🜃
10:44 — THE VOID REMAINS
Makan.
Cerita.
Ketawa.
Waktu jalan cepat.
LO: “Pesawat lo.”
GUA: “Iya. Waktunya cabut.”
LO: “Lo dateng kapan?”
GUA: “Tadi pagi”
LO: “Malem ini lo udah pergi?”
GUA: “Gua gak tenang di kota ini.
Gua punya hutang narasi sama SF.”
LO: “Karena gua?”
GUA: “Bukan. Gua pernah punya mimpi bangun startup disini.”
LO: “You can always do that.”
GUA: “mungkin.”
Di luar.
Udara malam SF.
LO: “Can I ask?”
GUA: “Shoot.”
LO: “Depresi lo sekarang… gimana rasanya?”
Gue mikir.
GUA:
“The Void tetap ada.
Suicidal thought is there.
Bedanya sekarang gue berdamai.
Gue tinggal bareng dia.”
LO: “Takut?”
GUA: “Kadang.”
GUA:
“Tapi gue sekarang udah iklas.
Gua terima gua error.
Itu yang bikin beda.”
Uber datang.
LO:
“Good luck [GUA].”
GUA:
“Thx. Lo juga take care.”
Pelukan.
Panjang.
Tenang.
The Merge kuat, tapi bersih.
LO: “Jangan ilang lagi.”
GUA: “Mudah-mudahan bisa.”
Gue masuk mobil.
Pergi.
🜃
10:99 — REFLECTION
Pagi.
Lo mikir.
Kemarin bukan reuni.
Bukan penyesalan.
Bukan kemungkinan kedua.
Cuma dua orang
yang pernah ngalamin banyak hal bareng,
ketemu sebentar,
dan ngaku:
kita pilih jalan berbeda.
Pesan masuk.
GUA: Thx for dinner. Selamat bikin semesta baru [LO]
GUA: Beda path.
GUA: Sama nyatanya.
LO: Iya.
LO: The Void-nya sama.
LO: Napasnya beda.
Lo balas
Lo pegang cincin.
Tenang.
Dua orbit.
Frekuensi beda.
Pertanyaan sama.
Dan itu cukup.
⟁
Share/Copy link:
