
Bab 13 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
CARIBBEAN BLUE
13:11 — LO’S ARRIVAL
Bandara kecil.
Panas.
Angin asin.
Gua berdiri, sandar ke pagar.
Flip-flop.
Kaos tipis.
Santai.
Lo keluar dari pintu kedatangan.
Kita saling lihat setengah detik
lebih lama dari biasa.
Lalu pelukan sebentar.
Bukan pelukan euforia.
Pelukan orang yang udah lama
aman satu sama lain.
LO:
“Anjing… lo kelihatan hidup.”
GUA:
“Air asin sama error cocok.”
Lo mundur sedikit.
Natap.
LO:
“Gua hampir nggak ngenalin.”
GUA:
“Good.”
Ketawa kecil.
Mobil.
AC nyala.
Jalanan pesisir.
Sunyi beberapa menit.
LO:
“Gua iri.”
GUA:
“Jarang denger itu dari lo.”
LO:
“Karena baru kali ini
gua yakin.”
13:12 — BEACH NIGHT: THE CELEBRATION
Balkon.
Malam.
Ombak.
Dua botol bir murah.
Kita duduk di lantai.
GUA:
“Ceritain Lingkar 0.”
Lo narik napas.
Senyum pelan.
LO:
“Pelan. Tapi nyata.”
Ceritanya keluar
bukan kayak pitch.
Kayak orang yang akhirnya
nggak perlu ngeyakinin siapa pun.
LO:
“Kita nggak ngejar Jakarta.”
“Kita ke kota yang nggak dianggap.”
GUA:
“Makanya jalan.”
Lo ngangguk.
LO:
“Dan… [DEDICATED PM]
ngajarin gua berhenti
ngejar pusat.”
Hening sebentar.
LO:
“Dia propose
gua buat kawin.
Gua bilang iya.
Tapi gua minta waktu.”
Gua bengong
setengah detik.
GUA:
“HAH?”
Terus lompat.
GUA:
“ANJING SELAMAT.”
Pelukan.
Ketawa.
Tepuk bahu.
GUA:
“Itu Delphie lo.”
LO:
“Iya.”
“Dan rasanya…
tenang.”
Kita duduk lagi.
LO:
“Lo nggak pengin gitu?”
GUA:
“Enggak.”
“At least bukan sekarang.”
LO:
“Kenapa?”
GUA:
“Gua butuh cair.”
“Bentuk bikin gua panik.”
LO: “Es batu bikin lo panik?”
GUA: “Gua bukan es. Gua embun.”
Sambil nunjuk botol bir.
Lo nggak ngejar.
Cuma nerima.
LO:
“Fair.”
Sunyi.
Ombak.
13:23 — THE REAL REASON
Bir kedua.
GUA:
“Lo ke sini bukan cuma liburan.
Vibenya sama
kayak waktu lo
minta video call
sebelum SF.”
Lo senyum kecil.
LO:
“Yup.”
Jeda.
LO:
“Lingkar 0 butuh penjaga.”
GUA:
“…gua?”
LO:
“Iya.”
Gua ketawa pendek.
Refleks.
GUA:
“Lo mabok.”
LO:
“Justru sadar.”
Gua sandar tembok.
GUA:
“Gua itu error.”
“Gua nggak cocok jaga sistem.”
LO:
“Gua butuh error.”
“Gua nggak butuh lo jaga sistem.”
“Gua butuh lo fuck the sistem
di company gua.”
Hening.
GUA:
“No thx.”
“Jakarta bikin gua tenggelam.”
“Dan apa pun yang kita bikin
biasanya gagal.”
LO:
“Apa kita bisa begini sekarang gagal?”
“Apa kita masih bisa
nulis Void Saga bareng
gagal?”
GUA:
“Fuck. Itu beda, [LO].”
LO:
“Beda
atau lo takut?”
Nadanya nggak nyalahin.
Cuma nyebut fakta.
GUA:
“Takut.”
LO:
“Selalu jujur.”
GUA:
“Selalu.”
LO:
“Kali ini beda.”
GUA:
“Gimana kalau gua gagal lagi?”
LO:
“Berarti gagal sambil hadir.”
“Kita gagal jadi pasangan—centang.”
“Kita gagal bikin startup—centang.”
“Kalau lo gagal jadi pelaksana
CEO Lingkar 0,
it’s just another checkmark.”
Itu kena.
GUA:
“Lo gila?”
LO:
“Nama lo ada
di cap table share
Lingkar 0.”
GUA:
“Fuck.
I never ask for that.”
LO:
“I didn’t ask for
Liminal Lab pool reserve either.”
GUA:
“Jadi ini balas budi?”
LO:
“Pilihan.”
“Nggak cuma pilihan gua,”
“tapi juga [DEDICATED PM].”
“Lo adalah pilihan
kita berdua.”
GUA:
“You guys are weird.”
LO:
“Listen, [GUA].”
Lo nengok ke laut.
LO:
“Gua mau nikah.”
“Gua dan [DEDICATED PM]
mau cuti setahun.”
“Kita mau travel the world.”
“Mikirin kita mau apa
bareng.”
“Dan untuk pertama kalinya…”
“gua nggak takut
ninggalin pusat.”
Lo liat balik ke gua.
LO:
“…karena gua percaya
lo bisa gantiin sementara
gua dan [DEDICATED PM].”
“Lingkar 0 adalah
Liminal Lab 2.0.”
“Dan lo adalah
co-founder gua.”
“Pakta, remember?”
Sunyi lama.
Gua ngitung cepat di kepala.
GUA:
“Fuck you, [LO].”
“Setahun itu lebih lama dari SF.”
“Permintaan lo
selalu bangsat.”
Lo minum dengan tenang.
LO:
“Selalu.”
13:44 — NIGHT TWO: WRITING TIME
Laptop kebuka.
Angin malam.
Lo maksa gua nulis.
Sedikit mabuk.
GUA:
“Kenapa kita harus nulis sekarang?”
LO:
“Karena tulisan kita
selalu jujur.”
Jeda.
LO:
“Timer 13:00.”
“Hasan hilang,
diganti Gwaneum.”
GUA:
“Kenapa Hasan diganti?”
LO:
“Karena Gwaneum
adalah kunci
The Merge yang sukses.”
LO:
“The Merge versi 2.0 adalah lo.”
GUA:
“Kenapa karakter model begitu selalu gua?”
Diam sebentar.
LO:
“Jakarta butuh
The Merge versi 2.0 balik.”
“Supaya gua bisa
beresin 0.00001 Hz
sama [DEDICATED PM].”
GUA:
“Pertanyaannya:
apa Jakarta
masih anggap
gua layak?”
LO:
“Jawabannya
ada di Jakarta.
bukan di sini.”
GUA:
“Jakarta is worse
than SF.”
LO:
“Why?”
GUA:
“SF satu utang.
Jakarta banyak utang.”
LO:
“Balik.”
“Beresin.”
“Bayar lunas.”
Gua diam.
Lo mulai nulis
Timer 13:00
seolah nggak ada
apa-apa.
Kita ngetik pelan.
Berhenti.
Ngobrol.
Lanjut.
Bukan sprint.
Ritual.
13:55 — AIRPORT GOODBYE
Gate keberangkatan.
Lo balik Jakarta.
LO:
“Jadi?”
Gua tarik napas panjang.
GUA:
“Oke.”
“Gua balik.”
“Misi lo sukses.”
“Bikin centang.”
“Bayar utang.”
Lo senyum lega.
Bukan menang.
LO:
“Itu aja
yang gua mau.”
Sebelum lo peluk,
gua kasih tangan.
Dia ketawa.
Kita salaman bisnis.
LO:
“Welcome home,
my Liminal Lab
business partner.”
Gua berdiri lama
setelah lo pergi.
Bukan tegang.
Bukan adrenalin.
Siap.
Share/Copy link:
