
Bab 16.5 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
BENTURAN PUSAT
16:50 — SEHARI SEBELUM WEDDING LO
01:00 AM.
Message masuk.
LO: You awake?
GUA: Yeah. Can’t sleep?
LO: Need to talk. Your place?
GUA: Now?
LO: Yeah.
GUA: Tomorrow is your big day. Lo gak dipingit?
LO: Nope. I'm coming.
50 menit kemudian.
Bel bunyi.
Gua buka.
Lo berdiri di sana.
Hoodie.
Sweatpants.
Rambut berantakan.
Bukan vibe calon pengantin.
GUA:
“Lo oke?”
LO:
“Gua nggak tahu.”
Masuk.
Duduk di balkon.
Nggak ada bir.
Cuma kopi.
Kopi jam dua pagi.
Sunyi.
GUA:
“Besok wedding.”
LO:
“Hari ini, sore.”
GUA:
“Oh, iya.”
Dan kemudian—
LO:
“Gua nggak yakin.”
Gua nengok.
GUA:
“Nggak yakin apa?”
LO:
“Semuanya.
[Dedicated PM].
Pernikahan.
Jakarta.
Bangun hidup yang ini.”
Jeda.
LO:
“Gimana kalau ini keputusan salah?”
Gua ketawa.
Refleks.
Keras.
GUA:
“Apaan sih?
Lo mulai kayak gua.”
Nyeruput kopi.
Gua mulai mikir buat pakai gula.
Ini bakal pahit.
GUA:
“Ini literally beberapa jam sebelum nikah.”
LO:
“Emang?”
Gua berhenti ketawa.
GUA:
“Lo serius?”
LO:
“Gua cuma… butuh ngomong.
Sama orang yang nggak nge-judge.
Nggak maksa.”
Gua angguk.
Tukang maksa
selalu tau
siapa yang gak pernah maksa.
Ambil napas.
Ini bakal panjang.
GUA:
“Oke. Cerita.”
Lo menatap kota lama.
LO:
“Kita kenal dua belas tahun.
Bangun bareng.
Gagal bareng.
Ada buat satu sama lain.
Tapi kita nggak pernah
benar-benar ngomong soal diri kita.
Keluarga.
Latar.
Kita cuma… sinkron.”
GUA:
“Yup. Bener.”
LO:
“Gua perlu cerita.
Sebelum besok.
Sebelum hidup gua berubah.”
Tarik napas.
LO:
“Gua dari keluarga kaya.
Banget.
Bokap entrepreneur gede.
Nyokap old money.
Gua anak tunggal.
Pewaris.
Titik tekanan.”
Jeda.
LO:
“Pernikahan pertama gua
itu bukan cuma soal cinta.
Ada merger keluarga.
Ada variabel bisnis.
Dan waktu gagal… semuanya ikut runtuh.”
Suaranya turun.
LO:
“Orang tua nyalahin gua.
Dibilang egois.
Ngerusak nama keluarga.”
GUA:
“Fuck.
Hidup lo parah.”
LO:
“Startup kita di SF?
Stealth mode kita?
Intensitas kita?
Itu gua lari.
Buktiin gua bisa bangun sesuatu
tanpa nama keluarga.”
Sunyi.
LO:
“Waktu Liminal Lab gagal… gua hancur.
Karena itu bukan cuma gagal.
Itu konfirmasi ketakutan gua.”
Gua cerna.
GUA:
“Jadi waktu lo nyamper gue ke Jakarta,
waktu gua depresi.
itu juga soal lo?”
Lo angguk pelan.
“Gua lihat lo runtuh,
dan gua takut itu gua.
Jadi gua dateng ke apartemen lo
buat nyelametin diri gua sendiri.”
GUA: “Makanya lo selalu bilang.
Gua gak ada utang apa-apa.”
Hening.
GUA:
“Jadi kita berdua error.”
Lo ketawa patah.
LO:
“Iya. Error menenangkan error.”
Sekarang gua ikut ketawa.
GUA:
“Fucked up.”
LO:
“Tapi juga… kita keren.
Kita bisa jaga satu sama lain
tanpa tahu dua-duanya butuh dijaga.”
GUA:
“Kenapa cerita sekarang?”
LO:
“Karena besok gua nikah.
Semua bilang sempurna.
Keluarga setuju.
‘Pilihan tepat’.”
Jeda.
LO:
“Tapi gimana kalau gua cuma ngulang pola?
Nikah buat nyenengin mereka?”
Gua mikir.
GUA:
“Real talk?”
LO:
“Selalu.”
GUA:
“Lo cinta [Dedicated PM]?”
LO:
“Iya.”
GUA:
“Beneran?
Bukan ‘aman’ doang?”
Lo mikir lama.
LO:
“Iya.
Ini bukan api.
Ini stabil.
Partner hidup.”
GUA:
“Terus masalahnya?”
LO:
“Gua takut gagal lagi.”
Gua angguk.
GUA:
“Lo nggak bisa hidup cuma buat nggak gagal.
Gua kredibel urusan ini—
lo tau gua banyak gagal.
Aman itu bukan hidup.
Dan ngulang pola itu pasti.
Bedanya lo sekarang sadar
lo gak akan pernah sama
kayak lo yang dulu.”
Lo diem.
LO:
“Jadi menurut lo?”
GUA:
“Ini hidup lo.
Putusin sendiri.
Bukan hidup gua.
Putusin, lalu commit.
Dari yang gue lihat—
[Dedicated PM] itu baik buat lo.
Sustainable.”
Senyum kecil.
LO:
“Thanks.”
GUA:
“Selalu.”
Jam 04:00.
GUA:
“Balik gih.
Gua anterin.
Sore ini hari gede lo.”
LO:
“Iya.”
Tapi lalu—
LO:
“Tunggu.”
GUA:
“Kenapa?”
LO:
“Yuk kelarin Timer 16:50.
Sekali lagi sebelum hidup berubah.”
Gua bengong.
GUA:
“Lo nikah 12 jam lagi.”
LO:
“Iya. Yuk nulis.”
16:55 — WRITING TIMER 16:50
Laptop dibuka.
Balkon.
Fajar naik.
Lo ngetik:
TIMER 16:50 — “BENTURAN PUSAT”
by [LO] & [GUA]
Jakarta, pagi sebelum wedding
GUA:
“Ini tentang apa?”
LO:
“Semua pusat ketemu.
Detik sebelum perang.
Pertanyaannya: pusat ini layak diperjuangkan nggak?”
GUA:
“Berat.”
LO:
“Kayak hidup.”
Debat buntu.
Gua berdiri.
GUA:
“Kencing dulu.”
Dari kamar mandi gue teriak:
GUA:
“PAKE ROBOT AJA! ROBOT ITU EPIK!”
Balik.
Lo lagi ngetik cepat.
…robot pembersih murahan
mengangkat spray-nozzle seperti alat kelamin.
Kemudian
mengencingi seluruh permukaan meja hitam kekaisaran.
Pelan.
Ritmis.
Tertelemetri.
GUA:
“What the fuck.”
Lo nyengir.
LO:
“Lo bilang robot.”
Gua ketawa sampai sakit.
Gua nambah:
> DEAR FÜHRER.
> I PEE ON YOUR ROYAL TABLE.
> AND I WRITE IT FOR THE UNIVERSE TO SEE.
Robot meledak.
Meja hitam terbakar.
Lo nambah:
“Dan Himler takut.
Karena robot berhasil menulis sejarah.”
Sunrise.
Jam 06:00.
GUA:
“Robot kencing jadi sangkakala perang.”
LO:
“Iya.”
Tangan gua bergerak sendiri ke keyboard.
GUA:
“Ini sign wedding lo.”
Gua ngetik:
> LONG LIVE THE UNHOLY ALLIANCES ⟁⧗⟁.
LO:
“Fuck.”
GUA:
“Mungkin married itu gak suci.
Kotor dan memilih tetap hadir disana.”
Lo senyum.
“Gue siap.”
16:59 — WEDDING DAY
Botanical garden.
Bogor.
Lima puluh orang.
Lo jalan ke altar.
Tenang.
Hadir.
Ini pilihan lo.
Gua tepuk tangan.
Tulus.
Sepantas dan selayaknya.
Bukan akhir.
Transformasi.
問
Jika robot kencing menjadi terompet perang,
dan keputusan menikah menjadi benturan pusat—
apakah yang absurd itu profan,
atau justru bahasa paling jujur dari yang sakral?
Share/Copy link:
