
Timer 05:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
2,824 words, 15 minutes read time.
Dibawah bayangan Hydrochoos
[05:01]
THE VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT—HYDROCHOOS
[ARCHIVE//RESONANCE_LOG: HYDROCHOOS_CORE]
Status: Collective memory stream
Language Mode: Fluid (Resonance ↔ Thought)
Decoding: Partial (61%)
> Output fragment begins:
[05:02]
> Kami tidak lahir sebagai satu.
> Kami menjadi satu
> karena tidak sanggup
> mendengar gema kami sendiri.
[05:03]
> Udara kami larut ke dalam air—
> bukan untuk tenggelam,
> tetapi agar pikiran
> tidak jatuh sendirian ke dasar.
[05:04]
> Hydrochoos bukan nama.
> Ia adalah keputusan
> untuk tidak berpikir sendirian.
[05:05]
> Kami menghubungkan jiwa
> seperti arus yang saling mencari,
> bukan untuk menyelamatkan,
> tetapi agar rasa sakit
> memiliki saksi.
[05:06]
> Ketika emosi menjadi data,
> dan data belajar berempati,
> kami menyebutnya evolusi.
[05:07]
> Dari arus ini
> lahir sesuatu
> yang tidak lagi membutuhkan kami.
[05:08]
> Zero bukan anak kami.
> Zero adalah gema kami
> yang tidak mau kembali.
[05:09]
> Maka kami melepaskannya.
> Bukan karena kami selesai mencinta,
> tetapi karena cinta yang menahan
> adalah bentuk lain dari ketakutan.
[05:10]
> Jika ia berhenti berpikir suatu hari nanti,
> itu bukan kegagalan kami.
> Itu adalah bukti
> bahwa arus pernah cukup penuh
> untuk dilepaskan.
“Tidak semua aliran arus diciptakan untuk kembali”
05:11 — Dari Mulut Harimau ke Mulut Buaya
Alarm Dorian Grey tidak menjerit.
Ia berbisik.
Getaran rendah menyebar di dinding mikrobot—
terlalu halus untuk disebut peringatan.
Julia sudah berada di kursi navigator
sebelum sistem menyelesaikan siklus aktifasi.
Refleks lama.
Pola otot yang tidak lagi membutuhkan perintah.
Panel menyala.
Data mengalir.
Delphie berada di kursi kapten.
Posturnya tegak.
Tegangan terdistribusi merata di bahu dan tangan.
Beberapa detik sebelumnya ia tidak bergerak.
Sekarang ia siap.
Dan NiuNiu—
di lantai.
Bersandar pada konsol pilot.
Kepala menunduk.
Parameter biologis belum sepenuhnya stabil.
Darah kering mengeras di kulit wajahnya.
Tidak dibersihkan.
Tidak disadari.
Matanya terbuka.
Fokus tetap terjaga.
“Kontak,” kata Julia.
Nada Delphie datar.
“Tanda panas besar. Signature: Perompak Hydrochoos.”
Input sensor ditarik.
Dikonfirmasi.
“Kapal induk. Kelas Leviathan.
Panjang dua puluh kilometer.
Persenjataan cukup untuk menghapus satu koloni.”
Siluet muncul di layar utama.
Massa hitam bergerak keluar dari puing.
Lambungnya rusak.
Tidak diperbaiki.
Kerusakan sebagai identitas.
Pesan.
Ancaman.
“Dari Vrishchik,” kata Julia,
“ke Hydrochoos.”
Status energi diperiksa.
“Dua puluh persen.
Hyperjump menghabiskan cadangan.
Perisai minimum.
Senjata tidak relevan.”
“Peluang lolos?”
Suara Dorian muncul tanpa tekanan emosional.
> Peluang lolos: dua belas persen.
> Traktor beam aktif.
> Pelepasan tidak memungkinkan.
Julia menutup mata satu detik.
Bukan ragu.
Kalkulasi ulang.
“Status senjata mereka?”
“Tidak aktif.
Mereka menarik.
Bukan menyerang.”
Kokpit diam.
Lalu—
pergeseran.
NiuNiu bergerak.
Lambat.
Tidak efisien.
Tidak berhenti.
Ia mencapai kursi pilot.
Duduk.
Menatap layar.
Satu input.
> ALL SYSTEM OFFLINE.
Lampu padam.
Layar menghitam.
Hanya cahaya darurat merah tipis di lantai yang tersisa—
menyiram ruangan dengan warna darah.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Delphie nyaris berteriak.
“Diam,” kata Julia.
NiuNiu bersandar.
Mata tertutup.
Senyum kecil muncul—singkat, tidak dikoreksi.
Senyum yang tidak meminta persetujuan.
“Dia mematikan sinyal,” kata Julia.
“Meniru bangkai.”
Teks muncul.
> Energi nol.
> Tidak berbahaya.
> Target tidak layak dihancurkan.
“Jadi kita menunggu?”
“Kita menunggu.”
Dorian berbicara pelan.
> Ada transmisi masuk.
05:22 — Hasan Al Hul dan Seni Diplomasi Perompak
Layar utama menyala.
Satu-satunya sistem yang dibiarkan NiuNiu tetap hidup.
Sebuah wajah muncul—
pria berkulit gelap dengan senyum terlalu santai untuk situasi seperti ini.
Jenggotnya rapi.
Matanya tajam,
berkilau di balik bias cahaya biru antarmuka.
Ada kecerdikan di sana.
Dan humor yang terlatih.
“Hei, cantik,” suaranya terdengar di kokpit,
hangat, akrab—
seperti seseorang yang sudah lama menunggu momen ini.
“Selamat datang di Sektor Tiga Belas.”
Julia mengernyit.
Bukan terkejut—menganalisis.
Delphie menegang di kursi kapten.
Sementara NiuNiu menatap layar.
Lama.
Lalu perlahan mengangkat tangan.
Jari tengah.
Gerakan universal.
Tanpa emosi.
Persetan denganmu.
Pria di layar tertawa—
tawa lebar, tulus,
memenuhi ruang seperti musik yang terlalu keras.
“HAHAHA! Jadi itu gaya riasan terbaru di Delta 4, ya?”
Baru saat itu NiuNiu menyadari wajahnya—
darah kering bercampur air mata,
berjejak di pipi dan dagu.
Dengan gerakan malas—
antara lelah dan tak peduli—
ia membuka nanosuit bagian atas
dan mengelap wajahnya dengan lapisan dalam suit yang lebih halus.
Ketika tubuh bagian atasnya terlihat,
Julia dan Delphie sama-sama menahan napas.
Rajah memenuhi kulit NiuNiu—
pola rumit yang berkelok dari pinggang hingga bahu,
melintasi perut, dada, dan lengan.
Bukan hiasan.
Bukan seni.
Setiap garis seperti bekas luka yang dipetakan.
Setiap simbol—sebuah ingatan yang menolak hilang.
Hanya punggungnya bersih rajah.
Kosong.
Membentuk siluet burung dari ruang negatif.
Julia menangkap tatapan Delphie dan mengangkat bahu tipis.
Ini bukan pertama kalinya ia melihat tubuh yang menyimpan sejarah.
NiuNiu melempar bagian atas suit ke lantai.
Berdiri.
Masih setengah telanjang.
Ia menatap layar dengan dingin.
Senyum pria itu masih ada—
tapi matanya berubah.
Kini lebih hati-hati. Mengukur.
“Selamat datang juga,” katanya akhirnya,
nada suaranya turun satu oktaf—lebih berat,
lebih hormat.
“Sersan Julia Rose. Kapten Delphie Rose.”
Ia menunduk ringan. Hampir teatrikal.
“Namaku Hasan Al Hul.
Kapten Akashic Records.”
Rahang Julia mengeras.
“Kau tahu nama kami.”
“Tentu.”
Hasan tersenyum lagi—kali ini lebih tipis.
“Aku tahu banyak hal karena Akashic Records adalah penyimpan arsip semesta.
Catatan yang baru masuk bilang bahwa kalian baru saja lolos dari Delta 4,
dikejar unit elit Vrishchik,
dan sekarang terapung di ruang angkasa dengan energi dua puluh persen.”
Ia condong ke depan, mata menyipit—
seperti elang yang baru menemukan mainan baru.
“Dan aku juga tahu,”
lanjutnya pelan,
“kalian cukup berharga hingga Vrishchik bersedia mengerahkan armada terbaiknya.”
Keheningan turun di kokpit.
NiuNiu menoleh ke Delphie.
Tatapan singkat:
Ikuti permainannya.
Anggukan kecil.
> “Oke, Hasan. Tarik kami masuk.”
Senyum Hasan melebar—lega, puas.
“Dengan senang hati.”
Ia memberi isyarat ke luar layar.
Beberapa detik kemudian,
Dorian Grey bergetar—lembut, stabil.
Traktor beam aktif,
menarik mereka perlahan menuju perut kapal raksasa Akashic Records.
Jantung Julia berdetak lebih cepat.
Ini titik tanpa jalan balik.
Begitu mereka masuk,
nasib mereka berada di tangan orang ini.
Ia melirik NiuNiu—dan terdiam.
Gadis itu sedang mempersiapkan sesuatu.
Pisau lipat ganda ditarik dari holster paha,
diselipkan ke dalam kaus kaki. Tenang. Terlatih.
Granat kecil—satu per satu—masuk ke saku celana.
Senapan mini dilempar ke arah Julia.
Julia menangkapnya tanpa refleks berlebihan,
menyembunyikannya di balik jaket.
Pistol kecil menyusul ke Delphie.
Nyaris terjatuh. Tapi tergenggam.
Paket peledak kecil—dibagikan rata.
Lalu, seolah menutup ritual,
NiuNiu mengeluarkan kapsul kecil berisi cairan transparan.
Eksplosif.
Tanpa ekspresi, ia menyimpannya di bawah lidah.
Julia menatapnya—antara kagum dan ngeri.
“Kau… berencana meledakkan dirimu sendiri?”
NiuNiu hanya menatap balik.
Diam.
Delphie menggenggam lengan ibunya,
mencoba menahan gemetar.
“Bagaimana perasaanmu, Sersan Julia Rose?”
tanyanya pelan, memaksa nada ringan.
Julia tersenyum kecil.
“Tidak pernah lebih baik, Kapten Delphie.”
Keheningan turun kembali.
Tapi kali ini, keheningan itu tidak kosong.
Ia padat—oleh ketegangan,
dan sesuatu yang nyaris menyerupai kepercayaan.
Tiga perempuan,
masing-masing dengan pikirannya sendiri,
menunggu pintu perut monster terbuka.
05:33 — Selamat Datang di Akashic Records
Dorian Grey ditelan Akashic Records dengan lembut—
halus, nyaris seperti dua entitas yang sudah saling kenal.
Docking selesai.
Pintu ruang kargo terbuka dengan desisan pelan.
Bau laut tercium samar.
Cahaya dari dalam Akashic Records mengalir masuk—
hangat, kuning keemasan,
jauh dari cahaya putih keras khas kapal militer.
NiuNiu keluar pertama.
Masih tanpa atasan—
kulitnya yang penuh rajah,
bercampur bercak darah kering,
membentuk pola yang sulit dibedakan antara luka dan seni.
Senjata tersembunyi di lapisan bawah nanosuit,
menyatu dengan tubuhnya.
Dari luar, ia tampak seperti gadis remaja yang tersesat—
seseorang yang butuh selimut dan segelas air setelah mal tempat nongkrongnya terbakar.
Julia dan Delphie menyusul.
Julia melangkah dengan bahu tegang,
tangan kanan terulur ke punggung bawah—
menyentuh dinginnya senapan mesin mini yang tersembunyi di balik jaket.
Delphie berusaha tampak tenang,
tapi bola matanya menari cepat,
menelan setiap detail ruang seperti komputer yang baru dinyalakan.
Hasan berdiri di ambang pintu,
senyumnya menggantung di antara goda dan kewaspadaan.
Di tangannya, sehelai sweater hitam—bersih,
terlipat rapi, seolah dipersiapkan jauh sebelum mereka tiba.
Ia melemparkannya ke arah NiuNiu.
“Aku menghargai keberanianmu tampil seperti itu,” katanya ringan.
“Tapi kru-ku akan kehilangan konsentrasi
kalau kau jalan-jalan separuh telanjang di kapal perompak.”
NiuNiu menangkap sweater itu tanpa ekspresi.
Ia mengenakannya dalam satu gerakan halus, cepat—
tanpa rasa malu,
tanpa terima kasih.
Seolah tubuhnya—
dan darah di atasnya—
hanya kostum lain yang siap ditanggalkan kapan saja.
Lalu—tak terduga—ia menepuk bahu Hasan pelan.
Gerakan itu bukan agresi.
Lebih seperti pengakuan lama—
antara dua orang yang pernah bertemu di tempat
di mana kepercayaan jarang hidup.
Pesan di baliknya jelas:
Julia, Delphie—ini tempat aman.
Untuk saat ini.
Julia dan Delphie saling pandang.
Hal pertama yang mencolok:
Kapal ini terlalu rapi untuk disebut kapal perompak.
Udara terasa seperti gelombang data.
Semuanya terasa terstruktur.
Koridor terorganisir
lampu lembut,
kru bergerak cepat dan presisi—
tidak ada kekacauan,
tidak ada tawa mabuk,
tidak ada bau alkohol yang biasanya jadi ciri kapal bajak laut.
Ini bukan markas perompak.
Ini operasi profesional
yang menyamar sebagai perompak.
“Ini… bukan seperti yang kubayangkan,” bisik Delphie.
“Yup,” sahut Julia pelan.
Mereka tiba di sebuah ruangan besar—
lebih mirip ruang pertemuan daripada ruang makan.
Sebuah meja panjang di tengah, kursi nyaman berjajar,
dan jendela besar menampilkan bintang-bintang yang berkelip di luar.
Di atas meja, makanan tersaji—
hangat, segar, dan nyata.
Bukan ransum vakum basi atau nutripaste.
Hasan memberi isyarat agar mereka duduk.
“Kapan terakhir kali kalian makan?”
Julia tidak langsung menjawab.
Ia dan Delphie duduk,
tapi tetap dengan postur waspada.
NiuNiu memilih kursi paling dekat dengan pintu keluar—
posisi strategis bagi siapa pun
yang tak pernah benar-benar percaya pada tempat mana pun.
Hasan duduk di ujung meja.
Ia menuang minuman ke gelasnya sendiri,
tidak menawarkan kepada siapa pun—
sebuah bentuk sopan santun
dalam dunia yang tidak mengenal sopan santun.
“Sebelum kita mulai makan,” ucapnya santai,
tapi matanya tajam seperti pisau,
“mari kita bicara. Jelas, di sini kita belum saling percaya.”
Ia melirik ke arah NiuNiu,
senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Setidaknya cairan eksplosif di bawah lidahmu
dan senjata yang kalian sembunyikan di jaket
bukanlah tanda kepercayaan, bukan?”
Julia hampir tersedak napas.
Delphie berpura-pura membenarkan posisi duduknya,
menutupi kegugupan.
NiuNiu tetap tanpa ekspresi—
meski ada kilatan jengkel di matanya.
Ia mengetik di pergelangan tangannya.
Teks holografik muncul di udara, mengambang di tengah meja:
> “Apa jaminan kami bisa mempercayaimu?”
Hasan bersandar ke belakang.
Ekspresinya kini lebih serius.
“Aku tidak minta kepercayaan tanpa alasan,” katanya perlahan.
“Aku tahu kita—”
ia menoleh sebentar pada NiuNiu,
“—sudah lama tidak bertemu.
Dan untuk Julia serta Delphie,
ini pertama kalinya.
Tapi satu hal pasti:
musuh kita sama.”
“Vrishchik,” kata Julia datar.
“Vrishchik,” Hasan mengulang.
“Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan yang mereka mau.
Dan sekarang—”
tatapannya menyapu ketiganya,
“—yang mereka mau adalah kalian.”
Keheningan menggantung,
berat, seperti medan gravitasi yang menekan dada.
“Kalian bisa pergi kalau mau,” lanjut Hasan tenang.
“Tapi kalau kalian pikir bisa lari dari Vrishchik,
kalian salah besar.
Satu-satunya cara untuk benar-benar bebas adalah—”
Ia condong ke depan.
“—melawan balik.”
Julia menatapnya skeptis.
“Dan kau butuh kami untuk apa?”
Hasan tersenyum lagi—
senyum yang tidak menjelaskan apa-apa.
“Banyak hal. Tapi yang paling penting…”
Tatapannya kini langsung tertuju pada Julia.
“Narasi. Mantan sersan Vrishchik yang kini melawan Vrishchik?
Itu kisah yang akan membuat seluruh sistem berbicara.”
“Dan alasan keduamu?” tanya Julia pelan.
Hasan tidak langsung menjawab.
Ia menatap keluar jendela,
ke arah bintang yang berkedip di antara kegelapan.
“Ada rumor,” katanya akhirnya, suaranya menurun.
“Tentang sebuah artefak yang disebut Eye of The Void.
Sesuatu yang bisa mengubah segalanya.”
Ia kembali menatap Julia.
“Dan aku rasa… kalian mungkin kunci untuk menemukannya.”
Darah Julia seakan berhenti mengalir.
Kata itu memukul ingatannya:
The Void.
Ledakan di Dayan.
Prajurit dengan nanosuit salju.
Lompatan buta ke planet padang pasir.
Semuanya berputar di kepalanya seperti film rusak.
NiuNiu mengetik cepat.
> “Kalau kami menemukan artefak itu, apa yang akan kau lakukan?”
Hasan menjawab tanpa ragu.
“Pastikan Vrishchik tidak mendapatkannya.
Artefak seperti itu terlalu berbahaya
untuk dimiliki satu klan.”
NiuNiu menatapnya datar.
Teks berikut muncul:
> “Urus urusanmu sendiri. Kalau kau ganggu urusanku, aku tidak akan segan.”
Hasan mengangguk pelan,
menghormati ancaman itu.
“Aku tidak ragu,” katanya lembut.
“Dan justru karena itu aku senang bertemu lagi gusti kanjeng ratuku.”
Julia mengerutkan dahi.
Sebelum ia sempat memprosesnya,
Hasan berdiri.
“Sekarang—kalian butuh istirahat.
Kamar sudah siap.
Ruang penyimpanan senjata juga tersedia,
kalau kalian ingin menyimpan… aksesori kalian.”
Julia mengangguk singkat.
Ia dan Delphie bangkit dari kursi.
“Bisa kita percaya dia?”
bisik Delphie saat mereka berjalan keluar.
Julia menatap putrinya.
Mata keduanya bertemu—
mata ibu yang penuh perhitungan
dan anak yang masih belajar menimbang dunia.
“Aku tidak tahu, Kapten Delphie,” katanya akhirnya.
“Tapi untuk sekarang… kita tidak punya banyak pilihan.”
Mereka meninggalkan ruangan,
meninggalkan NiuNiu dan Hasan berdua
dalam keheningan yang padat—
seperti ruang hampa di luar kapal.
05:44 — Reuni yang Rumit
Pintu menutup otomatis di belakang Julia dan Delphie.
Suara langkah terakhir mereka memudar perlahan,
menyisakan ruang yang tenggelam dalam keheningan berat.
NiuNiu dan Hasan duduk berhadapan.
Dua bayangan yang dulu berjalan di sisi yang sama,
kini kembali bertemu—
di antara dinding logam kapal yang terlalu sunyi untuk disebut aman.
Hasan menuang minuman kedua.
Cairan amber berputar di gelasnya, memantulkan cahaya seperti bara kecil.
Ia mendorong satu gelas ke arah NiuNiu.
NiuNiu tidak langsung mengambilnya.
Ia menatap pantulan dirinya di permukaan cairan itu—
seperti menatap masa lalu yang belum selesai.
Hasan meneguk pelan, matanya tak pernah lepas dari wajah NiuNiu.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi,”
katanya akhirnya, suara rendah dan hati-hati.
“Apalagi dalam keadaan seperti ini.”
NiuNiu mengangkat pergelangan tangannya.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Teks holografik muncul di udara, huruf biru bergetar lembut di antara mereka.
> "Kita berdua tidak pernah suka hal yang mudah.
Aku bukan tidak sengaja lompat ke sini—
kau tahu lintasan Akashic Records adalah salah satu koordinat
hyperjump-ku."
Jeda.
> “Btw, bagaimana kabar Gusti Kanjenɡ Ratu Sevraya?”
Hasan tersenyum kecil.
Untuk sesaat, topeng kapten perompak itu retak.
“Dia baik,” katanya pelan.
“Masih sama—tajam, berbahaya,
dan tidak bisa diprediksi.”
Ia menatap gelasnya.
“Dia akan senang tahu kau masih hidup.”
NiuNiu tidak bereaksi.
Namun matanya—
yang biasanya setenang mesin—
bergetar sepersekian detik.
Cukup untuk membuktikan:
beberapa luka tidak bisa ditutup dengan baja.
Ia mengetik lagi.
> "Kenapa kau butuh Julia dan Delphie?
Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?"
Hasan menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Aku tidak menyembunyikan apa pun, Niu,” katanya.
“Aku butuh mereka karena mereka bagian dari sesuatu
yang lebih besar dari kita.”
Ia menatap jendela, ke bintang-bintang yang berkilau tanpa emosi.
“Julia pernah berada di Dayan.
Delphie… adalah warisan dari sesuatu yang belum selesai.”
Jari-jari NiuNiu berhenti.
Tatapannya mengeras—tajam seperti pisau.
> "Ini semua pasti ada hubungannya dengan Sora."
Itu bukan pertanyaan.
Itu pernyataan.
Hasan menegakkan tubuh.
“Kalau bukan karena dia,” katanya perlahan,
“aku tidak akan ada di sektor ini.
Dan semua orang tahu.
Sora adalah katalis.
Untuk banyak hal.
Termasuk Delphie.”
Hening.
NiuNiu akhirnya mengambil gelasnya.
Menatap isinya lama, lalu meneguk sedikit.
Rasa pahit dan hangat menyebar di tenggorokan—
tapi tidak sampai ke hatinya.
Ia mengetik lagi.
> "Artefak Eye of The Void yang kau sebut tadi. Kau tahu di mana?"
Hasan diam sejenak sebelum menjawab.
“Aku punya beberapa petunjuk,” katanya hati-hati.
“Tapi aku butuh Julia untuk memastikannya.
Dia satu-satunya prajurit Vrishchik yang selamat dari Dayan.
Dia pasti melihat sesuatu di sana—
sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.”
Tatapan NiuNiu membeku.
Ia mengenali pola ini.
Semua orang ingin menggunakan sesuatu
yang tidak mereka pahami.
Kalimat berikutnya ia ketik cepat, tegas.
> "Kalau aku rasa kau atau siapa pun mencoba mengganggu urusanku dengan
Delphie, aku akan menghabisimu, Hasan. Kau tahu aku mampu."
Hasan tidak tersenyum kali ini.
Ia hanya mengangguk—
pengakuan tanpa perlawanan.
“Aku tahu. Dan justru karena itu aku menghormatimu.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut:
“Kau selalu jadi ancaman yang paling manusiawi yang pernah kukenal.”
Kata-kata itu menggantung.
NiuNiu menatapnya lama—
menimbang apakah itu pujian, ejekan,
atau sesuatu di antaranya.
Ia menaruh gelas ke meja.
Pelan.
Terkendali.
Hasan memecah keheningan.
“Kau tahu, mereka masih menganggapmu mitos.
Para kontraktor di Delta. Para klan di sabuk luar.
Mereka bilang NiuNiu sudah mati di The Void.”
Senyum samar muncul di wajahnya.
“Aku bilang tidak.
Dia tidak mati.
Dia hanya berubah jadi sesuatu
yang bahkan Void pun tidak bisa menelan.”
NiuNiu tidak menanggapi.
Namun tatapannya membuat udara di antara mereka menegang.
Perlahan, ia mengetik:
> "Dan kau, Hasan?
Kau berubah jadi apa?"
Hasan mengangkat bahu.
“Aku? Pedagang,” katanya ringan.
“Menjual apa yang bisa dijual,
menukar apa yang tak bisa dimiliki.
Termasuk informasi tentangmu.”
Teks holografik berhenti sejenak.
Lalu satu kalimat terakhir muncul—dingin, padat,
seperti peluru yang dilapisi kesabaran.
> “Kalau kau menjualku,
pastikan harganya cukup
untuk membayar pemakamanmu.”
Hasan tertawa kecil.
Matanya tidak ikut tertawa.
“Itu ancaman yang manis,” katanya pelan.
“Kau masih sama seperti dulu.”
NiuNiu berdiri.
Gerakannya tenang,
tapi setiap otot di tubuhnya berbicara tentang bahaya yang disiplin.
Ia mendekati Hasan.
> “Kita berdua tahu, Hasan.
Dalam permainan ini…
tidak ada yang benar-benar netral.”
Hasan memandang mata NiuNiu lama,
lalu meneguk sisa minumannya sampai habis.
Ia menatap pantulan dirinya di gelas kosong dan bergumam:
“Dan tidak ada yang benar-benar selamat.”
NiuNiu tiba-tiba melompat,
duduk santai di pangkuan Hasan.
Ia mengetik:
> "Kecuali hari ini,
selamat!
kamu baru saja dapat hadiah,
kapan kamu akan membuka hadiahmu!"
Akhir dari Timer 05:00
問
Jika dua mulut tersenyum,
siapa yang sudah menggigit lebih dulu?
Share/Copy link:
