Timer 07:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.

741 words, 4 minutes read time.

The Void


[07:01]

THE VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT VII—VESICA
[ARCHIVE//SYNCH_LOG: DORIAN_GREY_CORE_33.67]
Status: Tri-conscious merge record
Decoding: Partial (63%)
Integrity: Unstable
Authorship: None

Output fragment begins:

[07:04]

Kami tidak membuka gerbang.
Gerbanglah yang membuka kami.

[07:06]

Di titik sinkronisasi penuh, “aku” berhenti punya bentuk.
Hasan mengingat,
Julia menolak,
Delphie mengikat.

Tiga pikiran,
satu luka.

[07:07]

The Void menatap balik, dan berbisik:

> “Yang menyatu tak akan diselamatkan.
> Yang terpisah—itulah yang masih bisa bermimpi.”

[END OF FRAGMENT]
Signal residue: BLUE LIGHT / HUMAN
Checksum: FAILED

“Trinitas bukan dogma.
Trinitas adalah runtime dalam The Void”

07:11 Vesica Piscis

Hasan menggerakkan tangannya di atas panel kendali.
Sebuah kompartemen biru terbuka dari dasbor,
naik perlahan disertai desis tipis.

Di dalamnya: tiga tabung suntikan.
Cairan biru tua berpendar redup,
kental, berdenyut pelan—
bukan seperti obat,
lebih seperti sesuatu yang masih hidup.

“Vesica Piscis,” katanya pelan.

Julia menegang.
“Apa itu?”

Hasan memutar salah satu tabung di jarinya.
Cahaya biru memantul di wajahnya.

“Cara terakhir.”

“Cara terakhir apa.”

“Masuk. Keluar. Bertahan.”

Julia menatapnya lebih tajam.
“Dan harganya?”

Hasan tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk tengkuknya sendiri,
tepat di bawah pangkal tengkorak.

“Suntik di sini.”

Keheningan turun.

“Kau gila.”

“Mungkin.”

Alarm jauh bergema.
Nada rendah.
Terlambat.

“Vrishchik sudah mengunci kita,”
lanjut Hasan.
“Kalau kita tidak masuk, kita hancur.”

Delphie berdiri lebih dulu.
Tidak cepat.
Tidak ragu.

“Lakukan.”

07:12 Sinkronisasi

Mereka berdiri membentuk lingkaran sempit di kokpit Dorian Grey.
Tiga manusia.
Tiga tengkuk terbuka.

Jarum di tangan Julia bergetar.
Delphie mengangguk pelan—
tangannya sudah siap di belakang Hasan.
Hasan berdiri di belakang Julia,
rahangnya mengeras.

“Siap?” suara Hasan terdengar terlalu dekat.

Julia tidak menjawab.

CLEB.

Jarum menembus kulit.

Cairan biru menyusup ke saraf.

> Synch 0%.

Suara mesin lenyap.
Getaran menghilang.

Seolah udara dicabut dari semesta.

> Synch 10%.

Gelombang panas dingin merambat di tulang belakang.
Saraf tersentak.
Cahaya muncul—
bukan gelap,
bukan terang.

Terlalu banyak.

> Synch 20%.

Julia melihat Dayan.
Bukan sebagai ingatan—sebagai luka yang belum selesai.

Hasan melihat dirinya sendiri terbelah:
yang memilih bertahan
dan yang seharusnya mati.

Delphie tidak melihat apa pun.
Ia merasakan.

> Synch 30%.

Sesuatu menyentuh mereka.

Bukan tangan.
Bukan suara.

Kesadaran lain.

> Synch 40%.

Pikiran bocor.

Takut.
Kenangan.
Niat.

Semuanya mengalir tanpa izin.

> Synch 50%.

Suara Delphie terdengar—
bukan dari mulut, bukan dari telinga.

Apa ini…

> Synch 60%.

Dinding kokpit memudar.
Hilang.

Digantikan ruang luas yang berdenyut pelan,
seperti paru-paru yang bernapas tanpa udara.

> Synch 70%.

Gerbang itu ada.

Tidak terbuka.
Tidak tertutup.

Menunggu.

> Synch 80%.

Tiga pandangan saling bertemu.

Mereka masih terpisah—
tapi jarak itu menipis.

> Synch 90%.

Kapal berguncang.

Gerbang melebar,
bukan membuka jalan,
melainkan membuka mereka.

> Synch 100%.

Tidak ada hitungan mundur.
Tidak ada kembali.

07:21 Kesadaran Kolektif

Kesendirian di sini
tidak terasa seketika.
Ia bekerja perlahan.

Mengikis arah.
Menghapus jarak.

Satu pikiran berputar
sampai habis.
Tiga pikiran—
bertahan sedikit lebih lama.

Delphie hampir tenggelam
ketika ia merasakan sesuatu
yang bukan miliknya.

Bukan suara.
Bukan ingatan.
Kehadiran.

Ia tahu itu ibunya
tanpa perlu nama.

Hasan merasakan hal serupa.
Rasa bersalah yang mengejarnya
kehilangan bentuk—
bukan hilang,
hanya tidak lagi sendirian.

Di antara mereka,
batas menjadi tipis.

Tidak runtuh.
Tidak menyatu sepenuhnya.
Hanya cukup terbuka.

Bukan aku.
Bukan kamu.
Sesuatu di antaranya.

Pikiran saling menahan
agar tidak tercerai.
Takut bocor.
Takut terpisah.

The Void tidak menyerang.
Ia menunggu fragmentasi.

Dan untuk sesaat,
mereka tidak memberinya itu.

Sebuah denyut muncul—
bukan cahaya dari luar,
melainkan tekanan dari dalam.

The Void bergeser.
Bukan karena dilawan,
melainkan karena
tidak lagi kosong.

Tarikan terakhir.
Tidak seperti napas.
Lebih seperti keputusan.

Dan arah The Grid
kembali muncul.

07:24 Kembali

Hasan membuka mata.
Berat.
Seperti tubuh yang dipinjam terlalu lama.

Cahaya kokpit Dorian Grey menstabil perlahan.
Sistem menyala satu per satu,
tanpa urgensi.

“Kita keluar,” katanya.
Bukan perayaan.
Pemeriksaan realitas.

Delphie berdiri pelan,
lalu duduk di kursi kapten.

Bintang-bintang di layar tidak ia kenal.
Ia tidak panik.
Ia terlalu tenang untuk itu.

Hasan mengecek navigasi.
Membaca ulang.
Sekali lagi.
Lalu berhenti.

“Tidak mungkin.”

Julia mendekat.
“Apa.”

Hasan tidak langsung menjawab.

“Kita…
tidak lama di sana,”
katanya pelan.
“Bagi kita.”

Ia menoleh.
“Di luar—
dua puluh tahun.”

Keheningan jatuh.
Bukan kosong.
Berat.

Delphie menelan ludah.
“Dua puluh tahun.”

“Penanda waktu eksternal konsisten,”
lanjut Hasan.
“Dorian melewati dua dekade ruang normal.”

Julia tidak berkata apa-apa.
Tidak ada yang bisa dihitung
dari sana.

Dunia
tidak menunggu.

Akhir dari Timer 07:00


Apakah keheningan itu kosong,
atau ia menunggu kita berani
mengisi dengan pilihan?


⟲⟁⟲ ⟁⟔⟟ ✧⟡✧


Share/Copy link: