
Timer 08:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
2,145 words, 11 minutes read time.
Langit Asing
[08:01]
VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT VIII—ZERO SKY
[ARCHIVE//SYNCH_LOG: DORIAN_GREY_CORE_41.02]
Status: Post-Void dislocation record
Decoding: Fragmented (52%)
Integrity: Compromised
Authorship: Unassigned
> Output fragment begins:
[08:06]
> Bintang-bintang tidak salah.
> Kami yang salah
> karena masih mengingat
> susunan lama
> sebagai rumah.
[END OF FRAGMENT]
Signal residue: WHITE NOISE / GRAVITY SHEAR
Checksum: INVALID
“Kembali adalah ilusi”
08:11 — Langit yang Tidak Lagi Sama
Bintang-bintang salah.
Tidak ada alarm yang menyatakan itu.
Tidak ada sistem yang mengonfirmasi.
Delphie hanya tahu.
Pola yang ia hafal dari Delta 4 tidak ada.
Bukan bergeser—
hilang.
Seolah The Void tidak membawa mereka ke tempat lain,
melainkan ke susunan yang lain.
“Dorian,” suara Julia terdengar lebih rendah dari biasanya.
“Konfirmasi posisi.”
Beberapa detik berlalu.
> Posisi tidak dapat dikonfirmasi, Navigator Julia.
Nada Dorian Grey berubah.
Bukan error.
Ragu.
> Referensi stellar tidak cocok dengan basis data mana pun.
> Sistem navigasi tidak menemukan jangkar gravitasi yang
> dikenal.
Hasan mencondongkan tubuh ke panel.
Jari-jarinya bergerak cepat, menghitung manual—
lalu berhenti.
“Ini tidak masuk akal,” gumamnya.
“Bahkan jika kita melompat jauh,
masih seharusnya ada sesuatu yang dikenali.”
“Dua puluh tahun,” kata Julia.
Bukan dugaan.
Pengingat.
“Mungkin bintang-bintang berubah.”
“Atau,” Delphie menyelesaikan tanpa menoleh,
“kita tidak kembali ke semesta yang sama.”
Tidak ada yang menyangkal.
Di luar kokpit, cahaya asing berdenyut.
Beberapa bintang terlalu biru.
Yang lain terlalu merah.
Seolah spektrum pun tidak sepakat pada satu aturan.
Julia merasakan ketidaknyamanan yang tidak fisik.
Bukan bahaya.
Dislokasi.
Seperti pulang ke rumah
dan semua perabot dipindahkan
beberapa sentimeter dari tempatnya.
“Delphie,” katanya pelan.
“Kau masih… merasakannya?”
Delphie mengangguk.
Sesuatu yang tertinggal dari The Void—
bukan ikatan,
lebih seperti ketegangan.
Seperti koneksi,
ruang rasa yang mengikat.
Mereka menamainya The Merge.
Hasan mengangkat kepala.
“Radar membaca sesuatu,” katanya perlahan.
“Pola sinyalnya tidak mekanis.”
“Seperti apa?”
“Seperti… detak.”
Dorian Grey bergetar ringan.
Mikrobot di lambung menyesuaikan diri.
> Mendeteksi anomali gravitasi,
lapor Dorian.
> Bearing tiga-empat-tujuh mark satu-dua. Kita mendekati Objek
besar.
Bayangan muncul di layar utama.
Bukan kapal.
Bukan struktur alami.
Struktur gelap yang melayang tanpa dorongan,
permukaannya berkilau spiral—
cahaya yang terasa lebih hidup daripada seharusnya.
“Garis N0l,” kata Julia, membaca data.
“Sektor ini ditandai sebagai Garis N0l.”
“Kenapa?” tanya Delphie.
Jawaban tidak datang dari konsol.
Teks eksternal mendadak muncul di layar internal Dorian.
> “Karena di sini,
semua hitungan dimulai dari n0l.”
Mereka menoleh bersamaan.
NiuNiu berdiri di ambang pintu kokpit.
Tidak jelas sejak kapan.
Wajahnya datar.
Tatapan tetap ke luar.
Teks berikutnya muncul, singkat:
> “Zero sudah bergerak.
Kalian merasakannya karena koneksi kalian belum putus.”
Satu baris terakhir menyala, dingin:
> “Selamat datang di semesta
di mana Himler dan Zero adalah penguasanya.”
Langit memang tidak lagi sama.
08:22 — Pendaratan di Garis N0l
NiuNiu melangkah masuk ke kokpit.
Gerakannya sunyi, hampir tidak meninggalkan jejak.
Ia tidak mengenakan nanosuit—
hanya pakaian hitam sederhana yang membuat tubuh kecilnya
tampak seperti bayangan yang terlepas dari dinding.
“Sejak kapan kamu di situ?” tanya Julia.
NiuNiu tidak menjawab.
Ia mengetik cepat.
Teks muncul di layar utama:
> “Cukup lama untuk tahu kalian masih belum siap berada di
sini.”
Julia, Delphie, dan Hasan saling berpandangan.
Data dan realitas masih belum sepenuhnya menyatu di kepala mereka.
NiuNiu tidak berubah.
Rambut hitam pendek.
Wajah halus tanpa jejak waktu.
Mata hitam yang sama—dingin,
presisi, tidak memohon penjelasan.
Tubuh lima belas tahun yang tidak pernah bertambah usia.
Seperti gambar yang terjebak dalam bingkai.
“Kamu tidak berubah,” gumam Julia.
Teks lain muncul:
> “Dua puluh tahun menunggu kalian.
Kalian juga tidak banyak berubah.”
Delphie mengabaikan komentar itu.
“Apa maksudmu kami belum siap?” tanyanya.
“Belum siap untuk apa?”
Balasan datang singkat:
> “Untuk bertemu dengan sesuatu yang sudah menunggu kalian.”
Hasan menoleh cepat.
“Sesuatu apa—”
Alarm memotong kalimatnya.
Nada rendah, berat.
Bukan peringatan darurat, lebih seperti pengakuan bahwa jarak telah habis.
Objek besar yang sebelumnya disebut struktur kini terlihat jelas.
Bukan kapal.
Bukan puing.
Sebuah stasiun.
Arsitekturnya tidak simetris—
tumbuh, bukan dirakit.
Lengkungan menyerupai tulang.
Cahaya biru berdenyut perlahan,
seperti pembuluh darah yang membawa sesuatu selain energi.
“Parthenon,” baca Hasan dari layar identifikasi.
“Stasiun Parthenon. Orbit Pusat Lingkar Garis N0l.”
“Status energi?” tanya Julia.
> Dua puluh tiga persen,
jawab Dorian Grey.
> Tanpa pengisian ulang,
sistem pendukung hidup akan gagal dalam
tiga jam empat puluh dua menit.
Tidak ada pilihan.
“Vrishchik?” tanya Julia.
“Dua puluh tahun berlalu.
Apa mereka masih ada?”
Teks NiuNiu muncul lagi:
> “Himler adalah pusat.
Vrishchik adalah sistem.
Zero adalah sesuatu di belakangnya.”
Lapor Dorian:
> Stasiun Parthenon memancarkan sinyal docking,
> Mereka mengizinkan kita mendekat.
“Terlalu mudah,” gumam Hasan.
NiuNiu mengetik:
> “Parthenon ibukota klan Parthenos.
Tempat sisa kekuatan klan yang masih bertahan.
Mereka menyebutnya wilayah netral.”
“Tidak ada yang netral,” kata Julia.
Balasan muncul tanpa jeda:
> “Benar.
Tapi mereka masih membutuhkan kalian hidup-hidup.
Untuk sekarang.”
Delphie merasakan sesuatu menekan tulang belakangnya.
Sebagai kapten, keputusan ada di tangannya.
Semua pilihan salah.
Beberapa hanya lebih lambat membunuh.
“Kita docking,” katanya akhirnya.
Dorian Grey bergerak mendekat.
Semakin dekat, Parthenon semakin besar—
bukan seperti bangunan,
melainkan kota yang lupa bagaimana caranya mati.
“Docking bay tujuh terbuka,” lapor Hasan.
“Mereka sudah menunggu,” kata Julia.
Hangar terbuka.
Puluhan kapal sudah terparkir di dalamnya—
beberapa dari klan yang dikenal,
yang lain dengan desain asing.
Banyak yang rusak.
Banyak yang ditinggalkan.
Seolah mereka yang datang ke Parthenon tidak selalu pergi lagi.
Suara perempuan masuk ke komunikator.
Tenang.
Administratif.
“Selamat datang di Parthenon.
Saya Administrator Kira.
Kalian diharapkan hadir di Level Observasi dalam satu jam.
Mohon tidak meninggalkan hangar sebelum debriefing selesai.”
Sambungan terputus.
“Diharapkan,” ulang Julia pelan.
Delphie menatap keluar jendela.
Di antara kapal-kapal itu, ia melihat sosok-sosok berseragam abu-abu bergerak serempak.
Terlalu sinkron.
Terlalu presisi.
Bukan penjaga.
Lebih seperti fungsi.
“Ibu,” bisiknya.
“Aku tidak suka tempat ini.”
Julia menggenggam tangannya.
“Aku juga,” jawabnya.
Dan itu saja yang bisa Julia ucapkan.
08:33 — Administrator Kira
Koridor Parthenon sunyi—
bukan sepi,
seperti menahan napas.
Dinding berdenyut pelan,
memantulkan langkah mereka
seperti gema tanpa suara.
Julia berjalan di depan.
Hasan setengah langkah
di belakangnya.
Delphie di tengah.
Dan NiuNiu
paling belakang—
tak bersuara,
tak tampak bernapas.
Hanya hadir.
Pintu kubah observasi
terbuka tanpa bunyi.
Separuh ruangan adalah kaca:
langit Garis N0l
menghampar
seperti luka yang membeku.
Seorang perempuan
duduk membelakangi mereka.
Rambutnya putih keperakan,
seragam abu-abu
seperti kabut pagi.
“Selamat datang,” katanya.
“Tepat waktu.”
Ia berdiri dan menoleh.
Mata biru pucatnya
berdenyut lembut—
bukan refleksi cahaya,
melainkan pulsa data.
“Administrator Kira,”
kata Hasan,
menahan ketegangan.
“Kami perlu—”
Kira mengangkat tangan.
Tipis.
Jelas.
“Aku tahu siapa kalian.
Julia Rose.
Delphie Rose.”
Pandangan itu bergeser—
berhenti sejenak
pada NiuNiu.
Diam.
Mengukur.
Lalu ke Hasan.
“Hasan al Hul,” lanjutnya,
“suami dari Sevraya,
Ratu Hydrochoos.”
Nama itu jatuh
seperti logam ke lantai.
Hasan tidak berkedip.
Namun lewat The Merge,
Julia dan Delphie
merasakan detak jantungnya
melonjak.
Sambungan ini
tidak menghargai privasi.
Kira berjalan
ke tepi kaca.
“Parthenon adalah tempat
klan-klan berunding
tanpa mengakuinya,”
katanya tenang.
“Setelah kalian menghilang,
peta kekuasaan runtuh
dan disusun ulang.
Vrishchik menyatukan wilayah
di bawah Himler.”
Ia menoleh ke Delphie.
“Beberapa menyebut
ada entitas di baliknya.
Namanya berubah-ubah:
Bayangan.
Nol.
Echo.”
Kira berhenti.
“Kami menyebutnya
kabut.”
“Dan sekarang?”
tanya Delphie.
“Sekarang,” jawab Kira,
“semua klan sepakat
satu hal.”
Mata itu menatap
Delphie lurus.
“Mereka menginginkanmu
sebagai sekutu.”
“Sekutu untuk apa?”
Delphie menegang.
“Untuk sesuatu
yang tidak bisa ditundukkan
dengan armada
atau senjata,”
jawab Kira.
“Untuk menembus kunci
yang tidak mereka pahami.
Mereka percaya
kamu bisa membuka
yang terkunci—
atau menutup
yang seharusnya
tak pernah dibuka.”
Teks hologram menyala
tanpa suara,
berasal dari gelang NiuNiu:
> “Ini maksudku propaganda
netralitas omong kosong.
Parthenon = ruang jeda,
bukan rumah.”
Julia melirik sekilas,
lalu kembali ke Kira.
“Kalau ini wilayah netral,”
katanya dingin,
“kenapa kami diharapkan,
bukan diundang?”
Senyum Kira tipis.
Hampir simpatik.
“Karena semua orang
ingin merasa berhak
atas masa depan,”
katanya,
“bahkan ketika masa depan
menolak didefinisikan.”
Ia menoleh ke Hasan.
“Utusan Hydrochoos
meminta audiensi privat
denganmu setelah debrief.
Mereka membawa
segel garam.”
Hasan menelan ludah.
“Diving rite…
menyelam
tanpa saksi.”
“Benar,” jawab Kira.
“Mereka percaya
ada simpul
yang hanya bisa diputus
oleh orang yang terikat
pada ratu mereka.”
Ia kembali ke Delphie.
“Ruang Observasi 3.
Yang lain
menunggu di sini.”
“Tidak,”
Julia langsung menolak.
“Kami tidak akan dipisah.”
Suara Kira mengeras.
“Ini bukan permintaan.
Ini prosedur.
Untuk keselamatan kalian.”
NiuNiu menyentuh
lengan Julia.
Gelengan kecil.
Teks muncul:
> “Tidak apa-apa.
Delphie harus
menghadapi ini
sendiri.”
Dengan berat hati,
Delphie mengikuti Kira
ke ruang kecil
yang terpisah.
08:34 — Bayangan Pertama Gwaneum
Ruangan itu sederhana:
meja,
dua kursi,
satu jendela besar
menghadap spiral Garis N0l.
“Duduklah,” kata Kira.
“Proses ini mungkin… membingungkan.”
“Proses apa—”
Pintu menutup
dengan hiss lembut.
Kira menghilang.
Cahaya meredup.
Bintang-bintang di luar bergerak lambat,
seperti berenang
dalam madu.
Delphie duduk.
The Merge masih ada—
lemah,
berisik seperti radio rusak.
Ia menatap jendela.
Pantulannya berkedip.
Bukan bersamaan.
Pantulan itu berkedip lebih dulu.
“Kamu melihatnya juga, kan?”
kata pantulan itu.
Delphie terlonjak.
Sosok di kaca tetap duduk tenang—
pantulan wajahnya sendiri,
tapi lebih tua.
Dua puluh tahun lebih matang.
Lebih pasti.
“Siapa kamu?”
bisik Delphie.
“Aku adalah kamu yang seharusnya,”
jawabnya dingin.
“Kamu yang tidak takut pada keputusan.”
“Aku tidak takut—”
“Kamu takut,”
potongnya.
“Takut memilih siapa yang harus mati
agar yang lain hidup.
Takut menggunakan
apa yang The Void berikan.”
“Aku tidak akan menjadi monster.”
“Monster?”
Pantulan itu tersenyum tipis.
“Tidak ada monster di sini.
Hanya mereka yang berani memilih…
dan mereka yang membiarkan
orang lain mati
demi tangan tetap bersih.”
Ia melangkah mendekat ke kaca.
“Zero sudah bergerak.
Dia mengandalkan keraguanmu.”
“Kamu tahu tentang Zero?”
“Aku tahu tentang semua hal
yang kamu pilih
untuk tidak tahu.”
Pantulan itu menekan telapak tangannya
ke kaca.
“Aku tahu apa yang ada
di benak ibumu sebenarnya.
Aku tahu NiuNiu
tidak pernah sepenuhnya jujur.
Aku tahu Hasan
menyimpan sesuatu.”
“Bohong.”
“Aku tidak bisa berbohong,”
katanya tenang.
“Aku cermin.”
Sambil mengetuk kaca.
Delphie menatapnya,
gemetar tapi tegak.
“Kemanusiaan kami
adalah satu-satunya pembeda
dari Zero,”
katanya pelan.
“Kalau aku kehilangan itu,
menang atau kalah
tidak ada bedanya.”
Untuk pertama kalinya,
pantulan itu diam.
“Menarik,”
katanya akhirnya.
“Mungkin…
ada cara ketiga.”
“Cara ketiga?”
“Antara menjadi monster
dan menjadi korban.”
Sosok itu memudar.
“Tapi ingat ini, Delphie Rose—
ragu-ragu
adalah keputusan
untuk membiarkan chaos menang.”
“Siapa namamu?”
tanya Delphie cepat.
“Gwaneum,”
jawabnya.
“Nama yang akan kamu pakai…
jika kamu cukup berani.”
Senyum terakhir muncul—
senyum yang sama,
tapi tanpa kehangatan.
“Aku bukan bayanganmu,”
bisiknya.
“Kau bayangan dariku.”
Ia lenyap.
Pintu terbuka.
Kira masuk.
“Bagaimana debriefingnya?”
Delphie menoleh.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang.
“Menarik,”
katanya pelan.
Untuk pertama kalinya
dalam bertahun-tahun,
Administrator Kira
merasa tidak nyaman.
08:55 — Cahaya yang bersuara
Lorong Parthenon terasa lebih sunyi
dari sebelumnya.
Bukan karena ketiadaan suara,
melainkan karena udara menebal—
seolah ruang itu sendiri
menahan napas.
Lampu-lampu di sepanjang dinding
bergetar samar.
Bukan gangguan listrik,
melainkan sesuatu
yang sedang menembus
lapisan realitas.
NiuNiu mendongak perlahan.
Frekuensi yang tak dapat ditangkap
indera manusia
membuat pupilnya menyempit.
Di tepi penglihatannya,
gelombang cahaya menari—
seperti data
yang salah dirender.
Satu kata muncul
di gelang holonya.
Dingin.
Final.
> “Dia.”
Administrator Kira
menatap layar kontrol.
Parameter gravitasi melengkung.
Angka berubah menjadi simbol
yang tidak dikenali
sistem Parthenon.
“Ini bukan anomali teknis,”
katanya pelan.
“Ini resonansi identitas.”
Kemudian ruang bergetar.
Tidak ada kilat.
Tidak ada ledakan.
Hanya cahaya yang bersuara—
suara yang tidak melewati telinga,
melainkan menekan langsung
ke tulang.
Semesta seperti
menghembuskan napas panjang.
Di tengah udara yang retak,
muncul sebuah garis putih
vertikal—
etipis helaian rambut,
seterang akumulasi
seluruh bintang.
Cahaya itu berdenyut.
Setiap denyutnya
mengubah arah gravitasi
di seluruh stasiun.
Dinding kristal Parthenon
mengeluarkan nada rendah,
seolah bangunan itu
sedang berdoa.
Delphie merasakannya.
Ia mengenali sensasi ini—
rasa yang tidak bisa
disalahartikan.
Hasan menahan napas.
Jari-jarinya mulai dingin.
Julia menarik Delphie
setengah langkah
ke belakang.
NiuNiu tidak bergerak.
Ia mengenali polanya.
Ini bukan serangan.
Ini kedatangan.
Hyperjump.
Retakan cahaya merekah
seperti kelopak bunga.
Udara menguap
menjadi luminansi murni.
Satu sosok melangkah keluar
perlahan—
seolah baru kembali
dari sisi lain waktu.
Jubah putih
menyelimuti nanosuit putih,
bergelombang
seperti air.
Di dahinya,
mahkota logam halus menyala—
logo ♊ rahang matahari Didymoi
berpendar lembut.
Langkahnya tak bersuara.
Namun setiap pijakan
meninggalkan gema
pada struktur ruang.
Sosok itu berhenti
di tengah lorong.
Cahaya di sekelilingnya
memudar,
tetapi udara tetap bergetar—
realitas seolah belum
memutuskan
apakah ia diizinkan
sepenuhnya untuk ada.
“Parthenon tidak banyak berubah,”
katanya.
Suaranya tenang,
tapi memiliki bobot
yang membuat
semua orang menunduk.
Ia mengangguk hormat
ke Administrator Kira.
Kemudian matanya
menyapu ruangan.
“Aku sudah menunggu kalian,
mereka yang bisa kembali
dari The Void.”
Julia menegang.
Hasan tersenyum kecut.
Jantung Delphie
berdetak terlalu cepat.
NiuNiu menatap lurus.
Di matanya,
ada sesuatu yang lain:
bukan kaget—
melainkan lapar
seorang predator
yang akhirnya melihat
mangsanya
dalam jangkauan.
Agnia Nakamoto
tersenyum samar.
Senyum seorang ratu
yang pernah menantang Tuhan
dan menang.
“Waktunya kita bicara,”
katanya.
“Tentang siapa sebenarnya
yang menulis ulang
sejarah.”
> [LOG PARTHENON // ENTRI BARU TERDETEKSI]
> IDENTITAS: AGNIA NAKAMOTO
> STATUS: AKTIF. KEMBALI DARI LUAR WAKTU.
Akhir dari Timer 08:00
問
Jika langit salah,
siapa yang sebenarnya
kehilangan arah?
Share/Copy link:
