
Timer — 03:00 Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
3,356 words, 18 minutes read time.
Delta 4
[03:01]
[ARCHIVE//MISSION_BIO-SUIT_LOG 3768AX//STATUS: CORRUPTED]
To die unchained is to remain human.
SYNC LOST—USER DISCONNECTED.
—Recovered fragment from Vrishchik Expedition Dayan, Classified Log #13
[03:04]
> Lima belas tahun setelah Dayan hilang di tepi The Void,
gelombang gravitasi terakhir dari ledakan itu masih terdeteksi
dalam grid energi koloni Zygos.
[03:08]
> Para insinyur menyebutnya afterglow error—
gangguan mikro yang membuat langit Delta 4 kadang berkedip
satu detik terlambat.
“Sebagian menganggap afterglow error adalah cacat sistem; sebagian lain menyebutnya napas semesta. Bagi Julia Rose, itu adalah tanda bahwa mesin-mesin masih mengingat namanya.”
03:11 — Bintang Delphie dan Anak yang Dinamai Darinya
Malam di Delta 4 tidak pernah benar-benar gelap.
Langit planet itu mempertahankan luminansi residual—
sisa cahaya dari sistem bintang yang disetel terlalu stabil
untuk sepenuhnya padam.
Bagi sebagian besar penghuni koloni,
pola kedip bintang-bintang itu terlihat normal.
Bagi Delphie, tidak.
Ada ketidaksinkronan kecil yang terus berulang.
Bukan cukup besar untuk disebut kesalahan.
Bukan cukup konsisten untuk diabaikan.
Terlalu lambat.
Atau terlalu cepat.
Ia tidak bisa memastikan.
Tubuhnya merespons lebih dulu
sebelum pikirannya menemukan parameter yang tepat.
Delta 4 berotasi retrograde.
Dua puluh empat jam per siklus.
Meniru planet bernama Bumi yang sudah lama berhenti relevan.
Tidak seperti Bumi,
Delta 4 sebagai ibu kota klan Zygos
tidak dirancang untuk presisi sempurna.
Ia dibangun dengan toleransi kesalahan—
deviasi kecil yang dianggap aman oleh para perancangnya.
Delphie berdiri di depan jendela koridor lama,
menatap bintang kelas G yang tercatat sebagai sumber cahaya utama koloni.
Bintang Delphie.
Nama itu sama dengan miliknya.
Ibunya tidak pernah menjelaskan alasan penamaan itu.
Dan Delphie tidak pernah mencarinya.
Ia sudah belajar bahwa
beberapa relasi lebih aman jika tidak dipetakan.
Ia berbalik.
Langkah kakinya menggema di lorong kosong—
pantulan suara di ruang yang tidak lagi dipantau.
Lampu dinding berdenyut tidak seragam.
Grid tenaga tua mempertahankan fungsi minimum,
cukup untuk menyala,
tidak cukup untuk stabil.
Area ini tidak tercakup pengawasan aktif.
Sensor-sensornya sudah lama dinonaktifkan.
Tidak ada sistem yang peduli untuk memperbaikinya.
Delta 4 bertahan dalam kondisi serupa.
Tidak utuh.
Belum runtuh.
Delphie menyukai tempat ini
bukan karena aman,
melainkan karena tidak tercatat.
Tempat di mana kesalahan
tidak langsung menjadi masalah.
Tempat di mana sesuatu
bisa ada
tanpa harus dijelaskan.
03:12 — Ruangan yang Tidak Seharusnya Ada
Enam bulan sebelumnya, Delphie menemukan anomali struktural.
Sebuah pintu.
Tidak tercantum di blueprint Delta 4.
Ia memverifikasi ulang:
arsitektur digital,
catatan energi,
peta redundan.
Hasilnya konsisten.
Pintu itu tidak ada dalam sistem.
Namun objek fisiknya stabil.
Logam tua.
Korosi ringan.
Panel akses aktif pada daya minimum.
Membukanya membutuhkan tiga hari.
Sistem keamanannya analog.
Protokol lama.
Berbasis ritme dan modulasi.
Delphie memahami bahasa itu.
Di balik pintu terdapat ruang isolasi alami.
Sangkar Faraday dengan dinding tebal.
Tidak ada penetrasi elektromagnetik.
Tidak ada sinyal masuk.
Tidak ada sinyal keluar.
Lingkungan tertutup sempurna.
Ruang tersebut dipenuhi sisa kerja lama:
generator usang,
kabel terkelupas,
monitor mati.
Seseorang pernah beroperasi di sini.
Lalu menghilang.
Delphie tidak mencoba merekonstruksi sejarahnya.
Ia membersihkan area tengah.
Menciptakan zona kerja minimum.
Selama tiga minggu, ruangan itu menjadi laboratorium.
Ia mengembangkan swarm mikro-drone berbentuk serangga.
Tidak ada komando pusat.
Tidak ada hierarki kontrol.
Unit-unit bergerak berdasarkan respons lokal.
Sinkronisasi muncul tanpa instruksi eksplisit.
Modelnya diambil dari arsip lama:
Emergent Synchronization Theory.
Secara teori, sistem akan stabil
karena ketidaksempurnaan terdistribusi.
Delphie mengetahui batas teori itu.
Teori hanya bertahan
sampai arus pertama mengalir.
03:13 — Kesalahan yang Dipercepat
Delphie menarik napas dalam.
Satu kali lagi.
Verifikasi terakhir.
Pintu terkunci.
Sensor anti-intrusi aktif.
Pengacak sinyal stabil.
Tidak ada kamera.
Tidak ada log aktivitas.
Status: sendirian.
Status: aman.
“Sinkronisasi tahap satu,” gumamnya pelan.
Ia membuka kotak transparan di meja logam.
Sepuluh mikro-drone aktif bersamaan.
Unit-unit kecil itu melayang naik, perlahan, seragam.
Dimensi: seukuran jempol tangan anak.
Sumber cahaya: LED internal.
Warna: biru kehijauan.
Frekuensi denyut menyerupai pola biologis.
Drone saling mendeteksi.
Jarak menyesuaikan.
Formasi terbentuk.
Spiral pertama.
Lalu pola radial menyerupai bunga.
Gerakan luwes.
Tidak kaku.
Tidak sepenuhnya mekanis.
Delphie tersenyum. “Ini bekerja…”
Pada titik itu, evaluasi berhenti.
Keberhasilan parsial diterjemahkan sebagai izin.
Satu langkah tambahan.
Delphie mengalihkan perhatian ke generator tua di sudut ruangan.
Unit besar.
Kisi logam terbuka.
Kabel melilit tanpa manajemen struktur.
Kebutuhan daya meningkat untuk uji sinkronisasi penuh.
Ia menekan saklar.
Klik.
Generator aktif.
Dengungan rendah terdeteksi.
Cahaya kuning stabil.
Naik.
Naik terlalu cepat.
Kesalahan pertama: output tidak diverifikasi.
Kesalahan kedua: frekuensi drone tidak disesuaikan.
Kesalahan ketiga: asumsi bahwa sistem akan toleran terhadap niat.
Gelombang elektromagnetik keluar dari generator.
Bertabrakan dengan frekuensi swarm.
Udara beresonansi.
Nada rendah bergeser menjadi amplitudo tinggi.
Formasi runtuh.
Drone kehilangan sinkronisasi.
Sinyal saling tumpang tindih.
Loop umpan balik terbentuk.
Generator tidak lagi berfungsi sebagai sumber daya.
Ia menjadi pusat tarik.
Objek bergerak menuju inti.
Benturan logam berulang.
“—Oo…” Delphie berbisik. “Gawat.”
Percikan listrik muncul.
Ionisasi udara meningkat.
Aroma ozon terdeteksi.
Panel generator berubah merah.
Status: thermal breach.
Delphie menuju panel kontrol.
Menekan SHUTDOWN.
Tidak ada respons.
Upaya diulang.
Hasil sama.
Sistem keamanan internal tidak aktif.
Energi beredar dalam sirkuit lama.
Tidak menemukan jalur pelepasan.
Temperatur meningkat cepat.
Gelombang kejut elektromagnetik pertama.
Lalu kedua.
Udara terasa padat.
Visibilitas menurun.
Inti generator memancarkan cahaya merah.
Overheat.
Ia tahu artinya: satu menit sebelum ledakan plasma.
“Ini buruk,” gumamnya.
“Ini sangat, sangat buruk.”
Suaranya datar. Tenang.
Jenis ketenangan yang muncul ketika otak tahu—
panik tak lagi berguna.
Ia hanya butuh satu keputusan: keluar atau mati.
Delphie berbalik ke arah pintu—dan di saat itu,
lampu ruangan mati.
Cahaya terakhir yang ia lihat adalah kilatan biru kehijauan
dari sisa drone yang terhisap ke inti generator,
lalu—sebuah siluet.
Seseorang berdiri di ambang pintu,
berbalik arah cahaya.
Tubuh mungil.
Rambut hitam.
Mata tanpa refleksi cahaya.
03:14 — Gadis yang Tidak Seharusnya Ada
Delphie membeku.
Seorang gadis melangkah masuk—mungil,
kira-kira seusianya—mungkin sedikit lebih pendek.
Rambut pendek hitam legam,
sisi kepala tipis, potongan presisi seperti hasil mesin.
Tubuhnya ramping tapi terasa padat—
seperti sesuatu yang dibuat untuk bertahan, bukan untuk hidup.
Tangannya berada di saku celana kargo hitam.
Ekspresi wajah netral.
Tidak dingin,
tidak acuh—
hanya minim reaksi.
Pandangannya singkat,
terukur, berhenti sejenak pada Delphie,
lalu berpindah ke generator di sudut ruangan yang mulai mengeluarkan asap tipis.
Delphie tidak bergerak.
Semua alarm di otaknya menyala bersamaan:
Bagaimana dia masuk?
Kenapa sensor tidak bereaksi?
Siapa dia?
Dan kenapa dia terlihat begitu tenang?
Gadis itu berjalan mendekat.
Langkahnya konsisten,
efisien,
tanpa jeda yang tidak perlu.
Ia tidak mempercepat langkah.
Ia juga tidak berhenti untuk menilai ulang keadaan.
Ledakan yang akan terjadi tampak tidak memengaruhi ritmenya.
Delphie ingin berteriak, ingin berkata “Keluar! Ini akan meledak!”
Sesuatu dalam dirinya mengenali pola.
Bukan logika,
melainkan insting yang terbentuk dari observasi lama:
entitas ini memahami situasi lebih baik darinya.
“Jangan ganggu. Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Getaran lantai meningkat.
Temperatur ruangan melewati batas aman.
Ionisasi udara terasa di kulit.
Gadis itu berhenti di depan generator.
Ia mengeluarkan tangan dari saku.
Gerakannya kecil dan pasti.
Jari-jarinya bergerak cepat di panel kontrol—
menekan,
menggeser,
menarik—
tanpa ragu, tanpa koreksi.
Ia menarik sebuah tuas tersembunyi di bawah panel.
Nada generator berubah.
Dari raungan menjadi dengung.
Dari dengung menjadi stabil.
Lalu berhenti.
Klik.
Sistem mati total.
Delphie menyadari napasnya tertahan dan melepaskannya perlahan.
Ketegangan otot mereda. Ruangan memasuki kondisi diam.
Gadis itu menatap Delphie. Pandangannya langsung dan datar,
seolah melakukan pembacaan.
Bukan menilai secara emosional, melainkan memetakan.
Tanpa sadar, Delphie mencoba meniru postur gadis itu:
memasukkan tangan ke saku,
bahu sedikit miring, ekspresi dibuat tenang.
Usaha itu berlangsung dua detik sebelum gadis itu melirik cepat—
gerakan kecil tapi jelas: serius, lo nyoba gaya gue?
Bola matanya berputar.
Gestur universal rasa kesal.
Delphie memerah.
Cepat-cepat menarik tangannya dari saku,
lalu berdiri kaku seperti anak sekolah ketahuan menyontek.
Gadis itu menatapnya satu detik lebih lama—
lalu tersenyum kecil.
Nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk mengubah tekanan udara di ruangan.
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
Delphie hendak berbicara.
Beberapa kemungkinan muncul—
ucapan terima kasih,
pertanyaan identitas,
permintaan penjelasan.
Tidak satu pun terucap.
Di ambang pintu, gadis itu berhenti.
Ia menoleh.
Senyumnya hilang.
Tatapannya berubah menjadi instruksi.
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah chip kecil—
logam kusam, dengan pola etching menyerupai rangkaian non-standar.
Klang.
Chip jatuh ke lantai.
Tanpa komentar, gadis itu pergi.
Pintu menutup sendiri.
Perlahan. Lalu terkunci.
Delphie sendirian.
Volume ruangan terasa bertambah.
Di tengah ruangan, chip itu tetap berada di lantai,
memantulkan cahaya samar—
sebuah artefak tanpa konteks, menunggu diproses.
03:15 — Chip dan Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab
Delphie berdiri diam selama—ia tidak tahu berapa lama.
Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.
Akhirnya, kakinya bergerak.
Ia berjalan ke arah chip, lalu mengambilnya.
Dingin.
Lebih berat dari yang terlihat.
Pola torehannya bukan dekorasi—ini adalah circuit microscopic,
terlalu rumit untuk dibuat dengan teknologi Delta 4.
Ini adalah teknologi lain.
Delphie memasukkannya ke saku jaket, pikirannya sudah berputar:
Siapa dia?
Bagaimana dia tahu tentang ruangan ini?
Kenapa dia membantu?
Kenapa dia memberikan ini?
Tidak ada jawaban.
Hanya pertanyaan yang berkembang biak.
Dengan gerakan mekanis—autopilot—
Delphie mulai membereskan peralatannya,
mematikan semua sistem, mengunci ruangan.
Mikro-drone-nya hampir rusak semua—
casing retak,
circuit hangus.
Tidak bisa diperbaiki.
Tidak apa-apa.
Ia mengambil yang masih bisa bekerja.
Ia punya masalah yang lebih besar sekarang.
Ia harus pulang.
Ibunya hari ini landing dari perjalanan kargo.
Kalau Delphie terlambat, akan ada pertanyaan.
Dan pertanyaan adalah hal terakhir yang Delphie ingin hadapi sekarang.
03:16 — Apartemen dan Aroma yang Akrab
Pintu apartemen terbuka.
Delphie berhenti satu langkah di ambang.
Aroma rendang terdeteksi—kuat, stabil, familiar.
Ibunya sedang memasak. Resep lama.
Warisan dari nenek yang tidak pernah Delphie temui.
Planet asalnya sudah tidak tercantum di peta aktif.
Julia Rose berada di dapur kecil.
Masih mengenakan seragam navigator unit kargo Delta 4—
jumpsuit abu-abu, patch Klan Zygos di lengan kiri.
Rambut diikat rapi. Wajah lelah. Senyum fungsional.
Lima belas tahun berlalu sejak insiden Dayan.
Julia bertahan. Berpindah. Menyesuaikan.
Beberapa tahun terakhir, hidupnya stabil di Delta 4.
Perubahan itu terjadi bersamaan dengan Delphie memasuki masa remaja.
“Kamu dari mana?”
Nada hangat. Tapi ada lapisan lain di bawahnya.
Observasi. Julia selalu memindai.
“Baik, Bu. Perjalanannya gimana?”
Jawaban Delphie terdengar normal.
Tidak mencerminkan hampir-terjadinya ledakan.
Tidak mencerminkan pertemuan dengan entitas tak terdaftar
yang mampu menembus ruangan Faraday.
Julia berbicara sambil mengaduk rendang.
Tentang sektor baru.
Tentang bintang kelas-M yang belum stabil.
Tentang nebula yang menyerupai wajah jika dilihat dari sudut tertentu.
Antusiasme terdengar konsisten.
Julia memang menyukai pekerjaannya.
Delphie mendengarkan.
Atau menjalankan simulasi mendengarkan.
Sebagian besar proses mentalnya masih tertambat di ruangan tua itu—
pada cara gadis itu bergerak,
pada keheningan tatapannya,
pada efisiensi yang tidak meminta penjelasan.
“Oh, ada hal penting yang mau kubicarakan.”
Parameter berubah.
Nada Julia bergeser.
Dari hangat menjadi terukur.
Delphie mengenali pola itu.
Jantungnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.
“Ada apa, Bu?”
Upaya normalisasi gagal sebagian.
Pitch suara naik tipis.
Julia mematikan kompor.
Berbalik.
Menatap Delphie tanpa ekspresi yang mudah diklasifikasikan.
Bukan marah.
Bukan khawatir.
Serius.
“Kita harus pindah,” katanya. “Dalam dua minggu.”
“Pindah ke mana?”
“Penugasan baru. Sektor luar. Koloni Delta 7.”
Julia menarik napas.
“Kompensasi lebih baik. Sekolah lebih baik. Dan—”
ia berhenti sejenak, memilih kata—
“lebih aman.”
“Lebih aman dari apa?”
Julia tidak menjawab langsung.
Ia menoleh ke jendela.
Bintang-bintang berkedip di luar, mengikuti ritme orbit.
Ekspresi di wajahnya jarang Delphie lihat sebelumnya.
Gelisah.
“Dari hal-hal yang mungkin akan datang,” katanya pelan.
03:27 — Pengawas yang Tidak Terlihat
Di atap bangunan, tiga puluh meter di atas apartemen Julia dan Delphie,
NiuNiu duduk bersila dalam bayang-bayang.
Nanosuit berada pada mode stealth.
Di hadapannya, layar holografik transparan
menampilkan feed dari kamera mikroskopis yang dipasang seminggu lalu.
Interaksi ibu dan anak itu berjalan normal.
Delphie menunjukkan pola kecanggungan ringan.
Bahasa tubuh inkonsisten.
Upaya penyamaran emosional gagal.
Julia tidak menanggapi.
Atau memilih untuk tidak menanggapi.
NiuNiu mencatatnya. Pola ini familiar.
Ia pernah berada pada fase itu—
sebelum kejujuran menjadi variabel berbiaya tinggi.
Secara kronologis, ia dua dekade lebih tua dari Delphie.
Secara fisik ia sebaya, tetap lima belas tahun.
Efek residual dari peristiwa di The Void.
Detail tidak relevan untuk misi saat ini.
Perbedaan antara keduanya signifikan.
NiuNiu telah melalui proses eliminasi empati bertahap
demi kelangsungan hidup.
Delphie belum.
> Status Delphie: UNEXPOSED.
Status ini tidak akan bertahan lama.
Layar memperbarui data. Hitung mundur berdenyut merah samar:
09:47 — Menuju Serangan Vrishchik
Chip yang diberikan ke Delphie berfungsi sebagai jammer bio portabel.
Efek: penundaan deteksi. Bukan penghapusan jejak.
Kendala lingkungan:
> Terlalu banyak bukaan.
> Terlalu sedikit jalur evakuasi.
> Arsitektur defensif lemah.
Lokasi telah diketahui.
Komunikasi Vrishchik dibajak dua jam lalu.
Strike team telah dideploy.
> ETA: <10 menit.
Julia memiliki kompetensi tempur.
Namun variabel “anak tidak terlatih” menurunkan probabilitas bertahan secara drastis.
Itulah alasan NiuNiu berada di sini.
Pemeriksaan perlengkapan:
> 2 senapan mesin mini berperedam.
> 6 magazen kapasitas besar.
> 8 mini-drone peledak.
> 1 drone EMP.
> 3 bom asap.
> Andamante, pisau lipat ganda, di holster paha.
Kapasitas memadai untuk ±20 target.
Nanosuit beralih dari stealth ke mode tempur urban.
Material berubah menjadi matte-gray penyerap cahaya.
HUD aktif. Data taktis terproyeksi:
> heatmap .............. locked
> enemy ingress ........ confirmed
> structural weakpoints . indexed
> time remaining ....... decreasing
NiuNiu berdiri.
Otot beradaptasi.
Gerakan efisien.
Tanpa gestur tambahan.
Lintasan dihitung.
Angin,
jarak,
momentum.
Tiga puluh meter free fall.
Pendaratan senyap.
Tidak ada getaran.
07:55 — Menuju Serangan Vrishchik
Posisi tercapai.
Bayangan terintegrasi dengan lingkungan.
Rute intersep dikunci.
Blind spot tervalidasi.
Titik pelepasan drone ditandai.
Target: Strike team Vrishchik
Objektif: Lindungi Julia & Delphie Rose
Metode: Eliminasi total
Kalkulasi berjalan:
waktu reaksi musuh,
risiko collateral,
probabilitas Delphie terluka.
Tidak ada emosi.
Hanya angka.
Hanya tindakan.
Jammer di apartemen aktif.
Penundaan radar tercapai.
Margin tipis, cukup.
Ujung jari menyentuh sensor bilah Andamante.
Suhu logam terdeteksi. Respon biologis stabil.
Di bawah, koridor dan pintu apartemen berada pada status normal.
Julia dan Delphie bergerak menuju titik keputusan tanpa kesadaran situasional.
NiuNiu mengatur napas.
Fokus mengunci.
Satu variabel tersisa: waktu.
Dan variabel itu akan dihabiskan.
03:28 — Sepuluh Detik Sebelum Pintu Dirobohkan
00:10
NiuNiu berada di posisi.
Kontak dari arah utara koridor.
Dua puluh tanda panas.
Formasi V.
Unit: Vrishchik Elite.
Armor berat.
Reaktor nuklir mini aktif.
Aktivitas terdeteksi meski tanpa suara.
Ia membuka kanal internal.
> “Dorian Grey, Phase One. Start”
Suara mekanis di kepalanya menjawab datar:
> Confirmed.
Dua mini-drone dilepas dari kapsul pinggang.
Level lantai.
Sumbu langit-langit.
Cahaya indikator merah stabil.
00:09
Satu napas.
Dua napas.
Drone rendah bergerak sejajar lantai.
Drone atas menempel struktur plafon.
Keduanya berhenti pada titik perpotongan cahaya dan bayangan.
Visor turun.
HUD aktif.
Lintasan tembak tervalidasi.
Tiga target depan ditandai.
00:08
blep.
blep.
blep.
Tiga tanda panas padam bersamaan.
Material biologis menyebar di dinding.
Tidak ada respons vokal.
00:07
Unit tersisa bereaksi.
Dispersi lateral.
Dua kiri.
Tiga kanan.
Sisanya mundur ke posisi defensif.
Tembakan plasma acak.
Energi menghantam dinding.
Pantulan cahaya biru.
NiuNiu berpindah.
Posisi berubah sebelum tembakan selesai.
Dua tanda panas padam.
Pemutusan leher bersih.
Pisau kembali ke tangan.
00:06
Ledakan pertama.
Drone atas meledak.
Gelombang kejut vertikal.
Fragmen mikro menembus lapisan armor.
Asap mengisi lorong.
00:05
Di dalam apartemen:
Julia menoleh ke arah pintu.
“Delphie! Tiarap!” serunya.
Refleks lamanya bangkit; tangan otomatis mencari senjata.
Tapi dia hanya menemukan pengait sabuk utilitas—
lupa ia sudah lama tidak bersenjata.
00:04
Mode inframerah diaktifkan.
Asap:
— penghalang visual bagi lawan
— transparan bagi sistem
Sepuluh tanda panas tersisa.
Dua drone terakhir dilepas.
Ledakan menyapu sisi kanan lorong.
Fragmen armor menghantam struktur.
00:03
Julia membuka kompartemen darurat.
Senjata servis lama.
Status: operasional.
Ia menarik pelatuk, klik. Masih berfungsi.
Mata Julia berubah: bukan lagi ibu, tapi prajurit.
Postur berubah.
Fungsi tempur aktif.
00:02
Kontak tambahan terdeteksi.
Empat tanda panas dari tangga barat.
Backup.
Mode tembak diubah.
Burst-fire.
Silent.
blep-blep-blep.
Tiga tanda panas padam.
Satu tersisa.
Pisau dilepas.
Penetrasi helm.
Status: netralisasi.
00:01
Suara langkah mendekat dari belakang pintu apartemen Julia.
Vrishchik terakhir menendang keras.
Pintu bergetar. Jatuh bersamaan dengan meledaknya kepala Vrishchik oleh pistol Julia.
00:00
NiuNiu melompat menembus jendela samping apartemen.
Kaca hancur dalam pola spiral.
Ia mendarat di ruang tamu, dua meter dari Julia dan Delphie.
Visor di helm terbuka memperlihatkan wajahnya.
Julia berbalik cepat,
mengarahkan senjata ke arah gadis mungil itu.
NiuNiu juga mengangkat senapan mininya.
Dua laras saling mengunci.
Tidak ada perintah.
Tidak ada suara.
Hanya dengung nanosuit.
Napas manusia.
Di antara mereka, Delphie berdiri,
mata melebar.
Bingung.
Tangan terangkat,
tubuh gemetar.
“Kalian… gak akan saling tembak, kan?”
Udara berhenti bergerak.
Julia mengobservasi kalimat “kalian…” dari anaknya.
Mereka pernah kontak.
Lalu melihat entitas di depannya.
NiuNiu tidak bereaksi.
Waktu terfragmentasi.
Detik kehilangan urutan.
Di luar:
langkah tambahan terdeteksi.
Irama berat.
Konsisten.
Seperti sistem yang belum selesai dieksekusi.
03:29 — Gencatan Senjata Sementara
Hening menggantung seperti bilah pisau di udara.
Delphie berada di antara dua laras senjata aktif.
Matanya bergantian menatap dua sosok yang tak ia mengerti—
ibunya yang tiba-tiba berubah jadi prajurit,
dan gadis misterius yang barusan menembus jendela
dengan tenang seperti malaikat perang.
Julia menahan napas.
Ototnya kaku,
mata terkunci pada musuh lamanya.
Ada rasa ngeri di bawah nadi—
melihat wajah yang tak menua.
Bocah ini seharusnya sudah tiga puluh tahunan,
logika Julia error.
Wajah yang tidak sesuai dengan garis waktu biologis.
NiuNiu tidak bergerak;
hanya pupil matanya yang menyesuaikan fokus,
menghitung setiap detik,
setiap peluang.
“Delphie, mundur.”
Suara Julia rendah,
stabil, tapi memancarkan otoritas yang tak bisa ditawar.
Delphie ragu,
namun kakinya mundur satu langkah.
Lalu dua.
Lalu tiga—cukup untuk memberi ruang.
Julia perlahan menurunkan senjatanya.
NiuNiu menurunkan laras senjatanya setengah detik setelahnya.
Gerakan mereka hampir sinkron,
seperti dua sistem tempur yang diatur pada frekuensi yang sama—
saling membaca tanpa kata.
Keheningan itu pecah oleh suara berat dari luar.
BRAK.
BRAK.
BRAK.
Langkah seragam logam menghantam lantai.
Vrishchik — gelombang kedua.
Julia dan NiuNiu saling menatap.
Tak perlu kata.
Insting lama Julia bekerja.
Tidak ada pertukaran makna.
Hanya konfirmasi peran.
“Kiri. Aku kanan,” kata Julia cepat.
NiuNiu menjawab tanpa suara—
sekadar anggukan kecil.
00:20 .
Reposisi.
NiuNiu mengambil perlindungan di belakang meja.
Julia bergerak ke sektor dapur.
Refleksi kaca dimanfaatkan.
Tangannya menekan tombol—
pintu anti-ledakan turun perlahan.
Waktu dibeli.
Delphie berlindung di bawah meja.
Data baru: apartemennya punya pintu anti-ledakan.
00:15.
Pintu menerima tekanan.
Suara pemotong plasma.
00:14.
Panel pergelangan terbuka.
Input cepat.
Antarmuka teks muncul.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Julia menoleh cepat,
sedikit bingung bocah tak menua ini menggunakan teks.
“Selain pintu ledakan, belum ada ide. Kau?”
Teks hologram kembali muncul:
"Saatnya mainkan EMP radius kecil."
Julia membalas: “Gunakan saat aku beri sinyal.”
00:12.
Struktur pintu memerah.
Material mendekati batas leleh.
Delphie menahan posisi.
Tremor terdeteksi, tidak fatal.
00:11.
Julia memberi tanda dengan tiga jari.
NiuNiu menghitung:
3 …
2 …
1 …
Pintu jebol.
00:08.
Drone EMP dilepas.
Detonasi lokal.
Radius tiga meter.
Sistem musuh kehilangan daya.
Durasi: empat detik.
00:06.
Julia melompat dari perlindungan,
melepaskan dua tembakan cepat ke arah pintu yang terbakar.
Peluru menembus asap;
dua Vrishchik masuk setengah gosong oleh efek EMP.
00:05.
NiuNiu bergerak maju.
Dua drone peledak dilepas.
Ledakan terarah.
Fragmen struktural beterbangan.
Asap.
Logam.
Residu biologis.
00:04.
Julia menutup sektor kanan.
Dua tembakan tambahan.
NiuNiu menghabisi satu target tersisa dengan Andamante.
Tanpa suara.
00:03.
Efek EMP berakhir.
Delphie mengaktifkan mikro-drone.
Formasi terbentuk.
Perisai sementara aktif.
Satu tembakan plasma terpantul.
00:02.
Julia menatap sekilas ke arah putrinya—tak percaya.
NiuNiu pun melirik,
terkejut melihat sinkronisasi formasi drone itu begitu alami.
Anak ini bukan sekadar pintar.
Parameter di luar ekspektasi usia subjek.
00:01.
Target terakhir masuk.
Senjata aktif.
Dua operator bergerak bersamaan.
Dua lintasan.
Satu titik temu.
dua garis tembak,
dua denyut jantung.
Tembakan mereka bertemu di tengah.
00:00.
Target dieliminasi.
Tubuh jatuh.
Gema logam menutup rangkaian konflik.
Asap mengendap.
Delphie batuk ringan.
Julia menurunkan senjata.
Napas distabilkan.
NiuNiu menonaktifkan mode tempur.
Suit kembali ke status pasif.
Helm terbuka.
Kontak visual terjalin kembali.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada afirmasi verbal.
hanyai pengakuan diam bahwa mereka berdua bisa jadi tim yang baik.
“Kita belum selesai,” kata Julia akhirnya.
Teks hologram muncul:
> "yup"
“Mereka akan datang lagi.”
"Waktunya kita pergi."
Panel pergelangan aktif.
> “Dorian Grey, Phase Two. Start”
Struktur belakang apartemen bergeser.
Lorong servis terbuka.
Julia menggenggam tangan Delphie.
Tiga entitas bergerak masuk ke jalur evakuasi.
State berubah.
Akhir dari Timer 03:00
問
Jika kau adalah anak yang tak seharusnya ada,
berdiri di ruangan yang tak seharusnya ada…
siapa yang sebenarnya sedang error:
kau, atau semesta?
✧⟡✧ + 𐓷⧖𐓣 + ⟁⟔⟟
Share/Copy link:
