Bab 04 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

Departure


04:01 — DECISION

Gua gak ngerasa keputusan gua aneh.

Ada orang yang pergi dari kapal karena tenggelam.
Ada orang yang pergi dari kapal karena kapal itu… terlalu stabil.

Phoenix tidak karam.
Phoenix justru sukses.

Gua tidak kabur dari kebakaran.
Gua keluar dari ruangan yang dingin, rapi,
dan berjalan lancar.

🜃

[SYSTEM STATUS // PHOENIX]
────────────────────────────────────────
Project: PHOENIX
Outcome: SUCCESSFUL DELIVERY
Post-mortem: CLEAN
Blame: NONE
Lessons learned: DOCUMENTED
Emotional residue: NOT TRACKED
────────────────────────────────────────
Note:
Success does not equal home.
────────────────────────────────────────

🜃

04:11 — THE OFFER

Message masuk jam 22:11.

Bukan lewat email kantor.
Bukan lewat Slack.

WhatsApp.

Nama pengirimnya: [EX ROOMATE KULIAH]

Gua jarang buka chat itu.
Gua klik.

“Cuy. Lo masih di [NAMA KANTOR GUA]?
Gua lagi build startup. Web3 infra.
Butuh co-founder yang ngerti system dan gak gampang panik.
Lo free buat call?”

Gua baca dua kali.

“Co-founder.”

Kata itu berat.

Bukan karena fancy.
Tapi karena kata itu menghapus semua perlindungan.

Di corporate, kalau sistem rusak,
lo bisa bilang: “ini bukan scope gua.”

Di startup,
kalau sistem rusak—
lo adalah scope.

Gua ninggalin chat itu tanpa balas sepuluh menit.

Lalu gua scroll ke atas.

Ada chat lama sama Lo.

Terakhir kali kita beneran ngobrol
bukan soal tiket:

LO: “Phoenix udah stable.”
GUA: “Iya.”
LO: “Nice.”
GUA: “Nice.”

Empat kata.

Terlalu bersih.

Padahal yang bikin Phoenix jadi Phoenix adalah…
kotor.

Sinkronisasi yang gak bisa diukur.
Koneksi yang dulu lahir
dari folder yang gak di-track.

Gua ngetik ke [EX ROOMATE KULIAH]:

“Call kapan?”

🜃

04:12 — Tim Kecil

Call-nya hari berikutnya.

[EX ROOMATE KULIAH] ngomong cepat—
kayak orang yang hidup dari pitch.

“Gua gak butuh karyawan. Gua butuh partner.
Gua punya traction. Gua punya investor pipeline.
Yang gua kurang: orang yang bisa ship tanpa drama.”

Gua ketawa kecil.

“Tanpa drama”
itu istilah orang yang belum pernah deploy
jam dua pagi.

Gua tanya,
“Kenapa gua?”

Jawabannya simpel:

“Karena lo dulu bukan cuma engineer.
Lo ngerti sistem.
Dan lo ngerti manusia.”

Kalimat itu nancep.

Karena jujur,
gua gak yakin masih ngerti manusia.

Yang gua ngerti sekarang cuma pola.
Race condition.
Timestamp yang nyalip.
Dan cara bilang “ship it”
tanpa perlu penjelasan.

Dia lanjut, nadanya turun sedikit.

“Kita butuh lo.
Tapi gua gak mau lo burn out.
Kita jalan pelan, tapi rapi.
Lo bakal dibantu tim kecil yang jago.”

Dia kirim link, guideline,
sama CV anggotanya.

Gua buka.

Terlalu rapi.

Terasa kayak tim yang udah siap berangkat—
tinggal nunggu
gua berani naik
atau enggak.

Malam itu,
gua buka laptop.
Gua buka terminal.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama,
venture ini gak minta gua mikir keras—

cuma minta
gua hadir.

Di situ gua mulai ngerti:

Bukan soal alatnya.
Bukan soal teknologinya.

Tapi soal ritme baru.

Gua siap
atau enggak.

Dan keputusan kecil
buat tetap lanjut—
tanpa banyak drama.

🜃

04:13 — The Conversation

Ada satu orang yang perlu tahu
sebelum gua keluar.

Lo.

Bukan untuk minta izin.
Tapi supaya ini tetap departure,
bukan ghosting.

23:13.
Slack.

GUA: “Bisa call sebentar?”

Typing indicator muncul.
Hilang.
Muncul lagi.

LO: “Sekarang?”
GUA: “Kalau lo bisa.”
LO: “5 menit.”

Call masuk.

Suaranya sama.
Tenang.

Tapi konteksnya beda.

GUA:
“Gua dapet offer.
Startup.
Co-founder.”

Diam.

Lo tidak bilang “congrats.”

LO:
“Lo udah fix?”

GUA:
“Belum. Tapi arahnya ke sana.”

LO:
“Kenapa?”

Itu bukan pertanyaan basa-basi.
Itu audit.

Dan untuk pertama kalinya
gua tidak jawab pakai kalimat standar.

GUA:
“Phoenix sukses.
Tapi gua gak ngerasa hidup.”

Diam lagi.

Lo tarik napas.

LO:
“Gua ngerti.”

Cukup.

Gua lanjut, tanpa muter.

GUA:
“Void Saga belum selesai buat gua.
Gua bakal lanjut nulis.
Pertanyaannya:
lo masih mau ikutan?”

LO:
“Folder itu bukannya sudah archived?”

GUA:
“Gua simpan lokal.”

LO:
“Serius?”

Nada naik setengah nada.
Lalu turun lagi.

Gua senyum kecil.
Lo juga.

Cepat.
Seperti dua orang yang sama-sama
tidak mau kedengaran lega.

LO:
“Async.”

Satu kata.
Keputusan.

LO:
“Lo cabut.
Gua tetap di sini.
Tapi ceritanya gak kita bunuh.”

Gua terima.

GUA:
“Oke. Async.”

LO:
“Hati-hati.”

GUA:
“Kenapa?”

LO:
“Startup itu kapal
tanpa pagar.”

🜃

04:24 — The Cost

Minggu pertama di startup, gua akhirnya ngerti maksudnya.

Tidak ada pagar.
Tidak ada aba-aba.
Tidak ada [DEDICATED PM] sebagai buffer.
Tidak ada manager untuk disalahkan.

Cuma gua,
deadline,
dan kontrak yang kalau salah
jadi bencana publik.

Timnya kecil.
Terlalu kecil.
Tapi kompeten.

Kalau gua stuck, jawabannya selalu ada.
Cepat.
Efisien.
Minim percakapan.

Tidak ada debat.
Tidak ada “jelasin logika lo.”
Tidak ada “bentar, ini aneh.”

Itu efektif.
Dan dingin.

Suatu malam.
Bug kecil.
Re-entrancy edge case.

Masalah ditemukan.
Solusi disepakati.
Patch jalan.

Apply.
Test lulus.
Deploy.

Selesai.

Gua tunggu rasa lega.
Tidak datang.

Karena semuanya terlalu mulus.

Di situ gua sadar apa yang hilang.

Dulu:
bug ketemu → diskusi → pola kebaca → gua berubah.

Sekarang:
bug ketemu → fix → lanjut → gua tetap sama.

Gain: kecepatan.
Loss: pembentukan.

Tidak ada yang nanya:
“Kenapa lo mikir begitu?”

Tidak ada yang bilang:
“Cara lo mikir menarik.”

Yang ada cuma:
“Kita jalanin.”

Dan kerja yang cuma berjalan,
pelan-pelan berhenti
mengajarkan apa pun.

🜃

04:35 — Archive Revisited

Di sisi lain kota,
Lo masih di corporate.

Kita gak banyak kontak.
Tapi gua tau lo berubah dari cara lo ngetik.

Lebih formal.
Lebih terstruktur.
Lebih… Principal.

Suatu malam,
Lo kirim satu file.

Bukan code.
Outline.

Nama filenya:

timer_04_00_outline.md

Gua berhenti sebentar sebelum buka.

LO:
“Gua coba mulai nulis lagi.
Buat ngecek apa cerita masih ada denyutnya.
Buat… nahan pola.”

Outline-nya pendek.

Tapi fungsional.

Seperti marker kecil di peta—
bukan untuk bergerak,
tapi supaya arah tidak hilang.

GUA: “Masih ada denyut?”
LO: “Lo yang bilang bakal nerusin.
Gua cuma… keep the door unlocked.

Tidak ada janji.
Tidak ada ajakan.

Tapi jelas:
arsip masih hidup.

🜃

04:46 — Pattern Recognition

Jam 01:46.
Atau jam 05:46—gua lupa.
Waktu di startup tuh cair.

Gua masih sangat sibuk.
Gua buka notes.

Bukan dokumentasi.
Bukan spec.
Catatan internal.

Isinya ringkas:

On Collaboration, After The Split.

Isinya singkat:

[LO]: cermin — memaksa gua mikir
[DEDICATED PM]: struktur — menjaga stabilitas
Tim kecil startup: mesin — meningkatkan kecepatan

Kesimpulan sementara:

Ini bukan soal siapa lebih baik.
Ini soal fungsi.

Lo adalah node.

Satu node hilang,
jaringan tetap jalan.

Tapi topologinya berubah.

Gua kirim pesan ke Lo.

GUA: “Tim kecil efektif. Tapi rasanya kayak makan sendiri di jam ramai.”
LO: “Makan sendiri di jam ramai tetap sepi.”
GUA: “Iya.”
LO: “Tapi lo tetap makan. Itu bertahan.”

Tidak ada validasi.
Tidak ada perbaikan.

Hanya pengakuan kondisi.

Itu cukup.

🜃

04:47 — Midnight Deployment

Deploy kontrak pertama
yang benar-benar live:
jam 02:00.

Mainnet.
No rollback.
No “oops sorry”.

Test coverage 98%.
Gas optimization done.
Audit checklist complete.

Gua tekan deploy.

Tx masuk.
Block confirm.
Status: SUCCESS.

Tidak ada selebrasi.
Tidak ada “ship it”.

Gua kirim pesan ke tim.

GUA: “Deploy sukses.”
TIM: “Let’s get back to sleep.”

Benar.
Dan final.

Gua tutup laptop.
Duduk di lantai apartemen.

Di situ jelas perbedaannya:

Tim menyelesaikan pekerjaan.
Tim tidak ikut merayakan.

Karena perayaan bukan bagian dari sistem.
Perayaan adalah pengakuan.

Jam 02:20.
Slack.

GUA: “Deploy live. Kontraknya jalan.”

Balasan tidak langsung.

Lalu masuk.

LO: “I’m proud of you.”

Empat kata.
Bukan laporan.
Bukan evaluasi.

Pengakuan.

GUA: “Thanks.”
LO: “Celebrate.”
GUA: “How?”
LO: “At least sadar. Lo beneran ada.”

Gua tarik napas.

Dan di situ gua catat:

Itu fungsi
yang tidak bisa dilakukan
oleh tim kecil.

🜃

04:56 — Equilibrium

Beberapa minggu kemudian, pola baru terbentuk.

Lo tetap di corporate.
Gua di startup.

Tim kecil gua stabil.

Relasi kita berubah bentuk.

Bukan putus.
Bukan lanjut seperti dulu.

Strukturnya jadi triadik.

Komunikasi berjalan intens, tapi async.
Masalah arah: ke Lo.
Masalah eksekusi: ke gua.
Masalah kapasitas: ke tim.

Kerja sampingan saling lempar.
Tanpa kontrak.
Tanpa ekspektasi emosional.

Modelnya jelas:

  • Lo: strategi, taste, arah
  • Gua: keputusan, risiko, eksekusi
  • Tim kecil: kecepatan, konsistensi, stamina

Pertanyaan implementasi dijawab cepat.
Pertanyaan arah dijawab lambat, tapi dalam.

Tidak efisien secara waktu.
Tapi akurat secara makna.

Di situ gua ngerti:

Hybrid bukan kompromi.
Hybrid adalah evolusi.

🜃

04:58 — Three Folders

Suatu malam, gua buka laptop dan sadar
struktur folder gua berubah.

Ada tiga direktori utama.

_sandbox/stealth/
void_saga/final/
Past.

Selesai.
Archived.
_personal/web3/
Present.

Gua + tim kecil.
Produktif.
Cepat.
Dingin.
_shared/void_protocol/
Future.

  void_saga/
    A. Archived _sandbox/stealth/
    B. Archived void_saga/final/
    C. Future: timer_04_00_outline.md
  
  void_job/
    A. Klien side gig lo
    B. Klien side gig Gua

Gua + Lo.
Async.
Belum lengkap. Tapi aktif.

Belum lengkap.
Tapi aktif.

Gua screenshot struktur itu dan kirim ke Lo.

GUA: “Hidup gua jadi tree directory.”
LO: “Hidup memang tree. Bedanya, manusia bisa rename folder.”
GUA: “Lo mau rename yang mana?”
LO: “Belum.”
LO: “Tapi gua seneng ada folder _shared/void_protocol/”

Tidak ada keputusan.
Tidak ada janji.

Strukturnya cukup.

🜃

04:59 — The Handoff Returns

Beberapa bulan kemudian,
Lo kirim pesan.

LO: Gua mulai nulis Timer 04:00.
GUA: Serius?
LO: Iya. Async.
LO: Gua taro di _shared/void_protocol/
GUA: Noted.

Handoff terjadi tanpa upacara.

Yang dulu terasa seperti perpisahan,
sekarang jadi metode.

Bukan goodbye.
Tapi format baru.

🜃

Yang gua inget dari periode itu sederhana.

Gua dan lo beresin Timer 04:00 dengan santai.
Tanpa target.
Tanpa urgensi.

Tentang Kapten Pippa.
Tentang AI.
Tentang Kapten Delphie.

Tidak ada keputusan besar.
Cuma kerja yang berjalan.

Cerita mulai bergerak ke arah yang
bahkan tidak sepenuhnya kita rencanakan.

Dalam 2.5 tahun,
tanpa sadar, kita sudah menulis enam timer.

Struktur foldernya juga berubah.

_shared/void_protocol/
├── void_saga/
│ ├── timer_00_00_final.md
│ ├── timer_01_00_final.md
│ ├── timer_02_00_draft.md
│ ├── timer_02_50_draft.md
│ ├── timer_03_00_draft.md
│ └── timer_04_00_draft.md
│
│ ├── void_job/
│ ├── client_001_lo.py
│ ├── client_001_gua.py
│ ├── client_002_lo.py
│ ├── client_002_gua.py
│ ├── client_003_lo.py
│ ├── client_003_gua.py
│ └── client_004_gua.py

Bukan arsip.
Belum sistem.

Tapi aktif.

Tanpa sadar,
kami tidak lagi menulis cerita.

Kami sedang menjalankan
format hidup yang sama
dengan yang kami tulis.

[AUTO-SAVE // END OF ENTRY]
────────────────────────────────────────
Folder created: _shared/void_protocol/
Visibility: EMERGING
Purpose: UNDEFINED (but real)
Status: CONTINUE
────────────────────────────────────────

🜃


Jika kapal pertama butuh dua orang untuk berlayar—
dan kapal kedua cukup satu dengan peta dari kapal pertama
kapal mana yang lebih jauh melaju?


Share/Copy link: