Bab 05 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

Dinner


05:11 — The Invitation

Satu tahun setelah Phoenix.
Gua lagi scroll email, nyiapin meeting investor minggu depan,
ketika Slack bunyi.

LO: “Lo ada waktu kosong kapan?”

Unexpected.

Kita masih kerja bareng di Void Protocol—
PR bulanan, check-in async—
tapi nggak pernah nanya hal beginian.

GUA: “Minggu depan. Gua ada investor meeting di tengah. Kenapa?”

Beberapa detik.

LO:“Makan bareng?”

Gua baca ulang.

GUA: “Like… dinner?”
LO: “Iya. Duduk. Makan. Face to face.”

Baru kerasa anehnya di situ.
Kita pernah kerja dan nulis bareng hampir empat tahun,
tapi belum pernah makan bareng.

GUA: “Kita belum pernah ya.”
LO: “Makanya. Overdue.”

Pause.

GUA: “Kapan?”
LO: “Kamis. Jam tujuh. Menteng.”
GUA: “Netral.”
LO: “Persis.”

Lokasi dikirim.
Chat selesai.
Gua tutup laptop.

Ngerasa kayak baru nyetujui sesuatu
tanpa tahu apa.

🜃

05:33 — Arrival

Restoran biasa.
Bukan fancy.
Bukan warung.

Gua datang duluan.
Duduk.
Lihat pintu.

Jam tujuh lewat satu.
Jam tujuh lewat dua.

Pas gua mulai mikir kebanyakan,

Lo masuk.
Kontak mata.

Angkat tangan kecil.
Datang ke meja.

“Hey.”
“Hey.”

Jeda.

Kita berdiri sebentar.
Mikir mau pelukan atau nggak.
Akhirnya duduk aja.

Menu datang terlalu cepat.
Kita pegang menu
kayak pelampung.

Pesan juga cepat.
Kayak kalau kelamaan,
harus basa-basi.

GUA: “Traffic okay?”
LO: “Yeah, not bad. Lo?”
GUA: “Same.”

Silence.

🜃

05:44 — The Meal

Makanan datang.

Kita makan
dalam diam.

30 detik.
60 detik.

Lo taruh garpu.

LO:
“Ini aneh, ya?”

Gua angkat kepala.

GUA:
“Banget.”

Ketawa kecil.
Barengan.

Momen tulus pertama.

LO:
“Kita kolaborasi bertahun-tahun.
Stealth project.
Phoenix.
Void Protocol.

Tapi nggak pernah… kayak gini.”

GUA:
“Iya.”

LO:
“Kenapa menurut lo?”

Gua jeda.
Nguyah.
Telan.

“Karena semuanya selalu soal kerja.
Ini pertama kalinya
bukan soal deliverable.”

Lo ngangguk.

“Jadi ini tentang apa?”

Gua taruh garpu.

GUA:
“Jujur?
Gua nggak tahu.
Lo yang bilang ‘overdue.’”

Lo tarik napas.

LO:
“Kita punya koneksi.
Nyata.
Tapi selalu dimediasi.

Dulu:
code.
Phoenix: struktur.
Sekarang: Void Protocol, async.

Gua pengen tahu—
apa koneksi itu masih ada
kalau mediatornya dilepas?”

Hening.

GUA: “Maksud lo?”

LO: “Maksud gua… Kita ini apa?”

Gua diam.

GUA: “Lo minta gua
definisikan kita?”

LO: “Mungkin.
Atau cuma… eksplor.
Tanpa proyek sebagai alasan.”

Hening.

GUA: “Itu berani.”

LO: “Atau bodoh.”

Senyum kecil.
Dibalas.

Momen tulus kedua.

🜃

🜃

05:13 — The Vulnerability

Percakapan bergeser.

Lebih terbuka.
Lebih sedikit pagar.

LO:
“Gimana hidup startup?”

Gua nyandar.

GUA:
“Intens. Kacau.
Ada hari-hari yang bikin hidup kerasa penuh.
Tapi ada juga hari-hari yang…”

Gua cari kata.

GUA:
“…berat.”

LO: “Kenapa?”

GUA:
“Tanggung jawab Gua co-founder.
Ada orang-orang yang bergantung ke gua.
Investor.
Tim.
User.

Gua nggak bisa lagi
cuma ngoding
lalu menghilang
kayak dulu.”

Jeda.

GUA: “Dan juga…”

Gua ragu.

GUA: “Kadang sepi.”

Lo ngangkat kepala.

LO: “Sepi?”

GUA:
“Yup.

AI ngebantu eksekusi.
Tim oke buat kolaborasi.

Tapi…

nggak ada yang benar-benar ‘nangkep’
keajaiban itu.

Hal yang dulu kita punya
di stealth project.

Ritme.
Pemahaman tanpa perlu dijelasin.

Void Protocol masih punya,
tapi async.
Intensitasnya beda.”

LO:
“Lo kangen daily sync.”

GUA:
“…iya.

Gua kangen
punya seseorang
di sisi lain
yang ngerti
tanpa gua harus nerangin.”

Lo ngangguk pelan ngerti.

LO:
“Gua ngerasa hal yang mirip.

Phoenix selesai dengan sukses.
Gua dipromosi jadi Principal Engineer.

Sekarang megang banyak tim.
Perusahaan senang.
Review performa bagus.”

Jeda.

LO:
“Tapi…

kolaborasinya terasa transaksional.

Efektif.
Terdokumentasi.
Berhasil.

Tapi nggak… hidup.”

GUA:
“Engineering tanpa magic.”

LO:
“Persis.”

Hening.

GUA:
“Lo kangen itu?”

LO:
“Jujur?”

Lo angguk.

LO:
“Iya.

Gua kangen sinkron yang beneran.

Bukan dimediasi PM.
Bukan dibantu AI.

Cuma…

dua orang
ngebangun sesuatu
yang nggak bisa dibangun sendirian.

Emergence.

Momen ketika kode
kayak nulis dirinya sendiri
karena kita berdua
udah tahu apa langkah berikutnya.”

GUA:
“Itu kenapa lo ngajak gua makan malam.”

LO:
“Iya.

Buat ngecek
apa kita masih punya itu.”

GUA:
“Sinkronnya?”

LO:
“…kita-nya.
Apapun arti ‘kita’ itu.”

🜃

04:24 — The Cost

Dessert datang.

Es campur.
Satu mangkuk.
Untuk berdua.

Jarak fisik sedikit menyempit.

Sambil nyuap:

GUA:
“Ngomong serius.

Kalau kita coba…
ngelakuin apapun ini.

Ngebangun sesuatu bareng.

Apa yang beda sekarang
dibanding stealth project dulu?”

Lo berhenti.

Sendok menggantung
di udara.

LO:
“Kita beda.

Dulu: gua engineer,
report ke manager.
Lo juga.

Sekarang: gua Principal,
megang banyak tim.
Lo founder,
ngelola perusahaan.

Kita punya tanggung jawab.
Tim.
Investor.
Stakeholder.

Kita nggak bisa lagi
ngilang ke folder sandbox
tengah malam
sampai jam enam pagi.”

GUA:
“Jadi ini nggak mungkin?”

LO:
“Bukan nggak mungkin.

Cuma… terbatas.

Kita harus bangun
di dalam batas.

Resmi.
Terdokumentasi.
Terjadwal.

Kayak Phoenix,
tapi tanpa [DEDICATED PM].”

GUA:
“Lo sama gua tetap direct sync.
Tapi dengan tanggung jawab orang dewasa.”

LO:
“Iya.”

Jeda.

GUA:
“Kedengarannya…
membosankan.”

Lo ketawa.
Ketawa beneran.

Pertama malam ini.

LO:
“Mungkin.

Atau mungkin…

kita belajar hal baru.

Gimana caranya
jaga magic
di dalam struktur
yang berkelanjutan.

Bukan stealth
yang nggak sustainable.
Bukan Phoenix
yang terlalu di-engineer.

Sesuatu di tengah.”

GUA:
“Model hybrid.”

LO:
“Persis.”

GUA:
“Tapi kita mau bangun apa?”

Lo angkat bahu dengan santai.

LO:
“Nggak tahu.

Mungkin belum sekarang.

Mungkin cuma…

jaga koneksi.

Biar sync tetap hidup.

Percaya aja,
suatu hari
kita bakal butuh lagi.”

GUA:
“Maintenance tanpa proyek?”

LO:
“Iya.”

GUA:
“Itu… wilayah baru. Buat kita berdua.”

🜃

04:35 — The Exit

Tagihan datang.

Momen canggung.

Kita berdua
sama-sama
meraih dompet.

GUA:
“Biar—”
LO:
“Biar—”

Jeda.

LO:
“Gua yang invite.”

Lo bayar.

GUA:
“Thanks.”

LO:
“No problem.”

Di luar.

Malam Jakarta.

Suara lalu lintas.
Udara lembap.

Kita berdiri
di sudut trotoar.

Nunggu… apa?

LO:
“Thanks udah datang.”

GUA:
“Thanks udah ngajak.”

Jeda.

GUA:
“Jadi… sekarang gimana?”

Lo menatap gua.
Kontak mata langsung.

LO:
“Jawaban jujur?
Gua nggak tahu.

Ini pertama kalinya
kita interaksi
tanpa proyek
sebagai alasan.

Dan rasanya…

enak.
Canggung.
Nyata.

Tapi gua nggak tahu
harus ngapain
dengan perasaan ini.”

Gua ngangguk.

GUA:
“Sama.

Selama ini
kita selalu punya tujuan jelas.

Ship feature.
Fix bug.
Deploy contract.

Sekarang…

apa deliverable-nya?”

Lo senyum kecil.

Sedih?
Harap?
Dua-duanya.

LO:
“Deliverable-nya bisa ketemu lagi IRL?”

GUA: “Itu…
aneh.”

LO: “Iya.”

GUA: “Tapi mungkin…
layak dicoba?”

LO: “Mungkin.”

Jeda.

Ojek online gua datang.

LO:
“Good luck buat meeting investor.”

GUA:
“Thanks.

Good luck juga
dengan urusan Principal.”

Lambaian kecil.

Gua naik motor.

Gambar terakhir:

Lo berdiri di trotoar.
Tangan terangkat.
Lambaian kecil dibalas.

Lalu hilang.

🜃


Jika dua orang akhirnya duduk berhadapan
tanpa agenda, tanpa deliverable, tanpa mediator—apa yang tersisa untuk dibicarakan?


Share/Copy link: