Bab 06 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

The Confession


06:01 — Aftermath

One week later.

LO: [2:47 PM]
LO: Dinner was good.
GUA: [2:51 PM]
GUA: Yeah.

Long pause.

LO: [6:23 PM]
LO: We should do it again.
GUA: [6:25 PM]
GUA: Okay.
LO: Not about Void Protocol.
LO: Not about work.
LO: Just... because.

Pause.

GUA: "Just because" is hard untuk schedule.
LO: I know.
LO: But maybe worth trying?
GUA: ...
GUA: Same time next month?
LO: Deal.

New pattern established.

One month later:
Second dinner.
Less awkward.
Still undefined.

Two months later:
Third dinner.
Conversation flows easier.

Laugh more.

Three months later:
Gua write reflection document.
Not for work.
Personal.

🜃

06:02 — Reflection

Dinamika Relasi Personal / Profesional
Sebuah Eksperimen Tiga Bulan

Konteks

Gua dan [LO]
berkolaborasi intens bertahun-tahun.

Sinkron profesional kuat.
Tapi nol fondasi personal.

Pertanyaannya sederhana,
tapi nggak ringan:

Bisakah relasi profesional
bertransformasi
jadi pertemanan personal?
Desain Eksperimen

Makan malam sebulan sekali
Tanpa agenda kerja
Tanpa deliverable

Tujuan:
membangun lapisan personal
di samping relasi profesional.
Yang Sudah Kami Tahu (Profesional)
Gaya ngoding masing-masing
Pola debugging

Preferensi komunikasi (konteks kerja)
Kekuatan & kelemahan teknis
Yang Tidak Kami Tahu (Personal)

Makanan favorit
Hobi di luar kerjaan
Apa yang bikin ketawa (non-kerja)

Cara “sekadar ada” bersama
Metodologi

Bulan 1: Canggung.
60% diam. 40% ngomong kerja.

Bulan 2: Lebih cair.
40% diam. 50% personal. 10% kerja.

Bulan 3: Lumayan nyaman.
20% diam. 70% personal. 10% kerja.
Observasi

1. Jenis Diam Berubah

Bulan 1: Diam yang bikin gelisah
Bulan 3: Diam yang terasa aman

2. Kedalaman Obrolan Naik

Awal: permukaan (cuaca, macet)
Sekarang: kerentanan nyata
(kesepian, ragu karier)

3. Void Protocol Membaik

Hipotesis terbukti:
pemahaman personal
meningkatkan kolaborasi profesional
Klien makin banyak

Keputusan lebih baik
karena melihat satu sama lain
sebagai manusia,
bukan sekadar engineer

4. Status Tak Terdefinisi = Fitur

Bukan “sekadar rekan kerja”
Bukan juga “teman” versi umum

Sesuatu yang lain
Dan itu tidak apa-apa
Insight Kunci

Personal dan profesional
tidak bisa benar-benar dipisahkan.

Selalu saling menembus.

Berpura-pura sebaliknya
adalah bentuk penipuan diri.

Pertanyaannya bukan:
“Haruskah dipisah?”

Tapi:
“Bagaimana kita mengintegrasikannya
secara sadar?”
Pertanyaan Berjalan

1. Apakah ini berkelanjutan jangka panjang?

2.Apa yang terjadi jika salah satu punya relasi baru?

3. Bagaimana jika harus kolaborasi intens lagi?

4. Apakah kita sedang membangun sesuatu, atau hanya merawat?
Kesimpulan Sementara

1. Eksperimen berlanjut.

2. Tanpa titik akhir jelas.

3. Tanpa metrik sukses.

Hanya…
latihan terus-menerus
untuk nyaman
di ruang yang tidak terdefinisi.

Mungkin itu
keahlian sebenarnya.

Dokumen itu gua tunjukin ke lo.

Lo membaca dokumen.

LO:
“…”
LO:
“Iya.”
LO:
“Ini growth.”

GUA:
“Menurut lo ini berhasil?”
LO:
“Definisikan ‘berhasil’.”
GUA:
“…fair.”

Jeda.

GUA:
“Jadi kita sekarang apa?
Teman?
Atau rekan kerja
yang makan bareng sebulan sekali?”

Hening.

Tiga menit.

LO:
“Jujur?”

GUA:
“Iya.”

LO:
“Kayaknya kita lagi nyari
sesuatu yang belum punya nama.”

LO:
“Bukan rekan kerja.”
LO:
“Bukan juga teman
dalam pengertian biasa.”
LO:
“Sesuatu yang lain.”

LO:
“Dan gua oke dengan itu.”

Jeda.

LO:
“Lo gimana?”

Gua menatap kasir.

Pertanyaan itu bergema
kayak Timer 05:00:

NiuNiu dan Hasan.
Sejarah rumit.
Kepercayaan tanpa label.

Intimacy tanpa definisi.

Pola yang sama.
Konteks berbeda.

GUA:
“…iya.”
GUA:
“Kayaknya gua gak ada masalah.”

LO: “Good.”

Jeda.

LO:
“Ketemu lagi bulan depan?”
GUA:
“Iya.”
GUA:
“Disini?”
LO:
“Atau coba tempat baru?”
LO:
“Biar… ngembangin apa pun ini.”

GUA:
“Tempat baru.”
GUA:
“Giliran gua yang milih.”

LO: “Deal.”

🜃

06:13 — The Theft

Dinner keenam.
Tujuh bulan berjalan.

Polanya sudah enak.
Tempat sama.
Waktu sama.
Wine selalu datang di tengah.

Lo ngomong ringan, hampir sambil lalu.

“Dinners ini… jadi highlight tiap bulan buat gua.
Bukan work wins.
Bukan promotion.
Cuma… duduk di sini sama lo.”

Kalimatnya pendek.
Nggak ditekan.
Justru itu yang bikin kena.

Gua berhenti ngunyah.

Ada jeda kecil
—cukup buat gua sadar:
itu bukan basa-basi.

Tanpa mikir, gua jawab.

“Same.
Gua literally nolak dinner investor buat ini.
Reschedule tim.
Ini prioritas.”

Kalimat itu keluar begitu saja.
Nggak direncanain.
Nggak difilter.

Lo dan gua sama-sama diam.

Ada sesuatu yang baru saja diucapkan
dan nggak bisa ditarik lagi.

Kita jalan keluar bareng.
Goodbye canggung.
Pelukan setengah niat.
Setengah takut.

Di jalan pulang,
kepala gua ribut sendiri.

Gua barusan ngapain?
Itu terlalu jauh nggak?
Apa dia dengernya gimana?

🜃

06:14 — The Silence (The Betrayal)

Pagi.

Bangun dengan dada berat.

Gua kebablasan.
Gua nyebut sesuatu yang belum disepakati.
Gua ngerusak ini.

Cek HP.

Tidak ada pesan.

Normal.
Lo biasanya juga nggak langsung chat.

Hari ketiga.
Masih kosong.

Hari kelima, gua nyerah.

GUA: “Lo okay?”

Read.

Tiga jam kemudian:

LO: “Yeah. Just busy.”

Just busy.

Kata itu biasanya aman.
Tapi kali ini…
kedengeran seperti bohong.

Dan kita punya satu aturan tak tertulis:
nggak bohong.

🜃

06:25 — The Crisis

Minggu kedua.

Emergency.

Bug besar.
Smart contract bocor.
Dana terancam.

Gua butuh Lo.
Nggak bisa dihindari.

Video call.

Wajah Lo muncul di layar.
Pertama kali lihat langsung
setelah dua minggu sunyi.

Kita kerja cepat.
Dingin.
Profesional.

Solusi ketemu.
Deploy dijadwalin.

Sebelum nutup call, gua nggak tahan.

GUA: “[LO]…
abis ini kita bisa ngobrol?”

Lo jeda.

LO: “About the bug?”

GUA: “About… kita.”

Sunyi panjang.

Terus Lo ngomong, datar.

LO: “Tidak ada ‘kita’.
Kita kolega yang kadang makan bareng.
Itu aja.”

Kayak senjata ditodongkan.
Penolakan sebagai perisai.

GUA: “Itu bukan yang lo bilang minggu lalu,” kata gua pelan.

LO: “Gua mabuk.
Gua ngomong kebanyakan.”

GUA: “Fuck.”

LO: “Udah.
Kita keep this professional aja.”

Klik.

Call mati.

🜃

06:26 — The Confrontation (Protocol Hantu)

Gua nggak bisa nerima.

Pesan langsung gua kirim.

GUA: “No. Kita nggak pura-pura itu nggak kejadian.
Coffee.
Besok.
Netral.

Kita ngomong,
atau gua stop semuanya.
Dinner.
Void Protocol.
Semua.”

Ultimatum.
Keras.
Jelas.

Read: ✓✓

Sepuluh menit.

LO:
“Fine.
Besok. Jam 3.
Kopi dekat Senayan.”

🜃

06:37 — The Void

Kedai kopi.

Netral.
Terang.
Ramai secukupnya.

Lo dan gua datang tepat waktu.
Nggak mau nunggu.

Duduk.
Pesan.
Diam.

Langsung mulai.

GUA:
“Kenapa lo kabur?”

Lihat cangkir.

LO:
“Karena gua takut.”

GUA:
“Takut apa?”

Lo angkat mata, sebentar.

LO:
“Sama ini,”

katanya,
nunjuk ruang di antara kita.

LO:
“Sama ini jadi terlalu penting.
Takut ngerusaknya.

Takut kehilangan sesuatu
yang baru gua sadari ada
pas lo nyebut.”

Jeda.

LO:
“Pas lo bilang dinners itu penting…
dan gua sadar buat gua juga…
gua panik.

Takut kalau kita coba bikin ini ‘sesuatu’,
kita malah hancurin.”

GUA:
“Jadi lo hancurin duluan.”

Mengangguk kecil.

LO:
“Yup.”

GUA:
“Dengan bilang nggak ada ‘kita’.
Dengan manggil gua kolega.”

LO: “Yup.”

GUA: “That hurts.”

LO: “I know. Sengaja.”

Sunyi lagi.

LO “Apa yang lo mau dari ini, [GUA]?”
“Apa yang lo mau dari gua?”

Tarik napas.

GUA:
“Cuma jujur.
Bahkan kalau takut.
Terutama kalau takut.

Kalau lo butuh space, bilang.
Jangan ngilang.

Dan kalau gua ngomong hal rapuh,
jangan dipakai buat jadi senjata.”

Jeda.

GUA:
“Gua mau coba.
Cari tahu ‘kita’ itu apa.

Tanpa kabur.
Tanpa pura-pura ini nggak penting.”

LO:
“Kalau gagal?”

GUA:
“Gagal jujur.
Bukan dengan menyangkal
kalau ini pernah ada.”

Sunyi.

LO:
“Itu… fair.”

GUA:
“Lo bisa?”

Lama diam.

LO:
“Gua nggak jago stay.
Gua jago lari.”

GUA:
“Gua ahli transit.
Jadi gua kebayang.”

LO:
“Tapi gua mau coba.
Stay walau takut.”

GUA:
“Ini bukan janji kan?”

LO:
“Bukan.
Ini usaha.”

GUA:
“Cukup.”

🜃

06:48 — New Protocol

Kita nulis di tisu.

RELATIONSHIP PROTOCOL v2.0

Honesty > Comfort
Bilang yang sulit. Jangan bohong pakai ‘sibuk’.

Space dengan Kata
Butuh jarak boleh. Menghilang tanpa suara tidak.

Repair Cepat
Salah → akui → perbaiki.

Eksplisit
Tanya. Jangan asumsi.

Trial 3 Bulan
Evaluasi bulanan.
Stop boleh.
Menghilang tidak.

Lo lihat tisu itu lama.

“Ini…
sangat engineer.”

Gua senyum kecil.

GUA: “Protokol sebagai humanity problem solver.”

LO: Kalau dilanggar?”

GUA: “Kita debug.”
LO: “Bareng.”

Lo lipat tisu.
Masuk dompet.

LO: “Okay.
Kita coba.”

Nggak ada jaminan.
Tapi kita maju.

Bersama.


Jika kepercayaan dikhianati oleh ketakutan—
dan pilihan hanya dua:
mundur ke zona aman (tapi sendirian)
atau maju ke zona bahaya (tapi bersama)—

mana yang lebih menakutkan?


Share/Copy link: