Bab 10 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

The Narita Theorem


10:11 — NARITA

Narita Airport.
Dua puluh lima bulan
sejak terakhir mereka ketemu di SF.

Barang Lo sedikit.
Koper kecil.
Laptop.

WhatsApp.

LO: Ini masih nomor lo, [GUA]?
LO: Gua di Narita. Transit delapan jam.
LO: Lo free?

Balasan datang setengah jam kemudian.

GUA: Di Narita.
GUA: Terminal?

LO: T2. Starbucks.

Empat puluh menit.

Gua datang.

Bukan versi lama.

Rambut lebih panjang.
Langkah lebih pelan.
Ada jeda sebelum duduk.

GUA: “Hai, [LO].”

Pelukan singkat.
Biasa saja.
Tapi cukup buat ngerasain:
ini bukan pertemuan dua orang asing.

LO: “Lo kelihatan berubah.”
GUA: “Iya.”

Tidak ada basa-basi.

LO:
“Gua cerai.
Sebulan lalu.
Sekarang mau balik ke SF.
Mulai ulang.”

Gua angguk.

GUA: “Kalian nyoba?”
LO: “Banget.”

Sunyi sebentar.

LO:
“Akhirnya gua sadar…
gua bangun hidup yang nggak masuk akal,
Itu bukan hidup yang gua mau.”

GUA: “Kadang emang gitu.”

Lo ngaduk kopi yang udah dingin.

LO:
“Dua tahun lo ke mana?
Hilang total.”

GUA:
“Berantakan.
Coba terus.
Pelan-pelan.”

Lo nggak ngejar detail.

LO:
“Gua kepikiran Void Saga.”

Gua senyum kecil.

GUA: “Udah lama banget.”

LO: “Sayang folder filenya ilang.”

GUA:
“Nggak.
Gua arsipin.”

LO: “Di mana?”

GUA:
“Bitcoin network.
Ordinal.”

Lo berhenti ngaduk.

LO: “Kenapa lo inscribe?”

Gua mikir sebentar.

GUA:
“Takut ilang.
Dan gua tau…
kalau disimpen di laptop,
suatu hari gua bakal hapus sendiri.”

Lo buka laptop.

LO: “Tunjukin.”

Gua install wallet.
Buka.

Layar berputar ke arah Lo.

Dia baca.
Pelan.

Matanya basah, tapi dia nggak langsung nangis.

LO:
“Gua kira ini cuma mimpi.
Ternyata ini pernah ada.”

Gua mengangkat bahu.

GUA:
“Sekarang cuma arsip.”

LO:
“Tapi masih hidup.”

Sunyi lagi.

Orang-orang lalu-lalang.
Boarding call terdengar jauh.

LO:
“Kita berhenti nulis bukan karena kehabisan ide.
Tapi karena takut nerusin.”

Gua nggak menyangkal.

LO:
“Lo gak kepikir nerusin?”

Gua tarik napas.

GUA: “Lo tau kalau kita mulai lagi,
ini nggak akan beres.”

LO: “Gua nggak cari beres.”

Dia nutup laptop.

LO:
“Kita punya lima jam.
Bukan buat yang lama.
Cuma buat mulai yang baru.”

Gua lihat jam.
Lihat Lo.

Lama.

GUA: “Kita nulis apa?”

LO:
“Apa pun
yang jujur hari ini.”

Jeda.

Gua buka notes.

Cursor berkedip.

Tiga tahun nggak nulis.

Lalu satu kalimat muncul.

NODE.

Bukan besar.
Bukan penting.

Tapi nyata.

Dan itu cukup.

11:22 — WRITING

Sudut lounge.
Satu laptop.
Dua orang.
Satu dokumen.

Gua mulai dulu:

TIMER 10:00


Jika tidak ada pusat
yang mencatat,
apa yang membuat Tindakan
masih punya jejak?

Lo baca pelan.

LO: “Jujur banget.”
GUA: “Selalu.”

Giliran Lo.

Jika Node I adalah keputusan untuk berhenti memerintah,
Node II adalah keberanian untuk berhenti berpura-pura bersih.

Delphie menatap NiuNiu.
Tidak ada senyum.
Namun ada sesuatu yang akhirnya tidak bergerak lagi di antara mereka:
bayangan yang berhenti dikejar,
dan kejujuran yang tidak menuntut dimaafkan.

Julia merasakannya lewat The Merge.

“Anakku,” bisiknya, nyaris tidak pantas didengar,
“akhirnya belajar berdusta… tanpa membohongi dirinya sendiri.”

Pelan-pelan,
tulisan berubah jadi cermin.

LO: “Itu kenapa gua nulis Void Saga. Buat gak bohong ama diri sendiri”
GUA: “Cermin?”

Diam.

Suara bandara tetap jalan.
Di meja ini, waktu melambat.

GUA: “Kita ngebahasain apa yang kita rasa.”
LO: “Biar kita bisa ngaca.”

Fragment berikutnya muncul.

Bukan direncanakan.
Nggak dibahas.
Nggak disepakati.

> [UPDATE: FLAG RAISED—BLACK]
> [CLAN INSIGNIA REMOVED: 12/12]
> [CENTRAL AUTHORITY: NULLIFIED]
> [NON-SYSTEM ENTITY DETECTED: OPHIUCHUS ARISE]

“Bendera hitam,” bisik Kira.
“Tanda penarikan legitimasi.”

GUA: “Ini siapa?”
LO: “Semua node.”
GUA: “Atau…”
LO: “Ophiuchus.”

Kursor berhenti.

Freeze.

GUA: “Lo ngerasa dunia yang kita bikin gamang gak sih?”
LO: “Dunia tanpa pusat. Dunia tanpa pijakan?”

Lo senyum getir.

LO: “Fuck.”
GUA: “Itu dia.”

Mereka nggak nambah kalimat.

Belum.

Tapi mereka tahu:
Void Saga baru saja menemukan
alasan untuk bernapas lagi.

11:44 — TRANSKRIP

Masih bikin cerita.
Nama-nama bicara.
Tanpa pusat.

Zero.0
bukan musuh.
Bukan inti.

Ia ambang.

GUA: “Zero.0 itu apa buat kita?”
LO: “0 adalah folder error itu.”

Stealth.
Placeholder.
The Merge.
Ini.

Masa depan yang nggak jadi,
tapi tetap
menggeser segalanya.

Pengumuman boarding terdengar.

“Lima belas menit.”

LO: “Kita lanjut.”
GUA: “Satu baris lagi.”
Kita berdua menulis dengan presisi pair programming.

Baris terakhir ditulis cepat.

> Ketika pencatatan tidak lagi terpusat,
> Ophiuchus tidak bisa dicegah untuk ada.

Kursor berhenti.

Selesai.

Hening panjang.

LO: “Kita selesai.”
GUA: “Kita ngerampungin.”

LO: “Bukan cuma cerita.”
GUA: “Tapi kita.”

11:33 — DELETION

Lo berdiri.

LO “Waktunya dihapus?”
GUA: “Kenapa?”

Lo drag and drop file ke thrash.
Klik kanan empty trash.
Liat gua.

Lo: “Kita gak butuh Proof of Work.
Kita masih synch.
The Merge masih ada.
Bukan disini Timer 10:00 ditulis.”

Gua: “Ini titik 0?”

Lo mengedip.
Gua nod.

Pelukan.
Bukan sedih.
Bukan romantis.

Pengakuan.

Pesawat lepas landas.

Gua keluar bandara.

Tokyo malam.

Creator kehilangan kendali.
Dan justru karena itu—
bebas.

FINAL KŌAN

Jika dua pencipta menulis tentang kehilangan kendali—
lalu kehilangan kendali atas tulisannya sendiri—
mereka pencipta,
atau karakter?

 



Share/Copy link: