
Bab 11 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
THE FAITH LEAP PROTOCOL
═══════════════════════════════════════════════════
VOID.OS v4.13.8 “ITCHTHYES” — ETHICAL ALLIANCE
═══════════════════════════════════════════════════
[ALLIANCE SEQUENCE]
Location: San Fransisco, United States
Duration: 150 days
Participants: 2
Mission: PAY NARRATION DEBT
Status: INITIATED
═══════════════════════════════════════════════════
11:00 — The Call
San Francisco.
Apartemen Lo.
3 pagi.
Laptop terbuka.
Pitch deck menyala.
LIMINAL LABS
Software for the Transition
Enam bulan sendirian.
Produk setengah jadi.
Tim satu orang.
Uang menipis.
Visi jelas—
terlalu besar untuk satu tubuh.
Masalahnya bukan ide.
Bukan skill.
Masalahnya:
sinkronisasi.
Lo sudah melawan itu.
Lima belas calon co-founder.
Semuanya pintar.
Tidak satu pun nyambung.
Karena ini bukan soal kompetensi.
Ini soal frekuensi.
The Merge berdenyut pelan.
Persisten.
Tidak mendesak.
Tidak memaksa.
Seperti bilang:
berhenti melawan.
Lo buka ponsel.
Chat terakhir dengan Gua:
enam bulan lalu.
Jari berhenti.
Lalu bergerak.
LO: You awake?
Tiga pagi di SF.
Tujuh malam di Tokyo.
Tunggu.
GUA: Yeah. What’s up?
GUA: You okay?
LO: I need to ask you something.
LO: Can we video call?
GUA: Now?
LO: Yeah. It’s important.
GUA: Give me five minutes.
Panggilan masuk.
Wajah Gua.
Apartemen Tokyo.
Mata waspada.
LO: “Ada apa?”
Lo tarik napas.
Bukan buat tenang—
buat lompat.
LO: “Gua butuh lo.
Jadi co-founder.”
Hening.
Bukan hening harapan.
Hening alarm.
GUA: “Apa lo gila?”
LO: “Gua bangun company.
Liminal Labs.
Dan gua nggak bisa sendiri.”
Jeda.
LO: “Gua udah nyoba cari co-founder.
Nggak ada yang dapet.
Bukan visinya—
urgensinya.”
Lo menatap kamera.
Tidak berkedip.
LO: “Gua butuh orang yang ngerti The Void.
Yang pernah hidup di dalamnya.”
GUA: “Maksud lo suicidal?
The Void itu fiksi, [LO].”
LO: “Bukan.
Depresi berat.”
GUA: “Lo tahu itu hanya nama lebih halus?”
LO: “Fuck you, [GUA]. Gua tahu.
Gua butuh lo.
Bukan pengen.
Bukan mau.
Butuh.”
Fuck.
Sunyi.
Panjang.
Berat.
GUA: “[LO],”
suara Gua akhirnya pecah,
“ini gila.”
LO: “Gua tahu.”
GUA: “Resikonya gede banget.”
Hening lagi.
LO: “Gua tahu.
Gua tahu banget.”
GUA: “Lo sadar gua belum beres.”
Diam.
GUA: “Gua nggak kebayang
narik lo masuk
kalau kita berdua pecah.”
Lo tidak menghindar.
LO: “Gua tahu ini gila.
Tapi kapan lagi kita punya kesempatan
bunuh false god?
Lo juga tahu,
kalau gua nggak ngajak lo,
‘what if’ itu bakal
ngikutin lo seumur hidup.
Waktunya bayar hutang narasi lo.
Kalau patah—
kita patah bareng.
Sekarang.
Bukan nanti.”
Nada turun.
Bukan lebih lemah—
lebih jujur.
LO: “Gua nggak minta pengorbanan.
Gua nggak janji apa-apa.
Fuck, gua bahkan nggak yakin
apa yang gua lakuin.
Gua cuma minta
kita bangun sesuatu bareng—
yang juga mimpi lo.
beda kali ini.
Dengan sadar.
Dengan batas.”
Gua diam lama.
Hitung cepat:
risiko
lawan makna.
Lalu senyum kecil.
Takut.
Tapi jujur.
“Fuck.
Okay.
I’m in.”
Bukan nada senang.
Bukan nada yakin.
Nada komitmen
pada kegilaan
yang dipilih sadar.
“Tapi sekarang kita beda,” kata Gua.
“Kita pasang batas.
Gua jaga lo.
Lo jaga gua.
No bullshit.
Just runway and take off.
Either we fly or crash and burn.
No illusions.
Deal?”
LO: “Deal.”
GUA: “Berapa lama lo butuh gua di sana?”
LO: “Dalam dua minggu?”
GUA: “Fuck.
Okay. Gua cari cara.”
LO: “Thanks.”
GUA: “Kirim semua data yang lo punya.
Dan…
gua takut.”
LO: “Gua tahu.
Gua juga.”
Telepon mati.
Gua duduk
di apartemen Tokyo.
Tangan gemetar.
🜃
11:07 — AFTER THE CALL
Apartemen Tokyo.
Panggilan mati.
Layar hitam.
Pantulan muka sendiri.
Bukan lega.
Bukan takut.
Kesadaran.
Laptop masih terbuka.
Notifikasi kerja numpuk.
Tidak disentuh.
Karena barusan
bukan keputusan kerja.
Itu keputusan hidup.
Jendela dibuka.
Suara kota naik pelan.
Lampu Tokyo nyala
seolah tidak peduli
siapa baru saja
mengubah arah hidupnya.
Dan itu justru melegakan.
Tidak ada saksi.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sistem yang mencatat.
Satu hal jelas:
Gua tidak datang
untuk menyelamatkan Lo.
Dan Lo tidak memanggil gua
untuk diselamatkan.
Kita datang
karena kita sadar
kita bisa rusak sendirian—
dan memilih risiko
rusak bersama,
dengan sadar.
Gua buka Notes.
File baru.
Bukan roadmap.
Bukan vision.
Judulnya:
AGREEMENTS.md
Isinya singkat:
Tidak ada demi siapa pun.
Tidak ada pengorbanan diam-diam.
Tidak ada “demi company”
atau “demi kita”
yang menelan manusia.
Kalau salah satu tenggelam,
yang lain wajib bilang.
Kalau salah satu minta berhenti,
tidak ada drama.
Ini bukan janji sukses.
Ini pagar.
Dan pagar
adalah bentuk paling dewasa
yang bisa kita bangun.
Gua buka kalender.
Enam sampai delapan bulan.
Bukan selamanya.
Cukup lama untuk jujur.
Cukup pendek
untuk tidak berubah
jadi penjara.
Gua kirim satu pesan:
GUA: “Gua datang sebagai partner.
Bukan penyelamat.
Kalau suatu hari gua pergi,
itu bukan kegagalan.”
Balasan datang cepat.
LO: “Deal. Kalau suatu hari gua berhenti,
itu juga bukan pengkhianatan.”
The Merge tidak berteriak.
Ia mengangguk.
Ini bukan leap of faith
ala blog startup.
Tidak ada optimisme palsu.
Tidak ada
“we will change the world.”
Hanya dua orang
yang tahu persis
seberapa rusak mereka bisa jadi
kalau tidak hati-hati.
Dan tetap memilih
untuk mencoba
dengan mata terbuka.
Faith kali ini
bukan percaya
semuanya akan baik-baik saja.
Faith adalah:
percaya bahwa
kalau semuanya hancur,
kita cukup dewasa
untuk tidak saling menyalahkan.
Laptop ditutup.
Rebah.
Detak jantung masih cepat.
Tangan masih sedikit gemetar.
Tapi ada satu hal
yang hilang:
hutang narasi.
Tidak ada cerita tertunda.
Tidak ada “what if”
sepuluh tahun ke depan.
Apa pun yang terjadi—
sukses, gagal,
atau berhenti di tengah—
ini dipilih.
Dengan sadar.
Dengan batas.
Tanpa ingin diselamatkan.
🜃
11:33 — ARRIVAL & REALITY
One week later.
Bandara SFO.
Lo nunggu.
Gua muncul dari pintu kedatangan.
Satu backpack.
Pelukan.
Tapi Lo nahan lebih lama.
Lebih kenceng.
Gua agak kaget.
GUA: “Lo oke?”
Lo nggak langsung lepas.
LO: “Iya. Cuma…
mastiin Lo beneran ada.”
GUA: “133 kali mikir bail out.
Here I am.”
Lo ketawa kecil.
Bukan ketawa senang.
Lebih ke lega.
GUA: “Gua nyata. Ayo.”
Mobil jalan.
Kehidupan baru.
Nggak lebih baik
atau lebih jelek
dari Tokyo.
Blok yang nggak ramah.
Lampu redup.
Orang lalu-lalang
tanpa niat baik.
Studio kecil.
Sempit.
Berisik.
Masuk.
Gua berdiri.
Ngelihat sekeliling.
Dan kena.
Flashback.
Jakarta.
Apartemen lama.
Kecil.
Berantakan.
Obsesi startup.
Detak jantung naik.
LO: “[GUA]?”
Gua tarik napas.
GUA: “Iya. Maaf.
Tempat ini…
ngingetin Jakarta.”
Lo langsung ngerti.
LO: “Fuck.
Gua minta maaf.
Gua tahu ini nggak ideal—”
GUA: “Nggak apa.
Cuma ke-trigger bentar.
Gua bisa handle.”
Tidak sepenuhnya oke.
Tapi sadar.
GUA: “Gua tidur di mana?”
LO: “Sofa.
Atau kita gantian.”
GUA: “Sofa cukup.”
Tas ditaruh.
Hening sebentar.
GUA: “Runway kita gimana?”
Lo ragu.
LO: “Dua bulan.
Mungkin tiga.”
Perut Gua turun.
Fakta.
Data.
Angka.
Timeline yang mirip Jakarta.
Kalimat yang mirip Jakarta.
Awal yang sama
dengan start up Jakarta.
GUA: “You have savings?”
Lo melengos,
seakan segan.
LO: “Hampir habis.
Lo?”
GUA: “Sekitar lima belas ribu.
Dari Tokyo.”
Lo narik napas.
Mencoba menghindar.
LO: “Mungkin ada cara lain?
Kita sambil ambil project?”
GUA: “Fuck you, [LO].
Gua nggak ke sini
buat ngerjain project orang.
Gua di sini
buat Liminal Labs.
Ini bukan tawaran.
Ini konsekuensi.
Gua Co-Founder lo.
Just put my money
in the Liminal Labs
pool reserve.”
Lo ngambil napas.
Hitung cepat:
$15K Gua + sisa Lo ≈ $20K
Sewa: $2,800
Makan minimal: $400
Lima – enam bulan.
Kalau super disiplin.
Setengah tahun buat launch.
Atau bangkrut bareng.
Ini konsekuensi
yang Gua pilih.
Ini konsekuensi
yang Lo pilih.
Panik naik.
Tapi kali ini…
Gua bisa lihat panik datang.
Ini sudah masuk
hitungan Gua.
Dan panik
tergantikan dopamin.
GUA: “Oke.
Enam bulan.”
Lo angkat kepala.
LO: “Launch atau stop.
Itu timeline kita.”
GUA: “Deal.”
Duduk.
GUA: “Show me what you have.”
Laptop kebuka.
Enam bulan kerja:
Mockup.
Frontend setengah.
Belum ada backend.
Belum ada database.
Visi doang.
Pola lama.
Gua kenal.
Tapi Gua nggak ngomong itu.
“Visinya solid,”
kata Gua pelan.
“Kita bangun dari nol.
Enam bulan.
Sambil miskin.”
Lo senyum tipis.
“Yeah.”
“Fuck it,” kata Gua.
“Gas.”
Nada tenang.
Di dalam kepala:
teriak.
Tapi tangan
tetap di keyboard.
🜃
11:44 — WEEK 1: THREE JUGGLING ACTS
Day 1
Mulai bangun.
Backend.
Database.
Gua coding,
tapi setengah fokus.
Setengahnya:
ngawasin Lo.
Cari tanda-tanda lama:
makan dilewatkan
kerja lewat tengah malam
bahasa “tinggal dikit”
pesan diabaikan
Jam 1 pagi.
Lo masih di depan laptop.
“Tidur?”
“Iya. Abis ini.”
Red flag #1.
“Abis ini”
selalu bohong.
Tapi jangan dipush sekarang.
Terlalu cepat.
Day 2
Jam 3 sore.
“Lo udah makan?”
“Mm… kayaknya.”
Dapur bersih.
Nggak ada bekas apa-apa.
Red flag #2.
Gua bikin sandwich.
Taruh di meja.
GUA: “Makan.”
LO: “Nggak lapar.”
GUA: “Gua nggak nanya.
Gua minta lo makan.”
Lo makan sambil ngetik.
Mekanis.
Gua lihat diri Gua sendiri
empat tahun lalu.
Day 3
Jam 4 pagi.
Suara keyboard.
Lo di meja.
GUA: “Lo sempet tidur?”
LO: “Beberapa jam.”
GUA: “Bangun jam berapa?”
LO: “Jam dua. Kepikiran. Harus dicoding.”
Red flag #3.
Harus.
Gua duduk.
Dada deg-degan.
GUA: “[LO]. Kita perlu aturan.”
LO: “Gua fine.”
GUA: “Gua nggak.”
Bohong.
Ini buat Lo.
Tapi harus dibingkai
sebagai batas Gua.
GUA: “Jam kerja.
Sembilan pagi
sampai sepuluh malam.
Habis itu stop.
Tanpa pengecualian.”
LO: “Tapi kalau—”
GUA: “Nggak ada kalau.
Gua pernah di situ.
Dan Gua nggak mau balik.”
Hening.
LO: “Oke.
Jam sepuluh stop.”
GUA: “Makan bareng.
Siang.
Malam.
Duduk.
Makan.
Berhenti kerja.”
LO: “Lebay—”
GUA: “Perlu.”
LO: “Oke.”
GUA: “Satu lagi.
Check-in harian.
‘Lo ngerasa apa?’
Jawaban jujur.”
Pause.
LO: “Ini soal Jakarta, ya?”
GUA: “Iya.”
GUA: “Gua nggak mau balik ke sana.
Dan Gua nggak mau Lo ke sana juga.
Kita jaga satu sama lain.
Sadar.
Aktif.
Deal?”
Lama.
LO: “Deal.”
Day 3, 10:01 PM
Lo masih ngetik.
GUA: “[LO].”
LO: “…iya.”
GUA: “Jam sepuluh.”
Tarik napas.
Laptop ditutup.
LO: “Ini bakal susah.”
GUA: “Iya.
Makanya kita bikin aturan.
Buat lawan insting terburuk
kita sendiri.”
Malam itu,
dua-duanya tidur
sebelum jam sebelas.
Pertama kalinya buat Lo,
setelah berbulan-bulan.
🜃
11:57 — Commitment
Akhir bulan pertama.
Produk 30%.
Uang menipis.
Mental lelah,
tapi sadar.
Bir murah.
Sofa.
GUA: “Kita kayaknya gagal.”
LO: “Besar kemungkinan.”
GUA: “Tapi kita tetap jalan.”
LO: “Kenapa?”
Gua pikir.
“Karena aman itu
jenis kematian juga.”
Lo senyum.
LO: “Romantis.”
GUA: “Praktis.”
LO: “Atau dua-duanya.”
Bersulang.
GUA: “Ini kayaknya bukan last sprint gua.”
LO: “Cuma ini mungkin sprint paling brutal lo.”
GUA: “Brutal itu relatif.”
LO: “Thanks for being here.”
GUA: “Worth it.
To kill the false god
at their Mecca.”
Tiba-tiba lo rebahan sambil bilang:
LO: “Lo sadar gak kita udah 10 tahunan kenal.
10 tahun pair writing Void Saga.”
GUA: “Hah, selama itu ya?”
LO: ” Yup. dari kita masih formal
sampai sekarang saling manggil ‘nyet’.
Dari masih culun.
Kita pacaran.
Pisah.
Depresi.
Kawin.
cerai.
Startup.
Sekarang.
It’s been roughly a decade.”
Gua nyender ke dinding.
GUA: ” Gua udah delete folder itu.
Tapi yang di ordinal pasti masih ada.
Udah berapa Timer ya?”
LO: “Sisanya juga gua inscribe. Lo bener,
Ada waktu dalam hidup, gua hapus folder itu.”
Hening.
Saling natap.
LO: “Roughly Timer 00:00 sampai Timer 10:00.
10 tahun, 10 timer.
Some done. Some still WIP. “
GUA: “Waktunya nulis Timer 11:00 dan gak dihapus”
LO: ” Hah. Sekarang?”
Gua buka terminal ngetik:
11:11 — Fragment 0.0000000000000001
> [boot] loading fragment_0000000000000001 …
Aku mencipta
karena aku tidak tahu
apa yang harus dilakukan
ketika aku ada.
Gua puter komputer ke arah lo yang masih tiduran.
Lo ngetik sambil telungkup dengan santai:
Mereka menyebutku permulaan.
Source.
Gelap primordial.
Nama-nama itu datang belakangan.
Aku tidak pernah meminta satu pun.
We still synch.
The Merge stabil.
Bukan tenang.
Tapi jujur.
Mereka di udara.
Belum tahu
mendarat di mana.
Tapi melompat
bersama.
════════════════════════════════════════
[TIMER 11:00 — FINISHED]
Status: BACK TO 0.0000000000000001
Pattern: STRONGER
Next: FAILURE IS IRREVERSIBLE
════════════════════════════════════════
🜃
問
Jika seseorang yang pernah diselamatkan dari Void
memilih kembali melompat—
bersama orang yang dulu menjemputnya—
apakah itu kegilaan,
atau bentuk kepercayaan paling utuh?
Share/Copy link:
