
Bab 12 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
PAKTA BARU
12:00 — LAUNCH WEEK: THE NUMBERS
Bulan ke lima
akhirnya launch.
Duit sudah tipis.
Gua maksa lo beli dua tiket ke Jakarta.
Non-refundable.
Sebelum duit habis.
Hari ke-7 sejak launch.
Dashboard terbuka.
Tidak ada yang bergerak.
GUA:
“289 users.”
LO:
“23 bayar.”
Hening.
LO:
“$115 MRR.”
GUA:
“Server $350.”
Gua geser laptop dikit.
GUA:
“Minus dua ratusan.”
LO:
“…iya.”
Tidak ada emosi berlebih.
Cuma angka.
Dan angka jujur.
GUA:
“Kita nggak ke mana-mana.”
LO:
“Enggak.”
Pause panjang.
LO:
“Tiket Jakarta sebelas hari lagi.”
GUA:
“Non-refundable.”
LO:
“…”
GUA:
“Jadi?”
LO:
“…pulang.”
Tidak ada debat.
Tidak ada drama.
Keputusan jatuh pelan.
Seperti barang yang memang sudah waktunya dilepas.
13:11 — THE LAST WEEK
Hari ke-8.
Email diketik bareng.
Kalimat dibaca keras-keras.
LO:
“‘Pausing operations.’ Bukan ‘shutdown’.”
GUA:
“Biar jujur.”
LO:
“…iya.”
Balasan masuk satu-satu.
Lo baca tanpa suara.
Air mata turun pelan.
LO:
“Mereka percaya.”
GUA:
“Iya.”
LO:
“Dan kita berhenti.”
GUA:
“Bukan berhenti.”
“Hiatus.”
LO angguk.
Nggak yakin, tapi nerima.
Hari ke-9.
Packing.
Dua ransel.
LO:
“Lucu ya.”
GUA:
“Apa?”
LO:
“Enam bulan hidup kita… muat di dua tas.”
GUA:
“…iya. Cerita hidup gua biasanya satu tas.”
LO:
“Fuck. That’s depressing.”
GUA:
“Itu salah satu penyebab suicidal thoughts.”
LO: “Lo selalu brutal truth.”
GUA:
“Itu kenapa lo panggil gua kesini.”
Tas ditutup.
Tidak ada yang ditinggal.
Kecuali ekspektasi.
Hari ke-10.
Taco terakhir.
Sisa uang: $14.
Air putih.
GUA:
“Inget minggu pertama?”
LO:
“Yang lo maksa gua makan?”
GUA:
“Iya.”
LO:
“Itu nolong gua.”
GUA:
“Gua tau.”
Pause.
LO:
“Kita gagal nggak sih?”
GUA:
“…tergantung definisi.”
Gua diam sebentar, lalu lanjut.
GUA:
“Gua nggak mau hidup di ‘what if’.
Gua nyoba bunuh false god.
Gua gagal, tapi nyoba.
Lo gimana?”
LO ketawa pendek, getir.
LO:
“Fuck it.
Gua nyoba bareng lo, nyet.”
Gua senyum dikit.
GUA:
“Look at us.
Kita lebih cair.
Lebih jujur.
Lebih gak drama.
We’re moving forward!”
LO:
“289 orang pakai.”
GUA:
“23 bayar.”
LO:
“Berarti idenya hidup.”
GUA:
“Modelnya belum.”
LO mikir.
LO:
“Belum.”
“Bukan mati.”
Gua angkat gelas air.
GUA:
“Untuk pakta to kill the false god.”
LO:
“Masih percaya?”
GUA:
“Selalu.”
12:22 — JAKARTA AIRPORT ARRIVAL
CGK.
Panas.
Lembap.
GUA:
“Anjir… baunya.”
LO:
“Kayak rumah?”
GUA:
“Kayak ingatan.”
Taksi datang.
Sebelum pisah:
LO:
“Lo mau ngapain?”
GUA:
“Kerja dulu.
Nabung.
Gak mikir startup.”
LO:
“Itu sehat.”
GUA:
“Lo?”
LO:
“Corporate.”
“Bentar.”
Pelukan lama.
LO:
“Kita nggak butuh barengan.”
GUA:
“Yup. Kita cuma butuh jujur.”
LO:
“Deal.”
Taksi pisah arah.
Untuk pertama kalinya.
Benar-benar sendiri.
Dan gua mulai menikmati kesendirian lagi.
Gua dan lo udah nyoba.
Gak ada utang narasi lagi.
12:33 — MONTH 2: CORPORATE RETURN
LO POV
Meeting.
Slide.
Alignment.
LO lebih tenang.
Lebih pelan.
MANAGER:
“Call jam sepuluh malam bisa?”
LO:
“Besok pagi.”
Manager kaget.
LO nggak mundur.
SF berguna.
GUA POV
Backend.
Jam sembilan sampai lima.
COWORKER:
“Lo bisa lead ini.”
GUA:
“Nggak dulu.”
Gua pulang tepat waktu.
Ambil kerjaan lain.
Tidak heroik.
Tapi hidup.
12:44 — PROJECT PHOENIX REUNION
Makan malam.
Reuni Project Phoenix.
Gua, lo, [DEDICATED PM] dan beberapa orang lain.
Tawa nostalgia.
[DEDICATED PM]:
“Remember when you two
finished that integration
in one weekend?”
Lo dan gua saling menatap.
LO dan GUA bareng:
“Yeah. We did.”
The merge berdenyut.
[DEDICATED PM]:
“You guys are in synch.
Are you two a couple?”
Berdua terdiam.
LO: “Long time ago.
Didn’t work well for us.
We’re better as business partner.”
[DEDICATED PM]:
“I Heard you guys were in SF doing startup”
GUA:
“Also didn’t work out well for us.
We’re in Jakarta now.
Different corporate offices.
Regrouping.”
Pause.
[DEDICATED PM]:
“That’s brave though.
Most people never try.”
Smile.
GUA:
“Yeah.
We tried.”
LO:
“Iya.”
[DEDICATED PM]:
“Keliatan.”
Dia tidak bertanya lebih jauh.
Tidak perlu.
Gua perhatiin satu hal:
[DEDICATED PM] tenang.
Tidak ngejar.
Tidak membakar ruangan.
Lo juga perhatiin.
Tidak dibicarakan.
Tapi insting gua tahu.
Kita terlalu berdua.
Pakta membunuh false god.
Hanya bisa dilakukan 3 orang.
Unholy trinity.
Bukan dua.
12:55 — THE HASAN METAPHOR
Video call malam.
nulis bareng Timer 12:00
LO:
“Startup kita bedua itu…
kayak ritual yang ditinggal.”
GUA:
“Mungkin waktunya untuk nambah atau ngurangin elemen.”
LO:
“maksud lo?”
GUA:
“Gua itu areng.
Lo itu cet aer.
Tanpa kertas kita gak ketemu.
Pakta butuh tiga.
Makanya namanya unholy trinity,
bukan unholy duality.”
LO:
“…iya.”
Hening.
LO:
“Mungkin gua butuh Delphie.”
GUA:
“You’re saying you need someone
who isn’t me.”
Ketawa
LO:
“Not instead of you.
In addition to you.
Different function.
You’re NiuNiu to my Julia.
Chaos to my order.
But maybe I also need
Delphie energy.
Something stable,
instead of disruption.”
GUA:
“Makes sense.
I’m good at breaking systems.
Not good at sustaining them.”
Ketawa kecil.
Tidak pahit.
Legit.
12:56 — THE INDONESIAN JOURNEY
22 bulan kemudian.
Gua bisa saved $18K.
Dari target $20K.
Quit corporate job.
Pesan singkat.
GUA: “Gua jalan dulu.”
LO: “Gas.”
Tidak ada larangan.
Tidak ada janji.
Slow travel.
Tanpa buru-buru
Mengamati:
- Local businesses struggling
- Technology gap huge
- Young people talented but no resources
- Jakarta-centric everything
- Regions left behind
Idea forming:
What if startup isn’t for SF?
What if it’s for here?
For Indonesia?
For regions?
12:59 — THE IDEA PROPOSAL
Bulan 12.
Balik Jakarta.
Message Lo:
GUA: Back in Jakarta.
GUA: Coffee tomorrow?
LO: Yes! Where've you been?
GUA: Everywhere.
GUA: I'll tell you tomorrow.
Kopi.
GUA:
“Gua punya ide.”
LO:
“Indonesia?”
GUA:
“Iya.”
Lo condong ke depan.
LO:
“Cerita.”
Setelah cerita panjang.
LO:
“Ini masuk akal.”
Pause.
LO:
“Tapi… gimana kalo gak cuma kita berdua.”
Gua senyum.
GUA:
“Ngerti.”
LO:
“Lo oke?”
GUA:
“Banget.”
LO:
“Beneran?”
GUA:
“Julia butuh Delphie.”
“Bukan NiuNiu.”
LO ketawa.
Mata lega sedikit berkaca.
LO:
“Actually…
I’ve been talking to [DEDICATED PM]
more lately.”
Gua nyengir.
GUA:
“Oh?”
LO:
“Yeah. Just…
reconnecting.
He really grounded.
Strategic.
Good at process.
Everything I’m not.”
Gua ketawa:
“That’s perfect!
[DEDICATED PM] is literally
Delphie archetype.
Architect.
Planner.
Systemic thinker.
You should partner with him.”
LO:
“Lo join?”
Hening.
GUA:
“Jujur. I got an offer.”
LO:
“What offer?”
GUA:
“Caribbean.
Island project.
Tech infrastructure
for coastal communities.
Sea and beach.
Very Sevraya energy.”
Lo senyum ngerti.
LO:
“That’s perfect for you.”
GUA:
“Yeah. I think so too.”
LO:
“So this is it?
We’re separating?
Different paths?”
GUA:
“Not separating.
Reconfiguring.”
Kita saling mengadu cangkir.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada kegagalan.
LO:
“Pakta lo dan gua masih berlaku?”
GUA:
“Selalu.
Cheers to kill a false god.”
Trang.
Cangkir beradu.
Jika dua orang membangun bersama lalu gagal—
lalu kembali ke akar—
lalu menemukan bahwa kesuksesan
bukan tentang bersama, melainkan tentang konfigurasi yang tepat—
apakah mereka gagal,
atau berhasil menemukan sesuatu yang lebih penting?
Share/Copy link:
