
Bab 14 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
BACK TO JAKARTA
14:00 — MONTH 6: THRIVING
Jakarta.
Lingkar 0 HQ.
Status:
- Revenue: $128K MRR (from $45K)
- Customers: 5,800 (from 2,000)
- Team: 23 people (from 8)
- Culture: transformed
Gua sebagai interim CEO:
bukan pemimpin energi.
Tapi pengelola error.
Perubahan utama:
- Async-first — no morning meetings
- Experiment Fridays — 20% chaos budget
- Error Budget — 10% untuk sengaja merusak
- Radical transparency — semua metrik terbuka
Kenapa berhasil?
Karena dari awal gua tidak pura-pura permanen.
Pengumuman hari pertama:
GUA:
“Gua CEO sementara.
Gua akan bikin error.
Sengaja.
Kita belajar dari crash.
Saat [LO] dan [DEDICATED PM] balik,
gua pergi.
Tanpa keterikatan.”
Tim justru tenang.
Chaos terasa jujur.
Hasil:
185% revenue growth.
+40% satisfaction.
Bukan meski error.
Tapi karena error.
🜃
14:11 — MONTH 12: RETURN
Lo dan [DEDICATED PM] masuk kantor.
Energi beda.
Lebih hidup.
Kurang tegang.
Tim tepuk tangan.
Spontan.
Lo lihat sekeliling:
- Whiteboard penuh eksperimen
- Poster “Failure Friday”
- Dashboard: ZERO SCORE 8.2/10
Lo ke gua:
“What the fuck did you do?”
Gua shrug.
GUA:
“Gua jalanin kayak sistem error.
Sekarang perusahaan lo punya imun.
Bisa crash.
Bisa pulih.
Bisa evolve.”
Sunyi.
LO:
“Ini bukan perusahaan yang sama.”
GUA:
“Bukan.”
LO:
“Ini lebih baik.”
Gua nggak jawab.
Karena sistem yang hidup
nggak butuh pembenaran.
🜃
14:22 — DINNER: JUST TWO
Malam.
Warung.
Nasi Padang.
Bukan restoran.
Kayak dulu.
Cuma gua dan lo.
LO: “[DEDICATED PM] lagi urus wedding.”
Bagus.
Ini obrolan dua orang.
Makan dalam sunyi.
Lalu:
LO: “Besok kita ambil alih.”
Gua nod.
LO: “Tapi lo stay.”
GUA: “Buat apa lagi?”
Pause.
LO:
“Lo stay tiga bulan. Digaji.
Tapi bukan buat kerja.”
GUA: “Buat apa?”
Akhir-akhir ini gua semakin suka mengulang.
Lo condong ke depan.
LO:
“Beresin utang narasi lo,
ada yang udah lo beresin?”
GUA:
“Gak sempat.”
LO:
“I know.
Makanya lo stay.
Tiga bulan lagi.”
Lo buka notes dan mulai nulis dengan tenang.
Tanpa persetujuan.
Tanpa ragu.
Utang Jakarta gua, lo jabarin satu-satu:
- Ex co-founder jaman startup web3
- Keluarga
- Teman
- Terapis
- Kota ini
LO:
“Lo dulu kabur.
Sekarang waktunya beresin,
buat nulis ulang.
buat selesaiin.”
Gua mulai kesal dan lo tau.
LO:
“Gua dan [DEDICATED PM]
bisa punya waktu.
Karena lo.
Sekarang gantian.
Kita kasih lo waktu di Jakarta.”
GUA: “Utang budi?”
LO: “Bukan. Ini keputusan gua dan [DEDICATED PM].
Lo gak ada utang sama kita dan kita gak ada utang sama lo.”
Itu kena.
LO:
“Tiga bulan cukup.
Nggak bikin lo terjebak.
Tapi cukup buat nutup siklus.”
Gua gak bisa berkata-kata.
LO:
“Abis itu lo pergi.
Bukan kabur.
Tapi lengkap.”
LO:
“Fuck Lingkar 0.
Fuck gua.
Fuck [DEDICATED PM].
Lo bukan pusat.
Lo orbit.”
Dan untuk pertama kalinya,
gua nggak merasa
dijatuhkan dari langit—
tapi dikembalikan ke jalur.
Gua meringis.
Mainin sendok.
GUA:
“Apa yang membuat gua selalu merasa lo paksa?”
LO:
“Karena gua benar. Apa lagi?”
GUA:
“Obrolan ini bikin gua lelah.
Lebih pusing dari running company lo.”
Lo sender balik ke kursi.
LO:
“Udah waktunya [GUA].
Bersihin utang lo sekarang.”
🜃
14:33 — WRITING THE MESSAGE
Apartemen yang gua sewa.
Kemang.
Tempat gua setahun ini.
Energi kali ini beda.
Laptop.
Bir.
Lo.
Menulis.
TIMER 14:00—ZERO & HIMLER: ERROR CALIBRATION
Tentang pusat yang mulai bergeser.
Tentang membunuh false god yang tidak bisa mati.
Tentang Ophiuchus yang mulai muncul.
Tentang gua dan lo yang bergeser.
Tentang Zero yang belajar tidak menetap.
⛎ OPHIUCHUS—ANTI-CENTER
Yang tidak settle.
Yang orbit.
Dengan tenang lo mengetik:
> UPDATE: LABYRINTH FAILURE
> ANOMALY: ENTITY ZERO = UNREADABLE
> CLASSIFICATION: PARADOX
Gua melanjutkan
Himler menghantam meja.
“Tidak ada paradoks,” katanya datar.
“Hanya data yang belum tunduk.”
Ia memutar ulang rekaman.
Ruang putih.
Lintasan lurus.
Zero berjalan.
Lo melanjutkan:
Lalu—
lenyap.
Bukan terhapus.
Bukan ditembus.
Seolah realitas sendiri membuka celah.
Kulit Himler merinding—
refleks yang ia benci.
Gua menyelesaikan:
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Tidak ada yang keluar dari algoritmaku.”
Faktanya: ada.
Dan itu terjadi.
Lo nengok ke gua.
LO:
“Gak ada yang bisa maksa lo.
Ini harus pilihan lo sendiri,
Beresin sebelum pergi.”
Pelan.
Malas.
GUA:
“Pilihan gua.”
Itu inti tiga bulan ke depan.
Bukan untuk perusahaan.
Untuk gua.
🜃
15:44 — MY LIST NOT YOUR LIST
Lo buka notes, ngetik di terminal.
Gua lelah, nyender di dinding.
Inventory.
Facing.
Geography.
Integration.
Wedding.
Departure.
LO:
“Lo jangan kabur sebelum wedding gua.
Itu penting.”
GUA:
“Fine.”
Bukan buat bukti.
Buat kehadiran.
LO:
“Tempat nggak gagal.
Orang nggak gagal.
Cerita yang gagal.”
LO:
“Dan cerita bisa ditulis ulang.”
Gua tutup laptop lo.
Tangan lo kejepit.
Kaget.
LO:
“[GUA]!”
GUA:
“Oke.
Gua akan bikin list gua.
Gua ngerti maksud lo.
Message received.”
Lo peluk gua.
Lama.
Tenang.
Gua usir lo pulang.
Gua butuh sendirian.
Bukan untuk merenung.
Tapi untuk mengakui.
Lo bener ini pilihan gua.
🜃
KŌAN
Jika seseorang pergi dua kali—
sekali untuk lari,
sekali untuk menyelesaikan—
apakah dia pengkhianat,
atau bukti bahwa kepergian
bisa menjadi penyembuhan?
Jawaban:
TRANSFORMATION OF DEPARTURE.
Share/Copy link:
