
Bab 15 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
JAKARTA LOOP: CLOSED.
Apartment gua.
Kemang.
First morning of 90 days.
Open laptop.
Stare at blank document.
Timer 15:00 butuh tiga pakta.
Gua butuh enam titik kehadiran buat nutup Jakarta loop.
Type:
# BERESIN DIRI: 90 HARI
Tujuan:
Bukan sembuh.
Bukan damai.
Bukan dimaafin.
Cuma hadir.
Success = showing up.
Nothing else.
URUTAN:
1. Ex co-founder startup web3
2. Nyokap
3. The Misfits
4. Terapis
5. Kota ini
6. Lo
Save.
Close laptop.
Stare at list.
Tangan gua getar.
Fuck.
This is scary.
But necessary.
🜃
15:11 — PAKTA 1 TARGET 1: EX CO-FOUNDER
Week 1.
LinkedIn search.
Nama masih sama.
Jabatan naik: VP Product.
Bio rapi.
Last post: 3 days ago.
Masih di Jakarta.
Jari gua hover di tombol message.
Lima menit.
Type:
GUA: It's me.
GUA: Back in Jakarta for 3 months.
GUA: Need to meet.
Send sebelum gua delete lagi.
Seen.
6 hours silence.
Gua stare at phone setiap 10 menit.
Reply:
[EX-COFOUNDER]: Kenapa sekarang?
Type.
Delete.
Type ulang.
Delete.
Akhirnya:
GUA: Karena dulu gua kabur.
GUA: Sekarang gua coba gak kabur.
Pause panjang.
Read receipt mati hidup mati.
[EX-COFOUNDER]: Jumat. 7 malam.
[EX-COFOUNDER]: Kopi yang lama.
Jumat.
Datang 30 menit duluan.
Pesan kopi.
Dingin sebelum diminum.
Dia datang tepat waktu.
Lebih tenang dari dulu.
Lebih dingin juga.
Duduk.
Sunyi lama.
Gua itung napas gua: 47 kali.
[EX-COFOUNDER]:
“Lo kelihatan hidup,” katanya.
GUA:
“Iya.”
Pause.
[EX-COFOUNDER]:
“Waktu lo hilang,
semua jatuh ke gua.
Investor.
Team.
Timeline yang udah gua janjiin.”
Nod.
[EX-COFOUNDER]:
“Gua gak mau denger alasan.”
GUA:
“Gua juga gak mau ngasih.”
Pause.
Dia aduk kopi yang gak dia pesan gula.
[EX-COFOUNDER]:
“Gua cuma mau lo tau,
Lo kabur ninggalin kekacauan.
Di pitch deck.
Di cap table.
Di kepala gua.”
GUA:
“Gua tau.”
Sunyi.
[EX-COFOUNDER]:
“Gua gak bisa maafin lo.”
GUA:
“Oke.”
[EX-COFOUNDER]:
“Tapi gua lega lo nongol.
Karena sekarang gua bisa bilang ini ke muka lo,
bukan ke bayangan lo.”
Nod.
Dia berdiri duluan.
Bayar kopi—his and mine.
Handshake.
Kaku.
Nyata.
3 detik.
Keluar.
Napas panjang di parkiran.
PAKTA 1 TARGET 1: DONE.
🜃
15:22 — PAKTA 1 TARGET 2: NYOKAP
Week 2.
Rumah lama.
Pintu cat biru pudar.
Bau kopi dan kenangan.
Nyokap buka pintu.
Tatapan keras tapi mata basah.
“Akhirnya balik,” katanya.
Masuk.
Duduk di sofa yang sama—
kusyen udah kempes sebelah kiri.
Sunyi.
TV muted.
Sinetron tanpa suara.
“Kamu ilang 8 tahun 4 bulan,” katanya.
Specific.
She counted.
“Iya.”
Diam.
Tiba-tiba:
PLAK.
Tamparan.
Tidak keras.
Tapi tepat. Di pipi kanan—
tempat yang sama waktu gua umur 12 bohong soal rapor.
“Jangan ulangin,” katanya.
Gua diam.
Lalu dia peluk.
Kenceng.
Gemetar.
“Kamu selalu boleh pergi.
Kerja di mana aja boleh.
Ngilang jangan.
Karena aku gak kuat
gak tau kamu hidup apa mati.”
Napas gua pecah.
“Ma,” gua bilang.
Gua gak bisa cerita tentang depresi.
Gua gak bisa cerita suicidal thoughts.
Gua bakal bikin dia makin sedih.
“Udah,” katanya.
“Pokoknya sekarang kamu ada.”
Pause.
Nyokap:
“Sekarang makan.”
Makan malam.
Televisi nyala—volume pelan.
Piring plastik Tupperware 1997.
Tidak banyak bicara.
Tapi hadir.
Nyokap tambah nasi gua dua kali tanpa nanya.
PAKTA 1 TARGET 2: DONE.
🜃
15:33 — PAKTA 2 TARGET 1: THE MISFITS
Week 3.
Warung Kopi Prambanan.
Meja panjang.
Muka-muka lama: Aji, Reza, Dinda, Komar.
“Anjing,” kata Komar.
“Masih hidup.”
Ketawa.
“Gua kira lo udah jadi alien,”
kata Reza,
“atau crypto-bro di Bali.”
Gua duduk.
“Gak ada cerita heroik guys,” kata gua.
“Bagus,” jawab Aji.
“Kita udah cukup capek sama mitos comeback.”
Dinda geser gorengan.
Minum.
Makan.
Suara warung: motor, sendok, ketawa meja sebelah.
“Kenapa balik?” tanya Reza.
“Coba beresin banyak hal,” jawab gua.
Sunyi sebentar.
“Beresin apaan?” tanya Dinda.
“Janji. utang. Lo semua.”
“Oh.”
Pause.
“Ya udah,” kata Komar.
“Lo masih lo.
Cuma sekarang lo balik.
That’s it.”
Tidak diinterogasi.
Tidak dirayakan.
Tidak dimintain cerita.
Cuma diterima.
Aji pesan kopi satu lagi buat gua
tanpa nanya mau apa nggak.
(Dia inget: kopi item tanpa gula.)
PAKTA 2 TARGET 1: DONE.
🜃
15:44 — PAKTA 2 TARGET 2: [MANTAN TERAPIS]
Week 4.
Ruang praktik lantai 3.
Sofa cokelat tua.
AC 24 derajat—always.
[MANTAN TERAPIS]:
“Kamu balik.”
GUA:
“Iya.”
[MANTAN TERAPIS]:
“Kenapa?”
GUA:
“Buat nutup loop.”
Dia nod.
Tulis sesuatu.
[MANTAN TERAPIS]:
“Kamu masih lari?”
GUA:
“Kadang.”
[MANTAN TERAPIS]:
“Dari apa?”
Pause.
GUA:
“Dari ekspektasi.
Dari kegagalan.
Dari… diri gua yang dulu.”
[MANTAN TERAPIS]:
“Bedanya sekarang?”
GUA:
“Gua mulai tau arah larinya.
Dan gua bisa bilang kapan gua harus balik.”
Sunyi.
[MANTAN TERAPIS] lepas kacamata:
“Kamu tahu kalo kadang orang gak perlu sembuh,”
“Sembuh itu mitos.
Kamu cuma perlu jujur—
sama diri kamu sendiri,
sama orang yang kamu tinggalin.”
Air mata gua turun.
Gua gak hapus.
“Thanks,” gua bilang.
[MANTAN TERAPIS]:
“Anytime, good to see you.”
PAKTA 2 TARGET 2: DONE.
🜃
15:55 — PAKTA 3 TARGET 1: KOTA INI
Week 6.
Apartemen lama
yang gua jual.
Kosong.
For rent sign.
Diri gua yang dulu ada di sini—
Pitch deck.
All-nighter.
Breakdown pertama.
Lo terbang kesini dari SF watched me drown.
Gua berdiri di depan lobby.
Security baru.
Dia gak kenal gua.
“Mau ke unit berapa, Pak?”
“Gak. Cuma lewat.”
Kantor lama.
Equity Tower.
Gedung sama.
Logo beda.
Gua berdiri di luar.
Tidak masuk.
Cuma liat dari seberang jalan.
Lantai 14.
Ruang meeting kaca.
“Gua ketemu lo disini,” gumam gua.
Gua yang masih semangat akan hidup.
Versi gua yang lebih riang.
Cuma ingat.
Cuma acknowledge.
Tidak lari.
Tidak balik.
Restoran.
Tempat pertama gua dinner bareng lo.
Pesan kopi.
Duduk di meja yang sama.
“This city swallowed me,”
gua tulis di notes.
“And now I’m here,
not to conquer it.
Not to forgive it.
Just to say:
I was here.
I broke here.
I’m still here.”
Lokasi kota ini bikin gua inget lo.
Inget versi gua yang gua udah lupa.
Gua gak bisa bohong.
Lo adalah yang bikin Jakarta menyesakkan.
PAKTA 3 TARGET 1: DONE.
🜃
16:11 — PAKTA 3 TARGET 2: LO
Week 12.
Kopi.
Same place.
Gua ceritain semua.
Ex-cofounder.
Nyokap.
The Misfits.
Terapis.
Kota ini.
Lo dengar.
Tidak menyela.
Tidak validasi.
Cuma present.
LO:
“Lo gak kabur kali ini,” kata lo.
GUA:
“Iya.”
LO:
“Cukup?”
Pause.
Gua mikir.
GUA:
“Cukup buat nutup loop.
Gak cukup buat ‘sembuh.’
Tapi sembuh bukan tujuannya.”
LO:
“Terus apa?”
GUA:
“Gak miara luka. Biar aja ada bekasnya.”
LO: “Understood.”
GUA:
“Terakhir utang narasi gua itu lo.
Gua baru sadar.
Jakarta buat gua adalah lo.
Gua kehilangan lo di kota ini.
Dan itu bikin gua gak bisa move on.
Waktunya gua move forward.”
Lo senyum.
LO: “Lo gak jadi ke SF
nengok gua itu masih ganggu lo ya?”
GUA: “Yup.”
LO: “Lo masih berfikir
kalo lo nekat jenguk gua kita masih bareng?”
GUA: “Knowing lo sekarang, kayaknya gak.”
LO: “Lo selalu jujur.”
GUA: “Itu yang susah kalo kita bareng.
Karena tau kita selalu cuma sementara.
Gua bisa jujur.”
LO: “Closure.”
GUA: “Yeah.”
Nod.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada “I’m proud of you.”
Cuma saksi.
Lo bayar kopi.
Lo peluk gua.
Kita pisah dengan tenang.
PAKTA 3 TARGET 2: DONE.
🜃
STATUS:
Jakarta Loop: CLOSED.
Tidak damai.
Tidak sempurna.
Tidak dimaafkan semua.
Tapi lengkap.
Gua showed up.
That’s the only metric that matters.
🜃
問
Kalau gua gak pernah yakin,
apakah gua masih boleh commit?
Share/Copy link:
