
Bab 16 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
7 HARI SEBELUM WEDDING LO
16:00 — PRE-LOG
Seminggu sebelum lo kawin.
Gua udah gak tahan pengen kabur lagi.
Bukan karena lo.
Bukan karena [DEDICATED PM].
Bukan karena Lingkar 0.
Karena sistem gua punya autopilot:
kalau semuanya mulai stabil,
gua curiga.
Stabil = jebakan.
Stabil = nanti gua gagal lagi.
Stabil = mending gua hilang duluan.
Dan Jakarta… selalu punya tombol itu.
Walau gua pikir gua udah nutup loop.
🜃
16:11 — UNHOLY ALLIANCE
Dinner terakhir.
Bukan farewell party.
Nggak ada cake.
Nggak ada speech.
Cuma warung.
Meja kayu.
Kipas rusak.
Lo di kanan.
[DEDICATED PM] di kiri.
Gua di tengah.
Unholy trinity.
Lo ngobrol vendor.
[DEDICATED PM] ngobrol rundown.
Gua bilang “iya” dan “oke”.
Kepala gua udah rame.
Dunia zoom-in.
Suara piring terlalu tajam.
Lampu terlalu terang.
Gua minum air.
Tetap gak tenang.
Gua ketawa.
Nggak ada rasa.
Gua pikir: fuck… I don’t belong here.
Bukan karena benci.
Karena gua gak sanggup hadir di momen yang katanya ‘buat gua’.
Lo nengok.
Nggak nanya.
Cuma liat.
Lo udah hafal.
🜃
16:12 — ARMADA ARUS BESAR
Panik attack datangnya gak dramatis.
Suicidal thoughts itu halus.
Gua tau gua mulai ‘kena’.
Napas pendek.
Perut turun.
Tangan dingin.
Gua berdiri.
“Gua ke luar bentar.”
Lo gak nyetop.
[DEDICATED PM] gak nanya.
Di luar, gua jalan tanpa tujuan.
Motor lewat.
Angin panas.
Arus kebuka:
bandara.
Bukan karena mau pergi.
Karena bandara itu tempat paling aman buat orang yang selalu mau lari.
Di bandara,
gua bisa duduk lama.
Gua boleh kosong.
Gua boleh jadi bayangan.
Gak bakal ada yang nanya.
Semua orang cuma transit.
Dan gua… ahli transit.
Gua duduk di kursi tunggu.
Ngelihatin layar flight.
DEPARTURE.
DELAY.
BOARDING.
GATE CHANGE.
Kepala gua mulai kalem.
Karena sistem lama gua punya ritual:
kalau dekat pintu keluar,
gua merasa punya kontrol.
🜃
16:13 — PENCATAT KELAHIRAN / KEMATIAN
Ponsel getar.
LO: Lo oke?
Gua gak bales.
Bukan malas.
Cuma… kalau gua bales, gua mengakui gua kabur.
Dan gua capek sama diri gua sendiri.
Beberapa menit kemudian:
LO: Gate mana?
Itu bikin gua diem.
Lo gak nanya “kenapa”.
Lo nanya koordinat.
Lo gak debat.
Lo catat.
Kayak Parthenos.
Gua ngetik.
Hapus.
Ngetik.
Hapus.
Akhirnya:
GUA: Terminal 3. Kursi deket layar keberangkatan.
Send.
Di situ gua sadar:
lo gak nyari gua.
Lo lagi memastikan gua gak jadi arsip yang hilang.
🜃
16:14 — LEGION HITAM & ARMADA PUTIH
Lo dan [DEDICATED PM] datang.
Nggak panik.
Nggak marah.
Lo jalan pelan.
[DEDICATED PM] bawa dua botol air.
Duduk.
Gua di kiri.
Lo di tengah.
[DEDICATED PM] di kanan.
Armada putih versi [DEDICATED PM]:
rapi,
tenang,
nggak kebawa emosi.
Legion hitam versi lo:
berani,
ngomong yang gak enak,
bisa tahan chaos gua tanpa judge.
Lo liat layar flight.
LO:
“Lo gak beli tiket kan?”
GUA:
“Belum.”
LO:
“Tapi lo udah tau gate-nya.”
Gua ketawa pendek.
GUA:
“Iya.”
[DEDICATED PM] nyodorin air.
“Minum.”
Gua minum.
Lo diem lama.
LO:
“Kita butuh lo hadir pas wedding.”
GUA:
“Gua tau.”
LO:
“Bukan buat foto.”
GUA:
“Gua tau.”
LO:
“Buat sistem.”
Nah itu.
Buat sistem.
🜃
16:15 — HIMLER / VRISCHIK
Gua kira yang bikin gua kabur itu trauma.
Ternyata bukan.
Yang bikin gua kabur itu: kestabilan.
Kestabilan bikin gua ngerasa:
abis ini gua harus commit.
Abis ini gua gak bisa blame error lagi.
Dan itu… lebih serem daripada gagal.
Karena gagal masih punya alasan.
Stabil gak punya.
Lo ngeliat gua.
Kayak ngeliat sistem yang mau crash.
LO:
“Lo tau gak, lo bukan satu-satunya yang ragu?”
GUA:
“Yeah?”
GUA:
“Gua juga ragu.
[DEDICATED PM] juga ragu.
Kestabilan ini bikin kita mikir:
bener gak sih next step?”
Gua megang kepala.
Lelah.
Karena selama ini,
lo selalu kelihatan paling siap.
LO:
“Makanya kita kawin.”
GUA:
“Itu… alasan yang aneh.”
LO:
“Iya. Aneh tapi jujur.”
[DEDICATED PM]:
“Ini bukan soal yakin.
Ini soal commit.”
Gua menelan ludah.
Karena itu juga masalah gua.
🜃
16:16 — POROS ZYGOS
Lo berdiri.
LO:
“Ayo.”
GUA:
“Ke mana?”
LO:
“Ke apartemen gua.”
GUA:
“Ngapain?”
LO:
“Nulis.”
Lo gak nanya izin.
Lo gak maksa dengan drama.
Lo cuma ngambil keputusan.
Zygos mode.
Poros.
Di mobil, [DEDICATED PM] dan lo nggak banyak ngobrol.
Jakarta lewat kaca.
Lampu.
Flyover.
Sampai apartemen lo.
[DEDICATED PM] keluar tepuk bahu gua.
Satu kata:
[DEDICATED PM]:
“Tulis”
Abis itu cabut.
Gua naik ke unit apartemen lo.
Lo lempar gua satu kaleng bir.
Bukan gesture hangat.
Cuma tool.
Laptop dibuka.
Doc kosong.
LO:
“Timer 16:00.”
GUA:
“Gua terlalu lelah buat nulis.”
LO:
“Berarti lo terlalu lelah buat hidup lo.”
Gua napas.
Gua baru sadar:
lo dan [DEDICATED PM] adalah formasi pengubah narasi.
Bukan hero moment.
Bukan healing.
Cuma: sistem yang memaksa sistem yang crash ganti sistem.
LO:
“Lo tau kan lo bisa nulis apapun.
Gua tahu lo coba selalu jujur.”
Lo ngetik dulu:
[ARCHIVE: JAKARTA / 7 DAYS BEFORE WEDDING]
STATUS: LOOP ALMOST CLOSED
SUBJECT: [GUA]
INTEGRITY: FRAGILE
OBSERVER: [LO] × [DEDICATED PM]
NOTE: NARASI BUTUH KEHADIRAN
Fuck.
Gua bisa nulis apapun.
Gua lanjut:
Gua ke bandara bukan buat pergi.
Gua ke bandara buat ngerasa ada pintu.
Karena kalau gak ada pintu, gua panik.
Gua takut terjebak.
Gua berhenti ngetik.
Liat lo.
LO:
“Nih. Ini kehadiran.
Bukan janji.
Bukan teori.
Kehadiran itu jujur.”
Gua ngetik lagi:
Timer 16:00 bukan perang.
Timer 16:00 itu formasi.
Orang-orang yang gak cocok dipaksa hadir di satu halaman.
Dari situ, narasi baru kebuka.
Gua gak harus yakin.
Gua cuma harus hadir.
Formasi pengubah narasi.
Unholy alliance.
Arus besar.
Pencatatan.
Legion hitam.
Armada putih.
Poros.
Semua bukan buat menang.
Buat rubah yang lama buka yang baru.
Dan perubahan selalu messy.
Gak enak.
Gak runut.
Tapi perlu.
🜃
16:44 — POST-LOG
Jam lewat tengah malam.
Panik attack gak “sembuh”.
Cuma lewat.
Dan itu cukup.
Lo tutup laptop.
LO:
“Besok lo jangan ke bandara.”
GUA:
“Kok lo tau gua di bandara.”
LO:
“Lo gak ganti hape dari jaman SF.
Gua pasang tracker di hape lo.”
GUA:
“Fuck. Lo apa?”
LO:
“Co-partner gua depresi with suicidal thoughts.
Lo bilang kita saling jaga.”
GUA:
“That’s privacy harrasment.”
LO:
“That’s precaution.”
Lo minum bir dengan tenang.
LO:
“Gua tahu lo 3 kali ke SFO selama 6 bulan kita disana.
Gua selalu lega setiap kali lo balik ke apartemen.
Thx for not bailing out.”
GUA:
“Lo tau password hape gua?”
LO:
“error404”
GUA:
“Fuck you.
Lo stalker.”
LO:
“Waktunya ganti hape.
Ganti password.
Ganti sistem.”
Gua nod.
ngerti.
Di balkon, kita duduk.
Jakarta nyala.
Tidak spektakular.
Tidak ada makna besar.
Waktunya merubah formasi.
STATUS:
Formasi Pengubah Narasi: ACTIVE
Loop Kabur: INTERRUPTED (temporary)
Kehadiran: RECORDED
🜃
問
Kalau gua gak pernah yakin,
apakah gua masih boleh commit?
Share/Copy link:
