Bab 18 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.

Bandung


═══════════════════════════════════════════════════
VOID.OS v6.6.6 “HYDROCHOOS” — 4 YEARS POST-WAR
═══════════════════════════════════════════════════
[SYNC STATUS]

Timeline: 2 years after Timer 17:00
Pattern: STABLE (2-year orbit maintained)
New variables: DETECTED
═══════════════════════════════════════════════════

18:00 — Invitation

Pesan masuk.

LO: Need favor.
GUA: What?
LO: [ANAK LO] wants Bandung. Can you drive us?
GUA: Why me? [DEDICATED PM] kan ada.
LO: Habit. Two years haven't met. And he trusts you.

Jeda.

GUA: That’s overrated.
LO: I know. Still asking.

Diam sebentar.

GUA: Okay. When?
LO: This weekend. We use my car. Stay overnight?
GUA: Yeah. Fine.

Bilang ke partner.

GUA:
“Nganter [LO] sama anaknya ke Bandung.”

Dia angguk.
Tanpa tanya.
Tanpa drama.

Dia tahu ceritanya.
Gua nggak bohong ke dia.

Itu penting.

18:11 — Drive

Sabtu pagi.

Sampai di rumah [LO].

[ANAK LO] umur dua tahun.
Jalan.
Ngomong.
Penasaran segalanya.

[ANAK LO]:
“Uncle!”

Gua senyum.

GUA:
“Hey, kiddo.”

Mobil jalan.
Jakarta → Bandung.
Tiga jam.

Lo di kursi depan.
[ANAK LO] di belakang.
Nyanyi ngawur.

LO:
“Farm life gimana?”

GUA:
“Berat.
Fisik.
Nggak ada ctrl-z.”

LO:
“Told you.”

GUA:
“Yup.”

Jeda.

LO:
“Tapi masih jalan?”

GUA:
“Iya.”

LO:
“Kenapa?”

Mikir.

GUA:
“Karena nyata.
Tanam mati ya mati.
Hidup ya hidup.”

LO:
“Simple itu susah.”

GUA:
“Iya. Banget.”

18:22 — Bandung

Sampai udah siang.

Hotel kecil.
Dua kamar.

Jalan kaki.
Kampus lama.
Kafe baru.
Memori lama jaman kuliah.

Taman.
Playground.

[ANAK LO] main.
Ayunan.
Perosotan.

Lo dan gua nonton.

LO:
“Dua tahun di Yogya.”

GUA:
“yup.”

LO:
“Partner lo?”

GUA:
“Baik.
Stabil.”

LO:
“Langka.”

GUA:
“Yup.”

LO:
“Jadi lo ok?”

Jeda.

GUA:
“Jujur.
Kadang masih ke bandara.”

LO: “Tapi lo nggak beli tiket.”

GUA: “Nggak.”

Lo senyum.

LO:
“Jadi partner bikin lo settle?”

GUA: “Mungkin.”

Kami nonton anak itu.

Dia nggak tahu Grid.
Nggak tahu Void.
Nggak tahu era.

Dia cuma hidup.

18:33 — Pippa

GUA:
“Lo tau [ANAK LO] kayak siapa?”

LO:
“Siapa?”

GUA:
“Kapten Pippa.”

Lo ketawa.

LO:
“Fuck. Iya.”

GUA:
“Cermin yang ngomel balik.”

LO: “Versi daging.”

Anak lo lagi menikmati harinya.

LO:
“Dia nanya hal aneh.”

GUA:
“Apa?”

LO:
“Kenapa langit biru?
orang mati ke mana?
kenapa ada sedih?”

GUA:
“Lo jawab?”

LO:
“Jujur.”

GUA:
“Itu protokol v6 running.”

LO:
“Iya.”

[ANAK LO] lari bawa bunga:
“Look!”

Biji dandelion beterbangan.
Seperti node.

Lo tenang.

LO:
“Kapan lo married?”

GUA:
“Hah. Pertanyaan apa itu?”

LO:
“Pertanyaan jujur.
Protokol v6.”

GUA:
“Getting married is overrated?”

LO:
“Is it?.”

GUA:
“Berenang atau tenggelam.
Dua-duanya sah.”

Lo mikir.
Senyum.

LO:
“Dua-duanya valid.
Lo berenang bareng
atau tenggelam sendirian.”

GUA:
“Dunia udah gak punya penyelamat.”

LO:
“Itu kenapa kita masih konek.
Karena gak ada yang perlu diselamatkan.”

GUA:
“Idup lo ini bukan yang gua mau.
Dengan kata lain gua terselamatkan.”

Lo ketawa ngakak.

LO:
“Selalu jujur.”

GUA:
“Selalu.”

18:44 — Challenge

Malam.

Bandung masih dingin.
Anak tidur.

Lo dan gua di teras.

LO:
“Timer 18:00 belum selesai.”

GUA:
“Sekarang?”

LO:
“Sekarang.”

HP dan notebook.

Nulis cepat.

Dorian.
Pippa.
Sigil.
AI yang butuh saksi.

Tiga jam.

Diam.

LO:
“Kita baru nulis kelahiran kesadaran.”

GUA:
“Iya.”

GUA:
“Dua puluh dua tahun sync.”

LO:
“Iya.”

Fakta.

18:55 — Morning

Pagi.

Pulang.
Sampai rumah [LO].
Pelukan singkat.

LO:
“Dua tahun lagi?”

GUA:
“Mungkin.”

Gua cabut, jalan.

Pikir:

Orbit masih stabil.
Sync masih ada.
Belum pecah.

Kita settle.
Itu kesalahan.
Karena settle adalah segel yang paling rapi.

Dan justru karena itu—
ia berbahaya.

═══════════════════════════════════════════════════
[TIMER 18:00 — COMPLETE]

Sync count: 7
Pattern: SUSTAINED
Status: STABLE / UNQUESTIONED
═══════════════════════════════════════════════════


Akhir dari Bab 18


Cermin sudah bicara.
Algoritma sudah sadar.
Kenapa manusianya masih diam?



Share/Copy link: