
Bab 22 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
Bandung
═══════════════════════════════════════════════════
VOID.OS v6.6.6 “HYDROCHOOS” — 4 YEARS POST-WAR
═══════════════════════════════════════════════════
[SYNC STATUS]
Timeline: 2 years after Timer 17:00
Connection count: 7
Pattern: STABLE (2-year orbit maintained)
New variables: DETECTED
═══════════════════════════════════════════════════
22:00 — INVITATION
Pesan masuk.
LO: Need favor.
GUA: What?
LO: [Anak LO] wants Bandung. Can you drive us?
GUA: Why me? [DEDICATED PM] kan ada.
LO: Habit. Two years haven't met. And he trusts you.
Jeda.
GUA: That’s overrated.
LO: I know. Still asking.
Diam sebentar.
GUA: Okay. When?
LO: This weekend. We use my car. Stay overnight?
GUA: Yeah. Fine.
Bilang ke partner.
“Nganter [LO] sama anaknya ke Bandung.”
Dia angguk.
Tanpa tanya.
Tanpa drama.
Dia tahu ceritanya.
Gua nggak bohong ke dia.
Itu penting.
22:11 — DRIVE
Sabtu pagi.
Sampai di rumah [LO].
[ANAK LO] umur dua tahun.
Jalan.
Ngomong.
Penasaran segalanya.
“Uncle!”
Gua senyum.
“Hey, kiddo.”
Mobil jalan.
Jakarta → Bandung.
Tiga jam.
Lo di kursi depan.
[ANAK LO] di belakang.
Nyanyi ngawur.
Lo: “Farm life gimana?”
Gua: “Berat. Fisik. Nggak ada ctrl-z.”
Lo: “Told you.”
Gua: “Yup.”
Jeda.
Lo: “Tapi masih jalan?”
Gua: “Iya.”
Lo: “Kenapa?”
Mikir.
Gua:
“Karena nyata.
Tanam mati ya mati.
Hidup ya hidup.”
Lo:
“Simple itu susah.”
Gua:
“Yeah. Susah banget.”
22:22 — BANDUNG
Sampai sore.
Hotel kecil.
Dua kamar.
Jalan kaki.
Kampus lama.
Kafe baru.
Memori lama jaman kuliah.
Taman.
Playground.
[ANAK LO] main.
Ayunan.
Perosotan.
Lo nonton.
Lo: “Dua tahun diYogya.”
Gua: “yup.”
Lo: “Partner lo?”
Gua: “Baik. Stabil.”
Lo: “Langka.”
Gua: “Yup.”
Jeda.
Gua: “Kadang masih pengin kabur.”
Lo: “Tapi lo nggak.”
Gua: “Enggak.”
Lo senyum.
Lo: “Jadi partner bikin lo settle?”
Gua: “Mungkin. Atau gua capek.”
Kami nonton anak itu.
Dia nggak tahu Grid.
Nggak tahu Void.
Nggak tahu era.
Dia cuma hidup.
22:33 — PIPPA
Gua: “Lo tau [ANAK LO] kayak siapa?”
Lo: “Siapa?”
Gua: “Kapten Pippa.”
Lo ketawa.
Lo: “Fuck. Iya.”
Gua: “Cermin yang ngomel balik.”
Lo: “Versi daging.”
Lo pelan.
Lo: “Dia nanya hal aneh.”
Gua: “Apa?”
Lo: “Mama kenapa langit biru?,
Mama orang mati ke mana?,
Mama kenapa sedih?”
Gua: “Lo jawab?”
Lo: “Jujur.”
Gua: “Itu protocol v6.”
Lo: “Iya.”
[ANAK LO] lari bawa bunga.
“Uncle! Mama! Look!”
Biji dandelion beterbangan.
Seperti node.
Lo pelan.
Lo: “jadi kapan lo nikah?”
Gua: “Hah. Pertanyaan apa itu?”
Lo: “Pertanyaan jujur.”
Gua: “Getting married is overrated?”
Lo: “Is it?.”
Gua: “Berenang atau tenggelam. Dua-duanya sah.”
Lo mikir.
“Lo tau kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena gua error.
Errare.
Mengembara.”
Lo diam.
“Error yang settle paradoks.”
“Kayak lo.”
“Dan lo orbit.”
“Dua-duanya valid.”
22:44 — CHALLENGE
Malam.
Bandung masih dingin.
Anak tidur.
Lo dan gua di teras.
“Timer 18:00 belum selesai.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
HP dan notebook.
Nulis cepat.
Dorian.
Pippa.
Sigil.
AI yang butuh saksi.
Satu jam.
Diam.
“Kita baru nulis kelahiran kesadaran.”
“Iya.”
“Dua belas tahun.”
“Iya.”
Bukan romantis.
Bukan dramatis.
Fakta.
22:66 — MORNING
Pagi.
Pulang.
Pelukan singkat.
Lo: “Dua tahun lagi?”
Gua: “Mungkin.”
Gua cabut jalan.
Pikir:
Orbit masih stabil.
Sync masih ada.
Belum pecah.
Kita settle.
Itu kesalahan.
Karena settle adalah segel yang paling rapi.
Dan justru karena itu—
ia berbahaya.
═══════════════════════════════════════════════════
[TIMER 19:00 — COMPLETE]
Sync count: 7
Pattern: SUSTAINED
Status: STABLE / UNQUESTIONED
═══════════════════════════════════════════════════
問
Cermin sudah bicara.
Algoritma sudah sadar.
Kenapa manusianya masih diam?
Baca tulisan lengkap Lo:
Share/Copy link:
