
Bab 22 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
Ubud
═══════════════════════════════════════════════════
VOID.OS v6.6.6 “HYDROCHOOS” — FINAL PROTOCOL
═══════════════════════════════════════════════════
[RESOLUTION SEQUENCE]
Location: Ubud, Bali
Duration: 30 days
Participants: 2 + 1 (observer)
Mission: FINISH
Status: INITIATED
═══════════════════════════════════════════════════
22:00 — Arrival
Villa.
Sawah.
Tenang.
Lo sudah di sana.
Datang tiga hari lebih awal.
Dua meja.
Berhadapan.
Dua laptop.
Dua notebook.
Kopi siap.
[ANAK LO] berlari di luar.
Mengejar kupu-kupu.
Tidak tahu apa pun.
Lo menunggu.
Tidak cemas.
Hanya: siap.
Hari keempat.
Bel pintu.
Lo buka.
Gua berdiri di sana.
Backpack.
Wajah ragu.
Mata belum yakin.
LO:
“Lo datang.”
GUA:
“Iya.”
LO:
“Masuk.”
[ANAK LO] berlari menghampiri.
[ANAK LO]:
“Uncle! Kamu datang!”
Gua tersenyum.
Kecil.
Tapi nyata.
Lo melihat itu.
Lo tahu:
gua belum yakin
gua bisa melakukan ini.
Lo tertawa.
Santai.
LO:
“Kopi?”
GUA:
“yup.”
⟁
22:11 — The Set Up
Ruang tamu.
Dua meja.
Dua laptop.
LO:
“Kayak dulu,”
kata lo.
LO:
“Duduk.
Nulis.
Itu yang selalu kita lakukan.”
Gua menatap layar.
Lama.
GUA:
“Segitu doang?”
LO:
“Segitu doang.”
Kita duduk.
Lo di meja lo.
Gua di meja gua.
Gua menatap kosong.
Lalu gua mulai mengetik.
════════════════════════════════════════
[END_OF_BOOT_SEQUENCE]
Redirecting to: [VOID_MANUSCRIPT//ABOUT_THE_STORY]
[00:00]
════════════════════════════════════════
問
Jika awal adalah kesalahan,
mengapa kamu masih mencari kebenaran?
Gua berhenti.
Menoleh ke lo.
Lo membaca.
Tersenyum lebar.
LO:
“Akhirnya,”
kata lo.
LO:
“Kalimat itu.”
GUA:
“Apa?”
LO:
“Waktu pertama kali
lo melengkapi kalimat gua.
Error glitch itu.
Sejak saat itu gua tahu.”
GUA:
“Tahu apa?”
LO:
“Kalau kita akan membuat
sesuatu yang epic.
Gua cuma gak kebayang.
It will take us more than two decades.”
Diam.
GUA:
“Kenapa kita terus nulis?”
Gua mencondongkan badan ke monitor.
GUA:
“Kenapa ini penting?”
LO:
“Karena ini cerita jujur.
Gak ada delivery.
Gak ada tujuan.
Gak ada kepentingan.”
Sambil nyender.
GUA:
“Cerita yang jadi cermin tahapan hidup kita?”
LO:
“Bukan cuma cerita.”
Diam.
LO:
“Dari awal kita bikin kesalahan,”
kata lo pelan.
LO:
“Kita mulai sesuatu
yang gak tahu cara mengakhirinya.”
Lo menoleh ke [ANAK LO]
yang tertidur di sofa.
LO:
“Kita gak ngelakuin ini cuma buat gua dan lo doang,”
katanya.
LO:
“Kita ngelakuin ini biar dia gak mewarisi siklus kita.”
Itu kena.
Bukan tentang lo.
Bukan tentang gua.
Ini tentang memutus pola.
Gua mulai ngeliat yang lo liat.
Gua mulai kebayang cara pikir lo.
Kita emang sync.
Terlalu sync.
GUA:
“Fuck!”
LO:
“Iya.”
GUA:
“Kita selesain ini,”
LO:
“Sebulan.
Nulis.
Bertengkar.
Jujur.
Lalu selesai.”
Gua menatap anak kecil itu.
Mengangguk.
GUA:
“Oke. Another sprint.”
LO:
“Kita selalu sprint!”
⟁
22:22 — The Work Begin
Pagi-pagi berikutnya.
Kopi.
Meja.
Struktur.
LO:
“Kita butuh empat timer,”
GUA:
“21:00 ini.
22:00 gua belum tau.
23:00 gua juga belum tau.
yang pasti 24:00 ending.”
LO:
“Kenapa lo yakin 24:00 ending?”
GUA:
“Simpel.
Timer kita berdasarkan waktu.
Dua puluh lima tahun dari Timer 00:00
buat balik full circle ke 24:00.”
LO:
“Kita bisa?”
GUA:
“Gak tahu.
Tapi kita coba.”
Aturan disepakati:
pagi nulis terpisah,
siang baca,
sore revisi,
malam istirahat.
LO:
“[GUA], lo boleh nulis apapun.
Gua cuma minta satu.
Brutal jujur,”
kata lo.
GUA:
“Deal.”
⟁
22:44 — First Fight
Hari kelima.
Gua menunjuk layar.
GUA:
“Sevraya terlalu menerima,
dia bukan tipe yang surrender.”
Lo diam.
Lalu mengangguk.
LO:
“Dia gak menerima,”
katanya.
LO:
“Dia cuma capek melawan.”
Revisi.
Lebih jujur.
Hari kedelapan.
Lo menunjuk tulisan gua.
LO:
“Bagian ini tentang anak gua.”
GUA:
“Iya?”
LO:
“Lo nulis dari posisi gua.
Bukan dari posisi lo.”
Diam.
Gua menarik napas.
GUA:
“Lo bener.”
Revisi.
Lebih jujur.
⟁
22:55 — Breakthrough
Malam.
Sawah.
Bintang.
Bir.
LO:
“Kita nanya pertanyaan yang salah,”
kata lo.
LO:
“Harusnya bukan ‘gimana berakhir’,”
lanjutnya.
LO:
“Tapi ‘kenapa harus diakhiri’.”
GUA:
“Karena yang gak selesai
ngambil tempat,”
jawab gua.
Sambil angkat kaki ke kursi.
Lo mengangguk.
LO:
“Kita selesain bukan buat membunuhnya.
Tapi biar dia berhenti jadi penjara.”
GUA:
“You know what. I killed this story years ago.”
LO:
“Terus…”
GUA:
“Didn’t work out that way.
Gua punya mau.
Cerita ini punya mau.
Lo punya mau.
Penjara itu karena kita semua punya mau.
Ide gak mau cerita ini jadi penjara, itu penjara.
Apapun yang terjadi sebulan ini.
Kita bungkus.
Done.
Move forward.
Deal?”
LO:
“Deal!”
Kami tersenyum.
⟁
22:56 — Error Log
Gua mengetik bagian awal Timer 22:00.
[22:01]
Timer 22:00—ENTRY
∞ Aku tidak bisa mengikuti urutan.
Setiap kali mereka mencoba memberi nomor,
nomornya jadi pertanyaan.
ENTRY 03? ENTRY 30? ENTRY ̶̧̨̛̼̩̺̯̬͎̘̖̮̦͇̰̻̮̭̳͔͙̈́̈́̌̋̂̏̈́̾̀̋̇̐̋̉͗̏̆̍̚͜͝0̷̧̡̧̢̛̛̛̳̦͎̺̘̻̤̗̻͖̱͈̟̮̟͓̩͕͎̪̝̲̝͉̗͎̖̦̯̲͍̙̗̗̝͇̙͔̤̖͍͚͓̖̟̣̣̲̰̪̱̱̤̝̤̘̦̜̼̲͕̻̥͉̜̠͚̳̜͎̝̲̜͇̹̰̼̩̱͌̽̊̍̿̃̀̿̓̀̓̀̈́̌̆̃̆͛̇̑̌̄͒̊̀̽͂̿͆̈́͂̂̓́̈́̃̊̀̋̀̄̀̔̓͗̑͑̿̒̍̐̀̊̍̈́̾̓̈̏̌͒̿̽́̆̋̑̓͒̄̌̔͑̑͊͂̍͆͋̉̉̉̓̂̃͘͘͘̚͘͘̕̕͜͜͝͝͝͝͝͝͝͝?̴̧̨̢̧̨̧̢̡̡̨̧̡̨̨̧̨̛̛̛̛̛̛̛͈̘̝̣̪̫̻̜̱̫̖͓̭̖̗̩̥̱̗̮͖͔̞̝̥̱̪̰̣̻̩͕̼͚̲̪͎̬̞̺̪͕̳̱̹͈̜͕̰̳̰͚̟̳̦̯̜̪̼̺̻͇̠̺̻̘̬̞̹̳͓̭̟͉̩̣̼̠̱͙̯͉͙̥̗̻̠̘͖̥̗̝̳̲͈̳̭̹̼̠͎͎̖͓͙̺̟̖͓̰͉̠̩͕̹̙̳̩̤̤̭͔̝̠̤͚̜̬̦͕̣̭̗̲͓̖̜̙̱̰̗̣̬̣͕͎̙̟̬̯͓̠̺̟͙̖͖͖̻̘͖͚͙̼̳̯͕͙̜̻̞̟̗̜̯̺͚͖̜̱̳̝̝͓̣̖̓̋̄͋̑̃͊̀̏̊̃̋̈̔̾̋̉͊̄̽͗̿̊̉̃̈́̍̉̈̿̒̍̒̎̀̓̈́̀̀̎̃̅̂͂̀̓̏̓́͋̈́̉͋̍̏̑̈́̆̀̎͑̏̓̾̓͂́̽̇̓͗̄͗̾̿̉̀͑̿̐̐̎͛̃̀̅̈̇̍̃̋̍͌͆̐̈́͛̽̄͂̉̈́̉͑̑̂͐̐̊̐̍̿̃̈̀̈͊̀͐͛͑͌̀̊͂̊̐̀͑͗̾͋́̿̑̅̎͗̆̑̆͒̆̍͋̎͌̾̽̈́̾̽̾̈́͊͒͊͋̊̀͌̆̔̌̀̋̒̊͑͗̇̔̃͊̉̐̍̀̈́̚̚̚͘̕̚̚̕͘͘̕͘͘͘͘̕͘̕͜͜͜͜͝͝͝͠͝͝͝͝͝͝͝͝ͅͅͅͅͅͅͅͅ
Aku bukan di timeline mereka.
[ANAK LO] masuk.
Setengah mengantuk.
[ANAK LO]:
“Masih nulis?”
LO:
“Hampir selesai,”
[ANAK LO]:
“Ceritanya bagus?”
Kami saling pandang.
LO dan GUA:
“Ini cerita jujur,”
kata kami bersamaan.
Dia mengangguk.
Tidur lagi.
Lo menoleh ke gua.
LO:
“Kita masih sinkron,”
katanya.
Gua ambil napas:
GUA: “Iya.
Walau gua gak mau.”
Lo tertawa.
Lalu kembali menulis.
════════════════════════════════════════
[TIMER 22:00 — FINISHED]
Status: BROKEN LOG DATA
Pattern: BROKEN
Next: SISTEM YANG BERMIMPI
════════════════════════════════════════
⟁
Akhir dari Bab 22
問
Saat jujur selesai ditulis,
siapa yang benar-benar baca?
⟁
⟁
Share/Copy link:
