
Bab 24 — Menatap Akhir Era dari Balik Laptop Kantor.
Completion
24:11 — Final Days
Hari ke-27.
Pagi.
Villa sunyi.
Sawah diam.
Gua dan lo duduk di meja masing-masing.
Laptop terbuka.
Tidak mengetik.
Kami membaca.
Seluruhnya.
Dua puluh lima tahun.
Timer 00:00 sampai 24:00.
Satu cerita.
Lengkap.
[ANAK LO] bermain di luar.
Sawah.
Kupu-kupu.
Tertawa tanpa tahu apa pun.
Dan itu… baik.
Pintu terbuka.
[DEDICATED PM] datang lebih awal.
Tiga hari sebelum jadwal.
[DEDICATED PM]:
“Apa kabar kalian,”
katanya.
Tidak dramatis.
Tidak simbolik.
Lo menoleh.
Tersenyum.
LO:
“You come early.”
[DEDICATED PM]:
“Kerjaan selesai.
Langsung terbang.”
Dia lihat ke arah gua.
LO:
“Gimana?”
Gua angkat bahu.
GUA:
“Done.
Selesai kemarin.”
[DEDICATED PM]:
“Boleh baca?”
Gua lihat lo.
Ragu.
Bukan karena rahasia.
Tapi karena…
Gua tidak pernah membayangkan
ada orang lain yang membaca ini.
Lo menangkap itu.
Tertawa kecil.
LO:
“Mungkin itu masalahnya,”
katanya.
Ke gua.
LO:
“Lo nulis bukan buat dibaca orang.
Lo nulis buat dibaca diri lo sendiri.”
Diam.
LO:
“Itu yang bikin lo kekunci.”
Itu kena.
Seperti pukulan.
GUA:
“Fuck.”
LO:
“Yeah.”
LO:
“Stealth mode.
Stealth folder.
Semua itu.”
Gua mengangguk.
LO:
“Kalau gak dibaca siapa pun,”
lanjut lo,
LO:
“cerita ini gak pernah selesai.
Dia cuma ada.
Kayak hantu.”
Lo menoleh ke [DEDICATED PM].
LO:
“Biar dia baca.”
Gua tarik napas.
GUA:
“Iya.
Baca.”
⟁
24:22 — Reflection
Dua hari berikutnya.
Kami membaca bersama.
Bukan menulis.
Mengingat.
GUA:
“Timer 00:00. Jakarta.
Di kantor kita pertama ketemu.”
LO:
“Timer 04:00.
Jaman Phoenix. [DEDICATED PM] masih bos kita.”
GUA:
“Timer 08:00. Jakarta.
Kita putus.
Gua depresi.
Lo terbang SF-JKT nemuin gua.”
GUA:
“Timer 09:00. San Fransisco.
Sebelum gua ke Jepang.”
LO:
“Timer 10:00. Narita.
Gua transit kita nulis di airport.”
LO:
“Timer 16:50. Jakarta
Nulis di apartemen lo besoknya gua kawin.”
LO:
“Timer 19:00.
Cengkareng.
Kita berantem.”
GUA:
“Timer 20:00.
Gua di Belanda kesel.
Lo nulis sendirian.”
LO:
“Timer 21:00, 22:00, 23:00, 24:00
Bali. Sekarang.”
Setiap timer:
snapshot.
ingatan.
kehidupan.
Seperti diary.
Tapi fiksi.
Tapi juga… jujur.
Lo tiba-tiba tertawa.
LO:
“Kita nulis dua puluh lima tahun hidup kita,”
katanya.
LO:
“Semua macet.
Semua lari.
Semua kembali.”
GUA:
“Dan kita sebut itu sci-fi,”
tambah gua.
GUA:
“Void. AI.
Perang kosmik.”
Lo ketawa lebih keras.
LO:
“Padahal cuma dua orang
yang gak bisa mutusin
untuk beresin satu cerita.”
Gua ikut ketawa.
GUA:
“Autobiografi.
Dibungkus space opera.”
LO:
“Exactly.”
Lalu kami memetakan semuanya.
Bukan sebagai teori.
Tapi pengakuan.
Enam karakter itu kita.
Dan untuk pertama kalinya—
itu tidak menyakitkan.
⟁
24:33 — Validation
Hari ke-29.
[DEDICATED PM] menutup laptop.
Diam lama.
[DEDICATED PM]:
“Ini bagus.”
Gua kedip.
GUA:
“Apa?”
[DEDICATED PM]:
“Aku gak tahu mana tulisan siapa,”
katanya.
[DEDICATED PM]:
“Suaranya satu.”
Lo tersenyum kecil.
LO:
“The Merge.”
Dia mengangguk.
[DEDICATED PM]:
“Ini publishable.”
Kami membeku.
GUA:
“Bukan buat itu,”
Diam.
GUA:
“Ini buat selesai.
Buat nutup loop.”
LO:
“Tapi mungkin,”
kata lo pelan,
LO:
“selesainya ya itu—
membiarkan dia ada di dunia.”
Gua diam.
GUA: “Maybe,”
kata gua akhirnya.
⟁
24:44 — Photo
Sore.
[DEDICATED PM]:
“Kalian foto.
Berdua.
Finished story.
Kenangan.”
Kami saling pandang.
LO:
“Kita gak pernah foto bareng,”
[DEDICATED PM]:
“Kenapa?”
GUA:
“Karena kita selalu sementara.”
Dia mikir.
Lalu tersenyum.
[DEDICATED PM]:
“Tapi ceritanya selesai permanen.”
Kami berdiri.
Kaku.
Lalu—
[DEDICATED PM]:
“Kacamata hitam!”
Ia suruh kita pakai.
[DEDICATED PM]:
“Judul ceritanya.”
Kami pakai.
Berdiri berdampingan.
Tidak bersentuhan.
Klik.
Foto pertama.
Dan terakhir.
⟁
24:59 — Airport
Pagi.
Bandara.
Denpasar.
Pelukan.
“The Merge” berdenyut sekali lagi.
Lalu lepas.
Tidak ada janji.
Pesawat naik.
Dan untuk pertama kalinya—
tidak ada Void menunggu.
Hanya halaman kosong.
Dan itu… cukup.
[VOID SAGA — COMPLETE]
Status: FINISHED
Timers: 00–24
Writers: 2
Voice: 1
The Merge: ACHIEVED → RELEASED
Pertanyaan dijawab.
Pola diakhiri.
Dan kebebasan
tidak lagi perlu metafora.
⟁
Akhir dari Cerita
⟁
⟁
Share/Copy link:
