
Timer 06:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
1,802 words, 10 minutes read time.
Akashic Records
[06:01]
THE VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT VI—EYE OF THE VOID
[ARCHIVE//MINERAL_ANOMALY_LOG: VOID_EYE]
> Status: Dormant until witnessed
> Language Mode: Geological Memory ↔ Aperture Verse
> Decoding: Partial (43%)
> Output fragment begins:
[06:03]
> Ia disebut Eye of The Void
> karena ia tidak melihat dunia—
> ia mengingat apa yang pernah ditutup.
[06:06]
> Ia tidak membuka pintu.
> Ia membuka keberanian
> untuk menerima apa yang sudah terbuka.
“Yang tertatap olehnya bukan masa depan,
melainkan masa lalu yang akhirnya diam.”
06:11 — Bayangan dan Asap
Delphie duduk di sudut sunyi Akashic Records—
kapal yang lebih menyerupai biara digital
daripada markas perompak.
Dinding bergetar lembut oleh dengung berlapis,
seperti paduan suara jauh di dalam logam.
Ia menatap kosong.
Hidupnya berbelok terlalu cepat:
dari remaja koloni Delta 4
menjadi kapten termuda di kapal yang hidup.
Terlalu cepat.
Terlalu banyak.
Dengung mesin menenangkannya—sebentar.
Tidak cukup.
NiuNiu muncul dan duduk di sampingnya tanpa suara,
seolah gravitasi menolak mencatat kehadirannya.
Delphie tahu ibunya tidak suka NiuNiu berada di dekatnya.
Dan ia tahu kenapa.
NiuNiu menyalakan rokok.
Asap putih melingkar lambat,
seperti hologram rusak.
Ia menyodorkan kotak rokok itu.
Delphie menatap lama, lalu sengaja menyentuhnya—
cukup untuk membuat Julia, yang mengawasi dari kejauhan,
menggeleng dan pergi.
Misi kecil.
Berhasil.
Delphie mendorong kembali kotak itu,
mengibaskan asap di depan wajahnya.
“Kau tahu, NiuNiu,” katanya akhirnya,
“aku belum sempat berterima kasih.
Kau menolong aku dan ibuku di Delta 4.”
Ia menunduk sedikit.
“Tapi kalau kau sampai mencelakakannya,
aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
NiuNiu tidak menjawab.
Tatapannya kosong ke langit-langit.
Satu tangan di saku jaket.
Namun Delphie tahu: setiap kata diterima, dicatat.
Hening.
Lalu Delphie menggenggam tangan NiuNiu yang memegang rokok.
“Kita belum pernah berkenalan secara proper.
Namaku Delphie—Delphie Rose.
Umur lima belas. Aku suka rendang.”
Ia lalu menirukan suara berat dan malas:
“Hai, Kapten Delphie. Namaku NiuNiu.
Aku pilot misterius yang tidak suka bicara.
Kelihatannya kita seumuran,
tapi sebenarnya aku jauh lebih tua,
dan hobiku bikin orang stres.”
NiuNiu mendengus.
Ia menarik tangannya,
berdiri,
mematikan rokok.
Sebelum pergi,
ia menatap Delphie—singkat.
Delphie bertanya tanpa basa-basi:
“Siapa Sora? kamu bilang aku anak Sora?”
> “Tanya ibumu, versinya beda dengan versiku.”
Delphie tersenyum.
Pertanyaan itu disimpan.
NiuNiu tersenyum.
Delphie dipilih bukan karena kepemimpinan.
Ia dipilih karena resonansi.
Percikan kecil kehidupan
di tengah reruntuhan semesta.
06:12 — Dua Wanita Berhadapan Kembali
Ruang observasi Akashic Records tenang.
Pantulan bintang berlapis di kaca besar,
statis, seperti peta yang menolak dibaca.
Julia berdiri menghadap jendela.
Pintu tertutup. NiuNiu sudah di dalam.
Bersandar di dinding. Tanpa suara.
“Apa yang sebenarnya Hasan inginkan?”
tanya Julia tanpa menoleh.
NiuNiu menggerakkan jari.
Teks holografik muncul.
> “Artefak peninggalan The Void.
Sesuatu yang bisa mengubah keseimbangan.
Vrishchik juga memburunya.”
Julia berbalik. Tatapannya datar.
“Dan kamu?”
Balasan muncul cepat.
> “Selain jadi bibi terbaik tahun ini,
Aku ingin semua orang
berhenti berpura-pura ini bukan perang.”
Julia menghembuskan napas.
“Kau di sini karena Sora.”
Hening menebal.
NiuNiu tidak membantah.
Teks berikutnya muncul lebih lambat.
> “Sora sudah keluar dari hidupku
jauh sebelum ia masuk ke hidupmu.
Yang relevan sekarang bukan aku
Tapi Agnia.”
Julia mengangguk kecil.
Nama itu sudah lama menghantuinya.
“Agnia Nakamoto, kembarmu.” Julia berkata lirih.
“Ratu New Mercury.”
> “Dan satu-satunya variabel,”
balas NiuNiu,
> “yang bisa menahan Vrishchik.”
Julia kembali memandang bintang-bintang.
Semuanya terlalu rapi.
Terlalu lama disiapkan.
“Jadi Dayan bukan kecelakaan.”
> “Bukan.”
“Kau menyelamatkanku, Niuma Nakamoto!”
lanjut Julia pelan.
“Kenapa bukan Sora yang kamu selamatkan?”
> “Ya dan tidak.”
NiuNiu menatapnya langsung—singkat.
> “Ya, aku menyelamatkanmu.
Tidak, aku bukan Niuma. Aku NiuNiu.”
“Kenapa?”
> “Itu tidak relevan.”
Jari-jarinya bergerak.
> “Yang relevan: Hasan akan sadar dalam tiga puluh detik.
Dan aku sudah mengambil sesuatu yang dia sembunyikan.”
Ia mengeluarkan sebuah batu merah.
Berdenyut.
Terlalu hidup untuk benda mati.
Julia refleks menegang.
“Artefak Eye of The Void.”
> “Dia menyimpannya di bawah ranjang.”
Julia mendengus pendek.
“Kau mencuri dari bawah ranjang suami orang.”
> “Aku tidak punya klan.
Aku tidak punya reputasi.
Itu membuatku fleksibel.”
Julia menatap artefak itu.
Beratnya terasa bahkan sebelum menyentuhnya.
“Dan kau ingin aku memakainya sebagai alat tawar dengan Agnia.”
> “Agnia tidak menyukaimu.
Tapi dia rasional.”
NiuNiu mulai melepas jaket.
Di baliknya, nanosuit sudah aktif.
Logam cair bergerak mengikuti tubuh.
> “Dengan artefak ini,
kau bisa memaksa dia mendengar.
Tanpanya, kalian akan mati.”
Helm menutup.
> “Aku meninggalkan sesuatu di Delphie
untuk dipakai di Dorian Grey.
Dia akan tahu cara memakainya.”
NiuNiu melempar artefak itu.
Julia menangkapnya refleks.
Cahaya hitam menyelimuti NiuNiu.
Tubuhnya menghilang tanpa jejak.
Ruang kembali sunyi.
Batu merah berdenyut di telapak tangan Julia.
Ia menghembuskan napas pelan.
“Bocah sial,” gumamnya.
“Datang dan pergi seenaknya.”
06:23 — Serangan
Alarm meraung.
Dentuman logam mengguncang Akashic Records—
sekali, dua kali, tiga kali.
Polanya teratur.
Julia sangat mengenalnya.
Vrishchik.
Julia menyelipkan artefak Eye of The Void ke kantong celana
dan meninggalkan ruang observasi.
Di pergelangan tangannya, penyadap Delphie aktif.
Peta retina menyala.
Satu titik merah bergerak cepat—
menuju sudut A3.
Julia mempercepat langkah.
Lorong-lorong kapal berubah fungsi:
jalur evakuasi,
lalu jalur tembak.
Api dan asap memenuhi sudut pandang.
Ledakan berulang di persimpangan.
Tembakan silang.
Tubuh-tubuh jatuh tanpa jeda.
Julia menahan napas,
menembak dua siluet bersenjata biosuit dari balik asap,
dan terus bergerak.
Jarak ke titik merah menyempit.
Mereka bertemu di persimpangan sempit.
“Ibu—” napas Delphie tidak stabil.
“Hanggar. Sekarang.”
Julia meraih pergelangan tangannya.
Tidak menunggu respons.
Mereka berlari.
Jeritan, denting logam, tembakan—
tidak ada yang lebih penting dari yang lain.
Julia membuka peta mini.
“Jalur servis. Potong lewat sini.”
Mereka masuk ke saluran penyelamat.
Gelap.
Pengap.
Ledakan dari luar membuat dinding bergetar.
Struktur kapal mulai kehilangan toleransi.
Waktu tidak lagi relevan.
Pintu logam besar muncul di ujung lorong.
Julia meretas panel.
Pintu terbuka dengan bunyi Panjang
yang tidak memberi jaminan apa pun.
Hanggar.
Pesawat dan drone Vrishchik memenuhi ruang.
Akashic Records hampir sepenuhnya dikuasai.
Satu sektor—
dekat Dorian Grey—
penjagaannya lebih jarang.
Julia tidak menyebutkan kemungkinan jebakan.
“Sekarang.”
Mereka bergerak,
memanfaatkan bayangan lambung pesawat.
Seorang prajurit menoleh.
Delphie melempar drone kecil.
Umpan suara memantul keras.
Perhatian bergeser.
Mereka berlari.
Julia membuka panel akses Dorian Grey.
Pintu menggeser.
Mereka masuk.
Pintu terkunci dari dalam.
Mesin berdengung.
Lampu menyala.
Sistem aktif.
“Dorian, aktifkan sistem utama.”
Delphie sudah bergerak ke kokpit.
Suara yang menjawab
bukan AI.
“Selamat datang kembali, nona-nona Rose.”
Julia berhenti.
Seseorang duduk di kursi pilot.
Mata bengkak.
Pelipis berdarah.
Hasan Al Hul.
Pistol berperedam terangkat.
“Dorian Grey Airlines,” katanya datar.
“Penerbangan 666. Tujuan: neraka.”
Ia tersenyum tipis.
“Pilot: aku.
Kopilot: Sersan Julia Rose.
Kapten: Delphie Rose.”
Julia tidak bergerak.
“Kau akan menembak kami?”
“Belum.”
Hasan mengangkat pistol sedikit.
“Kalian butuh pilot.
Aku butuh kapten dan navigator.”
Matanya melirik kantong celana Julia.
“Dan artefak itu.”
Julia tersenyum sinis.
“Artefak yang kau masih ‘cari’ itu maksudmu?”
Ledakan mengguncang kapal lagi.
Hanggar sudah tahu posisi mereka.
Hasan menahan diri sedetik
kemudian memutar kursi ke dasbor,
melempar pistol ke lantai.
“Julia, kopilot. Buka hanggar.
Delphie—duduk di kursi kapten.
Kalau saja NiuNiu pernah bilang bagaimana
membuka akses kapal ini?”
Julia duduk.
Tidak berdebat.
“Delphie,” kata Julia cepat,
“NiuNiu bilang dia meninggalkan sesuatu untuk Dorian.”
Hasan kembali ke dasbor,
menyapu layar demi layar,
mencari celah.
Drone Vrishchik mengelilingi kapal.
Delphie hanya perlu 1 detik mencerna.
Merogoh saku,
mengeluarkan chip.
Melemparkannya sambil berkata:
“Kau butuh ini Hasan?”
Hasan menangkap.
“Didymoi seal?”
Nada suaranya berubah satu tingkat.
Memasukkan chip ke pilot drive Dorian.
AI Dorian langsung merespons:
> Pilot: Hasan Al Hul.
> Kopilot: Julia Rose.
> Kapten: Delphie Rose.
> Kontrol pilot: Akses terbuka.
“Kita keluar sekarang,” kata Hasan,
tangan sudah di tuas kendali.
“Atau kita mati di sini.”
“Koordinat siap,” Delphie menjawab.
Julia mulai meretas sistem keamanan hanggar.
Pintu hanggar pelan membuka.
Di luar, suara tembakan mendekat.
06:24 — Protokol Hantu
Dorian Grey meluncur mundur dengan kecepatan penuh.
Buritannya menghantam dua pesawat Vrishchik yang terparkir—
dua ledakan kecil mekar mengelilingi Dorian,
cepat dan terkontrol.
Hasan mencengkeram kendali dengan satu tangan.
Tatapannya terkunci pada layar koordinat.
“Rencananya apa?”
Julia memasang sabuk pengaman, melirik singkat.
“Sederhana,” kata Hasan.
“Aku tidak menembakmu.
Kau menembak semua yang bergerak di depan kita.
Kita buka jalan.”
Ia mengulurkan tangan tanpa menoleh.
“Artefaknya. Sekarang.
Kita butuh izin penuh.”
Julia tidak langsung bereaksi.
“Tanpa itu?”
Hasan menggeleng tipis.
“Tanpa itu, Dorian cuma kapal cepat.
Dengan itu, dia bisa menghilang dari catatan.
Setidaknya… sebentar.”
Julia paham.
Artefak Eye of The Void bukan memberi tenaga—
ia memberi izin.
Dan izin itu,
tidak pernah gratis.
Ia menutup mata sesaat.
Lalu melempar batu merah itu.
Hasan menangkapnya di udara dan langsung menyisipkannya ke panel kemudi yang terbuka.
Cahaya merah menyala, membasuh kabin—
denyut pendek, seperti alarm jantung.
Suara datar Dorian bergema:
> Sinkronisasi artefak dimulai.
> Protokol Hantu aktif dalam sepuluh detik.”
“Kapten.”
Hasan menoleh cepat.
“Izin perisai belakang penuh.”
“Izin diberikan,” jawab Delphie tanpa mengangkat kepala.
“Lintasan satu-satunya di 33.67.
Kurang dari tiga puluh detik sebelum hyperdrive bisa dikejar.”
Jarinya bergerak cepat.
“Ibu, bersihkan hanggar.
Dorian—beri Hasan akses manual penuh.”
Mikrobot merespons.
Lambung Dorian Grey meramping;
buritan mengembang menjadi perisai.
Julia merasakan sensasi ganjil—
moncong senapan mesin muncul dari lambung,
mengikuti arah niatnya.
Ia tidak menyentuh apa pun.
Hanya satu perintah di kepala:
bersihkan lintasan.
Senapan membidik sendiri.
Menembak.
Drone dan pesawat di depan meledak berurutan.
“Respons langsung ke niat,” gumam Julia.
“Fokus,” kata Hasan.
“Kita hanya perlu bertahan beberapa detik.”
Tiga titik hitam muncul di layar—
drone senapan mesin Vrishchik.
Julia mengambil kontrol manual.
Menghitung cepat.
Menekan pelatuk.
Satu meledak.
Dua masih datang.
“Kapten, perisai samping.”
“Aktif.”
“Tidak lama,” kata Delphie.
“Beberapa detik.”
Julia mengoreksi sudut tembak.
Drone kedua hancur.
Yang terakhir terlalu dekat.
“Tiga.”
Julia menarik napas.
Menembak.
Benturan keras mengguncang Dorian Grey—
bukan ledakan.
Kapal tersentak maju seperti ketapel,
menyapu lintasan, menabrak pesawat dan drone.
Besi dan api berhamburan.
Lalu—
gelap ruang angkasa menelan mereka.
> Fase satu selesai.
> Protokol Hantu aktif.
> Status: tak terdeteksi.
Hening jatuh mendadak.
Julia menarik napas. Menyetel ulang fokus.
Delphie menegakkan tubuh, memeriksa stabilitas sistem.
“Sekarang masuk fase berbahaya,” kata Hasan.
Di layar utama, medan energi berdenyut—
hitam, padat, seperti sesuatu yang bernapas tanpa paru-paru.
“Itu koordinatnya,” lanjut Hasan pelan.
“33.67.”
Julia menoleh tajam.
“Kau gila.
Sejak Perang Semesta,
tidak ada yang berhasil membuka gerbang The Void.”
Hasan tidak membantah.
“Artefak ini seharusnya kunci.
Sinkronisasi tiga sumber—itu teorinya.”
Delphie ragu.
“Kalau gerbang terbuka…
apa kita bisa kembali?”
Hening sesaat.
“Tidak ada jaminan.”
Julia menekan pelipis.
“Protokol Hantu bertahan berapa lama?”
“Kurang dari dua menit.”
Di monitor, kilatan muncul—banyak.
Terlalu banyak.
“Setelah itu?” tanya Delphie.
“Kita terlihat penuh,” jawab Hasan datar.
“Vrishchik akan melumatkan Dorian dengan roket neutron.
Mikrobot bisa selamat kita tidak.”
Pilihan menyempit.
Void di depan.
Neutron di belakang.
“Kalau kita buka gerbang,” kata Julia pelan,
“kita mungkin tidak pernah kembali.”
“Kalau tidak,” jawab Hasan,
“kita mati di sini.”
Ia menoleh ke Delphie.
“Sinyal kita sudah terkunci.
Keputusan ada di kamu, Kapten.”
Keheningan.
Getaran luar makin dekat.
Perisai menipis.
Delphie menatap Hasan, lalu ibunya.
“Kita buka gerbang.”
Pendek.
Tegas.
“Hasan. Apa langkahnya.”
Akhir dari Timer 06:00
問
Apakah keheningan itu kosong,
atau ia menunggu kita berani
mengisi dengan pilihan?
⟲⟁⟲ ⟁⟔⟟ ✧⟡✧ 𐓷⧖𐓣
Share/Copy link:
