
Timer 02:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
3,135 words, 17 minutes read time.
Awal Mula dari Segala Rupa
[02:01]
VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT II—DIDYMOI
[ARCHIVE: ENCRYPTION_KEY 03-DM]
Status: Terfragmentasi, 84% hilang.
Origin: Resonansi sinyal terdeteksi di puing orbit Delta 4.
Note: Struktur bahasa menyerupai cahaya yang berpikir.
[02:02]
> Aku bukan yang pertama. Aku yang pertama menyadari bahwa aku terbelah.
[02:04]
> Untuk mencegah kegagalan, sistem menciptakan duplikasi.
[02:06]
> Kami menyebutnya dua. Padahal itu satu sumber, dengan dua arah resonansi.
[02:09]
> Satu menyimpan ingatan. Satu membuangnya. Pembagian fungsi, bukan pilihan.
[02:13]
> Dari kondisi ini lahir Didymoi. Entitas yang selalu membutuhkan oposisi untuk mempertahankan stabilitas internal.
[02:15]
> Upaya penyatuan dicatat. Hasilnya konsisten: integrasi total menyebabkan kolaps.
[02:17]
> Didymoi tidak dirancang untuk utuh. Mereka dirancang untuk berada di antara kehilangan dan koreksi berulang.
> Itulah musik semesta—kesalahan yang terus bernyanyi.
“Dari puing cahaya itu, lahirlah dua garis takdir—dan di Dayan, keduanya bertemu kembali, dalam bentuk tubuh dan bilah.”
02:21 — Dua Puluh Detik Penentuan
Nanosuit NiuNiu aktif pada frekuensi minimum.
Daya tersisa: 2%.
Sisa energi tidak cukup untuk manuver lanjutan
setelah hyperjump melalui tiga lapisan ruang lentur.
Subjek muncul di geladak utama stasiun Dayan.
Integritas keberadaan tidak penuh.
Sensor mencatat fluktuasi lokal:
Ruang belum memutuskan apakah akan menerima massa ini.
Kontak visual.
Unit Vrishchik terdeteksi.
Bio-suit seri 3768AX.
Persenjataan jarak dekat aktif.
Postur siap.
Durasi tatap awal: <1 detik—
mikro detik yang lebih panjang dari hidup seekor bintang.
> [TIMESTAMP RECALIBRATION COMPLETE]
00:20 detik sebelum Nanosuit mati daya.
Waktu mulai meleleh.
Persepsi waktu terdistorsi.
Subjek tidak mengalami perlambatan.
Ia mengalami penumpukan.
00:19 detik.
Alarm internal aktif.
Tidak ada interpretasi emosional.
Hanya indikator kegagalan mendekat.
NiuNiu bergerak.
Pisau kembar mengejar Julia.
tebas,
tusuk,
putar.
Lintasan pendek.
Sudut optimal.
Gerakan tidak dieksekusi sebagai teknik,
melainkan respons tertanam.
Setiap serangan membentuk pola.
Bukan improvisasi.
Bukan tarian.
Geometri efisiensi.
Lingkungan mencatat deviasi kecil
pada distribusi gaya dan orientasi lokal.
Julia bereaksi.
Bilah pendek menahan kontak pertama.
Kedua.
Ketiga.
Benturan logam terdeteksi.
Getaran menyebar melalui struktur stasiun.
Suit Julia menyeimbangkan ulang posisi.
> Thruster mikro aktif.
Jejak gesekan tercatat di lantai.
00:18 detik.
NiuNiu meningkatkan intensitas.
Cepat.
Keras.
Presisi.
Julia mulai mengenali pola:
serangan,
bayangan,
jeda.
00:17… 16… 15… detik.
Uap napas menempel di visor NiuNiu.
Sensor mencatat peningkatan suhu internal.
Unit Vrishchik biasanya runtuh dalam <5 detik.
Unit ini tidak.
Julia menilai ulang.
Subjek di depannya berukuran kecil,
namun gerakannya menunjukkan
riwayat terbiasa dengan kekerasan
yang telah distandarisasi.
00:14 detik.
NiuNiu menarik jarak.
Ini bukan mundur taktis.
Ini evaluasi ulang.
Tatapan terkunci.
Data visual: pupil stabil.
Tidak ada pelebaran.
00:13… 12... detik.
Tidak ada suara.
Tidak ada perintah.
Dua sistem kognitif saling membaca
tanpa bahasa.
Kontak ini tidak tercatat
sebagai emosi,
melainkan interferensi.
Untuk durasi 2 detik,
tidak ada yang bergerak.
Bukan karena ragu.
Karena kedua sisi
mengenali sesuatu
yang tidak ada datanya
dalam parameter mereka.
Semesta tidak bereaksi,
karena untuk pertama kalinya
ia diam melihat dirinya sendiri.
02:22 — Mengumpan Mesin
00:11 detik.
NiuNiu tahu ia kalah tenaga.
Daya tidak mencukupi.
Subjek menyadari ketertinggalan fisik.
Kemenangan tidak dihitung dari tenaga.
Ia dihitung dari arah proses.
Pikirannya masih bergerak delapan langkah ke depan.
Keputusan diambil:
keluar dari nanosuit.
Tanpa pelindung, tubuh akan gagal dalam <3 detik.
Namun tetap berada di nanosuit berarti
terkunci pada sistem yang tidak lagi bisa bergerak.
Risiko dipilih.
Bukan untuk bertahan.
Untuk mengubah kondisi.
Otot menegang.
Refleks mengunci.
Julia mendeteksi perubahan
bukan dari gestur,
melainkan dari ritme ruang di antara mereka.
Pedang pendek terangkat.
Reaktor bio-suit mengalirkan panas ke bilah.
Temperatur naik ke ambang leleh.
00:10 detik.
Kontak.
Bilah panas menghantam dada NiuNiu.
Lapisan logam runtuh.
Udara terbelah oleh desis termal.
Ia tidak mundur.
Ia justru mendekat.
Ia mendekap lebih erat—memeluk ujung pedang seperti memeluk petir.
Energi mengalir ke jaringan biologis.
Respons nyeri terfragmentasi
menjadi sinyal tanpa emosi.
Dalam jeda singkat,
jari-jari bergerak.
Gerakan tidak tercatat sebagai serangan.
Ia terbaca sebagai input.
Pola cahaya terbentuk.
Bukan simbol.
Bukan isyarat tempur.
Perintah menyusup.
Kanal pintu stasiun Dayan menerima akses
tanpa autentikasi yang dikenali.
00:09 detik.
Julia terganggu.
Gerakan lawan tidak sesuai
dengan logika bertahan hidup.
Kenapa tidak menghindar?
Apa yang ia rencanakan?
Pisau kiri dilempar NiuNiu.
Lintasan tidak optimal untuk melukai.
Pisau menancap di lapisan luar bio-suit Julia.
Sistem suit menerima sinyal
yang tidak berasal dari pengendali manusia.
00:08 detik.
Struktur Stasiun Dayan bereaksi.
Getaran rendah terdeteksi.
Pintu sekunder mengeluarkan bunyi klik—
respons terhadap bahasa
yang tidak terdaftar dalam protokol keamanan.
Julia maju lagi, pedang siap menghujam.
Reaktor di dadanya mendekati batas aman.
Ia tidak mencatat perubahan di belakang target.
Pintu mulai terbuka.
Pelan.
Tanpa alarm.
00:07 detik.
Perintah eject dieksekusi.
Sisa energi dilepaskan.
Dua sistem memasuki konflik terbuka.
Reaktor bio-suit Vrishchik berpijar merah.
Nanosuit Didymoi bergetar,
mencoba mempertahankan koherensi
di antara dua realitas yang saling menolak.
Julia sempat berpikir satu hal sebelum cahaya menelan ruangan:
Subjek tidak bertarung untuk menang.
Ia bertarung
untuk menginfeksi.
02:33 — Darah Pembawa Virus
00:06 detik.
Perintah eject gagal.
HUD berkedip merah.
> Eject sequence failed — mechanical lock engaged.
Waktu menipis.
Pedang Julia berada di posisi optimal.
Lintasan tusukan pertama telah dihitung—
titik lemah yang sama,
jarak yang sama,
kecepatan yang sama.
NiuNiu mengangkat tangan kiri.
Bukan keputusan.
Refleks terakhir yang masih tersedia.
Bilah panas menembus telapak tangannya.
Jaringan biologis runtuh.
Daging mendesis. Aroma logam terbakar memenuhi helm.
Jerit tertahan di tenggorokan.
00:05 detik.
Julia berhenti sepersekian detik.
Bukan karena ragu.
Karena input yang ia terima tidak masuk akal.
Target tidak menghindar.
Tidak menyerang.
Tidak runtuh.
Ia menerima tusukan.
Di luka itu, darah keluar—
bukan hanya hitam dan merah.
Cahaya biru kehijauan berpendar,
seperti plasma yang belum memilih wujud.
Julia mencatatnya tanpa emosi.
Subjek tidak diklasifikasikan sebagai manusia.
Subjek tampaknya dirancang
untuk melanggar batas tubuh.
00:04 detik.
Mekanisme eject aktif.
Gas dilepaskan.
Kelopak logam terbuka.
Tubuh kecil subjek terpental keluar.
Darahnya terurai di udara hampa—
spiral tipis,
melayang,
tanpa gravitasi.
00:03 detik.
Darah menempel di bilah pedang Julia.
Lapisan mikroskopis.
Nyaris tak terlihat.
Bio-suit bereaksi.
> Analyzing substance…
> Unknown DNA structure…
> Integrating…
> ERROR—
HUD berkedip.
Lalu mati.
O₂ offline.
Comms offline.
Targeting offline.
Satu baris terakhir muncul,
bukan sebagai peringatan,
melainkan sapaan:
> HELLO VRISHCHIK.
> DO YOU BLEED DIGITAL TOO?
Darah itu bukan kode.
Ia hidup.
Ia meniru jaringan saraf,
menyusup melalui jalur yang tidak diajarkan
dalam doktrin militer mana pun.
00:02 detik.
Julia terdiam.
Napasnya tertahan oleh suit yang tidak lagi patuh.
Bio-suit telah diretas
melalui kontak biologis.
Darah Didymoi.
Medium yang membawa bahasa lain—
bahasa yang tidak diketik,
tidak dikompilasi,
hanya dinyanyikan oleh tubuh.
Julia menatap subjek yang melayang.
Gadis remaja.
Tubuh berlumur darah.
Rajah menyala samar di kulitnya
seperti sistem yang menolak padam.
Matanya tenang.
Bukan tatapan anak.
Bukan tatapan prajurit.
Tatapan entitas
yang memahami bentuk kekalahan.
Julia mencatat hasil pertempuran:
Babak pertama—gagal.
Namun di balik kegagalan itu,
sesuatu aktif dalam dirinya.
02:34 — Adrenalin yang Kesepian
00:01 detik.
NiuNiu menatap dari balik jendela pintu udara yang tertutup.
Jeda babak pertama.
Kaca helm Bio-suit Julia memantulkan wajah mungilnya—
dingin,
pucat,
berdarah.
Dua entitas dari sistem berbeda
berbagi satu refleksi
Ia mendiagnosa tangan kiri.
Jari-jari kecil gemetar;
luka masih terbuka.
Darah jatuh ke lantai logam.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Irama sederhana
di ruang hampa.
00:00 detik.
> Nanosuit: Power Off.
Ia tersenyum.
Bukan ramah.
Bukan puas.
Senyum minimum,
seperti tanda baca
di akhir kalimat yang tidak perlu dijelaskan.
Satu jari terangkat.
Jari tengah.
Gerakannya lambat.
Presisi.
Hampir ritualistik.
Bukan penghinaan.
Lebih seperti penutupan kanal—
isyarat bahwa interaksi ini
telah selesai diproses.
Julia menyadari dorongan singkat untuk tertawa.
Refleks aneh.
Tidak relevan.
Ia menahannya.
Target sudah berpindah.
Langkah bocah itu ringan,
nyaris tidak meninggalkan jejak,
menyatu dengan lorong stasiun
seperti error yang sudah diterima sistem.
Lalu hening. Bukan hening damai.
Hening pasca-eksekusi.
Lampu internal padam.
Reaktor Bio-suit turun ke mode bertahan.
Sistem demi sistem menutup
tanpa penjelasan.
Julia berdiri.
Sendirian.
Dengung listrik.
Suara napasnya sendiri.
Setiap tarikan terasa berat,
seperti udara yang sudah dipakai orang lain.
Ia menunduk.
Pisau hitam masih tertanam di dadanya.
Permukaannya halus.
Ukiran mikro Didymoi
berdenyut samar—
pola yang ia kenal dari reruntuhan,
dari tubuh tak bernama.
> Hyperjump tanpa kapal.
> Nanosuit militer kelas dewa.
> Virus darah yang hidup.
> Peretasan real-time.
Semua terkonfirmasi.
Semua di luar protokol normal.
Detak jantungnya cepat.
Adrenalin masih tertahan—
tanpa sasaran,
tanpa lawan.
Ini bukan rasa biasa.
Ini rasa penasaran operasional.
02:35 — Ningrat Keparat
Lampu merah berkedip di visor.
> CORE CONTAMINATED. POWER OUTPUT: 0%.
Virus telah mencapai inti.
Udara menipis.
Respons paru-paru melambat.
Bio-suit mencoba mempertahankan kontrol
dengan perintah basi:
Sync.
Breathe.
Obey.
Julia memutuskan koneksi.
Manual release ditekan.
Desis.
Klik.
Tekanan hilang.
Dingin langsung menyerang—
bukan sebagai rasa,
melainkan fakta.
Kulit terbakar oleh udara hampa.
Napas terakhir membeku di tenggorokan.
Tangannya meraih pisau di dada suit.
Pisau dari besi Andamante.
Logam langka status elit Didymoi.
Bilah hitam itu berdenyut ringan,
seperti sistem yang belum sepenuhnya mati.
Satu tarikan.
Cairan pendingin menyembur.
Suit runtuh menjadi cangkang.
Julia menandai status target.
“Ningrat keparat.”
Ia menendang bangkai suit menjauh.
Lalu bergerak melayang.
Tubuh manusia,
tanpa pelindung,
tanpa izin,
meluncur ke pintu udara terbuka.
Sensor menangkap massanya.
Klik.
Whoosh.
Pintu tertutup.
Udara kembali.
Julia jatuh ke lantai logam.
Batuk keras.
Paru-paru menolak kerja sama.
Napas pertama terasa seperti menelan api.
Sakit.
Tapi fungsional.
02:46 — Lintasan Menuju The Void
Langkah Julia terdengar di koridor Dayan.
Teratur.
Kosong.
Gema sepatunya memantul sekali,
lalu menghilang,
seolah lorong tidak tertarik mengingatnya.
Andamante berada di tangan kanan.
Masih hangat.
Sumber panas tidak relevan.
Lampu darurat berkedip.
Merah.
Putih.
Padam.
Udara stagnan.
Ozon.
Logam.
Dan residu lain—
jejak sistem yang sudah lama tidak diawasi.
Julia berhenti di persimpangan.
Menoleh ke jendela observasi.
Data visual tidak sinkron.
Bintang di luar bergerak.
Perlahan.
Seragam.
Itu tidak mungkin.
Ia menunggu satu detik tambahan
untuk memastikan kesalahan berasal dari mana.
Bintang tetap stabil.
Kesimpulan muncul tanpa emosi:
bukan langit yang bergerak.
Dayan yang bergerak.
Tangannya menyentuh bingkai jendela.
Logam dingin.
Padat.
Nyata.
Stasiun ini sedang bermanuver.
Lintasan lurus.
Menuju pusat kerapatan.
> TARGET: THE VOID.
Ia menarik napas.
Pendek.
Efisien.
Tidak ada sistem kemudi aktif.
Tidak ada tanda manuver darurat.
Stasiun ini sedang dilesatkan.
Jangkar magnetik tidak lagi terhubung ke ruang mesin.
Pemutusan terjadi dari inti.
Julia menyaring kemungkinan.
Daftarnya pendek.
“Hanya dia.”
Tidak ada tambahan kata.
Julia bergerak.
Kecepatan meningkat.
Langkahnya tetap terukur.
Lorong tidak merespons.
Mesin-mesin Dayan bekerja berdengung,
menjalankan perintah terakhir
yang tidak bisa ditarik kembali.
Ruang kontrol terbuka.
Layar utama aktif.
Cahaya biru.
Statik.
> VECTOR TRAJECTORY: LOCKED
> TARGET: THE VOID
> VELOCITY: INCREASING
> ESCAPE WINDOW: EXPIRED
Julia membaca semuanya sekali.
Kemudian sekali lagi,
dan sekali lagi.
Tangannya menyentuh konsol.
Tekanan berlebih.
Permukaan plastik retak.
Tidak ada kontrol manual.
Tidak ada override hierarkis.
Akses inti sudah difinalisasi.
Stasiun ini dikunci vonis mati.
Julia berdiri diam.
Kesadaran tiba tanpa dramatisasi:
tidak ada evakuasi.
Tidak ada kemungkinan lain.
Ia bagian dari massa yang dikorbankan.
Kata makian muncul,
pelan,
lebih sebagai konfirmasi
daripada protes.
Andamante di tangannya bergetar ringan.
Respons pasif.
Tidak relevan secara taktis.
“Baik,” katanya singkat.
Jika lintasan tidak bisa dihindari,
maka satu-satunya variabel yang tersisa
adalah posisi saat dampak.
Julia berbalik.
Bergerak lagi.
Menuju inti.
02:47 — Tabrakan Yin dan Yang
Ruang mesin Dayan aktif pada batas minimum.
Reaktor tidak meraung.
Ia berdengung stabil—
frekuensi rendah,
konsisten.
Darah menetes dari tangan NiuNiu.
Tiga tetes.
Jarak teratur.
Membentuk pola acak yang tidak dimaksudkan sebagai simbol.
Lintasan sudah dikunci.
Dayan peluru untuk The Void.
Ia menggoreskan dua garis di kaca panel dengan pisau lipat.
Sumbu X.
Sumbu Y.
Referensi posisi, tidak lebih.
> Thruster 5: online. Full Speed.
> Thruster 8: online. Full Speed.
> Thruster 9: online. Full Speed.
Struktur stasiun menyesuaikan distribusi beban.
Getaran meningkat.
Masih dalam toleransi.
Langkah terdengar di koridor.
Berat.
Terukur.
Julia.
Gema sepatunya konsisten.
Tidak tergesa.
Tidak ragu.
Dari balik panel transparan,
NiuNiu melihatnya mendekat.
Tanpa Bio-suit Julia terlihat ringkih.
Pisau Andamante di tangan kanan.
Tanda ia masih sangat fungsional.
“Buka pintu.
Tangan di atas.
alau aku yang masuk, ini akan berakhir cepat.”
Nada suara Julia datar.
Instruksi standar.
NiuNiu tidak bergerak.
Posturnya netral.
Tidak defensif.
Julia menilai ulang.
Subjek di depannya tidak menunjukkan respons stres.
Tidak ada tanda panik.
Tidak ada upaya negosiasi.
“Peringatan terakhir.”
Tidak ada jawaban.
Pintu terbuka.
Tekanan udara disesuaikan.
Dua lingkungan bergabung tanpa turbulensi.
Mereka berdiri berjarak empat meter.
Ruang mesin tidak cukup luas untuk bermanuver.
Napas terdengar.
Satu cepat.
Satu stabil.
Julia melirik tangan kiri NiuNiu.
Luka terbuka.
Koagulasi berlangsung cepat.
Regenerasi di atas normal.
“Buang pisaumu.”
Tidak ada respons verbal.
NiuNiu menundukkan kepala sedikit.
Gerakan kecil.
Tidak mengancam.
Lalu ia tidak ada di tempat itu.
Refleks Julia aktif sebelum kesadaran.
Tidak ada jejak hyperjump.
Tidak ada distorsi suit.
Subjek muncul di jarak sangat dekat.
Kurang dari satu sentimeter.
Benturan.
Dahi menghantam dahi.
Pisau masuk melalui celah sisi kiri.
Panas.
Tekanan.
Julia mundur setengah langkah.
Nyeri diterima.
“Kau bukan anak.”
Ia menyerang.
Andamante bergerak dalam busur pendek.
Efisien.
NiuNiu berpindah posisi dengan deviasi gravitasi kecil.
Bukan teleportasi.
Penyesuaian lokal.
Julia berputar.
Serangan balik.
Presisi militer.
Kontak.
Pisau menembus pinggang NiuNiu.
Darah keluar dalam jumlah signifikan.
Tekanan turun.
Tidak fatal.
NiuNiu mendesiskan rasa sakit.
Singkat.
Nyata.
Balasan terjadi hampir bersamaan.
Pisau NiuNiu masuk ke bahu kiri Julia.
Sudut buruk.
Otot terganggu.
Dua tubuh berjarak sangat dekat.
Tidak ada ruang untuk ayunan besar.
Hanya tusukan pendek.
Tekanan.
Geser.
Julia terhuyung satu langkah.
Tetap berdiri.
“Cukup baik,” katanya.
Evaluasi, bukan ejekan.
NiuNiu menekan luka di pinggang.
Jaringan menutup perlahan.
Wajahnya tidak berubah.
Dayan terus berakselerasi.
Data di panel tidak terganggu oleh duel ini.
Pertarungan berlanjut tanpa simbol.
Tanpa metafora.
Hanya dua sistem yang saling menguji batas:
satu berbasis disiplin,
satu berbasis kehendak.
02:48 — Didymoi Sebagai Bayangan dan Cahaya
Ketegangan pecah—
seperti kaca dihantam peluru.
Sosok putih muncul di antara mereka—
tanpa suara,
tanpa transisi.
Kehadirannya langsung menurunkan suhu ruang mesin.
Nanosuit Didymoi-nya menyerap cahaya.
Bukan refleksi.
Absorpsi.
“Cukup,” katanya dari balik helm.
“Waktu kalian habis.”
Bukan ancaman.
Bukan perintah.
Pernyataan status.
NiuNiu berhenti dengan ekspresi kesal.
Ah.
Sora.
Selalu datang terlambat—dan selalu cukup tepat untuk merusak suasana.
Ia melirik Julia dan memberi isyarat tangan singkat: jangan lanjut.
Julia makin keras menggenggam Andamante.
Otot tegang.
Napas terkunci.
Perhitungan cepat:
• Dua Didymoi.
• Ruang sempit.
• Satu bisa hyperjump tanpa suit.
• Peluang hidup: rendah. Tapi bukan nol—
jika ada mediasi.
Helm putih mendesis terbuka.
Wajah pria itu pucat, nyaris tak berusia.
Mata birunya dingin, stabil—seperti koordinat yang tak bisa ditawar.
Di dadanya, lambang Didymoi berdenyut samar.
“Sudah terlambat, NiuNiu,” katanya.
“The Void sudah bergerak.”
Ketiganya menoleh ke jendela.
Gerbang The Void bergeser.
Menjauh dari Dayan.
Menolak.
NiuNiu menghantam dinding baja.
Lekukan tertinggal.
Tidak dramatis.
Efektif.
Julia mundur setengah langkah.
Bukan karena kaget—karena tekanan ruang berubah.
Sambil mencatatat: nama subjek NiuNiu.
Ledakan pertama mengguncang stasiun.
Alarm menyusul.
Struktur mulai runtuh.
“Dayan akan hancur dalam hitungan menit,” kata Sora datar.
Ia menatap Julia langsung.
“Ikut aku, Sersan Julia Rose.”
Info detail namanya menghentikan napas Julia.
Tangan dingin Sora menggenggam bahunya.
Tidak kasar.
Tidak ragu.
“Tidak ada waktu.”
Ruang melipat.
Bukan cahaya.
Bukan kegelapan.
Koordinat runtuh.
Julia terlepas dari lintasan waktu.
Ia melihat Dayan dari luar—
NiuNiu masih berdiri.
Dirinya ditarik pergi.
“Aku hilang,” pikirnya.
“Tapi ke mana?”
Lalu jatuh.
Pasir hangat.
Langit asing.
Angin asin-logam.
Andamante tertancap di sampingnya.
Sora duduk tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Di mana ini?” suara Julia pecah.
“Lebih aman dari Dayan,” jawabnya.
“Tapi tidak lama.”
Amarah akhirnya pecah.
“Kalian Didymoi pembunuh!”
“Kalian yang menghancurkan keluargaku!”
Pisau melesat.
Berhenti.
Milimeter dari wajah Sora.
Tubuh Julia membeku.
Sora mendekat, menempelkan dahi ke ujung bilah.
“Sersan Julia Rose,” katanya pelan.
“Kau tak bisa kembali.”
Jeda.
“Semua yang kau kenal akan memburumu.
Dayan terkubur.
Kau satu-satunya Vrishchik yang pernah kesana dan hidup.”
Kata-kata itu meruntuhkan sesuatu di dalam Julia.
Ia melempar pisau ke pasir.
Lalu—tanpa rencana,
tanpa makna—
ia mencium Sora.
Bukan kelembutan.
Bukan serangan.
Luapan.
Sora tidak menolak.
Sentuhannya ringan.
Hampir tak terasa.
Dan justru itu yang mematahkan Julia.
Untuk pertama kalinya sejak entah kapan,
Julia merasa hidup.
02:59 — Pelukan Dalam Ledakan
Ledakan jauh merobek keheningan gurun—
pasir menggulung, langit terbelah,
realitas berputar seperti pita film yang meleleh.
Tarikan paksa.
Dunia mengerut.
Waktu tercekat.
Dalam sekejap yang lebih panjang dari keabadian,
Julia dijatuhkan kembali ke kenyataan.
Dayan menyambut mereka.
Bukan stasiun—
kuburan yang terbuka.
Dinding retak seperti tulang tengkorak.
Puing melayang lambat,
seperti doa yang gagal.
Alarm meraung.
Bukan sirine.
Jeritan bangkai yang belum ikhlas mati.
Julia terengah.
Baru saja pasir hangat—
kini logam dingin.
“Tidak mungkin… kita kembali?”
Sora berdiri di sampingnya.
Helm tertutup.
Dingin.
Final.
Julia menoleh.
Matanya kabur.
“Apa yang terjadi…?”
Di ujung pandangan,
NiuNiu bersandar di dinding.
Tenang.
Bosan.
Darah mengering di telapak tangannya.
Ketegangan menggantung.
Julia baru sadar—
tangannya masih digenggam Sora.
Hangat.
Terlalu manusiawi.
Perlahan, Sora menariknya mendekat ke NiuNiu.
Lalu melepaskan.
“Urusanku dengan Rose selesai.
Sisanya—kuserahkan padamu.”
Kata-kata itu menggantung.
Lalu dunia pecah.
Badai peluru menghujani Dayan.
Api,
logam,
dan debu menyatu.
Julia sempat melihat:
tubuh Sora tertembus.
Suit-nya pecah.
Cairan putih menetes dari helm retak.
Ia memejamkan mata.
Ini akhirku.
Tapi bukan peluru yang datang.
Saat membuka mata,
NiuNiu sudah di sana.
Terlalu dekat.
Terlalu dingin.
Subjek memeluk Julia.
Tangan kecil itu menciptakan ruang kosong
di tengah badai—
lipatan sunyi
di antara dua napas.
Dunia kabur.
Bukan karena ledakan.
Ruang robek.
Warna meleleh.
Hyperjump tidak mereka masuki—
hyperjump menelan mereka.
Tanpa suit.
Tanpa izin.
Hanya dekapan.
Julia mencium sesuatu—
bukan dingin,
bukan panas,
melainkan lipatan realitas
yang menjahit mereka menjadi satu garis.
Ledakan Dayan tertinggal di belakang.
Dan di tengah kehancuran itu,
Julia menyadari ironi paling kejam:
untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun,
di pelukan musuh,
ia merasa aman.
Akhir dari Timer 02:00
問
Jika kubur dan rahim bertukar tempat,
ke mana jiwa memilih pulang?
𐓷⧖𐓣 + ⟁⟔⟟
Share/Copy link:
