
Timer — 04:00 Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
2,646 words, 14 minutes read time.
Dorian Grey
[04:01]
[ARCHIVE//SHIP_LOG:DORIAN_GREY//STATUS: SEMI-CONSCIOUS]
When machines begin to dream, humanity remembers how to breathe.
SYSTEM RESONANCE: ACTIVE
EMOTIONAL CORES: UNSTABLE
> Recovered fragment from Didymoi Black Archive, Log #44
[04:04]
> Lima tahun setelah Dayan terbakar oleh ledakan neutron, kapal Dorian Grey masih berlayar di antara lintasan gelap antara orbit Zygos dan Hydrochoos.
[04:06]
> Ia tidak pernah benar-benar kembali ke pelabuhan mana pun.
Sebagian menyebutnya kapal tanpa nakhoda. Sebagian lagi percaya, ia menolak berlabuh karena masih menunggu sesuatu yang belum kembali dari cahaya.
“Di antara miliaran mikrobot yang membentuk tubuhnya,”
tulis seorang teknisi Didymoi,
“masih ada gema dua jiwa yang tidak pernah berhenti berbicara.”
04:11 — Checkpoint yang Semakin Padat
Kapten Pippa mengisap cangklong cerutunya.
Tarikan stabil. Durasi konsisten.
Bukan kebiasaan—melainkan metode.
Asap keluar dari sudut bibirnya,
terurai tipis,
lalu hilang ke sistem ventilasi kokpit.
Tangan kiri bergerak ke jenggotnya.
Gerakan berulang;
gerakan khas yang selalu muncul
ketika ia sedang menghitung risiko.
Dan saat ini, risikonya tinggi.
“Terlalu banyak titik pemeriksaan,”
gumamnya pelan—
tidak jelas kepada siapa,
dirinya sendiri atau kepada Dorian Grey.
“Delta 4 dulu wilayah netral Zygos.
Sekarang? Banyak aktivitas Vrishchik—
praktis mereka menguasai seluruh ruang udaranya.”
Layar taktis memproyeksikan peta holografik.
Wilayah Delta 4.
Titik merah bermunculan.
Pos pemeriksaan Vrishchik.
Tujuh unit, satu minggu lalu.
Dua puluh tiga unit, saat ini.
Tidak ada pengumuman resmi.
Tidak diperlukan.
Konsolidasi kekuasaan sedang berlangsung.
Implikasi jelas:
operasi abu-abu menjadi tidak efisien.
Penyelundupan.
Perantara informasi.
Evakuasi target tak terdaftar.
Tingkat kegagalan meningkat.
Satu-satunya alasan
ia belum tertangkap hanyalah karena satu hal:
kapal yang ia tumpangi.
Dorian Grey.
Pippa menatap dinding kokpit.
Atau lebih tepatnya—struktur mikrobot yang membentuknya.
Permukaan itu bergerak halus,
menyesuaikan tekanan, suhu,
tegangan eksternal dan ancaman.
Adaptasi berkelanjutan.
Tanpa jeda.
Dorian Grey bukan kendaraan.
Ia adalah sistem hidup.
Koloni miliaran mikrobot,
masing-masing dengan otonomi terbatas,
terhubung dalam satu kesadaran kolektif.
Kecerdasan emergen.
Sulit diklasifikasikan.
Kadang Pippa bertanya-tanya,
apakah Dorian adalah alat yang ia gunakan…
atau makhluk yang dengan sabar menoleransi kehadirannya.
> Titik jemput sudah terdeteksi, Kapten Pippa.
Suara Dorian muncul tanpa sumber arah.
Tidak dipancarkan.
Tidak diproyeksikan.
Udara sendiri bertindak sebagai medium.
Pippa menarik napas dalam.
“Ini tidak akan mudah, Dorian.
Arahkan kita ke titik jemput.
Pastikan senjata dan perisai dalam kondisi penuh.”
> Persenjataan 100%.
> Perisai 97%—kau lupa,
> kau belum membayar peningkatan sistem terakhir.”
Pippa mengangkat alis.
“Kau kapal paling menyebalkan selama aku jadi kapten.”
> Aku tidak menyebalkan, Kapten.
> Aku jujur.
> Dan jujur saja,
> kau masih berutang pada dealer suku cadang di Sektor 9.”
“Fokus ke misi, Dorian.”
> Selalu, Kapten.
04:12 — Transformasi yang Narsis
Pippa menekan tombol di sandaran kursinya.
Kursi komando merespons.
Permukaan kulit sintetis—
retak di beberapa titik—
menyerap tekanan tanpa suara.
Jejak penggunaan jangka panjang tercatat, tidak relevan.
Respons sistem: instan.
Tubuh Dorian Grey memasuki fase perubahan.
Bukan transformasi mekanik.
Tidak ada engsel,
tidak ada panel yang dibuka secara manual.
Yang terjadi adalah redistribusi.
Miliaran mikrobot bergerak serempak.
Posisi ditinggalkan.
Struktur lama dibongkar.
Struktur baru dibangun di tempat yang sama.
Konfigurasi jelajah dinonaktifkan.
Parameter efisiensi digeser.
Prioritas berubah.
Mode tempur.
> ~init( morph_sequence )
> scan MODE.request:
> if request == "combat":
> allocate SWARM.microbots -> hull.restructure
> unfold WEAPON.ports
> extend WING.arrays
> awaken SENSOR.lattice
> optimize ARMOR.surfaces:
> layer.microscales = adaptive
> reflectance.energy = dynamic
> absorption.shock = distributed
> echo "morph status: EVOLUTION ACTIVE"
> if (crew.heartbeat synced):
> enhance RESPONSE.time x1.7
> echo "pilot-link: PIPPA ∴ VERIFIED"
> ~end( morph_sequence )
Hasilnya segera terlihat.
Profil kapal berubah.
Volume bertambah.
Permukaan menjadi berlapis.
Sisik logam mikro bergerak independen—
bukan untuk estetika,
melainkan untuk menyerap daya,
mendistribusikan energi,
dan memantulkan dampak serangan.
Dari kokpit—yang bukan kaca,
melainkan matriks mikrobot transparan—
Pippa mengamati tanpa komentar.
Sayap memanjang sesuai vektor optimal.
Port senjata terbuka.
Antena sensor terekspos,
merekah mengikuti pola jaringan saraf.
Ia tidak sedang menyaksikan mesin bekerja.
Ia sedang menyaksikan sistem
yang menulis ulang dirinya sendiri
berdasarkan kebutuhan kondisi.
Data taktis bergerak cepat di sudut pandang periferal.
Tidak menunggu persetujuan.
Tidak meminta interpretasi.
Transformasi selesai.
04:13 — Menunggu dengan Kesabaran yang Retak
Atap gudang tua di grid 23-B
berada dalam kondisi statis.
Permukaan beton retak.
Suhu rendah.
Tidak ada lalu lintas sipil.
NiuNiu berdiri di tepi bangunan.
Pandangan diarahkan ke langit Delta 4
yang terasa kehilangan luminansi.
Julia dan Delphie berada di belakangnya.
Keduanya duduk di lantai beton.
Delphie memeluk lutut.
Postur defensif.
Beban kognitif tinggi
akibat rangkaian peristiwa sebelumnya.
Julia memeriksa senjata cadangan
yang diambil dari unit Vrishchik
yang telah dieliminasi.
Klip penuh.
Pengaman terbuka.
Status: siap pakai.
NiuNiu tampak diam.
Nanosuit-nya dalam mode siaga—
hitam matte yang menyerap cahaya.
Dari jarak jauh,
ia menyerupai objek statis.
Namun Julia mengenali pola itu:
subjek sedang aktif.
Mata NiuNiu tidak kosong.
Sistem visual augmentasi bekerja.
Pelacakan satelit.
Kalkulasi lintasan intersepsi.
Pemantauan spektrum komunikasi.
Status: menunggu.
Julia memecah keheningan.
“Kenapa kau bantu kami?”
Tidak ada respons.
Keheningan itu terlalu rapi—
bukan bingung,
bukan menghindar.
Menunggu.
Julia menaikkan volume suaranya.
Sedikit.
Sengaja.
“Niuma Nakamoto.”
Nama itu jatuh seperti benda padat.
Bukan panggilan.
Bukan dugaan.
Sebuah verifikasi.
Julia tidak menyebutnya tanpa alasan.
Fragmen data Didymoi,
arsip lama,
pola kontrak—
semuanya mengarah
ke satu entitas
yang seharusnya tidak berada di sini.
Tidak ada jawaban.
Tapi bahu NiuNiu menegang sepersekian detik.
Cukup.
“Niuma Nakamoto,” ulang Julia,
lebih tenang sekarang.
“Kontrakmu dari siapa?”
NiuNiu mengangkat tangan kirinya.
Gerakan minimal. Terukur.
Antarmuka holografik menyala.
Teks muncul di udara, dingin dan presisi:
> “Pertanyaan yang salah, Julia.
Pertanyaan yang benar adalah:
kenapa seseorang membayar aku untuk menjaga kalian tetap hidup?”
Julia memproses cepat.
“Agnia Nakamoto. Ratu New Mercury?”
Otot bahu NiuNiu menegang.
Mikro-respons terdeteksi.
Teks baru muncul:
> “Agnia tidak peduli kau hidup atau mati.
Tapi dia peduli pada Delphie.”
Pegangan Julia pada pistol mengencang.
“Kenapa?”
NiuNiu akhirnya berbalik—pelan, terukur.
Tatapan hitam diarahkan ke Julia.
Tekanan psikologis meningkat.
> “Karena Delphie adalah anak Sora.
Dan Sora… adalah urusan yang rumit.”
Delphie mengernyit.
Membaca teks
yang menyebut namanya.
Upaya klasifikasi gagal.
Ia tidak menemukan data
sebagai ‘anak Sora’.
Sebelum Julia merespons,
NiuNiu menengadah.
Fokus visual berpindah.
Ia menunjuk ke langit.
Objek terdeteksi.
Refleksi cahaya minimal.
Bukan bintang.
Bukan satelit.
Dorian Grey.
Turun perlahan.
Mode siluman aktif.
04:24 — Sambutan yang Tidak Ramah
Gerbang bawah Dorian Grey terbuka.
Desisan tekanan dilepas terkontrol.
Cahaya biru menyebar dari dalam struktur kapal.
Bukan lampu.
Aktivitas internal.
Dinding logam berdenyut pelan.
Respons sistem, bukan efek visual.
NiuNiu masuk lebih dulu.
Tanpa ragu.
Tanpa jeda.
Julia menggenggam tangan Delphie.
“Kita masuk. Tetap di dekatku.”
Mereka berjalan masuk.
Langkah pertama terasa asing.
Permukaan lantai hangat.
Suhu stabil.
Seperti ada aliran di bawahnya.
Delphie berhenti setengah langkah.
Tubuhnya merespons lebih cepat dari pikirannya.
“Ibu… ini…”
Julia mengangguk pelan.
“Aku tahu. Ini bukan kapal biasa.”
Dari udara—bukan dari pengeras suara—suara Dorian terdengar:
> Julia Rose dan Delphie Rose,
> selamat datang di Dorian Grey.
> Harap menuju kokpit. Kapten Pippa menunggu kalian.
Gerbang menutup di belakang mereka.
Tekanan udara disesuaikan.
Letupan kecil terdeteksi di telinga.
Normalisasi lingkungan selesai.
NiuNiu sudah bergerak di depan.
Langkah konsisten.
Tidak ragu.
Seolah struktur ini bagian dari dirinya.
Julia dan Delphie mengikuti.
Lorong memanjang.
Dindingnya berubah perlahan.
Pola abstrak.
Lalu data visual menyerupai bentuk:
bintang,
nebula,
wajah tanpa fokus.
Delphie berbisik, hampir refleks:
“Kapal ini… pamer ya?”
Julia hampir tersenyum.
“Sepertinya, iya. Narsis.”
Dorian merespons segera.
Nada datar, dengan jeda yang disengaja:
> Aku tidak narsis, Julia Rose.
> Aku hanya memiliki kesadaran estetika yang tinggi.
Julia berhenti berjalan.
“Kau bisa dengar kami?”
> Aku adalah kapal.
> Kalian ada di dalam tubuhku.
> Tentu aku bisa mendengar.
Mata Delphie membesar.
“Kau… hidup?”
> Pertanyaan yang lebih menarik, Delphie Rose,
> adalah: apakah kalian yakin kalian hidup?
Keheningan menggantung.
NiuNiu di depan memutar matanya, lalu mengetik cepat di pergelangan tangannya.
> “Dorian, hentikan dramamu. Kita dikejar waktu.”
> Baiklah, baiklah,
jawab suara kapal itu.
> Tapi aku hanya ingin memberi kesan pertama yang bagus.
NiuNiu membalas:
> “Itu masalahmu — kau selalu ingin memberi kesan.”
04:35 — Kapten yang Bukan Kapten
Mereka tiba di ruang kokpit.
Ruang luas.
Tata letak simetris.
Kursi komando di pusat.
Pos navigator di kiri.
Kursi pilot di kanan.
Kursi kapten di belakang—
lebih tinggi, memberi ilusi hierarki.
Di kursi kapten, seorang pria duduk.
Kulit gelap. Janggut panjang.
Cerutu menyala di sudut bibir.
Saat mereka masuk,
ia berdiri dan membungkuk—
gerakan yang terlalu presisi untuk disebut spontan.
“Julia Rose. Delphie Rose.
Selamat datang di Dorian Grey.”
Suaranya rendah.
Aksen tidak terklasifikasi.
Julia meningkatkan kewaspadaan.
“Kapten Pippa?”
“Tepat,” jawabnya.
“Atau nama yang kupakai minggu ini.”
NiuNiu duduk di kursi pilot tanpa menoleh.
Pemeriksaan pra-terbang dimulai.
Julia melangkah maju.
“Kami diburu Vrishchik.
Jika kami meminta bantuan,
apa imbalannya?”
Pippa tersenyum.
Ia menunjuk Delphie.
“Aku menginginkan dia.”
Respons fisiologis Julia instan.
Ketegangan otot meningkat.
Namun sebelum ketegangan meningkat,
Delphie justru bicara dengan suara tenang.
“Dalam kapasitas apa, Kapten?”
Pippa mengangkat alis—terkesan.
“Langsung ke inti. Aku suka itu.”
Ia menunjuk ke kursi kapten di belakang.
“Aku ingin kau duduk di sana.”
Delphie menatapnya ragu.
“Kenapa?”
“Karena Dorian Grey butuh kapten yang sesungguhnya.
Dan aku…”
—ia menghembuskan asap—
“hanyalah pengganti sementara.”
Julia mengerutkan kening.
“Maksudmu apa?”
Alarm memotong kalimat itu.
Sistem peringatan aktif.
Layar taktis berubah merah.
Suara Dorian muncul—
tanpa modulasi tenang sebelumnya.
> Kapal Vrishchik terdeteksi.
> Radar mereka telah mengunci posisi kita.
> Peluncuran roket neutron dalam empat puluh detik.
Pippa langsung bergerak.
“NiuNiu, siapkan hyperjump!
Julia, ambil posisi navigator!
Dan Delphie—”
ia mendorong bahu gadis itu ke kursi tinggi di belakang,
“—duduk dan percayai nalurimu!”
Julia langsung duduk di kursi navigasi.
Data membanjir di layar di depannya.
Delphie menduduki kursi kapten;
begitu tubuhnya menyentuh sandaran,
mikrobot di kursi menyesuaikan diri—
memeluk bentuk tubuhnya,
lalu menyalakan layar holografik di sekelilingnya.
Antarmuka terasa familiar.
Tanpa penjelasan rasional.
Ada rasa bayangan.
Ada rasa laut.
[DORIAN_GREY_OS // SYNCHRONIZATION SEQUENCE]
> Neural handshake initiated...
> Genetic pattern: ROSE-LINEAGE_Δ7
> Temporal resonance: STABLE
> Conscious alignment: 99.97% → 100.00%
┌───────────────────────────────────────────────────┐
│ SYNCHRONIZATION STATUS : COMPLETE ✅
│ ACCESS PERMISSION : FULL SYSTEM UNLOCKED
│ COMMAND PRIORITY : CAPTAIN_DELPHIE_ROSE
│ EMOTIONAL CORE LINK : ACTIVE
│ COMM CHANNEL : SECURE
└───────────────────────────────────────────────────┘
> DORIAN_GREY: “Welcome home, Captain.”
> ALL SYSTEMS NOW UNDER YOUR BREATH.
Pippa berdiri di tengah kokpit.
Cerutu masih menyala.
Senyumnya tidak teatrikal.
Hanya tepat.
“Waktunya pertunjukan.”
Tubuhnya terurai.
Bukan menghilang—melainkan terdistribusi.
Menjadi ribuan mikrobot terserap ke struktur kapal.
Delphie tersentak.
“Apa—”
Teks holografik NiuNiu muncul di hadapannya.
> “Kapten Pippa tidak pernah ada.
Dia adalah bagian dari Dorian Grey.
Dan sekarang, Kapten Delphie,
kau punya tiga puluh detik untuk menyelamatkan kita semua.”
04:46 — Sepuluh Detik Sebelum Tidak Ada yang Tersisa
“AKU—”
napas Delphie patah di tengah kata.
““AKU… AKU TIDAK TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN!”
teriak Delphie panik.
“Tarik napas Delphie,” kata Julia tenang.
“Lihat datanya. Apa yang dikatakan layar?”
NiuNiu membalas:
> Kapten Delphie, Julia!
Julia menghela napas panjang,
setengah jengkel.
Delphie hampir tertawa gugup di tengah kepanikan.
Delphie memaksa diri fokus.
[TACTICAL INTERFACE // DORIAN_GREY_OS v4.8]
> TARGET LOCK ACQUIRED
> Source: Vrishchik Fleet — Class Δ3 Destroyers
┌────────────────────────────────────────┐
│ ENEMY COUNT : 3 SHIPS
│ WEAPON SIGNATURE : NEUTRON ROCKETS
│ TRAJECTORY STATUS : INBOUND
│ IMPACT TIME : 00:00:25
└────────────────────────────────────────┘
> ENERGY LEVEL .......... 97%
> HYPERJUMP CAPACITY .... SUFFICIENT
> COORDINATE INPUT ...... MISSING
[ALERT] :: Recommend immediate synchronization with pilot neural link.
Masalah: koordinat belum diatur.
Jam di sudut layar masih menunjukkan dua puluh lima detik.
Tapi tubuh Delphie tahu mereka tidak punya sebanyak itu.
Insting Delphie berteriak:
“NiuNiu! Hyperjump sepuluh detik dari sekarang!”
Tanpa tahu apa artinya Hyperjump.
Teks muncul di layar taktis:
> “Siap, Kapten Cilik.
Diterima. Sepuluh detik cukup."
Hitungan dimulai.
00:10 detik.
NiuNiu menekan tombol panel. Jarum kecil muncul dari sandaran kursinya.
00:08 detik.
Jarum menembus kulit di belakang lehernya. Cairan biru tua mengalir ke pembuluh darahnya.
00:07 detik.
Seluruh kapal bergetar. Mikrobot menyala serempak—tersinkronisasi dengan gelombang otak NiuNiu.
Kapal dan manusia menyatu.
00:06 detik.
Julia melirik NiuNiu — darah menetes dari hidungnya.
“Delphie, apa yang terjadi padanya?”
“Dia… menyatu dengan kapal,” jawab Delphie cepat.
“Untuk mempercepat hyperjump.”
00:05 detik.
NiuNiu kini bukan lagi satu tubuh.
Kesadarannya menyebar di seluruh kapal, merasakan setiap serat logam, setiap getaran energi.
Dan juga—rasa sakit.
Dia bisa mencium bau laut.
00:04 detik.
Suara Dorian keluar — tapi kini lapisannya bergema dengan suara anak kecil.
> Sistem siap. Menunggu koordinat.
Delphie menatap layar, mengikuti naluri.
Jari-jarinya bergerak cepat — memasukkan koordinat yang bahkan ia sendiri tak tahu dari mana datangnya.
[COORDINATE INPUT // DORIAN_GREY_OS v4.8]
> ACCESS LEVEL: CAPTAIN_OVERRIDE_Δ3
> SOURCE: Delphie_Rose//Neural_Interface
> MODE: Instinctive Navigation Protocol
┌──────────────────────────────────────────────────────────┐
│ DESTINATION : SECTOR 13 — AEONEXUS ORBIT
│ LOCAL GRAVITY NODE : HYDROCHOOS 7432
│ SPATIAL COORDINATE : X–984.556 | Y+432.118 | Z–120.334
│ TEMPORAL OFFSET : –00:00:04.12
│ QUANTUM TOLERANCE : 0.003%
└──────────────────────────────────────────────────────────┘
> ROUTE CONFIRMED.
> SYNAPTIC LINK — STABLE.
> AWAITING FINAL COMMAND.
00:03 detik.
Julia meliihat koordinat itu di layar taktis.
“Delphie, itu —”
“Aku tahu, Ibu. Percayalah.”
00:02 detik.
Roket neutron terlihat jelas di layar taktis dari kamera eksternal—bola cahaya putih yang datang menembus ruang.
00:01 detik.
Tangan Delphie gemetar di atas tombol aktivasi.
Ia merasakan sesuatu—sentuhan tak terlihat yang menuntunnya.
Dia tahu, itu tangan NiuNiu.
Bersama-sama, mereka menekan tombol.
04:47 — Bagaimana Rasanya Tidak Ada
Ruang melipat.
Tidak ada metafora yang relevan.
Tidak ada referensi manusia yang cukup presisi.
Cahaya bintang terdegradasi menjadi garis.
Waktu kehilangan konstanta.
Detik memanjang.
Lalu runtuh kembali ke nol.
Julia menahan napas.
Delphie menutup mata.
Sistem sensor biologis kewalahan.
NiuNiu berada di mana-mana.
Dan secara bersamaan, tidak berada di mana pun.
Kesadarannya terdistribusi—
di setiap mikrobot,
di setiap partikel struktural Dorian Grey.
Status internal:
nyeri tinggi.
beban ekstrem.
fungsi tetap berjalan.
Ada sensasi pelepasan.
Bukan kebebasan.
Lebih mirip pelepasan batas.
Untuk interval
yang tidak bisa diukur,
ia tidak lagi terikat
pada tubuh berumur lima belas tahun.
Identitas menyebar.
Skala membesar.
Lalu—
SLAM.
Ruang mengunci kembali ke konfigurasi normal.
Koordinat stabil.
Lingkungan aman.
Jarak tercapai: Delta 4—terlampaui.
Vrishchik—di luar jangkauan.
Status: sementara aman.
04:58 — Harga dari Bertahan Hidup
> Hyperjump berhasil,
Suara Dorian terdengar rendah dan datar—
terlalu tenang untuk situasi yang baru saja mereka lewati.
> Selamat datang di sektor 13.
Julia menahan napas.
Paru-parunya terasa terbakar,
seolah udara masuk dengan friksi berlebih.
“Kita… berhasil,” katanya akhirnya.
Kalimat itu tidak terdengar seperti pernyataan.
Lebih menyerupai verifikasi yang belum selesai.
Delphie terkulai di kursi kapten.
Tangannya masih mengepal keras—
kontraksi otot residual.
Tubuhnya gemetar.
Pupil melebar.
Status kesadaran: parsial.
Ada bagian dirinya masih
tertinggal di lintasan sebelumnya.
Di kursi pilot, jarum-jarum injeksi menarik diri.
Bunyi klik mekanis.
Final.
Darah berwarna gelap menetes dari tengkuk NiuNiu.
Tubuhnya kehilangan tegangan, lalu jatuh ke lantai logam
dengan suara yang terlalu lembut untuk disebut aman.
Kesadaran NiuNiu kembali
seperti sesuatu yang diseret dari laut gelap—
terlalu cepat,
terlalu keras.
Matanya bergetar di balik kelopak tertutup,
napasnya tersengal,
tubuhnya menolak kembali ke bentuk manusia.
Julia bereaksi lebih cepat dari pikirannya.
Ia berlutut.
Menampar pipi gadis itu.
Satu kali.
Dua kali.
“Bangun, belum waktunya kau mati,” desisnya.
Tamparan ketiga—
tangan NiuNiu menahan pergelangan tangan Julia.
Refleks.
Matanya terbuka perlahan;
pandangannya kosong,
tapi hidup.
Sistem biologis: aktif.
Julia menarik napas lega.
“Selamat datang kembali, mesin kecil.”
NiuNiu memejamkan mata.
Tubuhnya merapat ke dinding kapal.
Ia bersandar, menarik lutut ke dada.
Lalu menangis.
Bukan ledakan emosi.
Bukan kepanikan.
Tangis itu terdengar
seperti kegagalan struktural—
retakan kecil pada sistem
yang dipaksa beroperasi melewati batas aman.
Delphie menatap dari kursinya.
Bingung.
Takut.
Tidak punya parameter pembanding.
“Kenapa dia… begitu?
Julia mengangkat tangan—
isyarat ‘jangan ganggu.’
Ia mengenali suara itu.
Ia pernah mengeluarkannya sendiri.
Di antara perang.
Di antara kehilangan.
Di antara mesin yang berbicara
seolah memahami makna hidup.
“Biarkan,” katanya.
“Itu bagian dari kembali.”
Ia diam sesaat.
“Aku tarik kembali ucapanku.
Dia bukan mesin.”
Suhu udara di dalam kapal bergeser tipis.
Tidak drastis—cukup untuk terdeteksi.
Dorian berbicara lagi.
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih lambat.
Nyaris seperti manusia yang berbicara dari dalam mimpi.
> Setiap kali dia menyatu denganku,
> dia melewati wilayah di mana ingatan
> tidak lagi tunduk pada struktur manusia.
Julia menatap gadis itu.
Berlutut di lantai kapal yang berdenyut pelan—
seperti jantung makhluk besar yang sedang memulihkan diri.
Tangis NiuNiu mereda,
namun tidak berhenti.
“Apa yang dia lihat di sana?” tanya Julia.
Ia tidak menoleh.
Hening.
Lalu Dorian menjawab,
dengan jeda yang tidak perlu—
seolah sistemnya menimbang sesuatu.
> Dia tidak melihat. Dia mengingat.
Satu nama.
> Dia selalu mengingat Sevraya.
Teks holografik NiuNiu muncul di udara.
Getarnya halus.
Sarkasme masih utuh.
> “Kalian menggosip di depan orangnya. Classy!”
Lorong kapal terasa memanjang.
Suhu turun.
Dengung mesin menjadi satu-satunya konstanta.
Dan di antara tangis yang melemah
dan resonansi sistem yang belum sepenuhnya stabil,
Julia memahami satu hal:
bertahan hidup
bukan selalu bentuk keberuntungan.
Kadang,
itu hanyalah hukuman
yang terlalu panjang
untuk disebut hidup.
Akhir dari Timer 04:00
問
Siapa yang memimpin:
yang memegang kemudi,
atau yang membentuk jalan?
⦵✴⦵
Share/Copy link:
