
Timer 09:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
1,962 words, 10 minutes read time.
Dua Ratu, Satu Dosa
[09:01]
VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT IX—TEACHING THE WORLD TO BREATHE
[ARCHIVE//PHILOSOPHICAL_LOG: DELPHIE_ROSE_THEOREM]
Status: Paradigm shift proposed
Decoding: Conceptual (89%)
Integrity: Elegantly simple
Authorship: Delphie_Rose [AGE: 15]
Output fragment begins:
[09:02]
> Sistem mengatur napas.
> Setiap hembusan memerlukan izin.
> Setiap jeda harus terdaftar.
> Lalu seseorang berbisik:
> "Bagaimana kalau napas tidak perlu pusat?"
[09:04]
> Ritme tanpa pemimpin.
> Transparansi tanpa kerahasiaan.
> Labirin tanpa tengah.
> Bukan kekacauan—
> arsitektur baru.
[09:05]
> Monolit benci tersesat.
> Maka kita buat dia tersesat.
> Bukan dengan mengunci pintu—
> dengan membuka terlalu banyak pintu.
“Bernapas bukan pemberontakan—bernapas adalah kelanjutan”
09:11 — Dialog di Bawah Mahkota Cahaya
Agnia Nakamoto berdiri tanpa tergesa.
Rambut hitam panjangnya diikat sederhana,
tanpa hiasan. Tidak ada usaha untuk terlihat agung—
dan justru karena itu, kehadirannya terasa berat.
Matanya sama persis seperti NiuNiu.
Struktur muka yang sama.
Api yang berbeda.
Kembar yang bertolak belakang.
Jika NiuNiu adalah ketenangan tajam
yang siap bergerak,
Agnia diam seperti api terbuka—
tidak tersembunyi,
tidak meminta maaf,
tidak perlu membakar untuk membuktikan kehadirannya.
Julia membeku sesaat.
Langsung membandingkan
dua kutub Didymoi itu.
NiuNiu di sudut—seperti biasa.
Diam.
Efisien.
Berbahaya.
Agnia di tengah—
tanpa ragu.
Terbuka.
Utuh.
Tidak meminta izin untuk mengisi ruangan.
Julia merasakan perbedaan mereka
di tubuhnya sendiri:
satu membuat otot tegang,
satu membuat tulang belakang tegak.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada ketegangan dramatis.
Tidak ada ledakan emosi.
Hanya kesadaran bahwa mereka saling mengenali—
dan memilih untuk tidak menafsirkannya lebih jauh.
“Julia Rose,”
kata Agnia akhirnya.
Suaranya jernih, stabil.
“Hasan Al Hul.”
Ia berhenti sejenak pada Delphie,
menilainya tanpa tekanan,
tanpa senyum.
“…Delphie Rose.”
Lalu ia menoleh ke NiuNiu.
“Kau tidak berubah.”
NiuNiu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat sudut bibirnya—
gerakan kecil, ambigu,
nyaris administratif.
“Agnia Nakamoto,” kata Julia,
nadanya keras tapi terkendali.
“Kau tahu sesuatu tentang Zero?”
Agnia melangkah ke tengah ruangan.
Cahaya Parthenon jatuh setengah di wajahnya,
menegaskan garis-garis lelah yang tidak ia sembunyikan.
“Zero selalu muncul
ketika sistem mencapai batasnya,”
jawabnya.
“Dua puluh tahun terakhir,
hanya satu hal yang konsisten.”
Ia berhenti.
“Yang paling sabarlah yang bisa bertahan.”
Hasan menyela,
cepat. “Dan Himler?”
“Himler menguasai dunia luar,”
jawab Agnia tanpa ragu.
“Zero—dunia dalam.”
Julia merasakan gema kalimat itu merambat
melalui sisa-sisa The Merge di kepalanya.
Dunia luar: armada, hukum, traktat.
Dunia dalam: rasa takut, disiplin, kontrol yang tidak terlihat.
Agnia membalik badan pelan.
“Vrishchik membagi galaksi menjadi sektor.
Grid Penegakan.
Semua terdaftar,
semua diawasi.”
Ia menghela napas singkat.
“Himler menyebutnya Keadilan Stabil.”
Julia mengepalkan tangan.
“Didymoi?” tanyanya.
“Hancur,” jawab Agnia singkat.
“Setengah patuh.
Sisanya bersembunyi
di tempat-tempat seperti ini.”
Hasan maju setengah langkah. “Zero?”
Agnia diam lebih lama kali ini.
Tatapannya kembali ke NiuNiu—
tanpa permusuhan, tanpa nostalgia.
“Zero yang pertama
menyebut Void sebagai organisme,”
katanya akhirnya.
“Dia mengajarkan Himler
cara berjalan di keheningan.
Bukan di atas kekuasaan.”
Ia mengangkat kepala.
“Setiap hukum yang dibuat Himler
mengikuti ritme yang Zero tanamkan.”
Pandangan Agnia beralih ke Delphie.
“Dan sekarang,” lanjutnya,
“Zero menunggu kalian—
dan artefak Eye of The Void—
yang ada di Dorian Grey.”
Delphie melangkah maju. Suaranya bergetar,
tapi tidak mundur.
“Kenapa kami?”
“Karena kalian kembali
dari tempat yang tidak bisa dipalsukan,”
jawab Agnia.
“Di sini, semua orang memalsukan sesuatu.
The Void tidak.”
Hasan mengangguk pelan.
“Jadi kami saksi.”
“Penghubung,” koreksi Agnia.
“Aku ingin membawa The Merge
ke meja semua klan.”
Julia menyipitkan mata.
”Kau tahu tentang The Merge.”
Julia, Delphie dan Hasan tercekat—
Agnia mampu membaca telepati.
“Vesica Piscis bukan milik klan mana pun,”
jawab Agnia.
“Dan kalian belum menyatu sepenuhnya
di The Merge.
Itu justru kelebihan kalian.”
“Kenapa?” tanya Julia.
Agnia berhenti tepat di depan mereka.
Nada suaranya turun,
tidak mengancam—final.
“Zero bisa memutus satu pikiran,” katanya.
“Tiga pikiran yang terhubung
tapi tidak selaras… itu labirin.”
Ia tersenyum tipis.
“Dan Zero tidak suka tersesat.”
Ruangan kembali sunyi.
Bukan sunyi yang kosong—
melainkan sunyi yang menunggu langkah berikutnya.
09:22 — Mahkota Laut yang berkabut
Hangar Parthenon menahan bunyi—
bukan karena sunyi,
melainkan karena sesuatu sedang mendahului suara.
Administrator Kira bergerak lebih dulu.
“Utusan Hydrochoos menunggu,”
katanya pada Hasan.
“Segel garam telah disiapkan.”
Hasan mengangguk.
Gerakan itu terjadi setelah keputusan terbentuk—
atau setidaknya, setelah keputusan ditulis.
The Merge bergetar.
Bukan sebagai suara.
Bukan sebagai emosi.
Melainkan sebagai perubahan tekanan realitas—
seolah napas bersama mereka terlambat sepersekian detik.
Agnia menoleh pada Julia.
“Dia harus pergi sendiri.”
Julia merasakan keberatan itu muncul di kepalanya—
lalu menghilang sebelum sempat menjadi kalimat.
NiuNiu menatap lantai.
Ia tidak mencari retakan.
Ia membaca garis yang sudah digambar.
Di gelangnya, satu kata menyala.
Bukan pesan.
Bukan peringatan.
> “Sevraya.”
Hasan mengikuti dua sosok berselubung abu-abu
ke bawah Parthenon.
Lorong-lorong lembap menuruni batu tua.
Kabut asin menempel di dinding,
lampu berdenyut seperti insang.
Setiap langkah terasa terlambat setengah denyut,
seolah ruang sudah tahu ia akan lewat.
Ruang ritual terbuka seperti telaga tanpa permukaan.
Di tengahnya: mangkuk kaca hitam berisi air payau.
Di tepinya: segel garam—kapsul transparan berisi kristal putih.
Salah satu utusan berbicara.
Bukan dengan kata.
Dengan sinkronisasi frekuensi yang langsung menekan tulang.
“Hasan al Hul.”
“Diving rite.
Tanpa saksi.
Tanpa catatan.”
Kata tanpa saksi bergetar di udara—
lalu terasa palsu.
Di atas, Julia dan Delphie mendengar gema yang belum terjadi.
Bukan suara Hasan.
Bukan suara Sevraya.
Sesuatu yang lebih dalam sedang menyelaraskan mereka.
Hasan menatap air.
“Aku siap.”
Ia mengatakan itu setelah air berubah.
Kapsul garam pecah—
larut seperti variabel yang dihapus dari persamaan.
Air berkilau sesaat, lalu menjadi terlalu tenang.
“Masukkan tanganmu.”
Hasan menurunkan telapak tangannya.
Air tidak membasahi.
Air menempel, seperti antarmuka yang mengenali pengguna lama.
Lampu meredup tiga persen.
Nada panjang muncul dari bawah lantai—
dengung yang tidak tercatat dalam sistem Parthenon.
The Merge berdesis.
Julia dan Delphie seolah ikut tenggelam bersama Hasan.
Seseorang hadir.
Bukan lewat pintu.
Bukan lewat cahaya.
Kabut mengental, menyusun garis wajah.
Mahkota kabut—refleksi yang tidak memilih bentuk tetap.
“Hasan.”
Nama itu tidak dipanggil.
Ia dikunci.
“Sevraya.”
Para utusan memudar, menjadi bayangan air.
“Sudah lama sejak kau menghilang,” kata Sevraya.
“Hydrochoos mengingat mereka yang kembali sebagai variabel.”
“Aku tidak memilih,” jawab Hasan.
“Dulu, sekarang kau harus memilih,” balas Sevraya.
Air beriak.
Delphie menangkap kilatan yang tidak lengkap:
tangga basah,
jam yang berhenti,
pintu yang menutup sebelum disentuh.
Julia memalingkan wajah—
bukan karena tidak ingin tahu,
melainkan karena tahu sesuatu sedang ditulis ulang di kepalanya.
“Langsung saja,” kata Hasan pelan.
“Apa yang kau inginkan?”
Saat kalimat itu diucapkan,
The Merge bergemuruh;
bukan gelombang bunyi,
tapi denyut memori yang tak bisa disensor.
“Kau masih menulis dengan jari Niuma di kulitmu,”
kata Sevraya, datar namun menusuk.
“Aku bisa mencium residunya di air.”
Hasan memejamkan mata.
“Itu dua puluh tahun yang lalu,
gusti kanjeng ratuku.”
“Jadi aku ratumu, bukan Niuma?”
suaranya tetap datar.
“Agnia akan kecewa kalau buatmu ratu Didymoi bukan dia.”
“Pastinya,” bisik Hasan.
Kata itu jatuh, dan ruangan memantul sunyi.
The Merge mengerut.
Julia berdiri mendadak,
tubuhnya bergeser ke dunia lain.
Delphie merasakan dingin di perutnya.
Sevraya mendekat—
kabutnya menyentuh air tanpa membasahi.
“Diving rite dulu tanpa saksi,” katanya pelan,
“tapi itu sebelum Zero memanjat ke kepala semua orang.
Sekarang, bahkan rahasia pun punya pendengar.”
Hasan tak menoleh.
“Kau tahu mereka bisa mendengar kita.”
“Aku ingin mereka mendengar,” jawab Sevraya.
“Agnia, Niuma, Julia, Delphie—
biarkan semua tahu ke mana kau akan berpihak.”
Air di mangkuk bergetar,
memantulkan wajah yang tak sepenuhnya wajah.
“Aku tidak butuh kerahasiaan,” bisik Sevraya,
“aku minta kau di pihakku.”
Hasan menekan jari ke permukaan air.
“Aku tidak sendiri sekarang. Dan itu yang kau takutkan.”
Kabut berputar,
menjadi mahkota tipis dari garam.
“Dunia ini sudah terlalu penuh saksi,” katanya,
“Zero akan menulis ulang pilihanmu.
Bahkan di kepala mereka.”
Hening.
The Merge berdesis,
seperti napas terakhir sistem yang menolak padam.
Mahkota kabut berputar,
memendek menjadi lingkar salju di atas air.
“Maka biarkan The Merge berpihak padaku…”
Hening panjang.
“Itu bukan keputusanku lagi,”
bisik Hasan.
“Itu keputusan kami bertiga.”
Sambungan The Merge bergemerisik—
seperti pintu kesadaran yang menutup.
Di atas, Agnia mengepalkan tangan.
“Jadi kalian akan ada dipihak siapa?”
ujarnya pada Julia dan Delphie,
seolah menyebut cuaca mau hujan atau panas.
“Sevraya sudah memberi kode.”
“Kau minta kami membantu The Merge di meja klan,”
balas Julia.
“Sekarang ratu lautmu memintaku berpihak padanya.”
Agnia menoleh, tenang.
“Dua ratu, satu dosa.
Kau pikir kami berselisih? Kami berselisih.
Kau pikir kami bersekutu? Kami bersekutu.
Di semesta seperti ini,
kejujuran hanya lahir saat kebohongan kehabisan bentuk.”
Ia menatap ke lantai, ke arah laut di bawah mereka.
“Sevraya memanggil kalian ke air.
Aku memanggil kalian ke cahaya.
Kita lihat—siapa yang lebih dulu sampai.”
09:33 — Remisi Resonansi
Kabut Sevraya menggantung rendah, stabil—
seperti seseorang yang sengaja
memilih posisi aman dalam ruangan rapuh.
“Sambungan ini diretas,” katanya.
“Terlalu keras fluktuasinya.”
Ia berhenti sejenak.
“Zero!”
Hasan mengangkat kepala perlahan.
Ia sudah sering berada di posisi berbahaya
untuk tidak kaget oleh ancaman tak langsung.
Di The Merge,
Delphie merasakan tekanan yang tidak emosional.
Bukan rasa takut.
Bukan empati.
Melainkan logika yang dipaksakan:
jika satu entitas tahu terlalu banyak,
siapa yang pertama kali dikorbankan?
“Yang tidak sadar,” kata Julia singkat.
Nada itu bukan asumsi—itu fakta.
Hasan menghela napas.
“Parameter ritual berubah,” katanya.
“Garamnya tidak asin.”
Kabut Sevraya menegang.
“Perjelas.”
“Ritual ini sudah diambil alih,
garam tidak asin.”
jawab Hasan.
“Bukan oleh Hydrochoos. Bukan oleh Parthenos.”
Ia menatap ke kabut.
“Pihak ketiga.”
Kristal di mangkuk bergetar.
Bukan simbol air.
Bukan sigil klan mana pun.
“Zero bergerak,” kata Sevraya.
Nada suaranya netral—
menegaskan kondisi bahaya.
NiuNiu bergerak satu langkah,
berdiri tepat di antara Delphie dan pusat ruangan.
Gelang di pergelangannya menyala:
> “Kondisi ini sudah diinfiltrasi Zero.”
> “Himler akan bergerak.”
Julia menoleh ke Agnia.
“Vrishchik pasti senang.”
Agnia tersenyum tipis.
“Vrishchik selalu senang kalau orang lain saling telanjang.”
Ia mengangkat pergelangan tangannya.
Mahkota beresonansi—frekuensi komunikasi telepati.
“Sevraya,” katanya datar,
“Waktunya telah tiba untuk kita bicara.”
“Hydrochoos sudah tidak cukup untuk menghadapi Zero.”
Kabut bergetar.
Bukan tersinggung—perhitungan cepat.
“Kau bermain keras,” jawab Sevraya.
“Seperti biasa.”
“Karena kau selalu mundur selangkah terlalu lambat,”
balas Agnia.
“Dan Zero memanfaatkannya.”
Hening sebentar.
Sevraya akhirnya berkata,
“Satu opsi kompromi.”
Ia menurunkan nadanya.
“Bawa The Merge ke air.”
“Jika ini benar Zero yang menyusup,
atau ini hanya jebakan Didymoy yang frustasi.”
Agnia menggeleng.
“ini bukan jebakan,
ini tawaran bukan ancaman.”
“Belum,” jawab Sevraya.
“Perencanaan belum jadi ancaman.”
Delphie maju.
Menengahi ketegangan dua ratu.
“Zero bukan pemain,” katanya.
“Dia proses.”
“Dan proses tidak bisa dipanggil ke meja perundingan.”
Kabut naik ke atas menatapnya.
“Lalu apa usulanmu, Kapten kecil?”
“Kita ubah struktur meja,” jawab Delphie.
“Bukan aktornya.”
Agnia menyipitkan mata.
“Jelaskan.”
“The Grid saat ini berpusat,” kata Delphie.
“Himler di luar. Zero di dalam.”
“Kita hilangkan pusat itu.”
“Kau bicara tentang desentralisasi total,”
ujar Sevraya.
“Aku suka ide ini!”
“Ya, perubahan total…” lanjut Delphie.
Ia menarik napas.
“The Grid tanpa pusat. Transparan.
Semua klan saling melihat.”
“Zero tidak bisa bersembunyi.”
“Himler tidak bisa memonopoli.”
Agnia menambahkan tenang,
“Dan setiap klan terpaksa mengawasi yang lain.”
“Termasuk aku. Termasuk kau.”
Kabut Sevraya berdenyut.
“Kalian ingin semua klan telanjang?”
“Ya,” kata Agnia.
“Karena alternatifnya Zero membaca kita satu per satu.”
Nama itu menggantung seperti tuduhan.
“Nama protokol?” tanya Sevraya.
“Remisi Resonansi,” jawab Delphie.
“Tidak ada pemimpin.”
“Tidak ada pusat.”
“Satu ritme diserang,
ritme lain mengambil alih.”
“Jika ini gagal,” kata Sevraya,
“seluruh klan runtuh bersamaan.”
“Dan jika berhasil,” balas Agnia,
“tidak ada lagi yang bisa mengklaim diri sebagai pusat dunia.”
Hasan tertawa pendek—tanpa humor.
“Politik paling jujur yang pernah kudengar.”
Kabut menipis, lalu kembali mengeras.
“Baik,” kata Sevraya.
“Kita uji.”
“Ledger lama akan hancur,”
“Tujuannya itu,” jawab Agnia.
Hasan menatap Delphie.
“Kalau Zero tidak tersesat—”
“—Himler tahu semuanya,” lanjut Julia.
Hening.
“Tidak hari ini,” kata Agnia.
“Hari ini kita paksa semua klan transparan di cahaya.”
Ia menekan tombol nanosuitnya.
“Sevraya. Aku datang.”
Ruang melipat.
Negosiasi selesai—
perang dimulai dengan senyum.
Kabut menghilang perlahan,
seperti janji yang tidak pernah dimaksudkan untuk ditepati.
Akhir dari Timer 09:00
問
Jika rasa bisa ditulis ulang,
Siapa yang menulis?
Siapa yang dibaca?
Share/Copy link:
