Timer 13:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.

2,391 words, 13 minutes read time.

Konsensus Enam Simpangan


[13:01]

> ZERO.0 = 1-dimensional entity
> 
> SIX ERRORS = 6-dimensional interference generator
>
> If dimension(entity) < dimension(opposition):
>    entity_trajectory → fracture
>    entity_will → overflow
>    entity_identity → NULL
>
> Outcome: FALSE GOD TERMINATED

“Garis lurus tidak pernah menang melawan labirin.”

13:11 Penjara Tanpa Waktu

Parthenon Level Minus Dua Belas.

Wilayah yang bahkan Parthenon sendiri tidak mengakui keberadaannya.
Lorong-lorongnya berdenyut seperti usus makhluk purba.
Lampu menggantung rendah, bukan sebagai perangkat,
melainkan sebagai cairan cahaya yang menetes pelan—
lebih dekat pada bioluminesensi daripada teknologi.

Kira berjalan paling depan.
Langkahnya tidak tergesa, tidak ragu.
Suara sepatunya memantul sebagai gema
seolah tempat ini masih belajar bagaimana seharusnya bunyi bekerja.

“Kalau kalian ingin membunuh Tuhan,”
katanya datar,
“kalian butuh seseorang yang pernah
bertahan dari The Void di semesta ini.”

Julia mengernyit.
“Siapa? Tidak ada yang pernah—”

“Tidak ada yang kembali,” potong Kira.
“Kecuali kalian.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan saat kalian keluar—sesuatu masuk.”

Lengkungan organik menyelimuti lorong,
menutup kembali setelah mereka lewat,
seperti jaringan hidup yang menolak diingat.

Hasan berbisik,
“Aku bahkan tidak tahu Parthenon punya ruang bawah tanah.”

Kira tidak menoleh. “Parthenon tidak punya.”
“Aku yang menciptakannya.”

Lorong itu berakhir pada sesuatu yang tidak masuk akal:
sebuah pintu besi kuno.
Kusam.
Tergores.
Tidak selaras dengan arsitektur Parthenon mana pun.

Di atasnya, huruf-huruf kasar seperti dikikir paksa:

TUHAN TIDAK SUKA DIBANTAH

Napas Agnia tertahan.
Sevraya memicingkan mata.
NiuNiu membeku.
Delphie bersembunyi setengah langkah di balik ibunya.

Kira menatap tulisan itu.
“Itu ditulis oleh orang yang akan kalian temui.”

Agnia maju setengah langkah.
“Kenapa kau membantu kami, Kira?”
“Remisi Resonansi akan tetap menghancurkan Parthenos.”

Kira menjawab tanpa emosi:
“Aku Administrator.”
“Tugasku bukan menjaga Tuhan.”
“Tugasku menjaga sistem yang lebih tua dari konsep Tuhan itu sendiri.”

Ia menatap pintu.
“Zero dan Himler hanyalah bagian kecil bagi sistem.”
“Dan jika kalian tidak membunuh mereka sebagai Tuhan—
di ribuan kemungkinan lain, aku tetap yang akan menarik pelatuknya.”

Besi pintu mengeluarkan suara panjang,
seperti napas yang sudah terlalu lama ditahan.

Di baliknya—waktu berhenti.

Ruangan itu gelap, lembap, tidak stabil.
Gravitasi bekerja setengah hati,
seolah lupa aturan dasarnya.

Di tengah ruangan: seorang perempuan duduk di atas ranjang besi kotor.

Rambut pirang panjang, kusut.
Kulit pucat seperti arsip data yang rusak.
Pakaian compang-camping.

Dan mata itu—

Delphie mengenalnya.
Karena itu adalah matanya sendiri.
Dua puluh tahun lebih tua.
Lebih dingin.
Lebih rusak.
Lebih tahu.

Delphie tersengal.
“Kau… Gwaneum… kau… aku?”

Perempuan itu tersenyum kecil.
Di irisnya, arus The Void tipis berputar
seperti sisa realitas yang gagal dimusnahkan.

“Bukan kamu,” katanya pelan.
“Aku adalah kamu yang tidak pernah keluar dari semesta ini.”
“Yang tertinggal.”
“Yang membusuk.”
“Yang belajar bertahan.”

Agnia maju, wajahnya menegang.
“Dia Gwaneum?”
“Anomali yang muncul saat Delphie masuk The Void?”

Kira mengangguk.
“Nama yang ia pilih setelah dua puluh tahun terperangkap di semesta yang salah.”

NiuNiu menyipit.
Bayangannya sendiri merenggang dari tubuhnya saat membaca frekuensi Gwaneum.

Gwaneum berdiri.
Tulangnya berderak seperti jam yang kehilangan roda gigi.

“Aku tahu kenapa kalian datang,” katanya.
“Semesta ingin membunuh Tuhan… lagi.”

Julia menegang. “Lagi?”

Gwaneum tersenyum—
bangga, seperti dosa yang akhirnya diakui.

“Aku pernah mencoba.”
“Dan gagal.”

Ia melangkah ke cahaya.
“Untuk bertahan, aku menjual semuanya.”
“Basis data Didymoi.”
“Sandi Hydrochoos.”
“Kelemahan Zygos.”
“Koordinat kapal pembangkang.”
“Jalur rahasia Akashic Records.”

Delphie menutup mulut. “Tidak…”

Gwaneum mendekat.
“Aku tidak dikhianati semesta.”
“Aku mengkhianatinya—demi hidup.”

Agnia menggertakkan gigi.
“Jadi kau budak Zero.”

Gwaneum mengangguk kecil.
“Informan pribadi Himler.”
“Variabel prediktif Zero.”

Julia menoleh ke Kira.
“Kenapa kau menyimpannya?”

Kira menjawab dingin:
“Karena pendosa terbesar adalah pendeta terbaik.”

Gwaneum menunduk.
Rambut pirangnya menutup wajah.

“Kalian ingin membunuh Tuhan?”
“Aku bisa memimpin ritualnya.”

Ia menatap Delphie. Lembut.
Seperti ibu menatap anak yang akan dikorbankan.

“Tapi terimalah satu hal.”
“Untuk membunuh Tuhan,
seseorang harus menggantikannya.”

13:12 Pendeta Pendosa

NiuNiu merapat ke dinding.
Gerakannya bukan taktis,
melainkan naluri purba
seekor makhluk yang tiba-tiba berhadapan
bukan dengan musuh,
melainkan kemungkinan dirinya sendiri.

Gelang hologramnya menyala singkat.

> “Dia cermin… tapi hidup.”

Gwaneum tertawa kecil.
Bunyinya bukan tawa,
melainkan sesuatu yang retak dari dalam—
bunyi struktur yang pernah runtuh,
namun dipaksa berdiri kembali.

“Aku bukan cermin,” katanya tenang.
“Aku konsekuensi.”

Ia melangkah mendekati Delphie.
Gerakannya lembut,
namun tidak sepenuhnya sinkron,
seperti ingatan yang kembali
ke tubuh yang salah.

Jari-jari kurusnya mengangkat dagu Delphie.
Sentuhannya tidak kasar.
Tatapannya tidak kejam.
Hanya—terlalu mengetahui.

“Aku adalah jawaban yang tidak pernah kau pilih,” katanya.
“Aku Delphie Rose yang ditarik ke semesta ini
saat kau menghilang.

Yang tidak diselamatkan siapa pun.
Yang dibiarkan The Void
belajar dengan satu metode paling sederhana:
bertahan.”

Delphie tersentak.
Napasnya terasa seperti satu-satunya hal
yang masih ia miliki—
dan bahkan itu mulai terasa rapuh.

“Kalau begitu… bagaimana kau bisa berada di sini?” tanyanya.
“Di Parthenon?”

Gwaneum tersenyum.
Bukan senyum penghiburan,
melainkan pengakuan administratif,
seperti seseorang yang telah menerima
bahwa cahaya
tidak selalu berarti keselamatan.

“Karena manusia dan klan
selalu memenjarakan versi diri
yang paling mereka takuti,” ujarnya.

“Dan apa yang menjadi aku
adalah ketakutan itu
yang akhirnya diberi tubuh.”

Ia menunjuk dirinya sendiri,
bukan dengan kesombongan,
melainkan seperti editor
menilai naskah yang ditulis
dengan darah dan waktu.

Pendeta yang gagal.
Pemberontak yang menyerah.
Informan yang terlalu memahami struktur.
Rose yang berdosa—
bukan secara moral,
melainkan secara desain.

Agnia menatapnya lama.
Bukan sebagai musuh,
melainkan sebagai sejarah
yang lolos dari sensor,
lalu kembali menagih makna.

Sevraya menghembuskan asap rokok perlahan.
Netral,
seolah ia telah membaca bab ini
jauh sebelum semesta
memutuskan untuk menuliskannya.

Julia hanya memandang.
Di wajahnya tersisa sesuatu
yang jarang muncul:
rasa bersalah
yang belum menemukan nama.

Gwaneum menangkap semuanya.
Ia tidak tampak sombong,
hanya jernih.

“Kalian tidak mencariku,” katanya datar.
“Kalian mencari sesuatu
yang lebih tua dariku.”

Ia menunduk sedikit,
seperti mengakui fakta
yang sebenarnya
tak lagi rahasia.

“Sebuah ritual.

Dan setiap ritual
memerlukan pendeta.”

Lalu ia menatap Delphie.
Bukan dengan superioritas,
melainkan dengan kesadaran
bahwa pengetahuan
selalu menuntut bayaran.

“Dan ritual selalu
memerlukan pengorbanan.”

Di belakang mereka,
Hasan terdiam.

Bukan karena apa yang ia lihat,
melainkan karena di dalam dirinya,
sesuatu menyentuh namanya—
panggilan yang tidak dibentuk
oleh mulut manusia,
melainkan oleh struktur semesta itu sendiri.

13:13 Tarikan Zero

Hasan maju selangkah.
Ia hendak berbicara—lalu berhenti.
Bukan karena kehendaknya,
melainkan karena sesuatu
yang mendahului kehendak itu.

Tubuhnya membeku,
seperti patung yang baru menyadari
bahwa ia pernah hidup.

Di udara,
sehelai garis putih muncul—
tipis seperti rambut.

Tidak melekat.
Tidak menyentuh.
Hanya hadir.

Garis itu menyentuh ruang
di belakang tengkuk Hasan,
seperti penanda,
bukan seperti serangan.

Julia berbisik,
hampir tanpa suara,
seolah takut mematahkan sesuatu
yang sudah rapuh:

“Hasan?”

Tidak ada jawaban.

Hanya mata kosong
yang menatap tanpa subjek,
dan mulut terbuka,
seolah prosedur bernapas
telah kehilangan referensinya.

NiuNiu melangkah maju.
Gelang hologramnya menyala,
menulis cepat:

> “ADA SESUATU DI SINI.”

Gwaneum memejamkan mata.
Ketakutan yang muncul
bukan takut fisik,
melainkan takut
akan pengetahuan
yang kembali menagih.

“Zero sudah menemukan jalur kalian,”
katanya lirih.

Sevraya bergerak cepat
menuju Hasan,
namun Gwaneum menahan lengannya.

“Jangan menyentuhnya,” katanya datar.
“Apa pun yang menyentuh sekarang
akan ikut terseret.”

Agnia memanggil pisau cahaya
dari mahkotanya,
mencoba memutus garis putih itu.

Cahaya pisau memantul.
Bukan dipatahkan—
melainkan ditolak,
seperti refleksi
yang menolak menjadi bayangan.

Delphie tersentak.
Suaranya pecah:

“Lakukan sesuatu!”

Gwaneum menggeleng.

“Ini bukan musuh,” katanya pelan.
“Ini koreksi.”

Lalu Hasan berbicara.

Namun bukan sebagai dirinya.

Suara itu datar,
antiseptik,
seperti algoritma
yang dibacakan
melalui tubuh
yang salah:

> ▟█▛ TRAJECTORY DETECTED. █▟▛
> SIX ORTHOGONAL DEVIATIONS.
> LINE INTEGRITY COMPROMISED.
> CORRECTION REQUIRED. █▟▛

Julia menutup mulutnya.
Ada sesuatu pada suara itu
yang tidak manusiawi—
dan tidak berniat
menjadi manusia.

Tubuh Hasan terangkat.

Tidak ada angin.
Tidak ada gaya.

Hanya arah—
sebuah konsep
yang tiba-tiba
menjadi mutlak.

NiuNiu mencoba menariknya
melalui bayangan,
namun bayangan tangannya
menembus tubuh Hasan
seperti kabut
yang memiliki kehendaknya sendiri.

Hasan semakin tinggi.
Matanya menatap langit-langit—
meski jelas
ia sedang melihat sesuatu
di balik langit-langit itu.

Suara mesin kembali terdengar:

> THIS CONFIGURATION THREATENS LINEARITY.
> AIR ELEMENT DETECTED.
> AIR MUST BE REMOVED.
> AIR IS FORMLESS.
> FORMLESS ENABLES ERROR.
> ERROR MUST BE—

Kalimat itu terputus.

Tubuh Hasan mulai retak.

Bukan patah.
Bukan luka.

Melainkan terkoreksi.

Kulitnya terbelah
oleh garis-garis halus
yang tidak mengeluarkan darah.
Bagian tubuhnya menghilang,
seperti coretan pensil
yang dihapus
terlalu bersih.

Sevraya memanggil air
dari celah ruangan,
menahan tubuh itu
agar tidak tercerabut sepenuhnya.

Agnia memanggil cahaya,
mencoba mengikat garis putih
dengan hukum optik.

NiuNiu menancapkan bayangannya
ke lantai,
memaksa Hasan
tetap mengenal dunia.

Julia dan Delphie
menjerit tanpa suara.

The Merge mereka
meregang,
seperti benang
yang ditarik
hingga hampir putus.

Gwaneum hanya berdiri diam.

Tidak berdoa.
Tidak menolak.

Wajahnya menunjukkan sesuatu
yang lebih tua dari ketegangan:
pengenalan pola.

Julia akhirnya berteriak:

“Hasan!
Lihat aku!
Jangan lihat ke atas!”

Namun suara itu
tidak lagi mencapai ruang
tempat Hasan berada.

Ia telah bergerak
keluar dari linguistik manusia.

Hasan tersenyum tipis.
Senyum seseorang
yang akhirnya mengerti
sesuatu
yang tidak bisa
dibawa pulang.

Dengan suara
yang kini kembali miliknya sendiri,
ia berbisik:

“Keparat…
aku tidak bisa
tetap…
berbentuk.”

Dan ia menghilang.

Tanpa suara.
Tanpa cahaya.
Tanpa kematian.

Hanya ketiadaan
yang datang
terlalu bersih.

Ruangan jatuh
ke dalam hening total.

Julia dan Delphie
berlutut.

Seolah napas mereka
baru saja dicabut
oleh sesuatu
yang tidak memerlukan tubuh.

NiuNiu berdiri tanpa kata.
Gelangnya padam.

Agnia memadamkan cahaya
pada mahkotanya.
Cahaya terasa
terlalu kasar
untuk momen ini.

Sevraya menyalakan rokok baru.
Tangannya gemetar,
menahan sesuatu
yang bahkan ia
tidak tahu namanya.

Gwaneum membuka mata.
Ada celah kecil
di suaranya—
retak,
bukan dari takut,
melainkan dari pengalaman.

“Tidak apa,” katanya.

Julia menoleh,
marah,
matanya merah.

“Tidak apa?!”

Gwaneum menatapnya tanpa kedip.

Dalam tatapannya
ada ketenangan
orang yang telah melihat
pola ini
berulang kali.

“Tuhan selalu mengambil satu
sebelum ritual,” katanya perlahan.
“Itu tanda
bahwa Ia mulai takut.”

Julia menutup wajahnya.
Tidak ada kemarahan tersisa—
hanya kelelahan.

Lampu-lampu Parthenon padam.

Bukan karena kerusakan,
melainkan seperti bangunan
yang memilih
berkabung.

Di dalam gelap,
hanya enam napas tersisa—
baru saja kehilangan
yang ketujuh.

Administrator Kira
keluar ruangan dengan tenang.

Langkahnya tidak tergesa.

Seolah adegan ini
telah ia hitung
jauh sebelum
siapa pun memahami
naskahnya.

13:14 Adegan Ranjang yang Kotor

Kegelapan bertahan terlalu lama—
cukup lama hingga terasa seperti Parthenon sendiri
sedang menimbang apakah ia masih ingin melanjutkan kisah ini.

Gwaneum akhirnya berbicara.
Suaranya jernih,
dingin seperti catatan obituari.

“Ritual tidak berhenti.”

Julia mengangkat wajah.
Kemarahan memotong gelap seperti pisau.

“Kau gila?”

Gwaneum tidak menatapnya.
Pandangan matanya jatuh ke lantai,
tepat di titik tempat Hasan terakhir berdiri—
seolah jejak itu masih memuat makna yang belum selesai ditulis.

“Ritual tidak boleh berhenti,”
ulangnya pelan.
“Jika berhenti sekarang, penghilangan Hasan menjadi sia-sia.”

Delphie berdiri.
Suaranya bergetar,
hampir runtuh.

“Dia mati! Kau bahkan tidak—”

“Tidak,” potong Gwaneum.
“Ia tidak mati.”

Tatapannya berubah.
Di irisnya, lingkaran The Void tipis berputar—
bukan emosi, melainkan mekanisme pengetahuan
yang tidak seharusnya dimiliki oleh makhluk hidup mana pun.

“Dia ditarik keluar dari realitas.
Itu berbeda dari mati.
Mati adalah akhir.
Ditarik adalah perpindahan ke ruang yang tidak memiliki izin.”

Sevraya menghembuskan asap rokok.

“Dan tidak ada cara untuk mengambilnya kembali?”

“Tidak dengan cara yang kalian kenal,”
jawab Gwaneum.
“Zero menariknya ke garis lurus—
tempat setiap simpangan dianggap kesalahan.
Jika ingin mengambilnya,
garis itu harus dipatahkan.”

Agnia maju.
Nada suaranya bersih,
seperti perintah yang tidak mengizinkan diskusi.

“Baik. Kita lanjutkan ritual.
Kita patahkan garis.
Kita tarik Hasan kembali.”

Gwaneum mengangguk kecil.
Tidak ada kemenangan pada wajahnya.

“Itu teori paling sederhana,”
katanya.
“Dan teori selalu gagal saat praktik.”

Ia menepuk ranjang besi kotor di belakangnya.

Ranjang itu menyala.
Bukan cahaya suci,
melainkan pancaran sistemik yang kasar.

Diagram muncul:

> Shadow — Sea — Light — Rose — Rose — Air

Satu titik berkedip merah.

> [AIR: MISSING] [RITUAL INCOMPLETE]

Gwaneum menatap mereka satu per satu,
memastikan pemahaman hadir sebelum konsekuensi.

“Enam simpangan dasar eksistensi.
Hanya enam ketidakselarasan ini yang cukup kuat untuk memecah garis.”

Ia menunjuk titik yang berkedip.

“Dan sekarang kita hanya punya lima.”

NiuNiu menulis cepat di gelangnya:

> “CARI ELEMEN UDARA LAIN.”

Gwaneum menggeleng.

“Udara bukan unsur.
Ia metafora.
Hasan bukan udara karena ia tadi terbang.
Ia udara karena ia formless.”

“Ia mengisi ruang kosong.
Ia berubah bentuk sesuai tempatnya.
Ia—dengan caranya sendiri—
adalah gangguan yang sempurna.”

Delphie berbisik, nyaris tak terdengar.
“Tidak ada yang bisa menggantikannya?”

Diam turun.
Bukan diam ragu.
Diam keputusan.

Gwaneum menatap Delphie.
Dan Delphie mengerti jauh sebelum kata-kata datang.

“Tidak,” bisiknya.
“Kau tidak boleh—”

Terlambat.

Gwaneum meraih pisau Andamante milik NiuNiu
dan menusukkannya ke telapak tangannya sendiri.

Darah yang keluar bukan merah.
Warnanya seperti residu gelap dari sesuatu yang pernah ada lalu dihapus.

Ranjang menyerapnya.
Diagram berubah.

> [AIR: MISSING] [AUTO-FILL INITIATED] [SCANNING COMPATIBLE
> DEVIATIONS]
>
> [ROSE COUNT: 2] [ERROR: THIRD ROSE DETECTED]
>
> [GWANEUM.ROSE — VOID-TOUCHED VARIANT] [AIR PROXY: ACTIVATED
> VIA VOID RESONANCE]
>
> [ROSE COUNT: 2 → 3] [AIR STATUS: FILLED]
>
> Shadow — Sea — Light — Rose — Rose — Rose
>
> [SIX DEVIATIONS: COMPLETE]

Julia mengernyit.
Kesadaran itu terlambat,
tapi menghantam: Gwaneum juga seorang Rose.

Delphie mundur.
Wajahnya pecah oleh ngeri dan pengertian.

NiuNiu membeku.
Bayangannya retak.

Agnia melirik Sevraya.
Sevraya mengangguk pelan, seolah mengonfirmasi tesis lama:
“Kesempurnaan kadang lahir bukan dari kehendak,
melainkan dari retakan.”

Tubuh Gwaneum gemetar.
Namun ia tersenyum tipis.

“Aku bukan udara,”
katanya lirih.
“Tapi aku cukup berkabut untuk mengisinya.”

Seluruh Parthenon bergetar—
bukan sebagai mesin,
melainkan sebagai struktur yang memahami apa yang akan terjadi.

> [RITUAL 6-SIMPANGAN: READY]
> [HASAN: LOST TO ZERO]
> [ZERO: ASCENDING]
> [COMMENCING DEICIDE PROTOCOL]

Gwaneum menutup mata.
Artefak Eye of The Void di dalam Dorian bereaksi.

Ketika ia membukanya kembali,
ia tampak lebih tua—
bukan oleh usia, melainkan oleh beban ide.

“Bersiaplah,”
katanya.
“Beginilah cara kita membunuh garis lurus.”

13:15 Aktivasi Trinitas Rose

Tiga cahaya bangkit dari ranjang kotor.

Merah — Julia Rose.
Putih — Delphie Rose.
Abu-hitam — Gwaneum Rose.

Mereka membentuk segitiga yang tidak seharusnya stabil,
namun justru bertahan.
Selaras.

Gwaneum membuka mata.
Mata itu bukan lagi milik manusia.
Bukan karena kosong,
melainkan karena terlalu banyak yang telah dilihat.

“Sekarang lengkap,” katanya pelan.
“Simpangan identitas:
masa kini,
kemungkinan,
dan masa depan yang gagal.”

Delphie terisak.
Air matanya jatuh tanpa suara.

“Kenapa ada versi aku yang seperti ini…?”

Gwaneum menyentuh pipinya.
Gerakannya lembut.
Bukan sebagai penenang,
melainkan sebagai pengakuan.

“Karena kamu memilih untuk hidup,”
katanya.
“Dan aku memilih untuk tertinggal.”

Parthenon bergetar.
Bukan sebagai mesin,
melainkan sebagai saksi.

> [TRINITAS ROSE — AKTIF]
> [TIGA SIMPANGAN TERSINKRONISASI :: EYE OF THE VOID]
> [TRAJEKTORI ZERO — TERKUNCI]

Sesaat kemudian—

> [TRINITAS 0.00001 Hz — AKTIF]
> [TIGA SIMPANGAN TERSINKRONISASI :: EYE OF THE VOID]
> [TRAJEKTORI ZERO — TERFRAKTUR]
BINDING :: TWO-TRINITY PROTOCOL
> [DEICIDE PROTOCOL — ACTIVE]

Dari balik retakan ruang,
Zero merespons.
Bukan dengan kata,
melainkan dengan penolakan murni.

> Tiga Rose?
> Tidak mungkin.
> Tidak mungkin
> Tidak mungki
> Tidak mungk
> Tidak mung
> Tidak mun
> Tidak m
> Tidak
> Tida
> Tid
> Ti
> T
>

Artefak Eye of The Void dalam Dorian Grey berhenti berdenyut selama 3 detik.

Menyerap.
Mematahkan garis lurus.

> [False God Terminated]

Gwaneum tersenyum tipis.
Senyum seseorang yang memahami definisi system
lebih baik daripada sistem itu sendiri.

“Begitulah,”
katanya,
“cara sebuah kesalahan membunuh kesempurnaan.”

Ritual selesai.
Altar ranjang kotor menyelesaikan tugasnya.

Pertanyaan:
Apakah Tuhan benar-benar mati?

Akhir dari Timer 13:00


Apa yang rusak
ketika kesalahan
mulai hidup?


Share/Copy link: