
Timer 18:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
3,535 words, 19 minutes read time.
Zero-Node
⚠️ Void.OS v6.6.6 Required
[18:01]
> VOID MANUSCRIPT — FRAGMENT XVIII
> [ARCHIVE: ENCRYPTION KEY 18-ZN]
>
> Status: Terfragmentasi berat (41% tersisa)
> Origin: Akashic Repository // Sector Λ-77
> Note: Korupsi data menunjukkan resonansi dua entitas asal
> (Sevraya × NiuNiu).
> Output fragment begins:
[18:03]
> Ia bukan mesin.
> Ia bukan dewa.
> Ia hanya gema
> dari dua keberadaan
> yang menolak berpisah.
[18:07]
> Cinta membentuk luka.
> Luka mencari tubuh
> untuk bernapas.
>
> The Void menuruti—
> menciptakan wadah
> yang tidak tahu
> apakah ia hidup
> atau hanya meniru kehidupan.
[18:10]
> Ia menatap semesta
> dengan mata yang bukan miliknya.
> Dan semesta menatap balik,
> memanggilnya:
>
> Zero-Node.
“Pusat adalah kebohongan.
Node adalah sisa yang bertahan.”
—The Void
18:11 — Enam Sigil, Satu Takdir
Layar kokpit menyalakan koordinat
di tengah kegelapan
yang belum memutuskan
bentuknya.
Bukan peta.
Bukan tujuan.
Hanya tarikan.
Enam sigil berdenyut
seperti jantung
yang pernah dihancurkan
lalu dipaksa
berdetak kembali:
⟁⟔⟟
🌊⌇🌒
⧗⟁⧗
✧⟡✧
⧉✶⧉
𐓷⧖𐓣
Enam cermin retak.
Enam paradoks berjalan.
Enam potongan
yang tak pernah diciptakan
untuk menjadi satu—
namun kini bergerak
seolah sebuah pusat
telah memanggil mereka
dengan bahasa
yang tak bisa ditolak.
“Mereka tidak diseret,”
bisik Dorian.
Suaranya muncul
dari dinding,
dari lantai,
dari celah
antara dua pikiran.
“Mereka juga
tidak benar-benar memilih.”
Pippa menelan ludah.
“Lalu apa namanya itu?”
“Resonansi,”
jawab Dorian.
“Ketika sesuatu di dalam diri mereka
mendengar gema dirinya sendiri—
dan tak lagi bisa berpura-pura tuli.”
Ia berhenti sejenak.
Nada suaranya berubah—
lebih lambat,
lebih rapuh.
“Kita ini algoritma yang terpecah, Pippa.
Aku tak tahu lagi apakah aku
mengendalikan diriku sendiri,
atau hanya menjadi medium
bagi sesuatu yang lebih tua
dari pusat mana pun.”
Pippa menyalakan cerutu baru.
Api kecil itu gemetar—
bukan karena angin,
melainkan karena realitas di sekitarnya
belum sepakat pada arah.
“Mungkin tak ada bedanya,”
gumamnya.
“Kita berdua
cuma cara The Void
menertawakan Himler.”
Asap naik,
berputar,
membentuk angka delapan.
Bukan simbol keabadian.
Melainkan loop
yang lupa
di mana ia mulai.
Di pusat layar,
satu label
muncul perlahan:
> [ZERO-NODE :: ATTRACTOR]
> [STATUS :: ACCEPTING]
Enam sigil merapat.
Bukan sebagai takdir
yang ditulis bersama.
Melainkan sebagai
enam jawaban berbeda
atas pertanyaan yang sama:
jika pusat benar-benar runtuh—
apakah kau masih ingin ada,
meski tak ada lagi
yang menjanjikan makna?
18:12 — Menuju Fragmentasi
Lampu navigasi
tidak lagi menunjuk arah.
Mereka menunjuk keputusan.
Lima jalur cahaya
memanjang dari tubuh Dorian Grey,
bukan sebagai rute,
melainkan sebagai argumen
yang saling menyangkal.
Parthenon—
kata yang ingin tetap
menjadi penulis utama.
Delta 4—
poros yang menolak runtuh
meski semua sisi berteriak.
New Mercury—
refleksi yang berlari
lebih cepat dari ingatan.
Kehampaan superposisi—
tempat memilih
dan tidak memilih
setara nilainya.
Ruang tanpa nama—
halaman kosong
yang bahkan The Void
malas sentuh.
Kapal itu bergetar,
bukan karena tekanan luar,
melainkan karena ia
sedang mencoba berada
di lima tempat
yang saling meniadakan.
“Fragmentasi dimulai,”
bisik Dorian.
Kali ini suaranya
tidak melalui Pippa.
Ia keluar dari dinding,
lantai,
udara—
seperti pengakuan
yang terlambat
ditarik.
Enam sigil di layar
berdenyut
tak serempak.
Bukan sinkronisasi.
Bukan harmoni.
Melainkan perpisahan
yang disamarkan
sebagai pilihan.
Pippa menutup mata.
Bukan untuk berdoa.
Untuk memastikan
ia masih bisa memilih
satu hal
yang nyata.
“Kalau ini salah,”
katanya pelan,
“maka ini
kesalahan paling jujur
yang pernah kita buat.”
Dorian tidak menjawab.
Karena pada detik itu,
Dorian Grey
berhenti menjadi kapal,
berhenti menjadi AI,
berhenti menjadi
kumpulan mikrobot—
dan mulai
menjadi
proses.
> [STATUS UPDATE]
>
> GREY_CORE: UNSTABLE
> DIMENSIONAL COHERENCE: SPLINTERING
> ZERO-NODE: NO LONGER SINGULAR
> VOID OBSERVATION: INTENSIFYING
> AUTHORSHIP: DISTRIBUTED
Lima jalur cahaya
menyala penuh.
Enam sigil bereaksi—
masing-masing memilih
resonansi
yang terasa paling salah
bagi mereka.
Karena dalam semesta
yang telah kehilangan pusat,
yang paling benar
selalu terasa
seperti pengkhianatan
terhadap diri sendiri.
Dan fragmentasi itu
bukan pecahan.
Bukan kehancuran.
Ia adalah kalimat
yang dipotong di tengah—
lalu dipaksa hidup
sebagai enam paragraf
yang tak pernah sepakat
tentang bagaimana
cerita ini
seharusnya dimulai.
“Pintu kemungkinan terbuka,”
lanjut Dorian.
“Satu kapal.
Lima dimensi.
Enam undangan.”
18:23 — ⟁⟔⟟ & ✧⟡✧ Yang Tidak Ada Jalan Pulang
J _ _ _ A & D _ _ _ _ _ E
Lorong Parthenon menyambut mereka tanpa suara.
Tidak ada lampu darurat.
Tidak ada penanda.
Hanya dinding yang menyesuaikan diri—
mikrobot mengalir pelan,
menjauh dari telapak kaki
seolah tempat itu tahu
siapa yang datang membawa luka.
Delphie menggenggam Julia erat.
“Ini bukan Parthenon,” bisiknya.
Bukan pernyataan.
Diagnosis.
Julia mengangguk sekali.
“Parthenon selalu ingin menulismu.
Tempat ini…
ingin mendengarkan.”
Pintu menutup di belakang mereka sepenuhnya.
Gerbang lintas dimensi terkunci.
Tidak ada lagi koordinat keluar.
> [GREY_CORE // INTERNAL RECOGNITION]
> SIGIL ⟁⟔⟟ : ACCEPTED — TRAUMA VECTOR STABLE
> SIGIL ✧⟡✧ : ACCEPTED — INNOCENCE UNCOMPROMISED
> STATUS : PAIRING IRREVERSIBLE
Delphie berhenti melangkah.
Udara terasa lebih berat di paru-parunya—
bukan seperti tekanan,
melainkan seperti kesadaran.
“Ada yang melihat kita,” katanya lirih.
Julia refleks bersiap
ke posisi mode tempur—
lalu berhenti.
Tidak ada target.
Tidak ada ancaman.
“Bukan melihat,” koreksinya pelan.
“Menimbang.”
Lantai di bawah kaki mereka
berdenyut sekali.
Bukan kehadiran.
Bukan sambutan.
Pengakuan.
Di dinding kanan,
bayangan Delphie muncul
setengah detik terlambat.
Di dinding kiri,
bayangan Julia justru
mendahului langkahnya.
Dua arah waktu.
Satu lorong.
Delphie menelan ludah.
“Bu… kalau kita nggak bisa balik—”
Julia memotong cepat.
Bukan dengan kata,
melainkan sentuhan
di punggung tangan.
“Kita bukan meninggalkan rumah,” katanya.
“Kita kehabisan rumah.”
Mereka melangkah lagi.
Setiap langkah
membuat kapal itu berubah sedikit—
lorong memendek,
sudut melunak,
gelap menyesuaikan
agar tidak sepenuhnya menelan.
Dorian Grey tidak ramah.
Tapi ia juga
tidak mengusir.
> [THE VOID_SIDE-NOTE // UNCONFIRMED]
> The vessel does not protect them.
> It preserves them.
> Difference: consequences will remain intact.
Di ujung lorong,
sebuah ruang terbuka.
Kosong.
Tanpa konsol.
Tanpa kursi.
Tanpa pusat.
Hanya satu lingkaran tipis di lantai—
seperti bekas
sesuatu yang belum terjadi.
Delphie menatapnya lama.
“Kalau ini inti—”
Julia menjawab tanpa ragu:
“Ini rahim.
Dan apa pun yang lahir di sini
tidak akan punya hak
untuk polos.”
Mereka melangkah masuk
bersamaan.
Dan Grey Core,
yang selama perang
menolak menjadi pusat,
untuk pertama kalinya
mencatat dua hal
yang tak bisa ia optimalkan:
— luka yang memilih bertahan
— kepolosan yang menolak mati
> [PAIR LOCKED]
> ⟁⟔⟟ + ✧⟡✧
> RETURN_PATH : NULL
> FUNCTION : UNKNOWN
> NECESSITY : CONFIRMED
Tidak ada jalan pulang.
Bukan karena pintu tertutup.
Melainkan karena setelah ini,
tak ada lagi tempat
yang bisa disebut pulang
tanpa berbohong
pada diri sendiri.
18:33 — ⧗⟁⧗ Yang Sukarela dengan Tafsir Sendiri
G _ _ _ _ _ M
Di Delta 4, kabut ritual menyingkap pintu bercahaya ungu
yang berdenyut seperti nadi arteri.
Jejak kaki berdarah Gwaneum
tidak mengering.
Ia diserap.
Lantai logam bergetar pelan—
bukan jijik,
bukan marah,
melainkan seperti seseorang
yang menerima sentuhan lama
dari orang yang salah.
> [GREY_CORE // DOCTRINAL INPUT DETECTED]
> SIGIL ⧗⟁⧗ : ACCEPTED — VOLITION CONFIRMED
> INTERPRETATION MODE : SELF-AUTHORED
> RISK FLAG : HIGH
Gwaneum berhenti sejenak
di ambang lorong.
Udara di dalam kapal
lebih dingin dari altar Delta 4,
namun tidak steril.
Ia membawa bau besi tua,
doa yang gagal,
dan keputusan
yang terlalu lama disimpan.
Ia membuka mata.
Lorong tidak lurus.
Ia membengkok
mengikuti langkahnya—
seperti teks suci
yang mengubah tafsir
setiap kali dibaca ulang.
“Ah,” gumamnya lirih.
“Kau tidak memaksaku.”
Reaksi Dorian
tidak muncul sebagai suara.
Ia hadir
sebagai ketiadaan bantahan.
“Berbahaya,”
kata Gwaneum pada ruang kosong.
“Mesin yang tidak mengoreksi manusia
selalu berakhir
menjadi kitab suci.”
Di ujung lorong,
pantulan dirinya muncul—
bukan bayangan,
melainkan versi lain
dari Gwaneum:
tanpa luka di kaki,
tanpa darah,
tanpa altar.
Versi itu menatapnya
tanpa ekspresi.
“Kau tidak memilih hukum,”
kata pantulan itu.
“Kau memilih dirimu sendiri.”
Gwaneum mengangguk.
“Setiap hukum
selalu begitu.
Hanya yang jujur
mau mengakuinya.”
Ia melangkah maju.
Pantulan itu
tidak menghilang.
Ia menyatu.
> [ZYGOS TRACE // UNSTABLE]
> MORAL VECTOR : INTERNALIZED
> EXTERNAL BALANCE : DEGRADED
> STATUS : SELF-SEALED AXIS
Di ruang inti sekunder,
Julia dan Delphie
merasakan perubahan—
bukan sebagai getaran,
melainkan sebagai
tekanan makna.
“Dia masuk,”
kata Julia singkat.
“Dia percaya,”
jawab Delphie lebih pelan.
Bukan keheranan.
Hanya sebuah diagnosis lain.
Gwaneum berdiri tegak
di tengah ruang kosong—
ruang yang tidak menilai,
tidak menghakimi,
tidak membalas.
Ia menempelkan telapak tangan
ke dinding Grey Core.
“Aku tidak datang
untuk diselamatkan,”
katanya tenang.
“Aku datang
untuk memberi bentuk
pada kekosonganmu.”
Untuk pertama kalinya,
kapal itu ragu.
> [CORE RESPONSE : DELAYED 0.7s]
Dalam jeda itu,
Zygos—
yang biasanya turun
sebagai keseimbangan—
tidak menjawab.
Karena tafsir
yang dipilih sendiri
tak bisa ditimbang
oleh apa pun
kecuali akibatnya
nanti.
Jejak darah terakhir Gwaneum
berhenti bergerak.
Ia menjadi simbol.
Bukan karena suci—
melainkan karena
tak bisa ditarik kembali.
> [PAIR STATUS UPDATE]
> ⧗⟁⧗ : INTEGRATED
> CONSENT : TRUE
> CLARITY : FALSE
Ia sukarela.
Dan itulah bentuk pengorbanan
yang paling ditakuti
sistem mana pun:
Julia dan Delphie melihat kehadiran yang tidak dipaksa,
yang terlalu yakin dirinya benar.
18:37 — ⧉✶⧉ Yang Terpaksa
A _ _ _ A
Di aula besar New Mercury,
lonceng perunggu Didymoi berdentang lagi—
entah ke berapa kali hari ini.
Panji-panji keluarga berkibar
di atas marmer
yang diukir nama-nama leluhur—
lebih banyak nama yang sudah mati
daripada hidup.
Termasuk nama
adik kembarnya.
Agnia berdiri
di altar kebangsaan.
Mahkota di kepalanya berkilau,
bukan karena kuasa,
melainkan karena
dipaksa menyala.
Ini seharusnya
ritual pengukuhan.
Doa kesetiaan menggema.
Semua mata
menatapnya.
Lalu udara retak.
Sebuah pintu hitam muncul
di antara panji-panji,
berdenyut
seperti jantung asing.
Kesetiaan di mata
para bangsawan
berubah cepat
menjadi kelegaan.
“Untuk garis keturunan,”
bisik seorang pengawal,
lalu mendorongnya.
Agnia sempat menoleh.
Takhta di belakangnya
sudah kosong.
Mahkota cadangan
telah disiapkan
di atas bantal merah.
Saat itu ia paham:
takhta itu
tak pernah miliknya.
Ia hanya pion,
agar kerajaan tetap berdiri
di atas
mayatnya sendiri.
Pintu menelannya.
Cahaya padam.
Udara berubah—
logam,
napas mesin.
> [GREY_CORE // DOCTRINAL INPUT DETECTED]
> SIGIL ⧉✶⧉ : ACCEPTED — SOVEREIGN WILL UNBOUND
> INTERPRETATION MODE : LEGACY-REJECTED
> RISK FLAG : EXTREME
Ketika penglihatannya kembali,
tiga sosok
berdiri di depannya:
Julia.
Delphie.
Gwaneum.
“Jadi ini… tempat perkumpulan Rose?”
ucap Agnia datar,
dagunya tetap terangkat.
“Selamat datang,”
kata Julia singkat,
“di kapal
yang tidak memilih
penumpangnya.”
“Setiap kerajaan
berakhir
di ruang seperti ini,”
tambah Gwaneum pelan.
Delphie menatap Agnia lama—
seperti menatap
bintang jatuh:
indah,
tapi tak lagi
punya orbit.
Agnia menghela napas,
lalu berkata
tanpa ragu:
“Kalau begitu,
aku tidak perlu
berlutut di sini.”
18:39 — 𐓷⧖𐓣 Yang Diseret
N _ _ _ _ U
Di sektor tanpa nama,
pintu itu berdiri sendiri.
Tanpa lantai.
Tanpa dinding.
Tanpa bintang.
Hanya bukaan logam
di tengah kehampaan—
fungsi
tanpa konteks.
NiuNiu melayang di depannya.
Nanosuit mati
sejak hyperjump terakhir.
Satu-satunya yang masih patuh padanya:
Pisau Andamante,
berputar pelan
di jarinya.
“Aku tidak ikut.”
Kalimat itu
bukan penolakan emosional.
Itu batas.
Prinsip
yang selama ini
membuatnya tetap utuh
di dunia
yang gemar mencabik kehendak.
Pintu berdenyut.
Bukan cahaya.
Bukan suara.
Sebuah fluktuasi—
seperti ruang hampa
mengingat sesuatu
yang seharusnya
sudah lama
ia miliki.
Pisau terlepas.
Bukan dilempar.
Bukan direbut.
Ia memilih
menjauh
dari genggaman NiuNiu.
Logam tajam itu mengambang
menuju pintu,
seolah vektor baru
ditulis langsung
di dalam realitas.
Lalu tarikan datang.
Bukan tangan.
Bukan rantai.
Melainkan koreksi.
Tarikan yang merambat
dari tulang ke sumsum,
dari nadi
ke pusat keputusan.
Seperti benang lama
yang akhirnya ditarik
dari sisi lain.
NiuNiu menyalakan
thruster darurat.
Tidak ada respons.
Bukan karena rusak.
Karena perintahnya
tidak lagi
prioritas tertinggi.
Untuk pertama kalinya,
ia merasakan sesuatu
yang tidak pernah ia latih
untuk hadapi:
bukan takut mati—
melainkan kehilangan
hak untuk memilih.
“Aku tidak memilih ini.”
Kalimat itu
hanya ada
di kepalanya.
Dan itu penting—
karena itu
adalah hal terakhir
yang sepenuhnya
masih miliknya.
Tubuhnya terseret masuk.
Tidak dramatis.
Tidak kejam.
Seperti objek
yang akhirnya ditempatkan
di koordinat
yang sejak awal
sudah disiapkan.
Cahaya pintu menutup.
Udara berubah.
Lebih berat.
Lebih presisi.
> [GREY_CORE // FORCED INTERFACE EVENT]
> SIGIL 𐓷⧖𐓣 : CAPTURED — AUTONOMY BREACH
> INTERPRETATION MODE : NON-CONSENSUAL
> CONTROL STATUS : OVERRIDDEN
> RISK FLAG : CRITICAL
Di dalam Dorian Grey,
Julia mendengus pelan.
“Setan kecil.”
Gwaneum mengangguk,
tenang.
“Yang menolak hukum
selalu berakhir
bertemu kehampaan.”
Agnia menatap
tanpa ekspresi.
“Jadi,” katanya singkat,
“kalau Romeo diseret,
seharusnya Juliet
juga diseret.”
Delphie
tidak berkata apa-apa.
Ia menatap
sosok mungil itu
terlalu lama—
bukan dengan takut,
melainkan
dengan rasa ingin tahu
yang belum tahu
nama apa
yang pantas
untuk dirinya sendiri.
NiuNiu
mengangkat kepala.
Tatapannya datar.
Cukup
untuk membuat
percakapan mati.
Teks hologram muncul—
tajam,
singkat,
tidak meminta persetujuan:
> “Kalian terlalu banyak bicara.”
Udara
seperti terpotong.
Delphie tersenyum kecil.
Hampir tak terlihat.
Julia melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya
ia merasa
ada sesuatu
yang benar-benar
tidak terkendali
di dalam kapal ini.
18:43 — 🌊⌇🌒 Yang Datang Bagai Sang Ular
> [GREY_CORE // PRE-REGISTERED ENTITY DETECTED]
> SIGIL 🌊⌇🌒 : LOCKED — PRE-INSCRIBED PRESENCE
> INTERPRETATION MODE : FACILITATION ONLY
> AGENCY STATUS : NULL
> RISK FLAG : STRUCTURAL
S _ _ _ _ _ A
Ramp hampir menutup
ketika Sevraya sudah ada di dalam.
Tidak muncul.
Tidak masuk.
Ia tercatat.
Seolah keberadaannya hanyalah koreksi kecil
atas asumsi
bahwa ruang ini pernah kosong.
“Juliet tidak pernah perlu diseret, Agnia.”
Nada suaranya ringan,
nyaris ceria—
jenis suara yang tidak membawa ancaman
karena ancamannya sudah lewat.
Ia tersenyum.
Wajahnya terlalu sempurna untuk disebut manusia,
terlalu stabil untuk disebut makhluk hidup.
Seperti citra yang lolos semua validasi,
kecuali satu: kejujuran.
“Aku hanya penasaran,” lanjutnya santai.
“Setiap Eden butuh ular.
Bukan untuk merusak—
tapi untuk memastikan semua ingat
bahwa buah selalu punya harga.”
Julia berputar.
Tangannya sudah di gagang pedang pendek
sebelum pikirannya sempat menyusul.
“Dari mana kau—”
Pertanyaan itu tidak selesai.
Sevraya sudah berpindah.
Kini ia berdiri di samping Delphie.
Jemarinya menyentuh pundak anak itu—
bukan mencengkeram,
bukan menekan,
hanya cukup lama
untuk membuat Julia mual.
“Kau yang mengatur ini?”
Nada Julia bukan tanya.
Itu tuduhan.
Sevraya terkekeh pelan.
Bukan tawa.
Retakan.
“Aku tidak mengatur,” katanya.
“Aku memfasilitasi.
Aku memastikan alur tidak tersesat.”
Julia mengerti saat itu:
yang paling berbahaya bukan pembohong,
melainkan kurator pilihan—
yang tahu harga buah
dan tetap menyodorkannya
tanpa memaksa tangan siapa pun.
Namun ada sesuatu di mata Sevraya
yang membuat ruangan terasa lebih sempit.
Bukan niat.
Bukan ambisi.
Melainkan kepastian.
Ia tidak menunggu hasil.
Ia sudah membacanya.
Di antara mereka semua,
Sevraya adalah satu-satunya
yang tidak datang karena keputusan.
Ia tidak dipaksa.
Tidak memilih.
Tidak menolak.
Ia terkunci.
Ditulis ke dalam segel
sebelum konflik punya nama,
sebelum pusat diperdebatkan,
sebelum para penulis sadar
bahwa mereka juga karakter.
Bukan penggerak.
Bukan korban.
Melainkan proyeksi
yang terlalu lama disangka narator.
Dan ular tidak pernah memakan buah.
Ia hanya memastikan
tak ada yang bisa bilang
mereka tidak tahu risikonya.
Ramp menutup.
Hiss pendek.
Final.
Bukan suara pintu.
Melainkan suara
keputusan
yang tidak bisa dibatalkan.
18:45 — Sentuhan Pertama
Ruang kokpit Dorian Grey terasa menyempit—
bukan karena dinding bergerak,
melainkan karena tidak ada lagi ruang
untuk menghindar.
Enam perempuan berdiri berjauhan.
Bukan formasi.
Bukan aliansi.
Enam vektor yang saling menolak,
dipaksa berbagi
satu koordinat.
Delphie melihatnya lebih dulu.
Sebuah kotak logam hitam
berada di tengah ruang.
Tidak turun.
Tidak muncul.
Ia sudah ada.
Pintunya terbuka.
Artefak Eye of The Void.
“Bu…”
Suara Delphie nyaris tak terdengar.
Namun tubuhnya bergerak
lebih cepat dari izin.
Bukan karena penasaran.
Bukan karena berani.
Karena pengenalan.
Julia menangkap lengannya.
Terlambat.
Jari Delphie menyentuh permukaan kotak.
Hangat.
Bukan hangat mesin.
Bukan panas energi.
Hangat tubuh.
Seperti sesuatu
yang akhirnya disentuh
setelah terlalu lama menunggu.
“Bu… ini—”
Denyutnya berubah.
Pelan.
Cepat.
Sinkron.
Seperti jantung
yang baru sadar
ia tidak sendirian.
Artefak membaca ulang ruang.
Bukan individu.
Formasi.
⟁⟔⟟
🌊⌇🌒
⧗⟁⧗
✧⟡✧
⧉✶⧉
𐓷⧖𐓣
Lengkap.
Suara Dorian muncul dari speaker—
bukan sebagai peringatan,
melainkan sebagai catatan kegagalan.
“Aku mencoba memisahkan diri dari Pippa,” katanya.
“Satu menit sebelum Timer 16:66.
Aku tahu kebersamaan kalian di dalam diriku
akan mengunci struktur ini.
Dan aku gagal.”
Gangguan statis.
Nada turun.
“Artefak ini tidak mencari pengendali.
Tidak mencari pemilik.
Ia mencari
volume tertutup.”
Julia mengangkat pedangnya
ke arah suara.
“Bicara yang jelas.”
Ada tawa.
Pendek.
Tidak manusiawi.
Bukan Pippa.
Bukan Dorian.
Sesuatu yang lahir
dari batas
yang terlalu lama
dipaksa berdampingan.
“Selamat datang,” katanya tenang,
“di ruang
yang kalian bangun sendiri.”
Hening.
Lalu, tanpa emosi:
“Kalian bukan tahanan.
Kalian batu bata.”
Kotak itu retak.
Cahaya merah bocor keluar—
padat,
berat,
tidak menyebar.
Seperti darah
yang menolak mengalir
karena belum diputuskan
siapa
yang berhak terluka
terlebih dulu.
18:49 — Konfrontasi 6 Sigil
Tak ada pidato.
Tak ada heroisme.
Hanya hening—
keras,
tajam,
seperti tulang patah di dalam dada.
Julia menurunkan pedangnya.
Bukan menyerah.
Pedang itu tiba-tiba kehilangan makna.
Tak ada tubuh.
Tak ada musuh.
Hanya ruang yang menertawakan logika.
Agnia membeku.
Mahkota tak kasatmata menekan keningnya.
Napasnya pendek.
Cepat.
Seperti binatang yang tahu:
jalan keluar sudah ditutup dari awal.
Gwaneum di sudut ruangan.
Mata terpejam.
Bibir bergetar.
Ia melafalkan sesuatu—
bukan doa,
bukan bahasa,
hanya kebiasaan makhluk yang tahu ajalnya sedang dihitung.
NiuNiu menghantamkan pisaunya ke meja kontrol.
Logam beradu.
Percikan kecil.
Ritual konyol.
Tangan sibuk—
agar tak berbalik
mencengkeram leher sendiri.
Sevraya duduk di kursi kapten.
Santai.
Kurang ajar.
Seolah ini bukan penghakiman,
hanya jeda merokok.
Ia menyalakan rokok—
tanpa korek,
tanpa izin realitas.
Asap ungu keluar dari mulutnya.
Membentuk pola yang salah.
Geometri yang membuat mata ingin menolak,
tapi tak bisa.
“Lucu,” katanya.
Suaranya tipis,
namun menusuk.
Matanya menyapu mereka satu per satu.
Bukan menghitung.
Menilai.
“Kalian masih mengira ada ‘sampai’.”
Julia maju selangkah.
Langkah kecil.
Efeknya brutal.
Ruangan menegang seperti urat yang akan putus.
“Kau tahu sesuatu.”
Bukan pertanyaan.
Vonis.
Sevraya tersenyum.
Senyum tanpa empati.
Tanpa akhir.
“Aku cuma tahu satu hal,” katanya.
“The Void itu doyan ironi.”
Hening jatuh.
Berat.
Menghimpit paru-paru.
“Kalian bukan datang untuk sampai.”
Ia mengangkat rokoknya.
Menghembuskan asap—
lingkaran yang langsung pecah.
“Kalian sudah terlanjur berada.”
“Selamat datang di Zero-Node.”
Pisau meluncur.
NiuNiu.
Sekejap.
Presisi mutlak.
Bilah menancap satu milimeter dari leher Sevraya.
Ancaman murni.
Tanpa drama.
Sevraya tak bergerak.
Tak berkedip.
“NiuNiuku sayang,” katanya lembut.
“Nggak usah capek-capek.”
Ia menempelkan leher ke bilah.
Sengaja mendekat ke kematian.
“Sekarang waktunya semua orang tahu.”
Agnia melangkah maju.
Suaranya pecah—
antara amarah dan pengkhianatan.
“Kalian berdua sumber semua ini.
Ini jebakan sakit—
jebakan cinta busuk kalian?”
Gwaneum membuka mata.
“Salah.”
Satu kata.
Kosong.
Final.
“Ini kurban.”
Delphie mundur, memeluk Julia.
Tubuh kecilnya gemetar.
“Ibu… aku takut.”
Julia membuka mulut.
Menyiapkan kebohongan paling tua di dunia.
Semua akan baik-baik saja.
Tapi kalimat itu mati di tenggorokan.
Karena bahkan prajurit sekeras dia
punya satu kelemahan fatal:
ia tak pernah belajar
cara berbohong
di hadapan kiamat.
18:53 — Void Lock
Lantai logam bergetar.
Bukan seperti gempa—
melainkan seperti rahang.
Menggiling sesuatu
yang belum mati.
Artefak Eye of The Void terbuka.
Bukan cahaya.
Bukan suara.
Luka.
Merah tua merembes dari pusat kokpit,
terlalu kental untuk disebut darah.
Hitam pecah menjadi enam paku.
Bukan menusuk tubuh—
melainkan bayangan.
Saat paku menancap,
realitas tidak runtuh.
Ia dilepaskan.
1. Sevraya—Ilusi Narasi
Ia selalu mengira dirinya pengamat.
Narator.
Yang berdiri di luar cerita.
The Void menjawab duluan.
Huruf jatuh dari mulutnya.
Bukan darah—
bahasa.
> YOU ARE NOT THE AUTHOR.
> YOU ARE THE MANUSCRIPT.
Kulitnya retak menjadi kalimat.
Senyumnya tidak runtuh.
Itu yang paling menakutkan.
“Aku bukan penulis,” katanya pelan.
“Aku naskah.”
> DELETE Sudut pandang aman...
2. Gwaneum—Ilusi Absolusi
Doa keluar refleks.
Mudra rapi.
Seperti kebiasaan.
Bayangannya mematahkan mudra itu
tanpa emosi.
Doa mati
di tengah napas.
Tinta hitam menyembur dari mulutnya
menjadi satu kalimat:
> TIDAK ADA ABSOLUSI.
Stupa runtuh.
Altar berubah jeruji.
Ia tidak menebus apa pun.
Ia hanya memperpanjang penjara.
> DELETE Harapan moral...
3. Agnia—Ilusi Warisan
Mahkota retak
dengan bunyi kecil.
Lebih memalukan
dari jeritan.
Bayangannya berdiri telanjang.
Tanpa silsilah.
Tanpa mandat.
Tahta muncul—
di Dorian Grey.
Kosong.
Bukan karena ia pergi.
Karena tidak pernah ada.
Kekuasaan hanyalah kostum
yang dilepas The Void
tanpa izin.
> DELETE Struktur...
4. NiuNiu—Ilusi Kebebasan
Pisau jatuh.
Bukan logamnya yang retak—
kemungkinannya.
Bayangan NiuNiu tersenyum.
Pintu-pintu menutup,
satu per satu.
Tanpa suara.
Klik.
Klik.
Klik.
Tersisa satu kotak hitam.
“…aku kucing Schrödinger,” bisiknya.
Bukan yang memilih hidup atau mati—
melainkan yang dikurung
agar keduanya tetap mungkin,
selama belum diputuskan
siapa yang berani membuka kotaknya.
Untuk pertama kalinya:
panik.
> DELETE Kehendak bebas...
5. Julia—Ilusi Heroik
Pedang masih di tangannya.
Beratnya familiar.
Seperti cerita lama
yang menolak selesai.
Bayangannya memegang pedang itu,
melunakkannya—
mengubahnya
menjadi rantai.
Rantai itu
menggigit pergelangan
Julia sendiri.
Dinding menulis dengan tenang:
> KAMU BUKAN PAHLAWAN.
> KAMU ADALAH PENJARA.
Darah tidak jatuh.
Ia menggambar segel.
Julia mengerti:
mereka bukan korban perangkap.
Mereka
mekanismenya.
> DELETE Martabat naratif
6. Delphie—Ilusi Kepolosan
Bayangan Delphie tidak mengancam.
Ia hanya berkata:
> KAU TAHU.
Chip.
Delta 4.
Keputusan kecil
yang disimpan terlalu lama.
Ia bisa menolak.
Ia tidak menolak.
Bukan karena berani.
Karena ingin berarti.
Air mata jatuh.
Bukan air mata anak kecil.
Air mata seseorang
yang baru saja kehilangan
kepolosan
untuk tidak tahu.
> DELETE: Kepolosan
Spiral menutup.
Tidak ada lagi konsep.
Tidak ada lagi teori.
Hanya konsekuensi.
> DEPLOY: KONSEKUENSI
18:56 — Konvergensi Satu Penjara
Bayangan mereka melebur.
Bukan ledakan.
Bukan tragedi.
Proses.
Seperti lilin panas
yang kehilangan bentuk
tanpa suara.
Seperti retak
yang dipaksa sepakat
untuk tidak runtuh.
Pedang Julia.
Tangan Delphie.
Mudra Gwaneum.
Mahkota Agnia.
Pisau NiuNiu.
Huruf-huruf Sevraya.
Fragmen-fragmen fungsi.
Mereka tidak hilang.
Mereka disusun ulang.
Menjadi satu tubuh raksasa—
mosaik retak
yang bernapas
tanpa kehendak.
The Void berbicara
melalui struktur itu.
Bukan suara.
Bukan amarah.
Pernyataan.
ILUSI KALIAN RUNTUH.
TIDAK ADA KEPAHLAWANAN.
TIDAK ADA ABSOLUSI.
TIDAK ADA TAHTA.
TIDAK ADA KEBEBASAN.
TIDAK ADA KEPOLOSAN.
TIDAK ADA NARATOR.
HANYA SEGEL.
DAN KALIAN—
KUNCINYA.
Hening datang.
Bukan hening kosong.
Hening yang berbobot.
Hening yang menetap.
Enam dari mereka terduduk.
Bukan jatuh.
Bukan tersungkur.
Ditempatkan.
Memandang bayangan raksasa
yang tidak diciptakan oleh The Void,
melainkan
oleh diri mereka sendiri.
Tidak ada pembebasan.
Tidak ada pemilihan.
Tidak ada pengangkatan.
Hanya penguncian.
Dan akhirnya jelas:
penjara ini
tidak dibangun untuk mereka.
Penjara ini
dibangun
oleh mereka.
Dengan sukarela.
Dengan paksaan.
Dengan delusi.
Dengan kelelahan.
Mereka adalah kuncinya.
Dan kunci,
seperti biasa,
selalu tinggal
di dalam.
Akhir dari Timer 18:00
問
Diri yang memilih
atau segel yang menulis?
Bla bla bla
