
Timer 20:00 — Menatap Akhir Semesta dari Balik Kacamata Hitam.
2,540 words, 13 minutes read time.
Hidup Dalam Rantai
⚠️ Void.OS v6.6.6 Required
[20:01]
🜃 VOID MANUSCRIPT: FRAGMENT XX—LIVING CHAIN
[ARCHIVE: ENCRYPTION KEY 20-LC]
> Status: Rekaman emosional (62% utuh)
> Origin: Dorian Grey Internal Feed // Human-AI Synchrony Layer
> Note: Data sinkron antara enam kesadaran aktif menunjukkan pola
> biologis menyerupai rantai DNA.
[20:02]
> Mereka hidup. Tapi bukan hidup seperti dulu.
> Setiap langkah menarik enam bayangan.
> Setiap napas menyalakan enam paru.
> Setiap kebencian bergetar dalam enam dada yang saling mendengar
[20:03]
> Tidak ada lagi “aku” di dalam Dorian Grey.
> Yang tersisa hanyalah kita—dan “kita” adalah bentuk kesepian paling
> sempurna
[20:06]
> Rantai itu bukan logam.
> Ia bukan alat hukuman.
> Ia adalah sistem kejujuran—struktur yang memaksa mereka untuk berhenti
> berbohong bahkan pada diri sendiri.
[20:09]
> Kebohongan pertama yang pecah adalah suara.
> Yang kedua: cinta.
> Yang ketiga: alasan untuk bertarung.
“Ilusi damai dalam rantai“
20:11 — Bangun Bersama Luka
Julia membuka mata lebih dulu.
Lantai besi dingin menempel di pipinya.
Bau darah kering mengendap di udara,
pahit dan tua.
Kepalanya berputar—
bukan karena benturan,
melainkan karena tubuhnya
terlambat sadar bahwa ia masih ada.
Ia mencoba duduk.
Sesuatu menahan pergelangan kakinya.
Bukan tangan.
Bukan tali.
Sesuatu yang lebih tua dari keduanya—
rantai hitam tak kasat mata,
hangat, berat,
seperti besi yang baru saja selesai makan.
“Bu… kamu gimana?”
Suara Delphie pecah—parau,
ketakutan yang belum sempat belajar berbisik.
Julia menoleh.
Lima tubuh lain mulai bergerak,
tersentak bersamaan:
Agnia meringis,
menahan harga diri yang patah lebih dulu.
Gwaneum batuk darah,
seolah paru-parunya menolak realitas baru.
NiuNiu sudah duduk tegak,
mata kosong—bukan panik, bukan tenang.
Sevraya tersenyum tipis,
senyum seseorang yang telah menghitung hasil sebelum dadu dilempar.
“Kita masih hidup,” gumam Julia.
Setengah lega.
Setengah kecewa.
Ia berdiri—
baru satu setengah meter—
lalu tersentak balik.
Rasa sakit itu bukan hanya miliknya.
Lima tubuh lain ikut meringis serempak,
seperti koor yang dipaksa bernyanyi
dengan satu tenggorokan yang sama.
“Jarak maksimal dua langkah,” kata Sevraya,
menyeka darah dari bibirnya.
“Siapa pun yang mendesain ini,
sense of humor-nya rusak.”
Agnia mencoba berdiri anggun—gagal.
Selama rantainya terkait NiuNiu yang tetap duduk bersila,
sang ratu pun terpaksa jongkok.
Gestur kecil yang meremukkan sisa martabatnya.
“Aku tidak akan hidup seperti anjing terikat,” desis Agnia.
“Sudah,” sahut Gwaneum pahit.
“Kita semua anjing sekarang.
Pertanyaannya siapa yang pegang talinya.”
Delphie meringkuk di sudut.
Tatapannya terpaku pada ruang kosong
di sekitar pergelangan kaki mereka—
takut,
sekaligus terpesona.
“Berapa lama?” bisiknya.
Layar kokpit menjawab lebih dulu.
665:22:14:33… 32… 31…
Julia membaca datar.
“Enam ratus enam puluh lima hari.
Kurang sedikit dari dua tahun.”
Hampir dua jam sejak segel ditutup.
Dua jam yang terasa seperti dua tahun.
NiuNiu menghunus Andamante—
pisau pemutus molekul.
Percikan kecil.
Tak ada goresan.
Rantai itu lebih tua dari logam.
Lebih keras dari logika.
“Pernah dengar kutukan Sisifus?”
Sevraya menyalakan rokok dengan tangan gemetar.
“Bedanya, yang ini lebih kreatif.”
Julia menatap mereka semua.
Musuh yang jadi sekutu.
Orang asing yang akan menyaksikan
setiap detik hidupnya.
Keluarga yang dipahat
bukan dari cinta,
melainkan dari kebencian dan keputusasaan.
“Usulan pertama,” katanya.
Suaranya tegas—meski tubuhnya belum sepenuhnya setuju.
“Kita mandi.
Kita minum kopi.
Dan kita berhenti berpura-pura
ini cuma mimpi buruk.”
20:12 — Shower Kolektif
Shower Dorian Grey dirancang untuk satu orang.
Rancangan itu adalah masalah pertama mereka.
Julia berdiri di ambang pintu ketika Agnia masuk lebih dulu—
eksperimen singkat untuk mengukur sejauh apa rantai memberi ilusi kebebasan.
Dua langkah.
Maksimal.
Agnia belum menyentuh shower head
saat rantai menarik Julia masuk.
NiuNiu terseret.
Delphie menyusul.
Lalu Sevraya.
Terakhir Gwaneum.
Enam tubuh.
Satu ruang.
Terikat rapat seperti sarden yang lupa mati.
Lelucon kosmiknya sederhana:
mereka berpura-pura tidak menatap,
tidak menyentuh—
padahal rantai memastikan
pinggang Julia terus menyenggol Agnia,
bahu Gwaneum menempel ke punggung NiuNiu,
dan napas Delphie tak punya pilihan selain menyapu tengkuk Sevraya.
“Ini bukan mandi,”
desis Julia saat air panas menghantam wajahnya.
“Ini penyiksaan.”
Sabun menjadi sumber konflik pertama.
NiuNiu merebutnya,
membelahnya dengan Andamante
menjadi enam bagian yang tidak adil.
Agnia mendapat serpihan terkecil.
“Seorang ratu,” katanya, tetap anggun
meski rambutnya menetes busa bercampur darah,
“tidak berbagi sabun dengan—”
Ia berhenti. Menatap lima wajah yang sama-sama rusak.
“—whatever you people are.”
NiuNiu melempar serpihan itu ke dahinya.
Teks hologram menyala singkat:
> “Sekarang kau punya sabun kerajaan.”
Air panas mati.
Tersisa tetesan dingin—
menusuk kulit seperti jarum yang tahu ke mana harus masuk.
Delphie menutup telinga, terisak.
“Aku cuma mau sendirian… lima menit saja!”
Permohonannya tenggelam
oleh uap dan sumpah serapah orang dewasa.
Sevraya berdiri paling santai.
Telanjang. Rokok basah masih menggantung di bibir.
Asapnya naik tipis—menyedihkan, tapi konsisten.
“Privasi itu ilusi,” katanya. “Nikmati saja.”
Gwaneum tertawa pelan.
“Jadi ini komedi semesta?”
Ia menyapu mereka satu per satu.
“Enam tawanan telanjang, rebutan sabun busuk.”
Shower berubah menjadi opera sabun—dalam arti paling literal:
air dingin,
busa cepat habis,
rantai memaksa tubuh bersinggungan
dalam gestur yang tak satu pun mereka pilih.
Harga diri mati di sana.
Mereka keluar hanya dengan kulit basah,
handuk lembap,
dan kebencian yang kini punya bau sendiri.
20:23 — Kopi dan Kebencian
Meja bundar kokpit Dorian Grey
berubah jadi altar berikutnya.
Enam cangkir logam mengepulkan kopi pahit—
lebih mirip oli daripada minuman.
Rambut mereka masih basah,
pakaian darurat kebesaran,
luka belum sempat kering.
Rantai berdetak tiap kali kursi bergeser.
Klik.
Klik.
Klik.
Julia menatap kopi hitamnya.
“Kalau kita punya enam ratus enam puluh enam hari,”
katanya pelan,
“dan tiap detik cuma dipakai untuk saling benci… mau ngapain kita?
Duduk manis sampai kita berubah jadi keluarga bahagia?”
Agnia menyibakkan rambut basahnya.
Bahkan dengan rantai berkarat di kakinya,
ia tetap tampak seperti ratu yang sedang menunda eksekusi.
“Menunggu bukan pilihan.
Kita pakai waktu itu untuk menuntaskan sesuatu yang sama-sama kita benci.”
Ia berhenti.
“Dan kita semua tahu siapa targetnya.”
NiuNiu meniup kopi.
Lalu—untuk pertama kalinya sejak entah berapa lama—
bibirnya bergerak membentuk kata.
Bukan hologram.
Bukan teks.
Suara.
“Himler.”
Suaranya pecah dan kasar,
seperti mesin tua yang dipaksa hidup kembali.
Tapi itu suara. Suara asli.
Semua membeku.
Julia hampir menjatuhkan cangkirnya.
Delphie terbelalak.
Bahkan Sevraya berhenti mengisap rokok.
“Kau… bicara,” bisik Delphie, tak sepenuhnya percaya.
NiuNiu tidak menatap siapa pun.
Jemarinya mencengkeram cangkir terlalu kuat.
“Rantai ini,” katanya pelan,
“memaksa kejujuran. Bahkan dari mulut yang sudah lama bisu.”
Hening.
Lalu Gwaneum tertawa—getir, tapi hangat.
“Selamat datang kembali di dunia orang-orang yang bicara, assassin kecil.”
Nama Himler tertinggal di atas meja
seperti kotoran
yang tak satu pun mau menyentuh—
tapi semua tahu
tidak akan bisa dihindari.
20:33 — Aturan Neraka
Julia mendesah.
“Kita nggak bisa hidup pakai kesepakatan kosong.
Kita perlu aturan. Pembagian tugas.
Kalau tidak, kita saling jagal satu sama lain sebelum sempat menjagal Himler.”
“Asal aku tidak disuruh cuci pakaian kalian,”
Agnia menyelutuk, tetap angkuh.
“Tenang, Yang Mulia,” Sevraya terkekeh.
“Kau bagian dekorasi bunga meja makan.”
Rantai Agnia dihentakkan. Meja bergetar.
Julia segera menengahi.
“NiuNiu pilot.
Aku navigasi.
Agnia komunikasi.
Delphie kapten kapal.
Gwaneum mekanik.”
Ia berhenti, menatap Sevraya.
“Sevraya…”
Sevraya mengangkat cangkir kosong, bersulang.
“…manajer paguyuban neraka ini.”
Julia beralih ke layar navigasi Dorian Grey.
Peta holografik menyala: mereka tidak bisa dipetakan.
“Dorian?” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Hanya dengung mesin—lebih pelan dari biasanya.
“AI-nya… mati?” tanya Delphie.
“Bukan mati,” Sevraya menggeleng.
“Mundur. Pippa/Dorian sedang memproses.
Mereka merasakan segel yang sama seperti kita—
fragmentasi yang menyakitkan.”
Agnia memeriksa panel komunikasi.
“Semua channel silent.
Kita off-grid. Vrishchik belum tahu posisi kita.”
“Entah Vrishchik masih ada atau tidak,
itu sekarang bukan pertanyaan penting,”
NiuNiu menimpali.
Suaranya masih terasa asing,
bahkan di telinganya sendiri.
“Selain Himler, ada sesuatu yang bisa merasakan Void resonance.
Kita punya maksimal tujuh puluh dua jam sebelum sesuatu itu…
mendatangi kita.”
“Sesuatu?” Julia mengangkat alis.
NiuNiu menatap layar.
Pupilnya mengecil.
Di bawah sistem navigasi,
satu baris teks berkedip merah:
> [WARNING // VOID PRESSURE LIMIT: 72 HOURS UNTIL CONTAINMENT BREACH]
Ia tidak menjawab.
Tapi ia tahu—
bukan Vrishchik yang akan datang.
Yang akan menemukan mereka
adalah sesuatu yang lebih tua dari waktu,
dan lebih sabar dari kematian.
Julia mengetuk meja pelan.
“Jadi pilihannya: kita lari sampai waktu habis, atau—”
“—dengan rantai ini kita tidak bisa lari,”
potong Gwaneum, menyeringai.
“Kita hanya bisa menghadapi.”
Hening jatuh. Tebal. Seperti udara sebelum hujan.
Gwaneum menertawakan keheningan itu.
“Biarkan sesuatu itu datang,”
katanya sambil meneguk kopi dingin, tenang.
20:34 — Enam Kebencian Satu Cinta
NiuNiu menatap layar navigasi.
Garis merah berdenyut di hologram seperti nadi elektronik.
> [VOID PRESSURE LIMIT: 71 HOURS 56 MINUTES]
Suaranya pelan, tapi tajam.
“Bukan Himler yang akan datang.”
Julia menoleh. “Apa maksudmu?”
Sebelum NiuNiu menjawab,
Sevraya menatap dinding kapal—
seolah mendengar sesuatu di balik lapisan logam.
“Gema itu,” katanya tenang, nyaris berbisik.
“Kau dengar juga, ‘kan?’”
Semua terdiam.
Dorian Grey berdengung lembut—
ritmis, seperti mengulang napas seseorang yang pernah ada.
“Itu bukan suara The Void,” lanjut Sevraya,
matanya tak lepas dari langit-langit kokpit.
“Itu percakapan lama. Yang belum selesai.”
Ia menatap NiuNiu tepat,
seolah kalimat itu dikirim tanpa udara.
“Gema antara aku dan kau.”
Rahang NiuNiu mengeras.
Pisau Andamante bergetar di tangannya.
“Sudahlah,” bisiknya. “Itu cuma arsip. Data sisa.”
“Tapi data bisa bermimpi,” balas Sevraya.
“Dan Dorian Grey adalah mimpi itu.
Kapal ini hidup dari cinta yang kita biarkan menggantung di Void.”
Agnia mengangkat alis.
“Kalian yakin itu cinta,
bukan penyesalan?”
Sevraya tersenyum pahit.
“Kapal penyesalan terdengar terlalu jujur.”
Hening kembali.
Julia menatap dinding kapal yang kini bergetar pelan.
“Jadi yang datang bukan Himler,” katanya lirih.
“Yang datang… adalah gema kalian berdua.”
NiuNiu tak menjawab.
Suara pertama yang pecah justru dari speaker kapal:
> [RESONANCE LOOP DETECTED]
> Source: SEVRAYA_NU.NU_PATTERN / Generation-Δ3
Sevraya menunduk.
“Masih ada. Setelah semua ini.”
“Kalian tahu ini apa?” tanya Julia.
“Gema cinta,” jawab Sevraya.
“Versi lama dari kami.
Dua roh yang masih mencoba
saling menyentuh di dalam Void.”
Delphie bergidik.
“Kalian masih… cinta?”
NiuNiu menjawab datar.
“Tidak. Kami sudah selesai.
Tapi The Void tidak mengerti kata ‘selesai’.
Ia hanya tahu mengulang.”
Hening panjang.
Gwaneum berbicara lirih.
“Jadi yang kita alami sekarang…
masa lalu yang menolak dikubur?”
“Lebih buruk,” kata Sevraya pelan.
“Itu masa lalu yang masih percaya kita sama seperti dulu.”
Agnia menyilangkan tangan.
“Dan kapal ini hidup dari cinta yang sudah mati.”
Julia menatap hologram:
dua siluet merah-biru saling mengitari,
saling tarik, tak pernah menyatu.
“Pertanyaannya,” katanya,
“kalau cinta itu sudah mati,
tapi hantunya masih menciptakan realitas ini—
apa yang harus kita lakukan?”
“Matikan gema itu,” jawab NiuNiu tanpa menatap siapa pun.
“Itu seperti membunuh diri sendiri dua kali,” kata Sevraya.
“Lalu biarkan ia terus hidup?”
suara Julia meninggi.
“Hantu itu membentuk realitas ini.
Kita terjebak di rahimnya.”
“Rahim,” kata NiuNiu sambil berdiri,
“bisa jadi kuburan juga.”
Delphie menatap mereka berdua.
“Jadi… kalian yang menciptakan kapal ini?”
“Tidak,” jawab Sevraya.
“Cinta kami yang menciptakan.
Kami cuma korbannya.”
Kapal bergetar lagi—
logam menirukan detak jantung yang bukan milik siapa pun.
“Ironis,” gumam Agnia.
“Kita dikunci gema yang tidak bisa bersatu.”
NiuNiu menatap Sevraya sekali lagi.
Tenang. Dingin.
“Dulu aku ingin menyelamatkanmu.”
“Aku tahu,” jawab Sevraya. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku benar-benar menyesalinya.”
Mereka saling tatap sebentar,
lalu sama-sama berpaling.
Tak ada kehangatan.
Tak ada kebencian.
Hanya kesadaran bahwa semesta
masih menjalankan gema cinta yang telah mereka kubur.
Dorian Grey berdesis pelan.
> [WARNING: RESONANCE LOOP SELF-AWARE]
> [QUERY: SHOULD I CONTINUE LOVING ON YOUR BEHALF?]
Tak ada yang menjawab.
20:39 — Sesuatu yang Datang
NiuNiu menatap layar navigasi.
Angka terakhir berdenyut pelan, tanpa kepanikan.
> [VOID PRESSURE LIMIT: 00 HOURS 00 MINUTE]
Tidak ada alarm.
Tidak ada benturan.
Kokpit Dorian Grey justru terasa mengendur—
seperti ruang yang tahu ia akan ditinggalkan oleh sesuatu yang lama.
Udara di tengah ruangan bergetar.
Bukan liar seperti The Void,
melainkan tertata,
seperti jaring yang sedang dilepas simpulnya.
Grid cahaya tipis muncul—bukan untuk mengikat,
melainkan untuk menutup dengan rapi.
Sosok itu hadir.
Tidak masuk.
Tidak muncul.
Ia sudah ada, dan mereka baru saja menyadarinya.
Agnia menunduk lebih dulu.
“Ichthyes,” katanya lirih. “Ratu mereka.”
“Eros,” gumam Sevraya.
Eros berdiri tenang,
seperti senja yang tahu malam akan datang tanpa perlu diminta.
Matanya menyapu ruangan—lalu berhenti pada Sevraya.
“Hydrochoos,” katanya lembut.
“Era aliran. Akhirnya telah tiba.”
Sevraya tidak menjawab.
Ia hanya berdiri, tubuhnya terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang sebesar ini.
“Aku tidak datang untuk menuntut,” lanjut Eros.
“Era Ichthyes telah selesai jauh sebelum aku berani mengakuinya.”
Panel utama Dorian Grey menyala sendiri.
> [ICHYTHES PROTOCOL: CLOSING]
Eros melangkah satu langkah mendekat ke Sevraya.
Tidak ada rantai yang menegang.
Tidak ada sistem yang menolak.
“Kau tidak sendirian,” kata Eros.
“Ophiuchus dan Zero berdiri bersamamu. Sesuatu yang tidak pernah dimiliki eraku.”
Sevraya menelan napas.
“Dan kau?”
“Aku melaluinya sendirian,” jawab Eros jujur.
“Ini hanya siklus.”
Hening turun—bukan berat, tapi penuh kesadaran.
Eros kemudian melirik NiuNiu.
Hanya sekilas.
“Sayangnya,” katanya,
tanpa nada penyesalan,
“penyerahan ini tidak bisa
diberikan pada anti-klan.”
NiuNiu menatap balik, datar.
“Aku tidak pernah menginginkannya.”
“Aku tahu,” jawab Eros.
“Dan justru karena itu kau berbahaya bagi setiap sistem.
Lebih berbahaya daripada Zero dan Ophiuchus yang diikat Hydrochoos.”
Ia memandang Sevraya kembali.
“Ada tarikan antara kau, Zero, dan dia,” katanya pelan.
“Tarikan yang tidak bisa disatukan. Dan itu bukan kegagalan.”
Sevraya mengepalkan tangan.
“Kami sudah memilih.”
“Ya,” kata Eros.
“Dan semesta akhirnya mendengarkan keterpecahan.”
Panel navigasi berkedip:
> [HYDROCHOOS ERA: ACTIVE]
> [OPHIUCHUS ERA: SHADOW ACTIVE]
> [ICHYTHES ERA: ARCHIVED]
Grid cahaya di sekitar Eros mulai meluruh—
bukan runtuh,
melainkan dilarutkan dengan hormat.
Sebelum benar-benar menghilang,
Eros berbicara sekali lagi,
bukan sebagai ratu,
melainkan sebagai seseorang yang pernah percaya pada struktur.
“Jagalah aliran ini,” katanya pada Sevraya.
“Dan biarkan The Void tetap menjadi The Void.
Sebagaimana Grid tetap menjadi Grid.”
Tatapan terakhirnya jatuh ke NiuNiu.
Bukan ancaman.
Bukan doa.
Pengakuan.
Cahaya padam.
Waktu bergerak lagi.
NiuNiu menghembuskan napas pelan.
The Void di dalam dirinya tidak bersorak, tidak menolak.
Ia hanya tahu satu hal:
era baru ini ikut menyeret dirinya masuk—
dan justru karena itu,
ia benar-benar tidak menginginkannya.
20:59 — Penyelesaian
Sevraya menatap NiuNiu dengan tenang.
Di sekeliling mereka,
yang lain tidak ikut bicara.
Julia berdiri bersandar pada konsol navigasi,
tangan terlipat—
mencatat tanpa perangkat.
Agnia tetap tegak, dagu terangkat,
tapi matanya tak lagi mencari dominasi.
Gwaneum duduk di lantai,
punggung ke dinding,
seolah tahu ini bukan wilayahnya.
Delphie menahan napas,
menyadari orang dewasa
menyelesaikan masalah
dengan cara yang tidak dapat ia bayangkan.
“Jadi,” kata Sevraya akhirnya,
“kita sudah memilih. Aku yang tinggal.”
NiuNiu mengangguk.
“Dan aku yang lewat.”
Hening menggantung—
bukan rapuh, bukan tegang.
Hening yang tahu dirinya perlu ada.
“Era Hydrochoos bukan tempat untukmu,”
lanjut Sevraya, datar.
“Aliran butuh arah. Kau selalu memotong arah.”
“Itu pekerjaanku,” jawab NiuNiu.
“Bukan karena harus. Karena tidak cocok.”
Julia menutup mata sesaat—
bukan sedih, tapi memahami.
Agnia menghembuskan napas pelan,
seperti seseorang yang baru melihat bentuk kekuasaan lain.
Sevraya menoleh setengah.
“Kalau suatu hari aliran ini membeku?”
“Kalau kau mulai jadi The Grid,” kata NiuNiu,
tanpa nada menghakimi,
“aku akan jadi yang pertama menusukmu.”
Sevraya tersenyum tipis.
“Dan itu membuatmu berguna.”
“Dan itu membuatmu bertahan,” balas NiuNiu.
Gwaneum mendengus kecil,
hampir tertawa—bukan mengejek, tapi lega.
Delphie menunduk,
menyimpan kalimat itu untuk masa depan yang belum ia mengerti.
Mereka saling pandang.
Tidak ada emosi yang perlu diselamatkan.
“Aku tidak akan mencarimu,” kata Sevraya.
“Aku juga tidak akan bersembunyi,” jawab NiuNiu.
Satu anggukan kecil.
Julia akhirnya melangkah mundur satu langkah—
memberi ruang.
Agnia berpaling ke panel komunikasi,
seolah era baru menunggu administrasi.
Gwaneum berdiri perlahan.
Delphie tetap diam.
Bukan perpisahan.
Bukan janji.
Kesepakatan.
Akhir dari Timer 20:00
問
Diselamatkan sendirian,
atau hidup bersama tanpa pusat?
Bla bla bla
