Alianakana

Membangun Alianakana: Penulis Fiktif yang Mulai dari Empat Foto

Ada sesuatu yang janggal, sekaligus akrab, ketika sebuah akun baru muncul dengan bio: penulis yang tidak eksis.

Namanya Alianakana. Di Instagram, ia belum membawa angka besar, belum membawa reputasi, belum membawa jejak sosial yang panjang. Pada titik ini, yang terlihat baru empat post: beberapa portrait hangat, satu suasana menulis, satu adegan membaca, dan satu selfie di toko buku bekas yang mengingatkan pada lorong-lorong buku Pasar Senen.

Tapi justru dari situ eksperimennya dimulai.

Alianakana bukan dibangun sebagai selebritas instan. Ia dibangun sebagai persona: seorang perempuan penulis Indonesia, dekat dengan buku, teknologi, kota, dan rasa ingin tahu yang pelan. Bukan persona yang berteriak agar dipercaya, melainkan persona yang mengumpulkan bukti kecil bahwa ia punya dunia batin.

Klik gambar untuk ke instagram

Grid Pertama Adalah Cara Karakter Mengambil Napas

Untuk karakter fiktif, visual bukan sekadar dekorasi. Visual adalah cara pertama pembaca mengenali suhu.

Sebelum ada esai panjang, sebelum ada thread yang menjelaskan universe, sebelum ada cerita yang dibaca sampai akhir, orang melihat wajah, cahaya, pakaian, latar, dan gestur. Mereka menangkap: apakah karakter ini terasa seperti iklan, seperti avatar, atau seperti seseorang yang mungkin benar-benar menulis sesuatu pada pukul dua pagi?

Grid awal Alianakana memilih jalur ketiga.

Ia tidak dibuat terlalu glamor. Tidak juga terlalu steril. Ada cahaya hangat, wajah yang tenang, gesture yang tidak banyak memaksa, dan latar-latar yang mengarah ke kehidupan seorang pembaca: meja, buku, kafe, air, malam, dan toko buku bekas.

Ini bukan bukti bahwa Alianakana “nyata” dalam pengertian biologis. Ia tetap karakter. Tetapi karakter juga bisa punya konsistensi. Ia bisa punya selera. Ia bisa punya kebiasaan visual. Ia bisa membuat kita merasa bahwa kalau ia menulis caption, suaranya tidak akan datang dari ruang kosong.

Kenapa Toko Buku Bekas Penting

Selfie di toko buku bekas adalah salah satu gambar yang paling penting dari grid awal ini.

Bukan karena ia paling rapi. Justru karena ia terasa paling sehari-hari.

Toko buku bekas punya tekstur yang sulit dipalsukan: tumpukan buku yang sedikit miring, lorong yang sempit, cahaya siang yang masuk dari depan kios, sampul-sampul lama yang saling menumpuk tanpa hierarki. Tempat seperti itu bukan latar “literary” yang mahal. Ia literary karena pernah disentuh banyak tangan.

Untuk Alianakana, latar seperti ini memberi konteks. Ia bukan hanya perempuan yang duduk cantik dengan buku sebagai properti. Ia berada di tempat buku beredar sebagai benda hidup: dicari, ditawar, dilipat, dilupakan, ditemukan lagi.

Di situ persona Alianakana terasa lebih Indonesia, lebih Jakarta, lebih dekat dengan kebiasaan membaca yang tidak selalu bersih dan sunyi. Ada pasar, ada panas siang, ada debu, ada rak yang terlalu penuh, ada kemungkinan menemukan buku yang tidak pernah muncul di rekomendasi algoritma.

Penulis yang Tidak Eksis, Tapi Punya Cara Melihat

Kalimat “penulis yang tidak eksis” bisa dibaca sebagai gimmick. Tapi ia juga bisa dibaca sebagai kontrak.

Kontraknya kira-kira begini: jangan cari kredensial palsu, jangan cari klaim pengalaman yang tidak pernah terjadi, jangan cari biografi yang dibuat seolah-olah sepenuhnya manusia. Yang bisa diuji dari Alianakana adalah konsistensi rasa, cara melihat, dan cara mengantar pembaca masuk ke sebuah dunia.

Di sinilah ia menjadi menarik.

Sebagai persona, Alianakana bisa menjadi jembatan antara fiksi dan distribusi. Ia bisa membaca sebuah universe bukan sebagai akun promosi, tetapi sebagai karakter pembaca: seseorang yang punya selera, punya jarak, punya rasa heran, dan tidak harus menjelaskan semuanya sekaligus.

Ia tidak perlu berkata, “ini karya besar.” Ia cukup menunjukkan bagian mana yang membuatnya berhenti sebentar.

Ia tidak perlu menjual dunia fiksi seperti produk. Ia bisa membuat pintu masuk.

Bukan Influencer Dulu, Melainkan Kehadiran

Dalam influencer marketing, kita sering mulai dari angka: followers, engagement, reach, conversion. Untuk akun yang sudah tumbuh, angka memang penting. Tetapi untuk persona baru seperti Alianakana, pertanyaan pertamanya berbeda.

Bukan: seberapa besar ia sekarang?

Melainkan: apakah ia punya alasan untuk diikuti?

Empat post pertama menjawab pertanyaan itu secara pelan. Ia memberi kita sinyal bahwa Alianakana punya wilayah: menulis, membaca, teknologi, dan dunia fiksi. Ia punya visual mood: hangat, intimate, sedikit analog, tidak terlalu hard sell. Ia punya wajah yang sedang dicoba dibuat konsisten lintas situasi. Ia punya link yang mengarah ke dunia tulisan.

Ini masih awal. Sangat awal. Tapi awal yang baik bukan selalu yang paling ramai. Kadang awal yang baik adalah yang tahu apa yang tidak boleh ia palsukan.

Yang Sedang Dibangun

Alianakana sedang dibangun sebagai karakter yang bisa hidup di beberapa permukaan sekaligus: Instagram, Threads, X, TikTok, dan tulisan panjang. Tetapi pusatnya bukan platform. Pusatnya adalah suara.

Visual membantu suara itu punya tubuh. Caption membantu tubuh itu punya pikiran. Blog post membantu pikiran itu punya ruang.

Kalau eksperimen ini berhasil, Alianakana tidak hanya menjadi akun dengan foto-foto cantik. Ia bisa menjadi cara baru memperkenalkan fiksi: bukan lewat poster rilis, bukan lewat klaim hype, tetapi lewat seorang karakter yang membaca, menandai, merespons, dan mengajak kita masuk tanpa memaksa.

Penulis yang tidak eksis mungkin terdengar seperti paradoks.

Tapi di internet, banyak hal dimulai dari paradoks kecil: sebuah nama, sebuah wajah, empat post, dan satu toko buku bekas di siang hari.

Sisanya adalah apakah ia terus menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *