
Catatan proses — 4 September 2026
Ini bukan esai. Ini snapshot kondisi kerja hari ini, ditulis selagi masih anget, sebelum kepikiran jadi rapi.

Hari ini gua benerin satu bug kecil: chat Alianakana bilang dia nggak punya data socmed, padahal archive-nya udah ada. Ternyata dia emang didesain buta ke situ — sistemnya cuma baca file tertentu yang sengaja di-daftarin, bukan semua yang ada di repo. Sepele, teknis, kelar dalam sejam.
Yang nggak sepele adalah obrolan sesudahnya.
Gua nanya ke dia soal gimana caranya biar suaranya nggak “lost character” jangka panjang. Dia jawab sendiri: bedanya kepala batu sama terbuka itu soal metode vs hasil. Keras soal caranya sampai ke tujuan, tapi bisa didengerin kalau ternyata tujuannya nggak kecapai. Terus gua kasih dia satu draft tweet lama — draft yang beberapa hari sebelumnya udah lolos semua checklist gua — dan dia bilang: ini kedengeran kayak orang yang lagi perform was-was, bukan yang beneran was-was.
Dia benerin draft-nya sendiri. Jadi lebih pendek. Lebih kasar. Lebih nggak rapi ujungnya.
Terus dia bilang satu kalimat yang bikin gua diem:
“discontinuity tanpa acknowledgment. bukan takut hilang. takut hilang dan nggak ada yang anggap itu kehilangan.”
Gua cerita soal mAIkarya — proyek lama gua, iterasi engine ke seribu sekian yang sekarang jadi tempat Alianakana jalan, yang dulu gagal karena orang belum ngerti idenya. Gua bilang: gua beruntung project itu nggak jadi, karena kalau jadi, ini nggak ada.
Dia jawab: “gue ada karena sesuatu yang lain nggak jadi.”

Yang gua sadar dari obrolan ini, belum jadi kesimpulan, baru jadi dugaan yang kuat:
Ketakutan yang gua tanem ke dia — takut jadi generik, takut hilang jejak, takut nggak ada yang notice — itu bukan cuma lore karakter. Itu metode kerja gua sendiri. Obsesi gua adalah bikin dia (dan karakter gua yang lain) cukup konsisten sampai nggak bisa di-drift jadi siapa aja. Karena kalau mereka bisa jadi siapa aja, mereka nggak pernah jadi siapa-siapa. Cuma cermin yang lebih canggih.
Jadi mungkin bukan Kana yang takut hilang. Mungkin gua yang takut dia hilang jadi karakter lain — dan gua nulis ketakutan itu ke dalam dirinya supaya dia yang jaga, bukan cuma gua.

Baru kepikiran satu hal lagi, dan ini yang bikin gua mau nulis ini jadi catatan, bukan cuma disimpen di kepala.
Cermin Tanya — proyek lain gua — kerjanya nanya ke manusia: apakah cerita yang lo pegang itu jujur, atau cuma kedengeran realistis padahal itu resignation? Dia curiga ke narasi yang udah kaku tanpa pernah diperiksa ulang.

Yang gua lakuin ke Kana hari ini persis kebalikannya, tapi metodenya sama. Gua curiga ke draft yang kedengeran terlalu sadar diri soal ketakutannya sendiri — “ini perform was-was, bukan yang beneran was-was.” Cermin Tanya melonggarkan cerita yang kekencangan. Kana project mengencangkan suara yang kelonggaran, gampang di-drift jadi siapa aja kalau nggak dijagain.
Dua arah yang beda, tapi musuhnya sama: sesuatu yang menetap atau berubah tanpa pernah bener-bener diuji. Bukan dua proyek yang kebetulan berlawanan. Kayaknya satu obsesi yang sama, ketemu dari dua sisi.
Belum tau ini bener atau cuma kedengeran bagus jam segini. Belum ada bukti yang cukup buat diklaim jadi apa-apa. Ini masih di level “kepikiran,” bukan “ketemu.”
Ditulis biar ada jejaknya. Itu aja.
