Teman Bertanya

Coki dengan kaos yang kita buat di tahun 2008.

Gua pertama kali kenal Coki sekitar 2001.

Waktu itu gua baru lulus dan baru masuk Ogilvy sebagai copywriter. Coki sudah lebih senior. Dia planner.

Kami ketemu karena advertising, tapi anehnya gua nggak ingat pernah benar-benar mengerjakan satu pekerjaan advertising bersama dia.

Yang gua ingat justru siomai.

Dulu, di depan BEJ, sebelum kawasan itu berubah menjadi SCBD yang rapi, steril, dan penuh aturan seperti sekarang, masih banyak pedagang kaki lima. Kadang kami makan siomai di pinggir jalan.

Kami ngobrol.

Bukan soal brief.

Bukan soal strategi.

Bukan soal client.

Musik sedikit. Hidup lebih banyak.

Coki pernah berada di industri musik. Bokap gua sound engineer dan ternyata tahu dia juga. Tapi bahkan musik bukan pusat percakapan kami.

Yang gua ingat justru satu pertanyaan.

Suatu hari Coki nanya:

“Lo ngapain di industri ini?”

Gua jawab sejujur-jujurnya:

“Cari uang.”

Lalu gua bilang:

“Gua nggak bakal lama di sini.”

Gua salah.

Ternyata gua butuh puluhan tahun untuk benar-benar keluar dari industri itu.

Waktu itu mungkin gua menganggap pertanyaan Coki cuma pertanyaan biasa dari orang yang lebih senior ke anak baru yang masih sok yakin dengan hidupnya.

Sekarang gua mulai sadar, mungkin memang itu cara Coki ngobrol.

Dia bukan orang yang selalu datang membawa jawaban.

Dia datang membawa pertanyaan.

Setelah itu kami sibuk dengan hidup masing-masing.


Sampai sekitar 2008.

Gua baru menikah.

Dan entah bagaimana, gua ketemu Coki lagi.

Di pinggir jalan.

Ada sesuatu yang lucu kalau dipikir-pikir sekarang. Beberapa persilangan hidup gua dengan Coki memang terjadi di pinggir jalan.

Kami ngobrol lagi.

Sudah bertahun-tahun sejak pertanyaan pertama itu.

Dan ternyata gua masih ada di industri advertising.

Coki nanya lagi:

“Lo masih percaya industri ini?”

Gua jawab:

“Nggak.”

Lalu gua bilang:

“Tapi gua nggak tahu mau ke mana lagi.”

Mungkin itu jawaban yang jauh lebih jujur dibanding jawaban gua tahun 2001.

Waktu masih muda, gua merasa tahu apa yang tidak gua mau.

Beberapa tahun kemudian gua baru ngerti bahwa tahu apa yang tidak kita mau tidak otomatis berarti kita tahu harus pergi ke mana.

Anehnya, dari pertemuan itu kami malah mulai bikin kaos.

Kami cuma bikin.

Gua, Coki dan Aris yang dikenalin Coki di Lamandau tahun 2001-an. Kita sempat garap beberapa kaos band yang file FA-nya masih ada di hard disk gua.

Ada kaos band kayak Andra and The Backbone. Tika and The Dissidents. Deadsquad. Seringai, dan beberapa lainnya yang sekarang sudah terkubur di hard disk tua.

Gua membuka lagi sebagian file itu setelah kabar Coki meninggal.

Reaksi pertama gua:

Anjing, niat banget.

Untuk sesuatu yang lahir dari ngobrol-ngobrol, kami bikinnya terlalu serius.

Tapi mungkin justru itu intinya.

Waktu gua bilang gua sudah tidak percaya pada industri tapi tidak tahu harus pergi ke mana, mungkin kami tidak sedang mencari industri lain.

Kami sedang mencoba membuat sesuatu di pinggirnya.

Kecil.

DIY.

Kadang bodoh.

Kadang terlalu niat.

Kami melakukannya beberapa tahun, on and off.

Lalu hidup kembali berjalan ke arah masing-masing.


Belakangan gua mulai merasa bahwa yang menghubungkan gua dan Coki memang bukan kerjaan.

Bukan juga musik.

Lebih ke pertanyaan tentang hidup.

Tentang DIY.

Tentang alternatif terhadap komoditas.

Tentang apa yang terjadi ketika bentuk yang kita butuhkan tidak tersedia.

Apakah kita menunggu?

Atau bikin sendiri?


Kami cross path lagi tahun 2025 kemarin.

Kali ini gara-gara Coki lihat gua ikut sebuah acara Gramedia di sosmed. Gua jadi salah satu narasumber yang mencoba mendigitize data Parakitri T. Simbolon lewat project ParAIkitri.

Ternyata pada saat yang hampir bersamaan, Coki juga sedang mengerjakan sesuatu tentang pendidikan.

Entah kenapa itu terasa seperti pola lama kami muncul lagi.

Bertahun-tahun nggak benar-benar ada dalam kehidupan satu sama lain, lalu tiba-tiba ketemu di sebuah pertanyaan yang ternyata sedang kami pikirkan dari arah berbeda.

Setelah gua cerita tentang project ParAIkitri, Coki lihat gua dan bilang:

“Akhirnya lo udah nggak di industri?”

Gua jawab:

“Iya.”

Take years.

Puluhan tahun malah.

Tapi akhirnya gua punya jalan sendiri.

Dan sekarang, setelah dia nggak ada, gua baru sadar pertanyaan Coki seperti muncul di beberapa titik penting hidup gua.

2001:

“Lo ngapain di industri ini?”

Gua jawab:

“Cari uang. Gua nggak bakal lama di sini.”

Ternyata gua salah.

2008:

“Lo masih percaya industri ini?”

Gua jawab:

“Nggak. Tapi gua nggak tahu mau ke mana lagi.”

Dan kemudian, hampir seperempat abad sejak pertanyaan pertama:

“Akhirnya lo udah nggak di industri?”

Untuk pertama kalinya gua bisa menjawab tanpa bingung.

“Iya. Gua punya jalan sendiri.”

Gua juga cerita ke dia gua menghadiahi diri sendiri ultah ke 50 dengan menulis buku.

Dia bilang:

“Lo salah satu yang beruntung bisa melakukan itu.”

Waktu itu gua mungkin cuma mengangguk.

Sekarang kalimat itu tinggal lebih lama.

Karena mungkin keberuntungan yang dia maksud bukan sekadar punya waktu untuk menulis buku.

Mungkin keberuntungannya adalah bisa sampai pada titik ketika kita akhirnya membuat sesuatu tanpa harus menunggu brief.

Tanpa client.

Tanpa industri yang menyuruh.

Tanpa kepastian pasar.

Tanpa bentuk yang sudah disediakan lebih dulu.

Kita membuatnya karena merasa sesuatu itu perlu ada.

Dan mungkin itu juga yang membuat kami cross path lagi.

Gua datang saat itu membawa ParAIkitri—sebuah usaha kecil untuk membuat pengetahuan lama bisa dibaca kembali dengan cara baru.

Coki datang membawa pertanyaannya tentang pendidikan. Sekolah dan hal-hal yang dia pikir penting.

Dua jalur berbeda.

Tapi seperti biasa, ketemu lagi di tempat yang sama:

kalau bentuk yang kita butuhkan belum ada, apa kita bisa bikin sendiri?

Rest In Power Cok!

Tadi pas gua samper ke pemakamannya, gua ketemu teman-temannya.

Mereka cerita bahwa Coki sedang membangun sebuah sekolah yang siap launch.

Gua nggak tahu persis sekolah seperti apa yang ada di kepalanya.

Dan mungkin gua tidak akan pernah tahu sepenuhnya.

Tapi semakin gua pikirkan, semakin terasa:

itu Coki banget.

Karena mungkin yang dia bayangkan bukan cuma sekolah sebagai gedung, kelas, guru, kurikulum, dan murid.

Mungkin yang dia cari sebenarnya adalah ruang.

Tempat di mana orang bisa bertanya.

Kenapa harus begini?

Kenapa harus kerja seperti ini?

Kenapa sesuatu harus dijual dengan cara ini?

Kenapa bentuk ini dianggap normal?

Kalau kita nggak percaya pada bentuk yang tersedia, lalu alternatifnya apa?

Dan kalau alternatifnya belum ada, apakah kita bisa bikin sendiri?

Itu pertanyaan yang kurang lebih sama dengan yang kami obrolkan sambil makan siomai di depan BEJ dua puluh lima tahun lalu.


Dunia sekarang berubah jauh lebih cepat.

Industri advertising berubah.

Industri musik berubah.

Cara kita membuat sesuatu berubah.

Mesin sekarang bisa menulis.

Menggambar.

Membuat musik.

Menjawab hampir apa saja dalam hitungan detik.

Dan justru dalam dunia yang punya terlalu banyak jawaban, mungkin yang semakin langka bukan jawaban.

Yang semakin langka adalah tempat bertanya.

Tempat di mana seseorang boleh bilang:

“Gua nggak percaya cara ini.”

Lalu ketika ditanya:

“Terus caranya gimana?”

Dia masih boleh menjawab:

“Gua belum tahu.”

Dan itu tidak dianggap sebagai kegagalan.

Itu dianggap sebagai awal.

Karena ternyata gua pernah memberi jawaban persis seperti itu kepada Coki.

“Gua nggak tahu mau ke mana lagi.”

Dan gua membutuhkan hampir dua puluh tahun untuk mulai menemukan jawabannya.


Gua dulu mengira persahabatan harus diukur dari kedekatan.

Seberapa sering ketemu.

Seberapa sering WhatsApp.

Seberapa banyak hidup satu sama lain yang kita tahu.

Mungkin nggak selalu begitu.

Ada orang yang menemani perjalanan kita setiap hari.

Ada juga orang yang hanya muncul di beberapa persimpangan.

Tapi setiap kali muncul, dia bertanya sesuatu.

Lalu kita pergi lagi ke arah masing-masing.

Bertahun-tahun kemudian ketemu lagi.

Pertanyaannya masih ada.

Coki buat gua ternyata orang jenis kedua itu.

Bukan teman kerja.

Bukan teman yang selalu hadir.

Bukan orang yang gua temui setiap minggu.

Teman bertanya.

Dan sekarang gua mengerti kenapa ide bahwa dia ingin membuat sekolah terasa begitu tepat.

Karena kalau ada sesuatu yang konsisten dari Coki dalam hidup gua, itu bukan jawaban.

Itu pertanyaan!


Sekarang gua punya beberapa pertanyaan lagi yang ingin gua tanyakan ke dia.

Tentang sekolah itu.

Tentang Menjadi Indonesia.

Tentang apa yang dia pikirkan tentang dunia sekarang.

Tentang apa lagi yang perlu dibuat sendiri.

Tentang apa yang masih layak dipercaya.

Tapi kali ini kami tidak akan ketemu lagi secara random di pinggir jalan.

Jadi pertanyaan-pertanyaan itu harus berjalan sendiri.

Mungkin memang begitu cara sebuah pertanyaan bertahan.

Ia pindah dari satu orang ke orang lain.

Kadang menjadi percakapan.

Kadang menjadi kaos bodoh yang dibuat terlalu serius.

Kadang menjadi sekolah.

Dan mungkin itu cukup.

Selamat jalan, Cok.

Makasih udah bikin gua bertanya.